Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 20


__ADS_3

Mature content 21+


Anak-anak minggir


Sidang kasus Anin memasuki babak kedua hari itu. Yang akan menampilkan para saksi dan bukti. Bram, Jo dan Anin, mereka berangkat di mobil yang sama dengan sopir Jo. Ken menyegat mobil itu saat hendak keluar dari gerbang depan resort.


Karina dan Katrina yang sama-sama mengantar kepergian suaminya masih berdiri di halaman resort mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam melihat mobil milik Jo berhenti tiba-tiba.


"Ada apa pak?" tanya Jo melihat di depan mobil ada Ken yang merentangkan kedua tangannya menghentikan mobil.


Bram yang sudah tahu siapa biang keladi pencegat mobil itu hanya diam tak berkomentar.


"Itu, tuan Ken tuan." jawab sopir itu ragu, Anin yang ikut menatap ke arah depan mobil mendadak antusias melihat siapa disana.


"Papa." bisik Anin antusias.


"Mau apa lagi dia?" guman Jo kesal.


"Ya?" tanya Bram memunculkan kepalanya tanpa keluar dari dalam mobil.


"Boleh aku ikut?" pinta Ken memelas sambil menatap Jo juga yang ada di jok belakang mobil.


"Papa.." Ken tersenyum melihat putrinya tersenyum senang padanya.


"Masuklah!" titah Jo cuek tanpa menatapnya. Anin terlihat senang dan antusias menggeser duduknya untuk tempat sang papa.


Kini dia di jok belakang berada di tengah-tengah antara papa dan daddy-nya. Anin melebarkan senyumnya bahagia melihat kedua pria yang menyayanginya duduk di antaranya.


**


Tak sampai satu jam mobil sudah terparkir cantik di halaman parkir gedung pengadilan. Keempatnya turun dari mobil, seketika Anin bingung ingin turun dari pintu mobil mana saat kedua pria yang menganggap diri mereka sebagai ayah Anin yang keduanya sama-sama membukakan pintu untuk Anin keluar dari dalam mobil.


Anin pun bimbang menatap keduanya bergantian. Akhirnya Anin memilih untuk keluar dari pintu mobil yang dibukakan Jo. Jo tersenyum puas, dan ganti tersenyum seringai mengejek Ken yang sedikit kecewa dengan keputusan Anin. Tatapan Jo padanya seolah-olah mengejeknya yang mengatakan, kau lihat? Siapa yang dipilihnya? batin Jo puas.


***


Setelah bertemu dengan tim kuasa hukum Bram, mereka masuk ke dalam ruang persidangan. Ken dan Anin duduk di tempat tunggu persidangan karena belum waktunya dia muncul. Dan Jo sedang masuk sebagai saksi.

__ADS_1


"Kau gugup?" tanya Ken saat menemani putrinya di ruang tunggu.


Anin menoleh menatap Ken dan mengangguk mengiyakan. Berada di pengadilan seolah mengingatkan dirinya pada kejadian itu. Ken mendekap tubuh Anin yang terlihat gemetar ketakutan menahan gelisahnya.


"Ada papa disini, jangan takut!" hibur Ken masih sambil mendekap dan mengecup pucuk kepala putrinya sebagai penghiburan.


Anin terlihat lebih tenang seolah mendapat penghiburan dari papanya.


Tak sampai setengah jam, Jo muncul dari ruang persidangan menuju tempat Anin duduk.


"Kau takut princess?" tanya Jo melihat Anin memejamkan mata dalam pelukan Ken terlihat nyaman dan aman.


"Daddy..." panggil Anin langsung menghambur memeluk Jo yang dibalas pelukan juga dari Jo.


Ken yang merasa sudah tak dibutuhkan menatap tangannya hampa yang baru saja tadi memeluk putrinya itu seolah hanya dirinya yang mampu menenangkannya namun ada orang lain yang lebih dibutuhkan putrinya ketimbang dirinya.


***


Sudah lebih dari tiga jam, persidangan masih terus berlanjut dengan perdebatan para pengacara dan jaksa penuntut umum. Hingga akhirnya hakim memutuskan untuk menunda lagi persidangan itu untuk satu bulan ke depan.


Semua orang pun berdiri dan pamit meninggalkan ruang sidang setelah hakim dan asistennya meninggalkan ruang sidang terlebih dulu. Bram membereskan barang-barangnya dan kemudian berjabat tangan dengan tim kuasa hukumnya karena sepertinya persidangan hari itu dimenangkan oleh pihak Bram. Jo tersenyum bangga pada sepupunya itu sudah mengusahakan semua hal hingga sedemikian rupa.


Bram dan Jo masuk ke dalam tempat istirahat persidangan menghampiri Ken dan Anin.


"Daddy, sudah selesai kah?" tanya Anin antusias mendekati Jo menatapnya penuh harap.


"Belum princess, sidang ditunda satu bulan ke depan. Dan hari ini sidang dimenangkan oleh kita. Dan Daddy optimis kita pasti bisa menjebloskan mereka dengan hukuman yang seberat-beratnya." Jelas Jo tersenyum bahagia.


"Benarkah Daddy?" Jawab Anin tersenyum senang memegangi tangan Jo.


"Tentu." Jawab Jo langsung dihadiahi pelukan oleh Anin.


"Thank you Daddy... thank you..." ucap Anin tertawa senang.


Mereka pun juga tersenyum senang. Untuk sesaat Jo melupakan rasa bencinya pada pria brengsek papa Anin itu karena melihat kebahagiaan Anin.


***

__ADS_1


"Kau capek?" tanya Karina setelah meletakkan cangkir teh untuk suaminya di meja kerjanya.


Jo mendongak menatap istri tercintanya itu yang sungguh menawan dengan perut buncitnya yang tinggal menghitung hari. Jo meletakkan laptopnya sebentar menarik tubuh istrinya jatuh ke pangkuannya. Keduanya saling menatap satu sama lain hingga entah siapa yang memulai, ciuman panas pun terjadi di antara keduanya.


Karina melingkarkan lengannya di leher suaminya sambil terus menikmati ciuman suaminya yang semakin memanas. Hingga sesuatu berdiri mengacung tegak di bawah sana membuat Karina melepaskan ciumannya dan menatap suaminya yang sudah berkabut gai*rah. Nafas keduanya memburu dan sama-sama terengah-engah. Jo melepas daster rumahan milik istrinya setelah melepas hijab instannya.


"Mas, aku belum mengunci pintu." bisik Karina.


"Aku tak peduli. Kau yang menggodaku." Jawab Jo balas berbisik sambil menggigit kecil cuping telinga istrinya.


Jo mengangkat tubuh istrinya di atas meja, sudah tidak peduli berkas-berkas penting yang ada di meja berserakan jatuh entah seperti apa. Ciuman panas pun terjadi lagi di antara mereka. Dan ciuman itu mulai merambat ke dagu, leher dan berlanjut ke dada istrinya yang semakin besar karena faktor kehamilannya.


Suara desahan dan lenguhan terdengar di dalam ruang kerja Jo yang sempat ditahan Karina agar tak kencang dan terdengar dari luar. Jo semakin menghentak-hentakkan pinggulnya di bawah sana memasuki milik istrinya yang begitu membuatnya candu.


"Kau selalu sempit baby, aku suka..." bisik Jo sambil mengecupi, menji*lat, menghi*sap dan menggigit pu*ting dada kembar istrinya bergantian.


Karina hanya menikmati sambil menggeliatkan tubuhnya di atas meja kerja suaminya. Dia menggigit bibirnya untuk menahan desahannya meski terkadang harus lolos keluar dari bibirnya karena pelepasan yang didapatkan hingga entah sudah berapa kalinya.


Saat melihat istrinya sudah menikmati pelepasannya, Jo menarik tubuh istrinya untuk berdiri dan membalikkan tubuhnya. Kini dia menikmati tubuh istrinya dengan ***** ***** sambil Jo memegangi perut buncit istrinya agar tak membentur meja.


Jeritan yang hampir terlepas dari mulut Karina langsung disumbat bibir Jo membuat Karina batal menjerit kenikmatan karena perlakuan lembut suaminya namun penuh kenikmatan.


"Kau nikmat baby, kau selalu menjadi canduku baby... sayangku..." bisik Jo di sela-sela hentakkannya.


Sudah hampir satu jam Jo belum juga mendapatkan pelepasannya, namun tubuh istrinya sudah terlihat lelah. Jo pun menggendong istrinya di depan tanpa melepas penyatuan mereka.


Jo mulai menghentak lagi karena pelepasannya semakin dekat setelah membaringkan tubuh istrinya di sofa ruang kerjanya.


"Honey, i want cum..." ucap Karina.


"Bersama baby...ah.. ahh...aaaarghhhh..." lenguhan panjang keduanya mengakhiri percintaan panas mereka.


Jo melepas penyatuan mereka meraih tisu di meja membersihkan miliknya. Setelah itu membersihkan milik istrinya yang sudah terkulai lemah. Jo kasihan melihat wajah lelah istrinya namun dirinya selalu tak bisa menahannya jika berdekatan dengan istri tercintanya.


"Thanks baby ..." bisik Jo sambil mengecup bibir istrinya lembut.


Jo kembali mengerjakan pekerjaannya setelah memakaikan baju daster milik istrinya dan menyelimuti tubuhnya. Memindahkan ke ranjang kecil di ruangan itu yang hanya cukup ditiduri oleh satu orang saja.

__ADS_1


TBC


__ADS_2