
Seseorang di balik pilar tempat parkir basemen kantor Guntur tersenyum puas. Apa yang dilakukannya berhasil membuat Anin kecewa dan bersedih.
"Huh, itu pantas untukmu." Bisiknya dalam persembunyiannya.
Senyum seringai tercetak semakin jelas di bibirnya saat apa yang direncanakan sudah mendekati berhasil. Dia tak akan berhenti sampai disini.
"Masih banyak kejutan yang harus kau rasakan nanti." Bisiknya lagi meninggalkan parkiran basemen kantor setelah melihat mobil Anin meninggalkan tempat parkir itu dengan keadaan menahan tangisnya yang mungkin saja akan segera luruh.
***
"Pagi ini kau terlihat tidak bersemangat?" Ucap Raka melihat Guntur berkali-kali menghela nafas lelah.
Guntur tak menjawab hanya mendongak menatap Raka dan meneruskan pekerjaannya.
"Kukira setelah melepas rindu kalian akan bahagia dan kau pun akan tersenyum tanpa henti setelah tiba di kantor." Ucap Raka lagi membuat Guntur mengernyit.
"Bertemu? Apa maksudmu?" Tanya Guntur memang tak paham.
"Bukannya aku sudah memberi tahumu kalau non Anin kemarin saat makan siang akan datang kemari?" Jelas Raka mendesah kesal karena lagi-lagi ucapannya tak sungguh-sungguh didengar jika Guntur sedang lelah.
"Kapan? Kau tak bilang apapun?" Seru Guntur tak terima merasa belum mendengar kabar itu.
"Jangan pura-pura tak tahu, aku sudah memberi tahumu setelah meeting pagi kemarin! Kau tak menjawab apapun dan aku yakin saat itu kau sedang melamun. Dan saat kubilang kau benar mendengarku, apa yang kau katakan? Kau hanya menjawab iya iya dan iya kan? Dengan wajah malas dan ogah-ogahan." Kesal Raka menuding-nuding wajah Guntur kesal.
"Benarkah? Lalu kapan itu?" Tanya Guntur tidak merasa bersalah sama sekali.
Raka hanya menganga tak percaya mendengarnya.
"Kemarin. Kemarin siang dan aku dengar dia datang. Saat itu aku sedang mengunjungi proyek terdekat sesuai perintahmu. Ah, ya. Alea sempat menghubungi untuk mengambil berkas kontrak. Apa kau bertemu dengannya saat kau bersama non Anin?" Jelas Raka membuat Guntur membelalakkan matanya terkejut.
"Tunggu, tunggu! Kemarin siang?" Raka mengangguk.
"Oh ****..." Umpat Guntur teringat sesuatu. Segera diraihnya ponselnya menghubungi seseorang yang membuatnya cemas.
"Ayo, angkat sayang, please!" Bisik Guntur cemas.
Dia mondar-mandir kesana-kemari di dalam ruangannya. Raka yang tak mengerti hanya mengernyit penuh tanda tanya. Lagi-lagi Guntur mengumpat kesal karena panggilannya tak dijawab hanya operator ponsel. Lagi, Guntur menghubungi lagi hingga panggilan ketiga namun tak segera dijawab.
Cklek
Suara pintu ruangannya dibuka, hanya Raka yang menoleh ke arah pintu.
"Tuan, meeting akan segera dimulai, hanya menunggu tuan Guntur." Beri tahu sekretaris Guntur namun Guntur masih sibuk dengan panggilan ponselnya.
__ADS_1
"Kita selesaikan nanti. Meeting tak akan dimulai tanpa anda tuan!" Seru Raka membuat Guntur tersentak dari kecemasannya menatap Raka kebingungan.
"Tapi..."
"Nanti saja!" Sela Raka cepat.
Guntur bagai dicocok hidungnya, diapun mengikuti langkah Raka dengan gontai.
***
Anin terduduk diam di cafe langganannya dengan Guntur saat makan siang. Anin menatap pandangannya kosong ke depan dengan es cappucino yang dipesannya masih utuh. Lagi-lagi dia menghela nafas panjang dan berat. Zian hanya duduk di kursi luar cafe sambil mengawasi sang nona yang terbengong dengan bodohnya.
Klining
Suara pintu cafe dibuka dari luar tanda seseorang masuk ke dalam cafe. Dia menatap sekeliling dalam cafe seolah mencari seseorang yang sedang dicarinya.
"Sayang." Anin memundurkan wajahnya saat Guntur mendekatinya hendak mengecup dahinya seperti yang biasa dilakukannya.
Guntur mengernyit menyadari ada yang aneh pada calon istrinya. Anin tak menatap wajah Guntur yang terlihat bingung dan heran. Dia memilih duduk di kursi dekat Anin di meja yang sama. Zian masih mengawasi keduanya dengan intens.
"Mommy meminta kita untuk fitting gaun pengantin." Ucap Anin datar tanpa senyuman seperti biasanya.
"Okay, ayo kita pergi!" Ajak Guntur berdiri lagi sambil menarik pergelangan tangan Anin namun ditolak dengan cepat oleh Anin.
"Aku ada urusan di kampus. Jadi aku tak bisa." Jawab Anin hendak meninggalkan cafe dengan cepat agar Guntur tak bisa mencegahnya.
Guntur menghela nafas panjang, sepertinya dia tahu. Batin Guntur langsung berlari menyusul Anin yang menuju mobilnya.
Grep
"Maaf. Maafkan aku. Itu tidak seperti yang kau lihat." Bisik Guntur dalam dekapannya.
Guntur berhasil mendekap tubuh Anin dari belakang. Dia tak peduli pandangan orang pada mereka. Dia harus segera menyelesaikan kesalah pahaman mereka. Bagaimana pun dia yang salah tak tahu jika perlakuan Alea yang mencuri ciuman bukan ciuman tapi hanya kecupan yang dipergoki calon istrinya.
"Memangnya apa yang kulihat?" Jawab Anin balik bertanya membuat Guntur memejamkan matanya sejenak.
Merengkuh bahu Anin dan memutarnya hingga menghadap padanya.
"Maaf sayang, please. Aku tahu kau kemarin datang ke kantor. Dan aku tahu apa yang kau lihat disana. Tapi itu semua tidak seperti yang kau lihat. Aku..."
"Aku harus ke kampus mas, mengurus sesuatu. Jadi.."
Cup
__ADS_1
Guntur menutup bibir Anin dengan bibirnya membuat Anin tersentak mundur dengan wajah yang memerah karena malu. Anin segera menatap sekeliling karena mereka berada di tempat umum.
"Mas..." Seru Anin garang membuat Guntur tertawa melihat keterkejutan pada wajah kekasihnya.
"Kau memaafkan mas kan? Aku langsung mendorongnya kemarin. Saat itu aku tertidur dan dia berani-beraninya mencurinya saat aku tidur. Sungguh?" Jelas Guntur menatap Anin penuh harap.
"Jadi, kalau mas tak bangun?" Tanya Anin penuh kecemburuan.
Guntur tersenyum melihat wajah cemburu calon istrinya.
"Itu tak mungkin sayang, kau lupa. Aku selalu terbangun saat kau diam-diam menciumku saat tidur. Aku langsung membuka mata. Saat itu kupikir itu adalah kau. Hingga saat aku membuka mata yang ternyata bukan kau karena bau tubuhnya tidak sama. Jadi aku langsung marah dan mendorongnya." Jelas Guntur menatap Anin lekat penuh permohonan.
Anin terdiam, mencerna ucapan calon suaminya. Benar, dulu dia pernah beberapa kali mencuri ciuman padanya saat tertidur pulas, entah itu di rumahnya atau di kantor. Dan Guntur langsung membuka matanya dan malah membalas ciumannya dengan panas.
Mungkin jika bukan diriku, apakah benar dia langsung refleks mendorongnya. Batin Anin menatap Guntur lekat mencari kejujuran yang jelas di mata Guntur.
"Kalau begitu, hapus!"
"Ya?" Guntur malah melongo tak mengerti.
"Hapus! Hapus bibir yang menempel darinya!" Titah Anin lagi tanpa bantahan.
Guntur masih bingung dengan permintaan Anin.
Cup
Cup
Cup
Anin mencium bibir Guntur berharap bekas ciuman orang lain tidak menempel. Hingga Guntur pun sadar apa yang dimaksud kekasihnya. Dia pun tersenyum bahagia karena kekasihnya sudah memaafkannya.
Guntur segera meraih dagu Anin dan menciumnya intens. Bahkan ciuman itu berubah menjadi ******n, hisa*an, serta tak peduli dengan pandangan orang-orang yang lalu lalang di sekitar cafe.
Zian hanya menundukkan kepalanya merasa dadanya sesak. Terlihat senyum getir di bibirnya yang membuatnya sadar bahwa dirinya tidak ada apa-apanya diantara dua orang itu.
**
Seseorang tak jauh dari tempat Anin dan Guntur berdiri namun tersembunyi mengepalkan tangannya kesal karena rencananya lagi-lagi gagal dan percuma dia mengirim foto dan membuat Anin memergoki ciuman calon suaminya.
"Huh, aku masih ada rencana lain untuk menghancurkan hubungan kalian. Tunggu saja!" Bisik orang itu dan beranjak meninggalkan tempat itu.
TBC
__ADS_1