
Sudah lebih dari dua minggu Jo terjebak di kota tempat perusahaan cabangnya mengalami masalah. Polisi benar-benar mencekalnya untuk tidak dulu meninggalkan kota itu sampai masalah tuntas, padahal Jo sudah menyerahkan masalahnya pada Rian dan Bram.
Namun seolah ada seseorang yang menahannya untuk tidak pergi meninggalkan kota itu. Jo juga tak bisa menghubungi ponsel istrinya setelah percakapan terakhir kali Jo minta untuk dituntaskan hasratnya. Dan tentu saja pernikahan Jo dengan Jane pilihan papanya juga mau tak mau ditunda sebulan kemudian sampai Jo kembali dan masalah di cabang perusahaannya selesai.
Jane yang kelabakan tak terima, namun atas bujukan kedua orang tua Jo, diapun makhlum, apalagi dia sudah diberi tahu alasan Jo tertahan di kota kecil itu. Jo sendiri tak habis pikir dengan masalah yang terus terjadi di kota itu. Dia sudah mencoba menghubungi orang kepercayaannya yang mengawasi istrinya Karina, namun orang yang dibayarnya itu tak bisa dihubungi juga.
Semakin kesal saja Jo, Jo yang kesehariannya tenang, hari itu mengamuk membuang semua barang-barang yang ada di meja kerjanya ruangan kantor itu. Rian sendiri seperti juga mencegahnya untuk pergi dari kota itu.
"Tuan.." lirih Rian menatap tuan mudanya nanar, terdiam duduk di kursinya dengan kedua tangan menelungkup menutup wajahnya.
Jo tak menjawab panggilan Rian yang mencoba menghiburnya. Entah kenapa dadanya terasa sesak, sakit menusuk-nusuk di ulu hatinya. Jo takut terjadi sesuatu dengan istrinya yang dirindukannya. Apalagi tak mendengar kabarnya sama sekali.
"Tuan..." lirih Rian lagi, namun Jo tetap tak bergeming dalam posisinya.
Hingga akhirnya Jo masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam ruangannya, mengguyur tubuhnya di bawah shower dingin untuk meredakan emosinya.
"Baby, where are you?" bisik Jo yang matanya mulai memerah berkaca-kaca.
Isakannya teredam dalam guyuran shower kamar mandi. Rian menatap nanar punggung tuan mudanya yang terlihat rapuh dan tak berdaya. Namun wajah dingin dan datarnya yang ditunjukkannya.
Tapi Rian tahu jika tuan mudanya sedang tertekan. Rian sudah sangat mengenal tuan mudanya itu. Rian hanya menghembuskan nafas kasar merasa bersalah pada tuan mudanya.
**
"Dimana dia?" tanya Bram saat muncul di villa tempat tinggal Jo sementara di kota itu.
Saat melihat pekerjaannya tidak akan selesai dengan cepat, Jo memutuskan untuk membeli sebuah villa terdekat dari kantornya. Sekalian untuk hari-hari selanjutnya tinggal jika dia terpaksa harus menginap. Jo tak mungkin terus-menerus tinggal di hotel untuk waktu lama, selain kurang nyaman.
Jo ingin menikmati suasana alam. Jo juga berencana mengajak istrinya menginap di villa itu suatu saat nanti.
"Tuan sedang istirahat. Kembalilah nanti!" jawab Rian cuek masih sambil mengutak-atik laptopnya. Bekerja mengurus masalah di kota itu.
"Ada kabar gembira. Kukira dia pasti akan senang mendengarnya." ucap Bram.
"Kabar gembira apa maksudmu?" Jo menyela dari tangga saat melihat Bram ada di meja bersama Rian.
__ADS_1
Jo yang sudah berganti pakaian sehabis bangun dari tidurnya terlihat lebih segar, mesti raut wajah sendu masih sedikit terlihat.
Pakaiannya juga santai dan fresh, dirinya juga sudah mampu mengendalikan perasaannya. Rian langsung berdiri dari duduknya membungkukkan badannya memberi hormat pada tuannya meski sekarang tuan mudanya sudah berpakaian casual.
Celana jeans pendek dengan kaos tipis ketat yang membentuk dada sispack nya. Jo ikut duduk di meja makan tempat Rian duduk diikuti Bram. Melihat tampang kusut dan sendu Jo, Bram belum memulai pembicaraannya. Ada yang aneh yang terjadi pada sepupunya itu. Kurasa masalah bukanlah pemicu utamanya.
Jo, sepupunya adalah orang yang profesional dalam menangani masalahnya, buka. seperti sekarang terlihat putus asa ataupun sedih hanya karena masalah perusahaan. Bram yakin ada masalah lain padanya. Masalah pribadi mungkin? Bram mengedikkan kedua bahunya.
"Kabar apa yang ingin kau sampaikan tadi?" tanya Jo tak sabaran melihat Bram terdiam lama menatapnya penuh arti dengan wajah kasihan.
"Apa arti tatapanmu itu?" Jo langsung menelak Bram. Bram menghela nafas dan menepuk pundak sepupunya memberi semangat. Pasti masalah percintaan. Batin Bram.
"Ya, jangan menunjukkan wajah kasihan seperti itu padaku." seru Jo marah meski tak benar-benar marah pada sepupunya itu.
Mereka sejak kecil sering sekali beradu pendapat meski tak sampai adu jotos.
"Kenapa? Kau punya kekasih?" pertanyaan Bram sungguh menohok hati Jo yang ditebak tepat oleh sepupunya.
Rian yang serius dengan pekerjaannya sontak mendongak menatap Bram yang tepat sasaran tentang tuan mudanya. Bram beralih menoleh menatap Rian yang langsung mendongak menatapnya dan kembali menatap Jo yang juga menatapnya.
"Hmm. Siapa gadis yang mampu menaklukkan hati sepupuku ini sampai seperti ini. Kurasa dia pasti gadis yang sangat spesial." komentar Bram.
Jo menghela nafas, berdecak kesal karena tebakan sepupunya selalu benar. Dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Siapa gadis itu?" tanya Bram lagi tak digubris Jo.
"Dia adalah istri orang." suara Rian keluar begitu saja dari mulutnya yang sudah kembali menatap laptopnya.
"APA?" Bram terkejut dan menatap Rian yang masih serius dengan pekerjaannya.
"Dia sudah bercerai." elak Jo berteriak kesal karena Rian membocorkan rahasianya.
Namun Jo sendiri tak terima dibilang menyukai istri orang karena sekarang Karina adalah istrinya satu-satunya.
"Jadi benar? Dan dia adalah istri orang?" Bram kembali dikejutkan oleh ucapan kedua pria yang tak menghiraukannya ini.
__ADS_1
"Hei, Jo." Bram menepuk pundaknya agar menatapnya.
"Bisa kau katakan kabar yang kau bawa itu? Aku tak akan menjawab pertanyaanmu yang lain." jawab Jo masih mengalihkan pandangannya sambil menuang air dingin ke dalam gelas di depannya.
"Jangan katakan karena kau wanita itu bercerai dari suaminya?" seru Bram tak suka.
"Aku tak akan mengatakannya. Mulutnya suka berbual." jawab Jo tenang.
"Kau seorang pebinor?" seru Bram lagi tak menggubris ucapan Jo.
"Ck ... ck... kau sungguh menyebalkan." setelah meneguk airnya Jo hendak meninggalkan meja itu. Tak mau didesak lagi oleh sepupunya.
"Baiklah... baiklah. Aku tak akan bertanya lagi. Aku akan memberikan saran saja." Jo kembali duduk setelah menatap lama sepupunya tak akan mendesaknya lagi.
Jo tahu betul siapa sepupunya. Jika dia mendengar sesuatu tentangnya, dia akan membual di hadapan orang tuanya tanpa sadar. Untuk itulah Jo tak mau bercerita padanya tentang masalah pribadinya.
"Kau pasti sangat mencintainya sampai membuatmu uring-uringan seperti ini. Tapi kau juga sudah bertunangan kan?" ucap Bram lagi.
"Aku sudah membatalkannya." potong Jo...
"Apa kau pikir paman dan bibi setuju?" Jo terdiam, perkataan Bram tepat sasaran.
"Kau dijodohkan karena bisnis. Kurasa paman dan bibi tak akan bisa dengan mudah membatalkannya. Apalagi kalian sudah bertunangan. Dan itu sudah sangat lama terjadi." hibur Bram.
"Aku tak peduli. Asal aku bisa bersamanya." Jo kembali meneguk airnya dengan tatapan sendu.
"Semoga kau beruntung. Bagus kalau dia sudah bercerai. Itu artinya dia sudah single meski seorang janda. Kuharap bukan kau penyebab dia menjadi seorang janda." ucap Bram telak. Jo tersenyum simpul.
"Kau.... Dia... sungguh menakjubkan." puji Jo pada Karina. Setelah menunjuk wajah Bram dengan jari telunjuknya.
Bram menatap kasihan pada sepupunya itu. Jo, sepupunya adalah orang yang sulit jatuh cinta namun saat jatuh cinta, dunia seakan miliknya. Dia akan melakukan apapun untuk mengejar cintanya sampai gadis itu menjadi milik orang lain dan menolaknya. Dan kurasa gadis itu juga mencintai sepupunya, batin Bram menepuk pundak Jo menghiburnya.
"Jangan mengasihaniku!" seru Jo melihat tatapan Bram penuh kasihan.
Rian hanya tersenyum sambil melanjutkan pekerjaannya meski sedikit mendengar pembicaraan kedua orang itu.
__ADS_1
TBC