Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Pertemuan


__ADS_3

Pagi itu Jo berangkat ke kantor dengan perasaan sangat bahagia. Dia selalu menatap wajah Karina yang berada di ponselnya. Senyumnya tak pernah luntur dari bibirnya.


"Aku pasti akan menemukanmu sayang dan kita akan pulang ke rumah kita. Dan aku akan menikahimu secara resmi untuk menjadi milikku seutuhnya." guman Jo sambil mengecup foto Karina.


Jo pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, saat makan siang nanti dia akan menemui orang suruhannya yang dimintanya untuk melacak keberadaan Karina dimana dia tinggal saat ini. Kemungkinan besar di hotel atau kalau tidak dia pasti akan pulang ke rumahnya.


Namun saat Jo menungguinya kemarin sampai malam, tak ada tanda-tanda orang datang di rumah yang kini ditinggalinya. Jo mendesah frustrasi, dia pun mencoba menghubungi orang suruhannya apa sudah mendapatkan informasi yang dia inginkan. Namun nihil, mereka tak menemukan jejak Karina.


Jo tiba di ruangannya saat melihat Rian juga mengikutinya ke dalam ruangannya hendak memberitahu jadwalnya hari ini.


"Tuan meeting akan dimulai setengah jam lagi." ucap Rian.


"Siapkan semuanya!" titah Jo menyandarkan tubuhnya di sandaran kursinya sambil memejamkan mata, semalam dirinya tidak cukup tidur sehingga dia terlihat mengantuk.


Dia ingin memejamkan matanya sejenak, mungkin lima belas menit cukup.


"Tapi tuan...?" Rian menjeda ucapannya menunggu reaksi tuannya.


"Apa?" tanya Jo masih tetap memejamkan mata.


"Kemarin berkasnya anda bawa pulang karena anda bilang ada yang ingin dipelajari." jawab Rian tenang.


Jo membuka matanya lebar, pikirannya dipenuhi kejadian kemarin lusa yang malas membacanya karena mendengar nama Karina akan mendarat di bandara internasional Soekarno-Hatta.


"Ah sial, tertinggal di rumah." umpat Jo.


"Apa perlu saya yang ambil tuan?" tanya Rian menawarkan diri sebelum disuruh.


Jo terdiam tampak berpikir mencerna ucapan Rian. Dia tak mungkin menyuruh Rian untuk pergi ke rumah Karina yang tak ada orangnya. Mana berkasnya penting lagi.


"Ah sial... tunda meetingnya dua jam, aku akan pulang sebentar!" ucap Jo berdiri meninggalkan ruangannya.


Rian mengernyit heran saat tuannya mau pulang sendiri mengambil barang yang ketinggalan. Saat Rian ingat tuannya tinggal dimana, dia baru sadar. Jika tinggal disana, Jo memang melarangnya untuk menemaninya kecuali ada yang mendesak.


Jo melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Entah kenapa dadanya berdegup kencang. Berdebar-debar tak jelas. Bukan debaran cemas atau takut, tapi debaran bahagia. Jo malah tersenyum saat melihat jalanan macet parah.

__ADS_1


Memang selalu seperti ini jika jam kerja. Jo tak mengeluh, dia melirik jam tangannya baru setengah jam dirinya keluar dari kantor. Tapi harus mengalami kemacetan parah di jalan kota menuju pulang ke rumah Karina. Jo tampak tenang tak marah meski jalanan macet parah.


Hingga satu jam kemudian dia mulai melaju dengan tenang karena macet sudah mulai berkurang. Setengah jam berikutnya dia tiba di rumah itu. Dia langsung turun belum merasakan kecurigaan apapun. Saat menatap gerbang rumah itu terbuka membuat Jo mengernyit heran.


Bukannya tadi pagi sudah kututup dan kugembok? batin Jo bertanya-tanya. Mungkinkah tadi dia lupa? batin Jo lagi menatap pintu depan rumah yang sedikit terbuka. Jangan-jangan ada maling. Jo segera berlari ke rumah, dia belum menemukan kecurigaan apapun.


Saat tak sengaja dirinya mendengar tangisan yang menyayat hati membuatnya spontan tersenyum senang. Dia langsung menuju arah suara tangisan itu. Jo ingin meyakini bahwa yang didengarnya benar-benar nyata.


Seseorang yang ditunggu kepulangannya sampai sekarang. Karina? Benarkah dia pulang? Sungguh dia pulang? batin Jo tersenyum bahagia saat mendekati suara tangis itu.


"Kau pulang? Benarkah akhirnya kau pulang? Kaukah itu?" ucap Jo tersenyum lebar dengan mata penuh kebahagiaan.


Karina pun tersentak dan spontan tangisannya pun berhenti. Karina tampak menegang dan segera menghapus air matanya dan berdiri dari berlututnya. Dia menghela nafas sejenak.


"Karina, benarkah itu kau?" ucap Jo lagi yang tak dijawab Karina yang masih setia berdiri membelakanginya.


Jo mendekat, menyentuh pundak yang telah lama tak dilihatnya. Karina membalikkan tubuhnya menghadap pria yang dirindukannya ini dan sialnya juga masih sangat dicintainya.


"Karina, benar ini kau kan?" bisik Jo membelai pipi istrinya lembut.


Jo menatap iba pada wanita ini. Pasti dia mengalami masa yang buruk karena dipaksa orang tuanya untuk meninggalkan rumah yang sudah dijadikan tempatnya pulang selama ini.


"Kau kemana sayang? Kau pergi tak pamit pada suamimu? Kau tak takut berdosa padaku hmm..." bisik Jo lagi semakin membuat tangisan Karina semakin kencang dan perasaan bersalah kian membuncah.


"Maaf...maaf...maafkan aku..." kata pertama yang keluar dari mulut Karina setelah lama tak bertemu.


Jo langsung menarik tubuh ringkih itu masuk kedalam pelukannya. Dia memeluk erat tubuh istrinya yang begitu dirindukannya. Setelah begitu lama dia mencari, dia tak mengira kalau penantiannya akan berbuah manis. Karina, istrinya yang dicarinya selama ini akhirnya pulang.


Tanpa sadar air mata Jo ikut mengalir, terharu dengan pertemuannya dengan istrinya setelah sekian lama. Kurang lebih dua tahun mereka berpisah.


"Maaf...maaf... maafkan aku..." hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Karina. Dia juga tak tahu harus mengatakan apa.


"Kenapa kau tak menghubungiku? Apa kau marah padaku? Apa aku membuat kesalahan padamu? Ah, apa papaku menyakitimu? Apa yang dilakukannya padamu?" tanya Jo memberondongi pertanyaan.


Karina hanya mampu menggeleng, saat teringat kenapa dirinya dulu pergi, Karina segera melepas paksa pelukan itu. Jo merasa kosong saat dorongan Karina membuat pelukannya dilepas. Karina mengusap air matanya dengan sapu tangannya.

__ADS_1


"Aku harus pergi." Jo segera mencekal pergelangan tangan Karina kuat.


"Apa maksudmu?" teriak Jo. Karina hanya diam membelakangi tubuh Jo.


"Aku akan menikah." lirih Karina. Jo tersentak, segera menarik tubuh Karina untuk menghadapnya.


Karina terpaksa berhadapan dengan Jo namun menatap ke arah lain tanpa mampu menatap wajah Jo yang suaranya terdengar kecewa.


"Katakan apa maksudmu? Aku pasti salah dengar kan?" tanya Jo lembut. Karina menghela nafas.


"Aku akan menikah." sekali lagi ucapan Karina membuat Jo marah, matanya memerah, rahangnya mengeras, tangan semakin kuat mencekal pergelangan tangan Karina.


"Kau menyakitiku Jo." ucap Karina kini mau tak mau menatap Jo yang matanya menyiratkan akan kemarahan yang siap meledak.


"Sakit...hahaha... lalu ucapanmu tadi tak menyakitiku. Bagaimana mungkin saat kau masih mempunyai suami dan mengatakan dengan gampangnya kalau kau akan menikah?" seru Jo tak sabaran, masih terlihat marah cekalannya sudah sedikit mengendur meski tak dilepas.


"Maaf...maafkan aku.."


"Apa hanya kata-kata itu yang bisa kau ucapkan?" seru Jo semakin emosi, karena Karina tak menyangkal tentang rasa bersalahnya mengatakan pernikahan di depan suaminya.


"Kita sudah lama berpisah. Lagipula hubungan kita hanya siri." jawab Karina dengan hati miris.


"Lalu maksudmu? Apa yang kau inginkan sekarang." ucap Jo.


"Kita akhiri pernikahan kita ini. Dan lupakan segalanya tentang kita." meski dadanya nyeri, Karina harus tegas mengakhiri hubungannya.


Apalagi Jo mungkin sudah bahagia dengan pernikahannya. Dan orang tuanya juga tak merestui hubungan mereka.


TBC


Maafkan typo ya...


Sudah up... sudah bertemu...sudah puas para pembaca. Aku lembur Lo tapi baru bisa di update pagi...


Beri like, rate dan vote nya makasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2