Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 23


__ADS_3

"Boleh Daddy masuk?" Pinta Jo setelah mengintip sedikit pintu kamar putrinya.


Setelah kemarin mereka tiba di ibukota pukul delapan malam. Mereka langsung menuju rumah pribadi yang ditempati mereka setelah lahirnya Hana. Sudah ketiga kalinya mereka pindah rumah. Karena setiap anaknya sudah besar, Jo memilih pindah ke rumah yang lebih besar.


Karena rumah yang lebih besar akan lebih nyaman dengan anak-anak mereka nanti. Itulah alasan Jo saat meminta istrinya mengurus kepindahan mereka. Dan sekarang bahkan rumah mewah dan besar mereka bisa disebut mansion.


"Masuklah dad!" Jawab Anin setelah melirik ke pintu kalau ayah sambungnya mengetuk pintu.


Jo menatap kamar putrinya itu ke sekeliling. Sungguh sangat seperti kamar seorang gadis pada umumnya. Jo melihat barang-barang yang begitu lengkap dan boneka-boneka kecil yang bertumpuk-tumpuk di sudut ranjangnya.


Jo tersenyum kecil saat melihat hadiah-hadiah boneka yang selalu diberikan pada putri sambungnya itu masih disimpan bersama dengan boneka-boneka hadiahnya yang lain.


"Boleh Daddy bicara?" Tanya Jo ragu sambil duduk di tepi ranjang kamar itu.


"Bicaralah dad!" Anin ikut duduk di depan Jo agak jauh dengan menduduki kursi belajarnya.


Tadi Anin sedang membereskan barang-barangnya setelah kembali dari pulau B.


"Kau suka kamarmu?" Tanya Jo sambil menatap sekeliling ruangan itu.


"Aku suka." Jawab Anin singkat ikut melihat-lihat sekeliling.


"Kuharap kau tetap menyukainya. Dan akan selalu merindukannya." Ucap Jo lagi sarat akan makna.


Anin terdiam seolah tahu apa maksud Daddy nya.


"Kau tahu, apa kebahagiaan Daddy?" Tanya Jo menatap Anin lekat.


Anin balas menatap penuh keheranan. Kemudian Anin memilih menggeleng-gelengkan kepala meski dia belum paham maksud perkataan sang Daddy.


"Melihat keluarga kita bahagia yang penuh tawa dan senyuman. Meski kita tak bisa lepas dari kesedihan namun itulah hidup. Apalagi melihat mommy mu bahagia, itulah kebahagiaan utama Daddy." Jawab Jo menatap Anin tersenyum lembut.


Anin juga menatapnya. Dia bisa melihat dari sorot mata Jo yang terpancar penuh kebahagiaan saat membicarakan tentang sang mommy.


"Dan kaulah salah satu kebahagiaan mommy mu. Daddy tak akan menahanmu jika itu memang murni keinginanmu sendiri. Daddy bisa mengerti bagaimana perasaan Anin saat melihat kedua orang tua kita apalagi orang tua kandung kita berpisah. Itu adalah sesuatu yang sangat menyedihkan yang dialami semua orang. Namun Daddy berjanji, seumur hidup Daddy akan berikan kebahagiaan pada mommy mu dengan memberikan semua yang bisa membahagiakannya. Kau tahu sebesar apa Daddy mencintai mommymu?" Anin lagi menggeleng-gelengkan kepalanya, dia tahu Daddy nya sangat mencintai mommy nya namun Anin tak cukup tahu untuk melihat sebesar apa itu.

__ADS_1


Bahkan besarnya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


"Sebesar apa dia bahagia sebesar itu pula cinta Daddy pada mommy mu. Jika sampai mommy mu tidak bisa bahagia, Daddy merasa karena cinta Daddy lah yang kurang karena kebahagiaan mommy mu kurang." Anin tanpa sadar meneteskan air mata, dia baru paham dengan apa yang Jo maksud.


"Maaf Daddy... maafkan Anin... maaf..." Ucap Anin sambil menangis sesenggukan merasa bersalah lagi.


"No princess... Daddy bukan ingin membuatmu menangis. Daddy juga ingin melihatmu bahagia. Tapi Daddy juga tak ingin membuat mommy mu sedih." Jelas Jo sambil meraih putri sambungnya ke dalam pelukannya.


"Maaf Daddy, Anin pasti mengecewakan Daddy dengan keputusan Anin." Jawab Anin menyerukkan wajahnya ke dalam dada bidang Jo.


"No princess. Daddy tak memaksamu untuk terus bersama kami. Dimana pun kau tinggal, dimana pun kau berada, kau tetap putri kecil Daddy. Kami akan tetap menjadi keluargamu. Meski kau sudah tak bersama Daddy. Kita bisa kan tetap berhubungan?.... Hmm..." Bisik Jo dalam pelukan itu.


Anin mengangguk-anggukan kepala mengiyakan ucapan Jo, karena tangisannya yang tak bisa dibendung lagi hingga dia hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya.


"Thanks princess..." Anin mengangguk-anggukan kepalanya lagi.


Di balik pintu, saat Karina juga hendak menemui putrinya ingin meminta maaf padanya. Langkahnya terhenti saat mendengar Jo yang membicarakan tentang betapa besarnya cinta pria itu padanya.


Membuat Karina berhenti demi mendengar percakapan kedua orang yang dicintainya dengan cara yang berbeda itu. Tanpa sadar air matanya ikut menetes bahagia mendengar segitu besarnya pada dirinya. Hingga dia tak tahan lagi untuk segera menemui mereka.


"Mommy, Anin sudah besar bukan anak-anak lagi." Protes Anin bercanda menatap mommy nya dan beralih ke pelukan sang mommy.


"Bagi orang tua anak-anak tetaplah seorang anak." Jawab Karina tersenyum, Jo pun ikut tersenyum melihat dua wanita beda usia dengan wajah yang hampir mirip.


Kalau saja mereka seumuran mungkin orang akan mengira mereka adalah saudara kembar. Yah, kembar tiga.


***


Esok hari, Ken menepati janjinya untuk menjemput Anin yang sudah siapa untuk ikut dengannya. Karina membantu membereskan barang-barang Anin meski tak berbuat banyak karena sudah diselesaikan oleh asisten rumah tangga mereka. Meski dengan menahan kesedihannya, Karina mencoba tegar melihat putrinya ikut papanya.


Bagaimana pun juga Anin adalah putri mantan suaminya juga. Karina lah yang merasa bersalah karena sempat melarang dan menyalahkan Anin yang sedikit egois. Namun Karina tahu, anak manapun pasti ingin tahu seperti apa papanya, seperti apa mommynya.


**


"Kali ini aku mengizinkan dia untuk ikut bersamamu. Karena bagaimanapun juga kau adalah papa kandungnya. Aku pun tak berhak mencegahnya karena itu semata-mata menghormati keinginan Anin. Aku hanya ingin berpesan padamu, perlakukan Anin sebagai putri kandungmu yang kau sayangi. Meski sekarang sudah ada anak dan istri tiri yang bersamamu. Anak tetaplah anak, tidak ada yang namanya mantan anak. Akan ku pastikan, jika satu kali saja Anin bilang padaku kau memperlakukannya buruk. Saat itu juga aku akan memutuskan hubungan darah diantara kalian." Jelas Jo saat menemui Ken yang datang ke mansion nya untuk menjemput Anin.

__ADS_1


Kata-katanya yang sarat akan ancaman yang tidak main-main.


"Papa..." Suara manja dari dalam mansionnya membuat Ken mengurungkan niatnya untuk menjawab ucapan Jo, hingga dia pun menatap putrinya yang datang dari dalam bersama dengan Karina yang terlihat matanya memerah yang ditebaknya habis menangis karena kepergian Anin.


Anin memeluk tubuh papanya setelah menyalami tangan dan mengecup punggung tangan Ken. Jo menarik pinggang istrinya agar lebih dekat dengannya karena tak mau istrinya, mungkin saja pingsan.


***


Tangisan Karina pecah setelah mobil Ken meninggalkan mansion keluarga Karina membawa putrinya. Jo menenangkan istrinya dengan pelukan erat dari samping. Dia tak mengatakan apapun. Dia membiarkan istrinya meluapkan tangisannya karena kesedihan perpisahan dengan putri sulungnya.


Jo menghela nafas panjang, mengelus punggung istrinya yang terus menerus menangis di dalam dekapan dada bidangnya.


"Dia pergi honey. Dia meninggalkanku. Dia benar-benar pergi. Dia... huahua hua..." Tangis Karina semakin kencang.


"Baby, no... dia tidak pergi. Dia hanya ke rumah papanya. Kita masih bisa menghubunginya. Kita bisa melakukan video call, telpon. Sekarang semua serba praktis. Kita juga bisa mengunjunginya."


"Bolehkah?" Pinta Karina dengan mata berbinar menatap suaminya penuh harap.


Oh, no .. Jo paling anti untuk diajak pergi menemui mantan mertua Karina yang tak lain adalah orang tua Ken. Apalagi ada Ken disana juga. Dia sungguh benci. Harusnya dia tidak menjanjikan hal untuk 'mengunjungi' putri sulungnya itu. Dia bisa membuat janji dengan putrinya itu jika menginginkan saling bertemu tanpa datang ke rumah orang tua Ken.


"Kita lihat saja nanti." Jawaban Jo bukan membuat Karina tenang tapi tangis Karina kembali pecah lagi.


Hingga Jo dibuat kuwalahan dengan sifat kekanak-kanakan istrinya satu ini. Dia tahu betu kalau dia paling tidak bisa atau paling tidak sanggup melihat istrinya menangis ataupun bersedih.


"Okay...okay... Kita akan mengunjunginya nanti." Ucapan Jo membuat tangis Karina mendadak diam dan tenang.


"Makasih honey." Jawab Karina sambil mengecup bibir suaminya sekilas.


"Tapi ..." Ucapan Jo membuat Karina siap-siap untuk memanyunkan bibirnya bersiap untuk cemberut melayangkan protesnya.


"Apalagi?" Ucap Karina tajam.


"Eh... Sebaiknya setelah melahirkan baby kecil kita. Bagaimana?" Ucap Jo penuh senyum agar istrinya tidak marah karena wajahnya menyiratkan sebentar lagi tangisannya akan meledak lagi.


"Tentu." Jawab Karina ikut tersenyum senang mendengar penjelasan suaminya yang semata demi anak mereka yang mungkin dua minggu lagi akan siap melihat dunia.

__ADS_1


TBC


__ADS_2