Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 87


__ADS_3

"Undangan dari kampus?" Tanya Guntur menghentikan pekerjaannya saat Raka mengabarinya untuk memenuhi undangan dari kampus elite swasta di kota.


Guntur meraih undangan yang diulurkan Raka padanya seolah mengingat sesuatu tentang kampus itu.


"Hari ini jam sembilan pagi." Jawab Raka.


"Ini kampus Lara?" Guntur meletakkan di meja dengan malas dan tak berminat.


"Juga kampus non Anin." Guntur menghentikan lagi gerakannya.


"Jam berapa sekarang, aku harus bersiap kesana kan?" Guntur langsung berdiri merapikan jas kantornya bersiap untuk berangkat.


"Masih satu jam lagi tuan?" Beritahu Raka.


"Selama perjalanan bisa dilakukan perlahan." Jawab Guntur.


"Saya harus mengurusi meeting dengan bawahan saat ini. Anda akan diantar sopir." Ucap Raka membuat Guntur menghentikan langkahnya menatap Raka tajam.


"Kau mau mati ya!" Seru Guntur meski niatnya bercanda, tapi dia sungguh dibuat kesal dengan calon kakak tirinya itu.


"Mungkin setelah acara anda akan menghabiskan waktu berdua dengan nona Anin, dan saya tak mau dicampakkan begitu saja." Guntur memejamkan matanya sejenak, dia ingin marah, dia ingin mengumpat kesal pada calon kakak tirinya itu.


Namun apa yang dikatakannya tidak ada salahnya. Mungkin yang dikatakan Raka benar-benar akan terjadi nanti.


"Baiklah." Putus Guntur akhirnya setelah menghela nafas panjang.


***


Suara hiruk pikuk kampus elite swasta itu sudah ramai. Guntur turun dari mobilnya menatap sekeliling kampus mencoba mencari-cari sosok yang sangat dirindukannya. Namun rektor dan dosen kampus sudah menyambutnya dengan sangat antusias dan segera menggiringnya ke ruang acara. Acara hari itu berisi tentang pembahasan perkara donatur setiap bulannya dan laporan semua pemasukan dan pengeluaran yang digunakannya.


Juga tentang pembahasan mahasiswa dan mahasiswi terbaik yang kurang mampu dalam hal biaya kuliah. Guntur mulai bosan dengan pertemuan itu meski juga banyak kalangan dari pengusaha yang menjadi donatur juga ikut datang. Sebenarnya acara tersebut tidak terlalu penting bagi Guntur kalau bukan karena Anin, dia sudah malas untuk datang.


Hingga beberapa jam akhirnya acara berakhir, Guntur membuka notif pesan yang dikirim Raka. Matanya membelalak terkejut. Guntur segera meninggalkan ruangan tersebut tanpa pamit dengan wajah memerah menahan amarah dan tangan terkepal.


Dia pergi menuju kelas yang mungkin tempat gadis yang sudah membuatnya murka seperti itu. Saat Guntur mendapat informasi kalau Anin ada di kantin, Guntur langsung menuju ke tempat itu dan langsung dihadiahi tatapan memuja para mahasiswi melihat ketampanannya.


Srek...

__ADS_1


Grep...


Guntur meraih paksa pergelangan tangan Anin yang belum siap untuk berjalan. Hingga dia pun terseret karena tarikan yang sedikit kasar dari pria yang sudah sebulan ini hampir tak ada kabar.


"Aduh .." Keluh Anin saat Guntur menghentak tangan Anin dengan sedikit kasar di dalam toilet kampus.


Untung saja sepi tak ada yang mondar-mandir disitu. Guntur segera mengunci pintu mencegah orang yang mungkin akan masuk ke dalam.


"Apa-apaan ini?" Seru Guntur emosi menatap Anin nyalang.


"A.. apa maksudmu mas?" Tanya Anin tanpa rasa bersalah.


"Oh, kau memang tak tahu maksudku atau pura-pura tak paham?" Tanya Guntur sinis.


Masih menahan amarahnya agar tidak meledak.


"Sungguh, aku tak paham apa yang mas maksud." Jawab Anin sambil mengusap pergelangan tangannya yang digenggam kasar oleh Guntur tadi.


"Jadi, kau mau menikah? Dengan pria itu? Yang hanya pengawal itu?" Tanya Guntur semakin emosi saat mendengar gadisnya akan menjadi milik orang lain.


"Itu... salah paham." Jawab Anin tenang tak berani menatap Guntur.


"Jangan kau kira kalau hubungan kita telah berakhir seperti keinginanmu!" Sarkas Guntur.


"Bukankah memang seperti itu?" Jawab Anin memelankan suaranya takut emosi Guntur semakin meledak.


"Aku tak pernah berniat setuju untuk mengakhiri hubungan kita. Itu hanya keputusanmu sendiri. Bahkan aku tak mengiyakannya. Aku pun sudah berusaha memperjuangkanmu. Aku sudah membatalkan semuanya, pertunangan, rencana pernikahan. Dan aku melakukan semua untukmu." Jelas Guntur penuh emosi dan ketegangan tampak jelas di matanya.


Bahkan sorot mata penuh kekecewaan tersirat di matanya. Anin bahagia mendengarnya, senang juga, sangat. Dia ingin menghambur memeluk pria yang sangat dirindukannya itu sampai hari ini. Namun ultimatum Daddynya sekali lagi melintasi benaknya.


"Itu keputusan Daddy." Jawaban Anin mampu membuat Guntur jatuh sejatuh-jatuhnya.


"Kau tak menolak?" Tanya Guntur dengan nada getir.


"Tak ada alasan bagiku untuk menolak karena keputusan Daddy aku yakin yang terbaik."


Bruak...

__ADS_1


"Jangan pancing emosiku sayang, kau tahu aku tak bisa hidup tanpamu!" Guntur semakin memepeti tubuh Anin hingga membentur tembok dengan wajah Anin meringis merasakan sedikit nyeri benturan tersebut.


Guntur mencium bibir Anin kasar. Anin hanya diam tak menolak juga tak membalas. Guntur yang tidak sabaran menggigit kecil bibir itu hingga mulut Anin terbuka dan melesakkan lidahnya masuk ke dalam mulut Anin dan mengabsen setiap giginya. Anin goyah, Anin pun luluh.


Dia pun membalas belitan lidah pria yang tak bisa dilupakannya itu. Ciuman panas yang semakin liar itu tak mampu mengendalikan Guntur lagi untuk tidak menjelajahi seluruh tubuh kekasihnya. Dia tak akan membiarkan siapapun memiliki gadisnya. Dia hanya miliknya. Untuknya.


"Nona... nona... nona di dalam!" Ketukan pintu dari luar toilet membuat keduanya mau tak mau menghentikan gerakan mereka.


"Zian." Lirih Anin menatap Guntur sayu.


"Ikut aku!" Titah Guntur meraih pergelangan tangan Anin membuka pintu toilet dan berhadapan langsung dengan Zian yang terlihat cemas mencari-cari keberadaan Anin.


Anin yang ada di belakang tubuh Guntur menutupinya.


"Nona, kelas segera dimulai." Beritahu Zian yang malah mendapatkan tatapan tajam dari Guntur.


"Aku pinjam nonamu sebentar." Guntur yang menjawab. Zian menatapnya, keduanya saling beradu tatapan tajam.


"Nona.."


"Tak apa Zian, aku ingin bersamanya sebentar!" Pinta Anin memunculkan sedikit kepalanya dari balik punggung Guntur yang digenggam erat jemarinya oleh Guntur posesif.


"Tapi nona..." Guntur mau menjawab tapi langsung dihadang oleh Anin mencegah keduanya baku hantam.


"Hanya sebentar, please!" Pinta Anin memohon penuh permohonan.


Zian menatap Anin intens, ganti beralih menatap Guntur lekat.


"Aku akan mengikuti anda dari belakang nona." Putus Zian menatap Anin juga penuh harap.


"Hei, kau..." Anin segera mencekal erat jemari Guntur mencegah untuk bicara yang dapat menimbulkan pertikaian apalagi kini ketiganya menjadi tontonan gratis para mahasiswa dan mahasiswi yang melihatnya.


"Terserah kau saja!" Jawab Anin menarik Guntur meninggalkan toilet itu sambil menarik Guntur pergi.


Dan tentu saja Zian mengikuti keduanya setelah mendapat tatapan mengejek dari Guntur karena merasa menang.


TBC

__ADS_1


__ADS_2