Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 113


__ADS_3

Sudah lebih seminggu Anin dan Zian pindah ke apartemennya. Tak ada kemajuan pada hubungan mereka. Zian menghabiskan waktunya dengan bekerja menjadi securiti di perusahaan keluarga Alensio sesuai perintah Jonathan. Anin mulai masuk kuliah lagi meski terlihat ogah-ogahan.


Hubungan keduanya malah terlihat semakin menjauh. Zian sibuk dengan pekerjaannya, Anin sibuk dengan aktivitas kuliahnya yang semakin padat. Di rumah keduanya tidur di kamar terpisah sesuai keinginan Zian meski Anin berusaha protes. Namun percuma karena saat malam Zian kerja dan tidur di siang hari. Sebaliknya Anin kuliah pagi sampai sore, tidur malam. Jadi tak pernah sekalipun mereka bertemu.


Anin menghela nafas berat dan panjang. Dia berusaha bersabar dan berusaha dengan menyibukkan dirinya dengan kegiatan dan tugas-tugas kampus. Dan hari itu ada kunjungan dari donatur dan wisuda seniornya semester akhir. Anin otomatis menjadi salah satu anggota yang mengurus jalannya acara.


Anin sedang sibuk menyiapkan segala sesuatunya dengan kelompok yang ditunjuk ketua tingkat. Anin dengan empat teman lainnya bertanggung jawab mengurus aula tempat acara.


Saat hari H acara, semua tamu undangan sudah hadir di kursi yang telah disediakan. Zian diminta Jonathan untuk mengawalnya ke kampus tempat Anin menimba ilmu.


"Saat masuk ke aula, kau cukup tunggu di luar ruangan saja!" Titah Jo tanpa menatap Zian sambil sibuk dengan tabletnya.


"Baik tuan." Jawab Zian.


Meski sekarang Zian adalah menantu Jonathan tapi Zian tetap bersikap formal pada mertuanya tersebut saat di tempat kerja.


***


Di kampus. Raka mengikuti langkah Guntur yang memasuki aula kampus tempat acara para undangan. Guntur hanya menatap sendu sekeliling kampus setelah seorang dosen yang bertugas menyambut tamu undangan. Dosen itu mengoceh tidak jelas yang tidak dihiraukan oleh Guntur malah Raka yang meladeni ucapan dosen itu.


Belum sampai ke gedung tempat acara. Guntur tiba-tiba terhenti dengan tatapan menatap ke depan dengan diam. Raka dan dosen yang bercakap tadi seketika ikut berhenti melihat Guntur yang tiba-tiba berhenti. Raka mengikuti arah pandang Guntur, Anin. Anin ada di depannya berjarak seratus meter di depan mereka berjalan di depan mereka dengan sambal berbincang dengan teman-temannya yang ikut berjalan kedepan dimana Guntur berhenti.


Raka menghela nafas panjang. Hanya Anin yang membuat kesadaran seorang Guntur menjadi normal. Anin belum tahu jika Guntur ada di depannya. Anin terlihat tersenyum meski sangat dipaksakan. Guntur menatap lekat tanpa berpaling dari Anin yang masih belum menyadari keberadaannya. Namun tatapan Guntur beralih saat melihat Zian, suami Anin juga berada tak jauh di belakang Anin yang sama-sama tak mengetahui Anin ada di depannya.


Dia baru saja mengantar tuannya masuk ke dalam gedung pertemuan sementara dirinya berlalu keluar gedung seperti titah tuan besarnya. Guntur melajukan langkahnya lebih cepat setelah melihat Anin dan teman-temannya masuk ke dalam gedung pertemuan lewat pintu petugas beda dengan pintu tamu masuk. Raka mengernyit heran kemana arah tujuan Guntur, dia mengira hendak menghampiri Anin namun ternyata Raka salah.


Brak

__ADS_1


Guntur membenturkan tubuh Zian ke dinding setelah meraih kerah kemeja Zian dengan kasar. Zian yang tak tahu menahu tak siap hanya terdiam menerima perlakuan seseorang yang menurutnya istimewa untuk istrinya.


"Brengsek, apa yang kau lakukan padanya hingga dia semakin kurus seperti itu? Apa uangmu tak cukup untuk menghidupi gadis yang kurelakan padamu? Huh... kalau tahu keadaan dia semakin buruk saat bersamamu aku pasti tak akan merelakan dirinya padamu." Sentak Guntur mendorong dengan menghempas tubuh Zian kasar.


Zian masih diam belas menatap wajah Guntur lemah. Guntur benar, keadaan Anin saat bersamanya tidak baik-baik saja. Bukan karena Zian tidak mencukupi istrinya tersebut dengan benar namun mungkin karena banyak hal yang dipikirkan istrinya tersebut.


Zian sendiri tak berani bertanya apa yang membuat istrinya seperti orang banyak pikiran. Setelah menjadi suaminya, Zian semakin canggung dan tak berani lebih dekat dengan istrinya. Dia masih tahu diri meski mereka sudah menjadi pasangan suami istri.


"Kenapa kau tak merebutnya dariku?" Tantang Zian menatap Guntur berani.


Guntur melotot tak suka menatap Zian. Padahal gadis yang dicintainya sudah merelakan kebahagiaannya hanya demi menghargai status mereka meski secara tidak sengaja. Dan sekarang apa yang dikatakan pria itu. Semudah itu dia mengatakan menantangnya untuk merebut mantan kekasihnya.


"Jangan memprovokasiku!" Desis Guntur memicing menatap Zian.


"Lakukan jika kau menginginkannya!" Tantang Zian semakin berani.


Dua bogeman mentah melayang di rahang tegas Zian yang tampak tak dibalas dengan Zian.


"Aku mencintainya... aku masih sangat mencintainya... Jika karena dia tak memohon padaku untuk melepaskannya untukmu. Mungkin tanpa kau suruh aku sudah merebutnya darimu. Namun aku menghargainya, karena aku mencintainya. Bagiku asal dia bahagia entah dengan siapapun aku rela. Tapi melihat dia tidak baik-baik saja sejak aku melepaskannya mungkin aku akan memikirkan tantanganmu lagi."


"Menikahlah dengannya!" Bisik Zian yang masih dapat didengar Guntur yang hendak meninggalkannya.


Guntur sontak membalikkan tubuhnya kembali. Raka dan dosen tadi tak berani mendekat meski Guntur berbuat kasar pada Zian. Raka mencegah dosen untuk melerai mereka agar menyimak saja apa yang terjadi dengan kedua pria tersebut. Bahkan Raka membiarkan saat Guntur memukul rahang Guntur di tempat umum yang membuat orang-orang yang melihatnya berbisik membicarakan mereka.


Karena tak mau reputasi Guntur buruk, Raka segera mendekatinya dan membisikkan di telinga Guntur apa yang terjadi. Guntur langsung sadar dan menatap ke sekeliling melihat ada beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang melihat interaksi keduanya.


Guntur segera membenahi penampilannya yang sedikit berantakan dan meninggalkan Zian yang termenung dengan rahang yang terlihat sedikit memar.

__ADS_1


***


"Ada apa?" Tanya Jo yang melihat seorang pengawalnya mendekatinya.


"Benarkah?" Ucap Jo setelah pengawal itu membisikkan sesuatu ke telinganya.


Saat ini dia sedang berbincang dengan seorang rektor kampus. Dan sang rektor yang seperti tahu tentang kesibukan Jo langsung terdiam melihat dua pria itu bercakap.


"Lalu?"


"Tuan Guntur langsung pergi setelah asistennya tuan Raka berbisik." Jawab pengawal itu.


"Dan dimana Zian sekarang?"


"Dia masih berada di posisinya." Jo terdiam. Dan melambai pada pengawal itu mengusirnya pertanda masalah itu biarkan selesai begitu saja.


Mungkin itu masalah princess kecilku lagi. Pikir Jo tersenyum penuh arti.


TBC


Jangan tanya kenapa lama gk up


Mood ku buruk, pembacaku menurun...


Gaji*n belum masuk 😭😭 jadi sedikit kehilangan ide...


Maaf

__ADS_1


__ADS_2