Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 11


__ADS_3

"Selamat siang Mr. Alex." sapa Jo saat dia tiba di ruang istirahat. Mr. Alex langsung menoleh menatap Jo yang baru muncul.


"Ah, Mr. Jo." sapa Mr. Alex ramah.


Jo agak sedikit heran melihat Mr. Alex tak marah saat mereka bertemu setelah dia meninggalkan Rian dan sekretarisnya saja untuk mengunjungi proyek-proyek mereka.


Awalnya Jo sudah pasrah jika Mr. Alex membatalkan kerja sama mereka. Dia sudah malas berurusan dengan Annie, si ja*lang murahan itu.


"Ada yang bisa saya bantu Mr.?" jawab Jo.


"Saya harus kembali pulang ke Sing*pura karena ada urusan mendadak. Jadi sekretaris saya yang akan mengurusnya. Dia akan tinggal disini mungkin satu minggu atau lebih untuk mengurus sisanya. Anda tidak keberatan kan tuan?" jelas Mr. Alex menatap Jo dengan sorot penuh harap.


"Maaf sebelumnya Mr. Alex. Mungkin saya mengizinkan sekretaris anda untuk tetap tinggal di sini untuk meninjau proyek-proyek disini. Namun maaf sekali, saya tidak bisa menemani setiap harinya. Tapi saya akan menempatkan orang kepercayaan saya untuk menemani dan membantu jika sekretaris anda mengalami kesulitan." jelas Jo menatap Mr. Alex lekat, menunggu reaksi kliennya ini. Mr. Alex tampak murung dan kemudian berganti senang.


"Apa saya bisa mempercayainya orang kepercayaan anda bisa dipercaya?"tanya Mr. Alex ragu.


"Anda bisa percaya saya. Saya bisa mempertanggungjawabkan jika orang kepercayaan saya melakukan kesalahan. Benar-benar kesalahan yang dilakukan orang kepercayaan saya." Jo menekan kalimat terakhirnya, dia sungguh benci melihat orang-orang yang dipercayainya diragukan oleh orang lain. Jo tahu betul siapa dan bagaimana orang yang diperkerjakannya.


"Baiklah. Saya percaya anda." jawab Mr. Alex akhirnya setelah berpikir lebih dalam lagi.


"Terima kasih Mr." jawab Jo.


Keduanya pun berjabat tangan. Mr. Alex pun pamit, dan Jo mengantarkan sampai di depan gedung setelah mobil yang digunakan untuk melayani Mr. Alex selama disini tiba.


"Sama-sama Mr. Jo."


**


Annie tersenyum seringai di dalam kamar hotelnya. Setelah membujuk Mr. Alex tentang dirinya agar punya alasan untuk tetap tinggal di negara Jo berada. Dia sungguh senang bisa berlama-lama disini, apalagi kalau bukan untuk merayu Jonathan. Dia sungguh penasaran dengan pria teman kuliahnya itu.


Sungguh sangat berbeda dengan Jo yang dulu. Dulu Jo sangat polos dan lugu, yang dia tahu dia sangat anti dengan wanita. Dia juga tidak gampang dirayu. Berkali-kali dia merayunya untuk memintanya bercinta tapi Jo selalu menolaknya. Sampai Annie murka dan menyebarkan rumor itu.

__ADS_1


Membuat Jo benar-benar murka hingga sekarang Jo menatapnya penuh kebencian. Dan saat ini, Annie akan melakukan segala cara agar bisa merayu Jonathan, Annie yakin Jo tidak sepolos dulu. Miliknya sekarang lebih cepat bereaksi saat dia menyentuhnya ketimbang dulu. Dan Annie yakin, kali ini Jo tidak akan bisa lolos darinya.


"Aku akan mendapatkanmu Jo." guman Annie menatap bayangannya di cermin meja rias sambil tersenyum seringai dengan mengepalkan sebelah tangannya ke udara.


**


Jo mengusak wajahnya gusar, lagi-lagi dia harus menunda kepulangannya karena harus menemani sekretaris kliennya itu paling tidak besok untuk satu hari. Setelah itu dia akan menyerahkan pada orang kepercayaannya untuk menemani sekretaris kliennya itu apapun yang dilakukannya untuk membuat laporan pada bosnya selama dia disini.


Awalnya Jo sudah senang mendengar Mr. Alex akan kembali ke negerinya. Dan itu artinya sekretarisnya itu juga akan ikut. Namun kenapa wanita murahan itu harus ditinggal di sini hanya karena alasan proyeknya.


Jo yakin wanita itu tidak mengatakan apapun tentang perlakuan buruknya pada Mr. Alex yang membiarkan dia mengunjungi proyek dengannya. Malah Jo terkesan dingin dan acuh.


Jo tiba-tiba ingat kalau tadi tidak dapat menghubungi istrinya dan semua orang yang ada di resort itu. Kemana istrinya? batin Jo meraih ponselnya untuk menghubungi istrinya lagi. Tak sampai deringan pertama selesai, panggilannya langsung video call dan diangkat oleh istrinya.


"Assalamualaikum..." salam Karina di seberang dengan suara lembut yang membuat Jo seketika marahnya hilang.


Marah karena Annie dan juga karena istrinya yang tak dapat dihubungi beberapa saat lalu.


"Wa'alaikum salam.." jawab Jo murung.


"Maaf..." bisik Karina lirih tak berani menatap mata suaminya langsung memilih menundukkan kepalanya.


Jo yang masih belum paham kenapa istrinya minta maaf jadi teringat tentang panggilan ponselnya tadi. Jo jadi ingin menggoda istrinya namun saat dirinya ingat harus menunda lagi kepulangannya membuatnya urung.


"Apa suamimu ada di bawah sana?" seru Jo membuat Karina tersentak dengan suara suaminya yang agak keras namun sarat akan kemarahan.


Karina berusaha berpikir apalagi kesalahannya hingga suaminya marah. Karina memberanikan diri mendongak menatap suaminya yang ada di seberang ponselnya.


"Maaf, tadi aku..."


"Aku merindukanmu." potong Jo dengan nada lembut dan wajah yang begitu memelas, kini dia duduk di sofa dekat ranjangnya, dengan ponsel yang diletakkan di meja menghadap padanya kameranya.

__ADS_1


Tatapan Karina pun melembut melihat suaminya juga melembut dan nada suaranya kembali ramah.


"Aku juga. Apa kau menunda lagi kepulanganmu?" tanya Karina melihat suaminya murung.


Jo menunduk ganti merasa bersalah karena tak bisa menepati janjinya untuk segera pulang. Dia sebenarnya juga ingin pulang, tak mau jauh-jauh dari istrinya tapi... pekerjaan membuatnya harus lebih lama untuk tinggal. Kalau saja tidak sedang ada masalah kasus Anin, Jo pasti akan mengajak pulang keluarga kecilnya pulang ke ibukota.


Agar jika dirinya sedang kerja tak perlu jauh-jauh untuk menyambangi istrinya jika merindukannya setiap saat setiap waktu. Namun kini... Jo ingin sekali mengumpat kesal, melampiaskan kekesalannya berjauhan dengan istrinya lebih lama lagi. Padahal dia sungguh menantikan hari dimana dirinya pulang ke tempat istrinya.


"Maaf, kali ini hanya sampai besok. Apapun yang terjadi aku akan pulang besok. Persetan dengan pekerjaan." ucap Jo tegas.


"Honey, jangan mengumpat!" sela Karina membuat Jo nyengir kuda, bodohnya dirinya sampai mengucapkan kata-kata laknat di depan istrinya.


Seharusnya cukup saat dirinya sendiri kan saat mengumpat kesal hingga mengeluarkan kata-kata laknat yang dibenci istrinya.


"Maaf.. hehehe..." Karina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan suaminya dari kebiasaan buruknya itu.


Jangan dikira dirinya tak mengetahui saat suaminya mengumpat kesal sendiri hingga mengeluarkan kata-kata laknat itu. Dia hanya tak mau anak-anaknya tak sengaja mendengarkannya hingga menirunya suatu hari nanti.


"Apa mau dipuaskan lagi? Ehm..." tawar Karina sambil membuang pandangannya ke arah lain karena malu dengan wajah yang tersipu malu.


"Benarkah?" tanya Jo antusias. Dia benar-benar butuh istrinya saat ini. Karina semakin malu saja.


"Jangan sekarang ya?" senyum antusias Jo langsung hilang, menjadi cemberut tak terkira membuat Karina tertawa terbahak-bahak melihat wajah cemberut suaminya yang terlihat kekanak-kanakan.


"Baby, kau membuatku melayang jauh di atas dan semudah itu kau hempaskan." rengek Jo menatap istrinya berbinar cemberut.


"Maaf.. haha...maaf hahha... Aku tak bisa mengendalikan diri untuk tidak tertawa." jawab Karina sambil menghentikan tawanya.


"Hal inilah yang membuatku selalu merindukanmu juga." ucap Karina lagi. Jo menatap istrinya lekat.


"Aku mencintaimu." ucap Jo terharu.

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu."


TBC


__ADS_2