
Jo membuka matanya perlahan menatap di sampingnya ada Karina masih bergelung selimut. Keduanya hanya berbalut selimut tanpa sehelai benangpun di dalamnya. Setelah perdebatan panjang, akhirnya Karina luluh, keduanya menghabiskan dengan gairah.
Hingga tanpa sadar waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Ponsel Karina terus berdering sejak tadi. Jo melirik ponsel itu tertera nama Maya di layar ponselnya.
"Maya?" guman Jo. Diurungkannya niatnya untuk mengangkat panggilan itu.
"Baby...baby..." bisik Jo di dekat telinga Karina lembut.
"Hmm.." Karina hanya berdehem masih menutup mata.
Tubuhnya terasa remuk redam setelah pergulatan ranjang mereka yang panjang. Karina kembali goyah saat pernyataan cinta Jo terus saja berguman di telinganya.
"Ponselmu berdering. Maya menghubungimu?" ucap Jo lembut.
"Apa dia Maya yang pernah kuperkerjakan dulu?" tanya Jo penasaran menatap Karina yang masih tak bersemangat untuk bangun.
"Jam berapa sekarang?" Karina tak menjawab balas bertanya masih menutup matanya. Jo melirik jam dinding.
"Jam tiga sore." jawaban Jo membuat mata Karina terbelalak spontan bangun dari tidurnya.
"Ukh..." Karina memegangi kepalanya yang berdenyut hendak bangun.
"Kau mau menggodaku lagi?" bisik Jo tersenyum menggoda melihat selimut di dada Karina melorot ke bawah. Karina spontan menarik selimutnya hingga ke leher.
"Tidak. Aku harus pulang. Aw..." Karina beranjak menuju kamar mandi.
"Hati-hati. Maaf..." cemas Jo, menatap Karina yang meringis menahan sakit di bagian sensitifnya karena entah sudah berapa kali Jo memasukinya tadi. Jo spontan membopong tubuh istrinya ke kamar mandi ala bridal.
"Kya..." jerit Karina dengan perlakuan spontan Jo.
"Maaf, apa sangat sakit?" tanya Jo cemas melihat wajah Karina meringis saat tubuhnya diturunkan dalam bathtub yang berisi air hangat. Karina tak menjawab, hanya menundukkan kepalanya.
"Maaf." Jo ikut masuk ke dalam bathtub duduk di belakang Karina, bibirnya tak henti-hentinya mengecupi seluruh wajah dan leher Karina dengan gemas.
"Kau belum menjawab pertanyaanku. Kau akan membatalkan pernikahanmu itu kan?" tanya Jo dengan bibir masih berkelana di setiap sudut tubuh Karina.
Namun tak ada jawaban dari bibir Karina. Jo menghentikan kecupannya, menatap Karina yang terdiam tak menjawab. Jo membalikkan tubuh Karina menghadapnya. Karina hanya menundukkan kepalanya tak mampu menatap wajah Jo. Diangkatnya dagu Karina agar menatapnya. Mereka pun saling menatap.
Jo melu*mat bibir itu, menghi*sap, mencium bibir itu hingga lidahnya masuk ke dalam mulutnya yang dibalas ciuman juga oleh Karina.
__ADS_1
Keduanya pun saling mencium, melu*mat, berpagutan lama namun tak ada nafsu pada keduanya. Hanya menyalurkan perasaan mereka yang sama saling mencintai dan saling bahagia.
"Aku harus pulang." ucap Karina keluar dari bathtub dan membersihkan tubuhnya dengan shower tak jauh dari tempatnya. Jo mengikuti langkah Karina.
"Apa maksudmu pulang? Ini juga rumahmu. Kau mau pulang kemana?" tanya Jo mendesak Karina. Jo menatap Karina intens. Begitu juga sebaliknya.
"Aku mau menjemput anak-anak." seketika Karina menutup mulutnya keceplosan menyebut anak-anak.
"Apa maksudmu anak-anak? Hanya Anin kan anakmu? Atau...?"
"Ya, kau benar. Maksudku juga Maya yang masih seperti anak-anak." jawab Karina mengelak saat ditanya macam-macam tentang anak.
Sungguh dia belum siap untuk mengatakan bahwa dirinya sudah melahirkan bayi kembar, bayi mereka, bayinya dengan Jo. Karina menggunakan handuk untuk menutupi tubuhnya masuk kedalam kamar mencari pakaiannya yang sudah berserakan di lantai.
Jo masih mengamati setiap pergerakan Karina. Sebenarnya dia sangat penasaran dan ingin menanyakan banyak hal padanya. Namun Karina terlihat tak mau membicarakan apapun.
"Aku pergi dulu." pamit Karina setelah membenahi pakaiannya.
"Kau akan kembali kan? Kau akan pulang kan?" tanya Jo mendesak mencekal pergelangan tangan Karina. Karina kembali berbalik menatap Jo dan mendekatinya.
Cup
"Kalau kau tak kembali, aku akan mencarimu dan menyeretmu pulang. Dimana pun itu." seru Jo dibalas lambaian tangan Karina.
"Ah sial..." umpat Jo setelah melihat taxi yang dinaiki istrinya meninggalkan rumah itu.
Dalam percakapan ponsel :
Karina :"Ya May?"
Maya :"Mbak kemana saja? Ini sudah jam empat lebih, mbak, katanya akan menemui keluarga mas Bram jam lima." seru Maya di seberang telpon.
Karina :"Aku akan datang dalam sepuluh menit." Karina menutup ponselnya, melamun melihat keluar jendela.
Flashback on
Jo menarik tubuh Karina hingga membentur dada bidangnya. Jo mendekap erat pinggang Karina.
"Jo..." bisik Karina mendongak menatap wajah Jo yang terlihat marah menahan emosi.
__ADS_1
Wajahnya sarat akan kegelisahan. Jo mencium bibir Karina brutal dan liar. Yang ditolak oleh Karina namun Jo tetap memaksa untuk melu*mat bibir itu, menggigit kecilnya.
"Aww..." mulut Karina sedikit terbuka membuat lidah Jo dengan bebas masuk ke dalam mulutnya, meneksplor ke dalamnya.
Hingga akhirnya membuat Karina luluh dan membalas ciuman itu. Dia juga merindukan ciuman itu. Entah sejak kapan kedua lengannya telah melingkar di leher Jo. Jo tersenyum tipis melihat reaksi Karina yang juga masih menginginkannya.
"Aku mencintaimu... aku merindukanmu..." saat Jo melepas ciumannya karena merasakan nafas Karina yang berat dan ngos-ngosan.
Jo menempelkan dahinya dengan dahi Karina. Keduanya sama-sama saling menatap penuh hasrat dan gairah yang sudah tertahan sekian lama.
Jo kembali mencium bibir itu dan dibalas dengan tak kalah mesranya dengan Karina. Jo mengangkat tubuh Karina, menggendongnya ke lantai dua kamar mereka. Karina langsung melingkarkan kakinya di pinggang Jo tanpa melepas ciumannya.
Jo membaringkan tubuh istrinya perlahan di atas ranjang saat mereka berhasil masuk ke dalam kamar.
"Jo ..." lirih Karina, Jo hanya menatap wajahnya, merekamnya dalam ingatannya.
"Kau semakin cantik. Aku semakin mencintaimu..." bisik Jo sambil mengecupi mulai ujung kakinya, mengginggitnya kecil.
Melepas celananya dan blousenya, hingga tersisa underwear dan penutup dada kembarnya dengan warna merah menyala membuat Jo semakin bergairah. Jo menatap intens tubuh istrinya yang telah lama tak dirasakan. Karina menutup wajahnya dengan kedua tangannya, pipinya tampak merona merah.
"Jangan ditutup! Aku ingin menatap wajah dan tubuh istriku yang telah lama menghilang." Karina membuka tangannya yang dibimbing Jo, dikecupnya perlahan punggung tangan Karina.
"Maaf... maafkan aku Jo." bisik Karina merasa bersalah.
"Sekarang, aku tak akan pernah melepaskanmu." bisik Jo mulai menciumi seluruh wajah Karina setiap incinya.
Jo tak menghiraukan apapun lagi. Kini dia sudah melepas pakaiannya dan underwearnya hingga keduanya kini sudah polos tanpa sehelai benangpun.
Jo mulai memposisikan miliknya di antara kedua paha istrinya. Bermain sebentar disana memperlicin jalannya agar tak sakit.
"Aww...sakit Jo..." keluh Karina saat milik Jo mulai menghentak masuk ke dalam milik Karina. Setelah dirasa pas, Jo mulai bergerak pelan.
"Aahh..." suara desahan keduanya memenuhi kamar mereka.
Keduanya mulai bergerak cepat mencari kepuasan masing-masing. Tak cukup sekali bahkan lebih dari tiga kali keduanya mendapatkan pelepasan masing-masing. Karina langsung terkulai lemas dan menutup mata. Tubuhnya terasa remuk.
Flashback off
TBC
__ADS_1
Maafkan typo...