
Dua hari setelah hari itu. Jonathan tak pulang ke rumah Karina, dua hari itu juga dia tak pergi ke kantor. Memikirkan tentang rencana pernikahannya dengan istri yang dijodohkan orang tuanya. Wanita yang sudah beberapa minggu ini menjadi tunangannya.
Jonathan bertekad untuk membatalkan pernikahan itu. Karena selain dia sudah mempunyai istri meski hanya secara siri namun Jonathan mencintainya tidak mencintai wanita yang dijodohkannya.
Sedang Karina bekerja seperti biasanya tak peduli dengan suami keduanya mau pulang atau tidak. Hatinya masih sakit, dan dadanya masih terasa sesak setelah pertemuannya dengan suaminya Keanu. Seperti beban berat yang sangat menghimpitnya, Karina menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya.
Entah kenapa akhir-akhir ini dia tak bersemangat sama sekali. Putrinya terpaksa dititipkan kembali pada bi Ani setelah Maya izin untuk pulang ke rumahnya karena ibunya sedang sakit.
**
"Kau tak kerja?" tanya Alensio yang ruang kerjanya tiba-tiba dibuka tanpa permisi.
Dan dia sudah menebaknya siapa yang dengan tidak sopannya menyelonong masuk tanpa permisi adalah putranya, Jonathan. Dan mungkin Alensio sudah bisa menebak apa mau putranya itu.
"Aku ingin membatalkan pernikahan kami." tegas Jonathan berdiri di depan meja kerja papanya menatap papanya tajam dan dingin.
"Kenapa? Karena perempuan murahan itu?" ucap Alensio tersenyum mengejek, kembali melanjutkan pekerjaannya tanpa menghiraukan putranya yang sudah menggeram kesal.
"Itu mungkin salah satunya. Tapi aku memang tak pernah menginginkan perjodohan ini." jawab Jonathan tegas tak bergeming dari tempatnya berdiri.
"Pergilah! Anggap aku tak pernah mendengar apapun. Pernikahan tetap akan dilanjutkan." ucap Alensio juga sama tegasnya, menatap Jonathan tajam dan dingin juga.
"Aku tetap menolak."
Brak...
Meja kayu itu digebrak dengan kasar oleh Alensio melihat putranya yang tetap kukuh dengan keinginannya.
"Jangan menguji kesabaranku Jo, papa bisa melakukan apapun yang papa inginkan!" bentak Alensio. Namun Jonathan tampak tenang tak merasakan takut.
"Aku akan bicara pada Jane untuk membatalkan pernikahan kami." Jonathan hendak meninggalkan ruangan itu namun..
"Jika kau selangkah saja keluar dari ruangan ini dan menemui Jane untuk membatalkannya. Papa tak segan-segan akan melakukan apapun pada wanita murahan itu." ancam Alensio menatap tajam Jonathan dengan wajah memerah menahan amarahnya.
"Kita lihat saja nanti." jawab Jonathan masih bersikap tenang.
Berusaha menyembunyikan amarahnya karena ancaman sang papa pada wanita yang dicintainya.
"Brengsek." umpat Alensio setelah pintu ruangan ditutup Jonathan.
__ADS_1
Jonathan meninggalkan kantor papanya dengan perasaan geram menahan amarahnya. Dia mengendurkan dasinya yang terasa sesak mencekik lehernya.
Karina adalah segala-galanya dalam hidupnya. Dari suaminya saja aku belum bisa memisahkannya. Dan aku yakin ancaman papa tidak hanya sekedar gertakan saja. batin Jonathan masuk ke dalam mobilnya melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju sekolah putri sambungnya.
Hanya mereka yang mampu meredakan emosi Jonathan. Dan kesalahan Jonathan saat tak sengaja dipergoki oleh Karina, dia belum bertemu untuk menjelaskannya. Mungkin lewat putrinya dia akan memaafkannya dengan mudah. Dan Jo berusaha untuk tidak mempedulikan pertemuan istrinya dengan suaminya yang lain. Toh mereka tak pulang ke rumah mereka.
Jonathan berdiri di samping mobilnya di depan gerbang sekolah putri sambungnya itu. Meski banyak ibu-ibu wali murid yang juga memperhatikannya dan bisik-bisik membicarakan dirinya. Jonathan tampak cuek dan dingin tak menanggapi bisik-bisik tersebut.
"Papi." panggil Anin begitu melihat Jonathan menjemputnya di sekolah.
Setelah ujian kenaikan kelas usai, sekolah Anin memang pulang lebih cepat karena memang sudah tidak ada apapun untuk diajarkan. Dan dua hari lagi libur panjang kenaikan kelas.
"Hai my princess.." panggil Jonathan kembali merentangkan kedua tangannya menerima pelukan putrinya.
Anin tentu saja senang dan menghambur memeluk papinya.
"Papi jemput Anin?" tanya Anin tersenyum saat sudah digendongan Jonathan.
"Anin suka?" tanya Jonathan tersenyum senang sambil membukakan pintu mobil untuk putrinya. Para ibu-ibu hanya mendesah iri saat melihat siapa yang dijemput pria tampan itu.
"Anin suka banget." jawab Anin polos tersenyum senang.
"Sungguh?" tanya Anin, matanya berbinar bahagia.
"Tentu. My princess ingin pergi kemana?" tanya Jonathan lembut.
"Kita ke Dufan?" ucap Anin.
"Let's go!" mereka pun tertawa bahagia meninggalkan halaman sekolah.
**
Saat jam makan siang, Karina dikejutkan dengan panggilan dari bi Ani, wanita paruh baya yang dititipi putrinya.
Dalam percakapan ponsel :
Karina :" Ya bi?"
Bi Ani :" Maaf Bu, Anin gak ada di sekolahnya?" ucap bi Ani gemetar ketakutan. Raut wajah khawatir dan cemas terlihat jelas di wajahnya.
__ADS_1
Karina :" Apa maksutmu bi?" tanya Karina ikut cemas juga.
Bi Ani pun menjelaskan kalau dirinya menjemput Anin di sekolah seperti jam pulang biasanya. Namun sekolah Anin kosong, sudah pulang seluruh penghuni sekolah. Satpam penjaga tak tahu tentang Anin siapa yang menjemput. Karena saat Jonathan menjemput tadi, dia sedang diminta tolong oleh kepala sekolah mengantar surat berkas ke sekolah sebelah.
Karina :" Terus sekarang bi Ani dimana? Sudah menghubungi ponsel Anin?" Karina semakin cemas saja, di benaknya terlintas hal buruk yang mungkin terjadi dengan putrinya. Apa mas Ken yang menjemputnya ya? Tapi kok gak menghubungi aku dulu? batin Karina di sela panggilan yang terhubung.
Bi Ani :" Ini saya masih di sekolah Bu, Ponsel Anin tidak aktif." jawab bi Ani sambil meremas jemarinya karena gugupnya merasa bersalah.
Karina :" Baiklah aku akan menghubungi siapapun yang mungkin menemui putriku bi, bibi pulang saja, mungkin dia sudah di rumah bi." ucap Karina menenangkan wanita paruh baya itu.
Bi Ani :" Iya Bu."
Bi Ani pulang dari sekolah. Setelah bertanya di sekitar sekolah akhirnya bi Ani tahu jika sekolah pulang lebih awal. Dan bi Ani tak tahu hal itu karena dia menjemputnya seperti jam pulang sekolah seperti biasa.
**
Sementara itu...
"Wah, menyenangkan sekali pi. Makasih ya papi." ucap Anin saat keduanya kini sedang makan siang setelah jalan-jalan menaiki wahana permainan yang ada di Dufan.
"Kau suka?"
"Tentu. Lain kali kita ajak mama ya pi?" ucap Ani bersemangat.
"Tentu." Jonathan tersenyum sambil mengusap rambut putri sambungnya.
Ah, pasti akan lebih menyenangkan jika kami punya anak sendiri. batin Jonathan tersenyum menatap Anin yang sedang makan siang dengan lahapnya.
Jonathan menatap layar ponselnya, terdapat lima panggilan tak terjawab dari istrinya. Jonathan mengernyit, tumben istrinya menghubungi dulu setelah beberapa hari ini tak menghubunginya sama sekali.
Jonathan melirik jam tangannya menunjuk pukul dua siang dan panggilan itu sudah satu jam yang lalu. Tak mungkinkan? batin Jonathan tersadar akan sesuatu.
**
Karina memilih untuk izin pulang dari atasan di tempatnya bekerja. Karena dirinya merasa cemas dengan menghilangnya putrinya. Keanu tak menjawab panggilannya namun langsung mengirimi pesan pada Karina kalau dirinya sedang meeting dengan klien.
Dan Karina meyakini bukan Keanu yang menjemput Anin. Semakin cemas saja Karina. Dan diapun mencoba menghubungi ponsel Jonathan hingga lima kali dan memberanikan diri untuk bertanya pada sekretarisnya dimana Jonathan CEO mereka. Dan sekretarisnya mengatakan sudah tiga hari ini Jonathan tak masuk kantor karena ada urusan pribadi.
Dan Karina pun mengurungkan niatnya untuk menghubungi Jonathan kembali karena diyakininya Anin tidak bersamanya. Semakin cemas saja Karina, dia pun beranjak meninggalkan meja kerjanya tanpa pamit pada rekan-rekannya yang bertanya melihat kecemasan pada wajah Karina namun tak mendapatkan jawaban apapun.
__ADS_1
TBC