Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 26


__ADS_3

"Apa yang terjadi pada Karin, Jo?" Tanya Farida yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar ruang perawatan Karina dengan tampang cemas dan panik melihat dokter baru saja keluar dari ruang perawatan itu.


"Lukanya berdarah lagi ma, perbannya terbuka. Karena terlalu banyak bergerak dengan paksaan." Jelas Jo tak bergeming di tempatnya masih menggenggam erat jemari tangan istrinya yang bebas dari infus.


Jo terus menatap wajah terlelap istrinya pengaruh obat biusnya.


"Sabar ya nak, istri yang sedang hamil dan menyusui itu sensitif. Kau harus banyak bersabar." Hibur Farida menepuk pundak putranya yang masih setia mengecupi punggung tangan istrinya.


"Mama akan melihat putrimu dulu, kau jagalah istrimu disini!" Ucap Farida lagi yang hanya diangguki oleh Jo tanpa memalingkan pandangannya dari wajah lelap istrinya.


**


Karina membuka mata perlahan melihat sekeliling kamar, hingga nyeri di perutnya membuatnya meringis. Jo yang tertidur di samping ranjangnya ikut terbangun mendengar rintihan kesakitan istrinya.


"Kau sudah bangun? Apakah sakit sekali?" Tanya Jo cemas sambil membantu istrinya untuk duduk.


"Hanya nyeri, disini." Jawab Karina menahan rasa sakitnya.


"Akan ku panggilkan dokter." Jawab Jo namun langsung dicegah Karina.


"Jangan pergi! Tetaplah disini! Aku tak apa." Jawab Karina manja sambil menggelayutkan tangannya ke lengan suaminya, masih sambil menahan nyeri di perutnya mungkin efek obat biusnya sudah sedikit hilang.


Jo terdiam, duduk di sisi istrinya di atas ranjang juga. Sambil mengelus rambut istrinya lembut.


"Maaf... maafkan aku." Bisik Karina sambil memejamkan mata dalam bahu suaminya.


"Tidak. Akulah yang salah. Maaf, aku berteriak padamu tadi. Aku tahu kau pasti kesal dan marah saat kau sadar tak ada aku di sisimu. Padahal aku berjanji akan selalu ada di sisimu saat kau membuka matamu." Jawab Jo merasa bersalah.


"Siapa nama bayi kita?" Tanya Karina masih dalam sandaran bahu suaminya.


"Joana Mevia Alensio." Jo menggenggam erat jemari tangan istrinya.


"Nama yang cantik, aku suka."


"Aku baru terpikir hari ini."


"Apakah kita akan memanggilnya Joan? Atau Ana? Atau Jo juga? Haha..." Jo tersenyum melihat istrinya sudah bisa tertawa.


"Terserah kau baby." Jo ikut tersenyum.


"Terima kasih."


"Akulah yang seharusnya berterima kasih. Kau sudah kembali bangun dan tetep bertahan berada di sisiku."


***


"Hai..." Karina mendongak menatap seseorang yang baru muncul di ambang pintu.

__ADS_1


"Mas Ken?" Sapa balik Karina.


"Selamat." Ucap Ken yang baru tiba.


"Dengan siapa mas kesini?" Tanya Karina, namun belum juga Ken menjawab di belakangnya muncul mama Ken dan papa Ken.


"Mama, papa..." Suara Karina tampak ceria melihat siapa yang muncul di rumah sakit itu.


Dan di belakang mereka juga ada Farida dan seorang perawat yang mendorong box bayi Joana karena memang waktunya menyusu.


"Karin..." Panggil kedua orang tua itu bersamaan. Mama Ken langsung memeluk tubuh Karina yang sangat dirindukannya itu.


"Bagaimana kabarmu nak? Syukurlah kau sudah sadar. Mamamu bilang kau sempat koma kah?" Tanya mama Ken terharu sampai air matanya menetes.


"Alhamdulillah ma." Jawab Karina tersenyum.


"Papa .."


"Bagaimana kabarmu nak?" Tanya papa Ken yang sudah senja namun masih terlihat gagah dengan rambut putih di seluruh kepalanya.


"Baik pa." Mereka pun saling menyapa, Karina tampak melihat di belakang orang tua Ken, seperti ada yang dicarinya namun tak muncul.


"Anin akan datang minggu depan. Minggu ini dia sedang ujian akhir. Jadi dia minta maaf tidak datang bersama kami sekarang." Wajah penasaran Karina berubah muram, namun dia mencoba untuk mengendalikannya.


Meski sebenarnya dia berharap putrinya itu ikut datang. Tapi memang sekarang sedang ujian akhir kelulusan. Memang tidak boleh bolos, dia selalu mengingatkan hal itu dulu-dulu saat masih bersama mereka.


"Aamiin..." Semua orang tersenyum.


"Besok kami sudah diizinkan pulang ma." Ucap Karina sambil bersiap untuk menyusui bayinya yang dibantu perawat.


Ken langsung undur diri keluar ruangan saat Karina hendak menyusui bayinya.


"Alhamdulillah... besok kami berkunjung ke mansion mu." Jawab mama Ken.


"Kenapa gak menginap di mansion kami saja jeng?" Tawar Farida.


"Atau di rumah Karin saja ma." Ganti Karina yang menawarkan.


"Gak usah nak, papa dan mama setelah ini ada perlu dengan saudara. Jadi kami menginap di sana saja. Kalau tidak ada acara dengan saudara, rencana kami mau kemari bersama Anin sampai selesai ujian akhir. Jadi, tadi sekalian." Jelas mama Ken yang diangguki semua orang yang ada di situ.


***


"Aku mau mommy... mau didandani mommy, mau melihat mommy..." Rengek Hana saat hendak bersiap ke sekolah.


Padahal saat Karina ada di rumah, Hana begitu penurut pada bibi pengasuh saat dipakaikan seragam sekolahnya.


"Besok mommy dan adik sudah boleh pulang kok, non. Makanya kita sekolah dulu. Besok ketemu deh sama mommy dan adik." Hibur bibi pengasuh yang sudah berhari-hari ini membujuknya dan sepertinya untuk hari ini tidak akan berhasil.

__ADS_1


"Gak mau, aku mau mommy sekarang... sekarang... pokoknya sekarang..." Teriak Hana berlari menuju kamar mommynya.


Bibi pengasuh yang sudah kuwalahan mengikuti lari majikan kecilnya.


"Daddy... Daddy... Mau ketemu mommy." Teriak Hana sambil menggendor pintu kamar Jo yang terkunci.


Sementara itu Jo tampak kebingungan mencari kebutuhannya untuk berangkat ke kantor. Sudah lima hari ini setiap pagi dia pulang ganti baju ke kantor, dan pulang lebih awak langsung menuju rumah sakit menjenguk istrinya. Biasanya istrinya lah setiap hari yang menyiapkan segala kebutuhannya untuk berangkat kerja.


"Sebentar princess..." Jawab Jo juga berteriak menjawab panggilan putri kecilnya.


Jo yang sudah memakai pakaian formal kantornya, namun belum ada dasi, dia masih mencari yang cocok untuk dipasangkan dengan jas nya. Kini dia sedang memakai dasinya dengan sedikit berantakan. Sebelum menjadi istri Karina, Jo selalu memakai semuanya sendiri.


Namun saat sudah menjadi suami, dia selalu dimanjakan dengan perlakuan istrinya. Dia hanya terima jadi dan rapi. Kini sungguh dia lupa memadu padankan pakaian kantornya. Dan setiap pagi putri kecilnya selalu merengek meminta bertemu istrinya dengan penuh dramatisasi, Jo membujuknya agar tak mengunjungi di rumah sakit.


"Daddy.. Daddy ...aku mommy." Seru Hana menghambur ke pelukan Jo yang juga disambut Jo untuk menenangkannya.


Jo menggendong putrinya ke kamarnya kembali, karena seragamnya belum dikenakan.


"Pakai seragammu dulu princess! Kau harus ke sekolah dulu!" Titah Jo sambil mengambil seragam putrinya yang disodorkan bibi pengasuh.


"No Daddy, mau mommy...mommy..." Teriak Hana lagi berkelit tak mau pakai seragamnya.


"Besok mommy sudah boleh pulang bersama adikmu. Jadi sekarang kau sekolah dulu. Kita bertemu mommy besok." Tegas Jo.


"Mommy...mommy... mau sekarang, sekarang Daddy..." Teriak Hana tak peduli, dia pun kembali berlari keluar kamar membuat Jo semakin pusing.


Dia berkali-kali menghela nafas panjang untuk mencegah dirinya berteriak marah dan terpancing emosinya.


"Hana, cepatlah! Sudah terlambat kita!" Seru John saat melihat adiknya berlari ke ruang makan tempat si kembar sedang sarapan sudah bersiap untuk pergi ke sekolah.


"Aku tak mau sekolah. Aku mau mommy... Mommy..." Jeritan melengking dari Hana membuat Jo frustasi.


"Okay ..okay .." Ucap Jo akhirnya.


"Benarkah Daddy?" Ketiganya langsung menjawab menoleh menatap Jo serentak.


Meski si kembar sudah tampak mandiri, tak urung mereka juga sangat merindukan mommy nya.


"Apa kalian juga merindukan mommy?" Tanya Jo pada ketiga anaknya yang dijawab anggukan kepala antusias.


"Pulang sekolah kita mengunjungi mommy dan adik kalian. Tapi sekolah dulu! Mengerti?"


"Yee...." Sorak ketiganya.


Jo menghela nafas lega, karena akhirnya putrinya pun menurut. Bibi pengasuh dan beberapa asisten rumah tangga di mansion itu tersenyum melihat kebahagiaan majikannya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2