Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Intimidasi orang tua Keanu


__ADS_3

Sore itu juga Ken tiba di kota A. Setelah mendapat instruksi dari atasannya, Ken segera menuju meja kerjanya mencari flash disk berkas-berkas yang menyimpan tentang laporan data di proyek yang sedang dikerjakan di kota A.


Ken sempat mengeluh, jika nanti tidak sengaja bertemu orang tuanya, dia pasti akan diomeli dari pagi sampai malam, sampai telinganya gatal. Tapi hal itu tetap tak membuat bosan mamanya untuk terus menceramahinya. Terus terang Ken belum siap, dia masih belum menaklukan istrinya saat ini pasca melahirkan putri mereka.


Sikap judesnya kini kembali setelah melahirkan. Ken sudah berulang kali menasehati tapi hanya dianggap angin lalu oleh istrinya. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri, begitulah setiap hari. Namun biarpun begitu Ken tetap sabar menghadapi istrinya. Kadang dirinya saat teringat Karina terbesit rasa sesal dan bersalah karena telah menyia-nyiakan istri patuhnya.


Namun Ken segera menepis perasaannya itu. Ini adalah pilihannya sendiri bukan paksaan atau perjodohan orang tuanya. Dia tetap tak akan menyerah tentang pernikahannya kali ini.


Ken mampir ke rumah sebelum berangkat ke bandara, dia akan mengambil beberapa bajunya. Dia tak mungkin pulang ke rumah mamanya jika tak ingin diinterogasi oleh mamanya. Dia juga pamit pada pengasuh putrinya untuk mengurus putrinya selama dirinya perjalanan bisnis.


Lena, Ken menghubunginya untuk pamit namun ponselnya sejak tadi non aktif atau istrinya itu sengaja tak mau jika dihubunginya setiap saat setiap waktu.


"Lena..." bisik Ken lirih saat melihat istrinya bersama seorang pria sedang makan siang di sebuah cafe dekat kantornya.


Memang perjalanannya menuju bandara melewati kantor Karina, namun dia terkejut dengan yang dilihatnya. Namun dia tak mau berpikiran buruk, dan meredam emosinya. Yah, mungkin mereka hanya rekan kerja, batin Ken berhenti di depan cafe tempat istrinya makan siang bersama.


"Lena..." panggil Ken begitu masuk ke dalam cafe langsung menyapa istrinya tanpa ragu pada pria yang bersamanya.


"Eh, mas... ngapain di sini? Bukannya kerja?" tanya Lena mendadak gugup dan salah tingkah karena bersama seorang laki-laki dan dia langsung berdiri menyongsong suaminya.


"Aku menghubungi, ponselmu tapi mati." Lena langsung melirik ponselnya yang berada di meja.


"Ah, maaf... tadi aku kerja mungkin tak mendengarmu, aku hanya mau pamit ke kota A mengurus proyek disana sedang dalam masalah


"Baik, pergilah! Pekerjaanku banyak aku tak harus kembali setelah makan siang." usir Lena secara halus, Ken melirik pria yang bersama istrinya yang terlihat salah tingkah.


"Ah, dia rekan kerjaku mas, kenalkan Feri." ucap Lena seolah tahu maksud suaminya dan kegelisahan Feri, rekannya.


"Keanu..."

__ADS_1


"Feri.." mereka saling jabat tangan perkenalan.


"Baiklah. Aku pergi." pamit Ken sambil mengecup kening istrinya, Lena sungguh terkejut melihat perlakuan manis suaminya, apalagi ini di tempat umum dan di depan Feri.


Jemari tangan Feri tampak mengepal entah karena apa. Ken meninggalkan cafe itu dan pergi ke bandara. Meski jalur darat tak terlalu jauh, Ken lebih memilih untuk naik pesawat lokal, dia tak mau mengukur waktu dengan mengendarai kendaraannya sendiri. Toh biaya dari perusahaan, bodoh jika Ken tak memanfaatkannya.


***


Tak butuh lama, dua jam berikutnya Ken tiba di lokasi proyek. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Masih ada waktu dua jam dirinya untuk melihat-lihat lokasi proyek dan melihat secara langsung masalah yang terjadi. Mobil kantor cabang sudah menjemputnya di bandara dan langsung mengantarkannya menuju proyek.


Saat turun dari mobil tepat di depan proyek, Ken langsung menuju lokasi pembangunan.


"Ken..." seru seseorang dari kejauhan membuat tubuh Ken menegang.


Dirinya terlihat ragu untuk menoleh, Ken menghela nafas panjang dan berbalik menatap ke arah orang yang memanggilnya.


"Papa..." pria yang memanggilnya tadi ternyata papanya. Ken mendekati papanya, namun. bukannya pelukan atau sapaan duka cita.


Plakk...


Dia sudah tahu akan seperti ini, namun Ken tak menyangka jika papanya akan menamparnya di hadapan bawahannya.


Tak sia-sia papanya menunggunya di proyek pembangunan itu. Berdasarkan informasi yang didapatkannya, Ken sebagai direktur yang mengatur proyek pembangunan akan datang hari itu.


Dan karena desakan istrinya, papa Ken menunggu dari pagi sampai sore harinya Ken akhirnya datang. Sejak seorang wanita yang mengaku sebagai istri kedua Ken, Ken tak mengangkat panggilan mamanya membuat orang tua Ken cemas dan marah.


***


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, pukul delapan malam, Ken diantar sopir perusahaan ke rumahnya. Ken terpaksa pulang ke rumahnya atas desakan papanya. Apalagi pesan ancaman dari sang mama membuat Ken tak berkutik.

__ADS_1


"Assalamualaikum..." salam Ken saat masuk ke dalam rumah dibukakan oleh bi Atun pelayan yang sudah bekerja di rumah besarnya.


"Wa'alaikum salam... masuk den!" tawar bi Atun ramaj.


Ken hanya tersenyum dan masuk ke dalam, kopernya dibawa masuk bi Atun dengan dibantu mang saleh, suami bi Atun.


Ken melihat kedua orang tuanya sudah duduk di sofa ruang tamu duduk bersisian menatap Ken penuh intimidasi seolah tidak sabar menunggu penjelasan dari Ken.


"Selamat malam pa, ma.." sapa Ken menyalami kedua orang tuanya bergantian tak lupa mengecup punggung jemari tangan orang tuanya.


"Ken, capek ma, mau mandi sebentar."


"Duduk!" titah sang mama menatap tajam wajah Ken tak mau dibantah.


Mama Ken bisa melihat wajah lelah putranya, namun dia tak mau menunda-nunda sesuatu jika ingin mengetahui kebenarannya. Ken pun terpaksa duduk di sofa single di depan orang tuanya duduk.


Sorot mata intimidasi kedua orang tuanya padanya membuat Ken gugup dan merasa bersalah. Berkali-kali dia berdehem untuk menetralkan kegugupannya. Dia bingung mau mulai ceritanya dari mana.


"Baiklah... baiklah.." ucap Ken menatap kedua orang tuanya.


"Aku sudah bercerai dengan Karina."


Plakk...


Tamparan dari papanya sore tadi masih terasa panasnya sampai saat ini, dan kini Ken harus rela mendapat tamparan lagi dari sang mama. Ken sudah siap dengan ini semua. Dia sudah bisa menebak jika orang tuanya akan murka saat mendengar kabar ini.


TBC


Makasih dukungannya 🙏

__ADS_1


Beri like, rate dan vote nya makasih 🙏


__ADS_2