
Esoknya Anin memutuskan untuk pulang mansion Daddy-nya. Tentu saja dengan persetujuan Ken saat mereka berbincang di ponselnya. Meski dengan berat hati Ken mengizinkan keputusan Anin dan mantan istrinya itu. Anin sendiri menolak untuk bertemu dengan Ken saat ini. Anin belum siap bertemu dengan siapapun.
PKL terpaksa libur setelah meminta izin pada Guntur sang wali kelas. Dia pun juga ingin sekali melihat keadaan Anin pasca kejadian itu. Namun saran dari ibu Anin membuat Guntur mau tak mau bersabar untuk tidak menemuinya. Dia pun juga sedang mengurus untuk memberikan hukuman yang layak pada pelaku yang pembullyan terhadap Anin pada murid-muridnya.
Di samping itu, hukuman dari Jo lebih berat pada mereka. Karena masa depan orang tua mereka yang sebagian besar adalah rekan bisnis yang perusahaan masing-masing berad la di bawah investor terbesar mereka yaitu Jonathan. Para orang tua sangat marah saat mendapat kunjungan mendadak dari sang investor utama mereka Jonathan.
Dengan tanpa basa-basi Jo menyampaikan niatnya untuk mencabut semua investasinya di perusahaan tersebut. Tentu saja hal itu membuat kalang kabut para ayah pelaku pembullyan itu. Yang tak lain Ana dan kedua orang temannya yang lain. Dari sumber interogasi, Ana lah pemilik foto itu yang dicuri oleh salah seorang temannya yang dicetak dan disebarkan ke perusahaan tempat PKL mereka. Hanya satu yang menjadi alasannya.
Yaitu benci pada Anin, entahlah benci karena apa. Salah satunya karena Teddy menyukai Anin, karena Teddy adalah pria paling terkenal dan populer di sekolah mereka. Dan mereka tak suka jika Teddy dekat dengan Anin yang entahlah...
Para pelaku teman Anin yang terlibat saat kejadian dikumpulkan kembali di ruang meeting perusahaan Wijaya. Jo menatap tajam dan dingin pada mereka satu persatu dengan penuh intimidasi. Wajah sangat, amarah dan emosi muncul ke permukaan melihat para siswa yang berani membully putrinya.
"Siapa yang melakukannya?" Tanya Jo dingin membuat semuanya gemetar ketakutan dan berkeringat dingin.
Semua masih diam tak ada yang menjawab.
"Okay, tak ada yang mengaku. Apa kalian pikir hal itu baik untuk korban? Bagaimana jika kalian yang mengalaminya?" Teriak Jo membuat semuanya bertambah gemetar ketakutan.
"Siapa anda?" Ana bertanya dengan lantang, semua menatap anak dengan tatapan mengolok kebodohan Ana.
"Hahaha.... " Tawa Jo menggelegar di ruang meeting itu membuat orang yang mendengarnya pasti akan bergidik ngeri.
Karena tawa Jo mirip dengan tawa dewa kematian yang hendak mencabut nyawa manusia.
"Ah, kau ya ternyata. Kau ingin tahu siapa aku?" Jawab Jo santai dengan tatapan masih dingin dan tajam menatap Ana yang akhirnya menunduk karena takut.
"Anin adalah putriku. Karena kalian sudah membuat putriku seperti itu, kalian akan mendapat balasan yang setimpal." Semua orang terbelalak kaget mendengar kenyataan bahwa pria bule yang selama ini disangka adalah sugar daddy Anin adalah papanya meski hanya papa tiri.
"Kalian tenang saja, bukan kalian yang akan dapat hukuman. Tapi mentak kalian yang mendapatkannya." Jo berdiri meninggalkan ruangan itu.
***
Sesampainya di rumah, Ana melihat dua orang yang membuang semua barang-barang rumahnya keluar dari dalam rumahnya. Dengan papa dan mamanya memohon hingga berlutut pada dua orang yang mirip debt kolektor itu.
"Papa." Ana menghampiri orang tuanya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan sebenarnya huh..." Seru papa Ana malah memarahi putrinya itu yang hanya tahu berfoya-foya saja.
"Apa maksud papa?" Tanya Ana tak mengerti.
"Apa yang kau lakukan pada putri bos papa? Kau telah membuat usaha papa langsung brankrut karena ulahmu. Apa yang kau lakukan?" Bentak papa Ana.
Ana terdiam, dia mencoba mencerna ucapan papanya.
"Si .. siapa maksud papa?" Tanya Ana gugup.
"Tuan Jonathan... kau tahu dia... Dia bos papa, investor utama papa dan karena ulahmu dia menarik semua investasinya dan semua pemegang saham ikut menarik juga dan seketika kita langsung bankrut karena harus mengganti uang mereka semua. Kita akan jadi miskin." Jelas papa Ana langsung shock terduduk di lantai teras rumahnya yang sudah digembok oleh pihak debt kolektor.
"Aku tak mau jadi miskin papa, aku tak mau... apalagi perjodohan dengan Teddy, bagaimana pa?" Teriak Ana histeris membuat mamanya yang semakin menangis mendengar keduanya berbincang.
***
"Karena putramu tidak menolong putriku saat kejadian buruk itu, aku ..."
"Maafkan putraku tuan, maaf... tolong jangan tarik investasinya. Saya... saya akan melakukan apapun agar tuan tidak menarik investasi anda." Wijaya berlutut di hadapan Jo yang bahkan belum menyelesaikan kalimatnya.
"Baiklah..."
"Terima kasih tuan.. terima kasih.. terima kasih.." Terlanjur senang dengan jawaban Jo membuat Wijaya kembali ngeri karena ada kata tapi di ujung kalimat Jo.
"Jauhkan dia dari putriku sejauh mungkin. Aku tak mau keduanya kembali bertemu di manapun itu." Ucapan Jo membuat Wijaya kembali lega.
Perkara mudah jika menjauhkan putranya dari putri investor terbesar perusahaannya. Lebih baik mengorbankan anaknya daripada dia bankrut dan miskin karena kehilangan kekayaannya. Dia belum siap miskin.
"Baik tuan... baik... akan kulakukan apapun perintahmu." Jawab Wijaya.
***
Di rumah Wijaya.
"Kemasi barang-barang Teddy bi! Aku akan mengirimnya ke tempat kakaknya!" Titah Wijaya saat dia tiba di rumah pada salah seorang asisten rumah tangganya.
__ADS_1
"Ada apa pa?" Istri Wijaya mendekati suaminya yang terlihat cemas.
"Aku harus melakukannya demi perusahaan." Jawab Wijaya lemah sambil duduk bersandar di sofa dengan mengendurkan dasinya yang terasa sesak.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya nyonya Wijaya masih cemas dan panik.
"Putramu, terlibat dengan putri investor terbesar kita." Jawab Wijaya singkat.
Istri Wijaya menutup mulutnya tak percaya. Dia tahu betul siapa investor terbesar di perusahaan mereka. Pria bule yang menikah dengan perempuan tanah air yang dikenal sangat mencintai keluarganya.
"Bagaimana itu mungkin?" Tanya istri Wijaya tak percaya.
"Ternyata teman sekolah yang direkomendasikan Teddy ke perusahaan kita adalah putri tuan Jonathan meski hanya putri tirinya." Jelas Wijaya menghela nafas panjang.
"Pasti beliau sangat murka?"
"Tidak hanya murka, dia sudah mengakuisisi semua perusahaan milik orang tua pelaku utama pembullyan pada putrinya. Untung saja Teddy pernah membantunya saat gadis itu kesulitan mencari tempat PKL. Tempat instansi pemerintah yang dikunjungi putri tuan Jonathan juga mendapat sanksi karena berani menolak putrinya." Keluh Wijaya berkali-kali menghela nafas panjang.
"Sungguh kekuasaan membuat orang menjadi seperti itu. Aku pun akan melakukan hal yang sama jika terjadi sesuatu pada anak-anakku." Ucap istri Wijaya membenarkan.
"Apa itu benar pa?" Tiba-tiba Teddy muncul di depan mereka.
Awalnya dirinya masih belum diizinkan untuk masuk PKL karena kasus tersebut. Sehingga Wijaya mengurungkan di rumah saja. Keduanya menatap Teddy yang terlihat putus asa. Wijaya hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan putranya.
"Pa, apa harus ke luar negeri, aku bisa pindah ke sekolah lain pa?" Pinta Teddy duduk di sofa depan papa dan mamanya duduk.
"Lakukan demi perusahaan kita!" Wijaya berdiri dan masuk ke dalam kamar diikuti istrinya yang menatap Teddy penuh penyesalan karena tak mampu melakukan apapun selain mengikuti keinginan suaminya.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak
Beri rate, like dan vote nya
Makasih 🙏
__ADS_1
Maafkan typo