
Sebulan sudah pernikahan Karina dan Jonathan berjalan. Namun selama itu pula Jonathan tak ada kabar sama sekali. Dia juga tak datang di perusahaan. Hanya orang kepercayaan yang dipercaya untuk mengawasi perusahaan tempat Karina bekerja. Dan seminggu itu pula Indra juga dipindahkan ke kantor pusat karena ada sedikit masalah yang terjadi.
Karina tak memusingkan hal itu. Dia tak pernah menganggap serius pernikahannya dengan suami berondong sekaligus suami keduanya itu. Selama itu pula Karina terpaksa menerima Maya sebagai asisten rumah tangganya yang dikirim Jonathan untuk membantunya. Yang Karina tak perlu memberikan gaji padanya karena Jonathan sudah memberikan gaji yang lumayan banyak untuknya.
Karina pernah memberikan sedikit tips tambahan untuk Maya namun langsung ditolak mentah-mentah olehnya. Dia sudah dijanji oleh majikannya itu untuk tidak menerima uang sepeserpun darinya. Bahkan belanja makan sehari-hari Maya belanja dengan kartu yang diberikan majikannya. Karina benar-benar sepeserpun tak mengeluarkan uang sama sekali. Sungguh perhatian dan pengertian suaminya itu? batin Karina.
Meski berkali-kali memaksa Maya tetap bersikukuh menolak. Ada sanksi tegas yang harus siap diterima jika dia melanggar aturan tuannya itu. Oleh sebab itu tak ada asisten rumah tangganya yang berani melanggarnya.
Karina hanya menghela nafas panjang, dia juga sudah berusaha menghubungi suami berondongnya itu namun ponselnya selalu tidak aktif atau berada di luar servis area. Entah kenapa Karina merasa ada yang kurang, entahlah.
"Mbak..." panggil Bella melihat Karina hanya mengaduk-aduk makan siangnya tak berselera sama sekali.
Menepuk pundak Karina lagi. Karina tersentak menoleh menatap Bella yang menatapnya penuh tanya.
"Eh...iya..." jawab Karina gelagapan serba salah.
"Mbak kenapa sih? Kulihat tak semangat sama sekali." tanya Bella...
"Eh... benarkah... Ah, maaf. Aku balik dulu ya, mau mampir ke klinik kesehatan sebentar." Karina beranjak dari duduknya meninggalkan makanannya yang masih utuh tak disentuhnya sama sekali hanya diaduk-aduk tak bersemangat.
"Sakit apa mbak?" teriak Bella karena yang ditanya hanya tersenyum simpul.
__ADS_1
Karina tak berbohong, dia benar-benar mau mampir ke klinik kesehatan di kantor itu. Sejak pagi perutnya merasa tak enak.
"Mbak Karin?" sapa seorang dokter wanita yang bertugas menjaga klinik kesehatan di kantor itu.
"Bisa minta obat Win?" pinta Karina hanya tersenyum mendengar sapaan dokter wanita yang bernama Wina itu.
"Sakit apa mbak emangnya?" tanya Wina cemas.
"Biasa. Baru datang bulan pagi tadi." ucap Karina memegang perutnya yang terasa kram dan sakit.
"Oh... sebentar ya mbak." Wina tampak mengutak-atik lemari obat yang ada di belakangnya.
Dan Karina memilih berbaring di ranjang kamar klinik itu merasa perutnya semakin sakit saja. Tanpa sadar matanya memejam dan tertidur pulas.
Wina menyelimuti tubuh Karina dan membiarkannya tidur sebentar. Dia tahu bagaimana sakitnya perut wanita saat datang bulan. Mau melakukan apapun rasanya sakit dan malas. Apalagi jika dibarengi dengan banyaknya pikiran.
***
Ponsel Karina berdering saat menunjukkan pukul empat sore. Waktu jam kantor mulai buyar untuk pulang kerja. Karina tersentak mendapati dirinya terbangun di ranjang klinik kesehatan yang ada di kantor.
"Astaga, sejak kapan aku tertidur?" ucapnya menutup mulutnya terkejut.
__ADS_1
Dia menoleh menatap ponselnya yang sudah mati dari deringan panggilan dari orang seberang.
"Bella." guman Karina melakukan panggilan kembali pada Bella.
"Sudah bangun mbak? Bagaimana? Lebih baikkah?" tanya Wina yang baru masuk klinik entah dari mana.
Karina menutup ponselnya tak jadi menghubungi Bella karena melihat tas kerjanya sudah ada di meja klinik. Awalnya dirinya ingin meminta tolong untuk membawakan tasnya yang ada di meja kerjanya
"Win, kok kamu gak bangunin aku sih?" tanya Karina merasa bersalah.
"Mbak nyenyak banget tidurnya. Gak tega aku. Akhirnya aku hubungi Bella untuk meminta izin pada atasan mbak karena sedang tidak enak badan." jawab Wina juga hendak bersiap untuk pulang.
"Ya, tapi kan gak selama itu kamu biarkan aku tertidur. Kan gak enak aku." ucap Karina lagi.
"Udahlah mbak. Bos pasti mengerti kok." hibur Wina. Melihat Wina hendak pulang Karina ikut pulang juga.
"Makasih ya." Wina mengangguk.
"Oh ya, ini obat yang mbak minta, diminum dua kali sehari aja. Biar gak ketiduran lagi pas kerja." sindir Wina tersenyum bercanda.
"Kan kamu yang gak bangunin kamu." bela Karina tersenyum merasa bersalah.
__ADS_1
Wina hanya tertawa sambil mengunci klinik setelah Karina keluar juga dari dalam klinik.
TBC