
Seorang pasien dengan alat bantu kehidupan di ruang ICU rumah sakit memenuhi tubuh pasien tersebut. Mesin EKG masih menunjukkan adanya kehidupan pada pasien dengan menunjukkan keadaan normal dan stabil. Entah sudah berapa lama dia terbaring di ranjang pesakitan itu. Sudah hampir satu bulan agaknya pasien itu seolah enggan membuka matanya.
Pasien itu terlihat tidur seperti orang normal kebanyakan. Namun hanya dengan bantuan alat-alat kehidupan tersebut membuatnya seperti orang sekarat yang enggan membuka matanya.
"Apa kita harus menyembunyikan keadaannya yang sebenarnya ini? Sampai kapan? Bahkan pernikahan mereka sudah mendekati hari H saat kejadian itu terjadi?" Ucap wanita Asia itu dengan air mata yang setiap hari enggan berhenti.
"Ini demi keselamatan kita semua. Terutama dia, kau tahu sendiri dia orang yang nekat." Jawab pria paruh baya yang selalu setia mendampingi wanita itu dengan penuh kasih sayang.
"Padahal sedikit lagi dia akan hidup dengan seseorang yang dicintainya seumur hidupnya." Bisik wanita itu lagi.
"Kalau mereka berjodoh, mereka pasti akan dipertemukan kembali sebagai suami istri." Jawab pria tadi.
Wanita itu hanya mampu mengangguk dengan berat hati karena apapun yang dikatakannya pembenaran yang mana dia tak tahu. Yang diinginkan saat ini adalah melihat kesembuhan pasien yang selalu ditemaninya saat ini, yang sudah menjadi sebagian hidupnya sama dengan suaminya sekarang.
"Kita bersyukur dia masih bernafas sampai saat ini." Kedua pasangan suami istri itu menoleh bersamaan saat mendengar suara yang dikenalinya.
"Nak?" Sapa wanita itu dengan masih berlinang air mata. Wanita itu membalas tatapan wanita itu.
"Saya sudah mengusahakan kepindahannya ke luar negeri untuk proses kesembuhannya. Dokter akan mengusahakan proses perpindahannya." Jelas wanita itu tersenyum simpul.
"Terima kasih nak." Jawab wanita asia paruh baya itu tersenyum senang.
__ADS_1
"Tidak akan ada yang pergi kemanapun jika ingin kalian semua selamat." Seru suara wanita yang datang, tiba-tiba menyela di belakang mereka.
Semua orang serentak berbalik menatap wanita itu dengan tatapan tajam.
"Seharusnya kau tahu keadaannya tak akan membaik jika kita tetap berdiam diri!" Seru wanita yang mengusahakan kepindahan pasien tadi.
"Itu yang memang kuinginkan. Daripada dia menikah dengan wanita bodoh itu. Lebih baik dengan terus berbaring itu akan membuatnya tak bisa melakukan apapun." Seru wanita itu tertawa jahat penuh seringai.
"Seharusnya aku menjebloskanmu ke dalam penjara agar kau membusuk saja disana!" Seru wanita tadi kasar penuh amarah.
"Huh, aku juga akan menyeretmu bersamaku." Jawab wanita itu angkuh.
"Cukup hentikan! Tak bisakah kalian diam! Dan kau Lara, kau yang menyebabkan semua ini, tak adakah rasa bersalah darimu karena membuat kakakmu sampai koma seperti ini?" Seru wanita asia paruh baya tadi.
"Kau tak tahu apapun, kau tak melihatnya. Bahkan siapa yang mengusahakan semua hal yang kau inginkan. Kakakmu lah yang mengusahakan meski tidak secara langsung. Tentang kuliah, tentang apartemen bahkan para kekasihmu yang hendak berbuat senonoh padamu, kakakmu lah yang mencegahnya." Seru ibu Kim menatap Lara nyalang.
"Tidak! Itu bohong! Kakak benci padaku, dia lebih mencintai wanita itu daripada adiknya. Bahkan saat aku kesulitan di kampus dia tak pernah membantuku!" Seru Lara menutup telinganya tak mau mendengar segala kebaikan yang dilakukan sang kakak lewat asistennya Raka yang katanya mengaguminya.
Dia selalu acuh dan cuek padanya saat dirinya mengajaknya bicara, mendekatinya, bahkan tak pernah menjawab setiap basa-basinya.
"Kakakmu menyayangimu Lara." Ucap wanita yang satunya tadi membenarkan ucapan ibu Kim.
__ADS_1
"Bohong! Kalian sekongkol agar membuatku semakin merasa bersalah karena kecelakaan itu. Aku tak akan merasa bersalah, aku tak bersalah, itu karma untuknya karena menelantarkan adik tirinya." Seru Lara meninggalkan tempat perawatan Guntur koma.
Lara keburu meninggalkan tempat di depan pintu ruang ICU tempat Guntur dirawat sebelum seorang perawat menegur mereka karena berisik di lorong rumah sakit.
"Lara!" Seru Alea hendak mengejar lara yang dicegah ibu Kim.
"Sudahlah nak! Percuma kau bicara padanya sekarang. Dia masih diselimuti emosi. Biarkan dia merenungkan kesalahannya. Dia pasti akan segera sadar dari kesalahannya. Lara anak yang baik, dia seperti itu karena jarang mendapat perhatian dari ibunya." Hibur ibu Kim menarik lengan Alea.
"Dia begitu tega mencelakakan kakaknya yang begitu menyayanginya meski mas Guntur tak menunjukkan rasa sayangnya." Ucap Alea meredakan emosinya agar tidak ikut marah juga.
"Kita harus memberi kabar pada Anin ibu, aku dengar dia dinikahkan dengan pria pilihan orang tuanya karena terlanjur menggelar pesta mewah dan banyaknya tamu yang datang. Aku cemas saat Guntur sadar nanti, gadis yang dicintainya sudah menjadi milik orang lain." Ucap Alea menatap ibu Kim penuh harap.
"Mungkin dia sudah bukan jodoh Guntur nak. Bahkan sekarang dia sudah menjadi istri orang lain. Lebih baik tak usah memberi tahukan tentang kabar Guntur padanya. Gadis itu malah akan merasa bersalah karena tak mencari tahu kabar Guntur sebelumnya." Ucap ibu Kim.
"Tapi Bu... Kalau Lara dan orang tuanya tak mengancam kalian, kita pasti bisa mengabarinya saat itu juga. Sekarang pun..." Ibu Kim menggelengkan kepalanya bermaksud untuk mengurungkan niat Alea untuk mengabari pada mantan tunangan Guntur yang sekarang sudah menjadi istri orang lain.
"Maafkan ibu nak. Kau menahan semua ini karena penyakit ibumu." Bisik ibu Kim lirih sambil sesenggukan yang langsung ditarik ke dalam pelukan Arman suaminya.
Alea menatap pasangan suami istri itu yang terlihat saling menguatkan dalam kesedihan sekalipun. Dia merasa bersalah atas apa yang terjadi kini dengan Guntur. Kalau saja dulu dia tak memaksakan dirinya untuk dijodohkan dengan Guntur, mungkin sekarang Guntur akan baik-baik saja.
Dan papanya tak akan memaksanya untuk menjadi pewaris perusahaan keluarganya dan berakhir dengan Guntur terpaksa mengambil alih perusahaan papanya demi memperjuangkan cintanya.
__ADS_1
'Aku janji akan menyatukan cinta kalian mas, aku lah yang paling merasa bersalah padamu. Maaf..' Batin Alea mengepalkan tangannya merasa bersalah.
TBC