
"Tuan, apa anda akan datang ke ulang tahun nona Lara?" Tanya Raka saat membacakan jadwal keseharian Guntur.
Guntur terdiam sejenak mencerna ucapan asistennya dengan acuh.
"Entahlah!" Jawab Guntur cuek melanjutkan lagi pekerjaannya.
"Tuan besar menghubungi saya untuk memaksa tuan agar datang." Ucap Raka membuat Guntur memicingkan matanya menatap asistennya dingin.
"Kau pikir pekerjaanku hanya mengurusi hal sepele? Kenapa kau saja yang tidak menawarkan diri untuk datang?" Seru Guntur kesal menatap Raka jengah.
Dia memang tak bisa menolak perintah Wicaksana membuat Guntur semakin kesal saja, apapun yang ditanyakan tuan besar Raka selalu mengatakan semuanya tanpa kurang suatu apapun. Itulah sebabnya orang tua itu selalu tahu kegiatan Guntur jika Raka memiliki jadwalnya atau saat Raka ikut Guntur setiap pertemuannya dengan klien.
"Maaf tuan saya hanya mengingatkan. Dan sayang sekali saya sudah mendapatkan undangan sendiri dari nona Lara." Ucap Raka sambil menunjukkan undangan pada Guntur seolah sedang mengejeknya.
"Kau masih belum menyerah juga?" Komentar Guntur membuat wajah Raka merona memerah.
"A.. apa maksud tuan?" Jawab Raka gugup.
"Huh ... perjuanganmu melewati orang tua itu sangat berat." Komentar Guntur mengejek Raka.
"Jika memang kami berjodoh, tuan besar pasti akan menerima saya sebagai menantu." Jawab Raka dengan yakinnya.
"Huh.. aku tak mau menganggap mu sebagai adik iparku nanti." Ejek Guntur.
"Huff... tuan seharusnya membantu saya." Pinta Raka.
"Aku memperjuangkan milikku saja sulit kau suruh aku membantumu." Guman Guntur.
"Ada yang anda katakan tuan?" Tanya Raka tak bisa mendengar gumaman Guntur.
"Carikan kado yang disukai seorang gadis!" Titah Guntur menatap Raka lekat.
"Apa yang anda inginkan?"
"Terserah!"
"Bagaimana bisa anda memberi kado adik anda terserah?" Tanya Raka tak terima.
"Kau mau membantahku!" Guntur melotot menatap Raka kesal.
"Bukan begitu, maksud saya beri gambaran tentang sesuatu agar saya mudah menentukannya." Jawab Raka sambil berdehem.
Meski dia sudah seperti seorang teman dengan bosnya itu dia masih memiliki rasa takut.
"Kau yang paling tahu apa yang dia sukai bukan?" Guntur tak menatap Raka melanjutkan pekerjaannya.
"Apa harganya tak jadi masalah?" Guntur melotot tajam pada Raka.
Raka langsung mengerti dan segera meninggalkan ruangan bosnya. Dia memang sudah sering memberikan hadiah untuk para klien wanitanya. Itu sudah menjadi tradisi sejak Wicaksana menjabat sebagai pimpinan. Hal itu otomatis juga menurun pada kepemimpinan Guntur juga.
Guntur sudah menolak cara rendahan yang berarti sogokan itu namun Wicaksana langsung mengomel-omel tidak jelas jika dirinya tak melakukan tradisi turun temurun meski hal itu menggunakan keuangan perusahaan. Guntur sempat berdecak kesal dan mengumpati orang tua itu.
***
__ADS_1
"Kau sudah siap?" Tanya Nara yang saat itu sudah ikut pulang ke mansion keluarga Anin saat pulang kuliah.
Anin menawarkan pada Nara untuk pulang ke mansionnya jika nanti sama-sama menghadiri ulang tahun teman sekelasnya. Dan Nara mengiyakan ajakan Anin. Setelah pulang kuliah mereka belanja di mall untuk mencari hadiah yang pantas untuk ulang tahun temannya keduanya memutuskan untuk pergi ke salon perawatan kulit dan wajah.
Hingga waktu sudah menunjukkan pukul lima mereka tiba di mansion keluarga Anin dan berganti pakaian milik Anin.
Pukul enam tiga puluh, Anin dan Nara meninggalkan mansion keluarganya setelah pamit dan mendapat izin dari sang mommy. Anin mengendarai mobil dengan kecepatan sedang dengan bantuan goo*gle map di mobilnya untuk menunjukkan rumah Larasati, temannya yang ulang tahun tadi.
Pukul tujuh lebih lima belas menit mereka sampai di tempat tujuan, sudah banyak para tamu yang datang. Semua tamu didominasi teman-teman kuliah satu angkatan, namun ada juga dari kalangan senior mereka juga ada yang diundang. Juga tamu undangan resmi dari rekan bisnis orang tua Larasati.
"Apa kita terlambat?" Tanya Anin saat melihat tamu sudah memenuhi mansion yang lumayan besar itu.
"Entahlah, hanya terlambat sedikit kurasa tak masalah." Jawab Nara sambil melirik jam tangannya.
"Apa tak apa?" Tanya Anin ragu untuk keluar dari mobil.
"Ayolah! Kita sudah sampai, bilang saja kita harus mencari tahu dulu alamat mansionnya." Jawab Nara tenang.
"Baiklah." Keduanya turun dari mobil dan berjalan masuk dan disambut seorang penerima tamu serta dengan sangat ramah.
Untung saja keduanya tadi memakai gaun pesta meskipun tertutup sehingga keduanya tidak seperti salah tempat.
"Selamat ulang tahun Lara!" Ucap Anin saat menjumpai Lara di antara kedua orang tuanya menyambut kedatangan tamu tak jauh dari para penerima tamu.
"Terima kasih Nindi, sudah mau datang." Jawab Lara ramah tersenyum senang.
Dia menerima pelukan cipika cipiki dari Anin dan Nara.
"Oh, tidak. Belum dimulai acaranya. Aku ingin memulainya saat kakakku datang." Jawab Lara terlihat sedih di matanya.
Anin hanya mengangguk mengiyakan ucapan Lara. Anin dan Nara juga menyalami kedua orang tua Lara yang menyambut mereka ramah.
Anin dan Nara pun masuk ke dalam menuju tempat teman-temannya berkumpul dan saling menyapa.
"Nindi, kau datang?" Tanya seorang teman pada Anin dan Nara.
"Aku pasti datang jika diundang." Sindir Anin tegas.
Semua orang merasa bersalah, pasalnya setiap mereka berpesta tak pernah mengundang Anin. Karena mereka yakini Anin pasti menolak karena merasa tak nyaman dengan para pengawalnya dulu. Anin dan Nara pun pamit menuju tempat makanan mengambil minuman ringan.
***
Pembawa acara pun memulai acaranya. Satu persatu acara pun dilalui. Dan tibalah saat menyanyikan lagu ulang tahun. Terlihat wajah Lara yang dipaksakan untuk tersenyum meski tampak kekecewaan di binar matanya. Dan seorang gadis juga ikut berdiri di samping Lara yang membuat Anin menatap tajam gadis yang terasa familiar, tapi Anin lupa siapa dan dimana mereka pernah bertemu.
Anin tak sempat kembali berpikir karena terdengar lagi ulang tahun yang membahana di ruangan pesta tersebut. Dan dia pun ikut menyanyikannya.
Acara tiup lilin dilanjutkan dengan acara pemotongan kue, Lara tampak menatap ke arah pintu masuk seolah menunggu seseorang untuk hadir di acara ulang tahunnya.
"Dia seperti menunggu seseorang?" Tanya Anin melihat kegelisahan Lara.
"Ah, mungkin kakaknya. Katanya dia akan memulai acaranya saat kakaknya datang. Tak mungkin kan gadis itu kakaknya, tidak ada mirip-miripnya." Komentar Nara.
"Ah, kau benar."
__ADS_1
Hingga akhirnya acara tiup lilin, potong kue dan dilanjutkan acara makan-makan bersama dengan bebas membuat para tamu berjalan ke arah tempat makanan ditempatkan. Termasuk Anin dan Nara ikut mengantre.
***
Hingga acara kurang dari satu jam, seseorang hadir dengan sangat terlambat karena ada meeting dadakan yang harus dia hadiri membuat asistennya mengumpat kesal karena terlambat hadir di acara ulang tahun orang yang disukainya diam-diam.
"Kakak datang?" Seru Lara tersenyum sumringah sambil menghampiri Guntur yang saat itu datang dengan pakaian formal jas kantornya yang masih terlihat tetap tampan meski sudah sejak pagi tak ganti baju.
"Selamat ulang tahun." Ucap Guntur menyerahkan sebuah kotak persegi ukuran mini itu.
Lara menerima uluran kotak itu dengan hati senang. Satu kecupan di dahi Lara membuat gadis itu memerah tersipu malu karena kakaknya mengecupnya di hadapan orang banyak. Lara sangat senang sekali, bahkan dia rela tak diberi hadiah apapun asal lagi diberi kecupan hangat di dahinya.
"Selamat ulang tahun nona." Raka yang mengulurkan hadiahnya setelah Guntur menyingkir memberikan ruang untuk asistennya.
"Terima kasih kak Raka." Jawab Lara tersenyum juga meski tak seantusias saat menerima ucapan dan hadiah dari sang kakak tiri.
Guntur tak menatap orang tuanya sama sekali. Seolah dia tak melihatnya disana.
"Kau temui para tamu rekan bisnis kita!" Titah Wicaksana setengah berbisik dengan nada dingin.
Guntur hanya menghela nafas berat. Menjilat lagi? Batin Guntur kesal. Guntur mengikuti langkah ayahnya untuk menemui tamu undangan rekan bisnis orang tuanya juga dirinya satu persatu, bibir Guntur sampai kesal karena harus berpura-pura tersenyum di hadapan mereka.
Guntur ingin melarikan diri saja apalagi melihat gadis yang tak diharapkannya sedang bergelayut mesra di lengannya membuat Guntur semakin jengah.
"Bisakah kau lepaskan sebentar?" Bisik Guntur menatap Alea tajam, meski harus memalingkan wajahnya lagi pada tamu dengan senyum sejuta watt nya.
"Kau akan lari jika tidak kupegangi." Jawab Alea sambil ikut tersenyum menatap para tamu yang ditemui tunangannya.
Guntur semakin jengah saja melihat pencintraan yang dilakukan gadis itu.
Pembawa acara kembali lagi mengumumkan sesuatu hingga semua para tamu kembali menatap ke arah panggung pendek tempat peniupan kue tadi.
Disana sudah berjajar orang tua Lara, Guntur dan tunangannya yang berada di tengah-tengah antara Alea dan Lara yang sama-sama memepeti tubuhnya namun Guntur harus tetap menunjukkan senyum manisnya di hadapan para tamu undangan.
Matanya terbelalak saat pandangan matanya bertemu dengan seseorang yang sangat familiar di depannya itu. Seorang gadis yang sangat dikenali dan sangat dirindukannya beberapa hari ini. Namun bukan senyuman yang didapatkan dari gadis itu, sebaliknya gadis itu memalingkan mukanya tak mau menatapnya.
Seolah mereka tak saling kenal, dan tersirat juga raut kekecewaan dan sakit hati dari sorot matanya. Yang disadari Guntur kalau mata itu sedang berkabut buram dan Guntur yakin sebentar lagi air mata akan jatuh di pipinya. Apalagi saat pembawa acara mengumumkan tentang pertunangannya dengan Alea.
Guntur ingin lari menghampiri gadis itu, karena Anin, ya Anin lah gadis itu. Gadis yang beberapa hari lalu telah resmi menjadi kekasihnya. Anin semakin mundur dari acara itu memilih untuk menghindari tatapan Guntur yang menatapnya terkejut itu.
Hingga setelah basa-basi pembawa acara selesai. Guntur langsung melepaskan gelayutan tangan Alea tak memperdulikan apapun. Bahkan sapaan para tamu tak dihiraukannya yang membuat Raka mau tak mau menghibur tamu tersebut hingga mereka tak kesal.
Anin meletakkan gelas jusnya di meja tempatnya mengambil tadi. Namun belum sempat Anin melangkah keluar pintu. Sebuah tangan menariknya kuat ke arah dapur sepertinya. Karena banyak pelayan yang mondar-mandir membawa nampan berisi makanan.
"Lepaskan aku!" Ronta Anin saat tangan kekar itu terus saja menyeret tubuh kecilnya hingga dia kesulitan untuk berjalan malah terkesan terseret.
TBC
Maafkan typo
Beri like, rate dan vote nya
Makasih 🙏🙏
__ADS_1