Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 14


__ADS_3

"Selamat pagi pak." sapa sekretaris Jo berdiri melihat Jo berhenti menatap pintu ruang kerjanya.


Jo mengangguk karena suasana hatinya buruk mengingat ada siapa yang ada di dalam ruangannya menunggunya. Jo menghela nafas berat memutuskan masuk ke dalam ruangannya, dia akan bersikap tegas jika wanita itu berani merayunya.


Cklek


Suara pintu ruang kerjanya dibuka, Annie yang sudah menunggu di ruangan itu berdiri menatap arah pintu melihat Jo masuk menatap dirinya dengan wajah dingin dan tajam. Annie hanya tersenyum simpul merasa ditatap Jo dengan tatapan penuh intimidasi.


"Selamat pagi Mr. Jo." sapa Annie dengan profesional.


Jo berlalu duduk di kursi kerjanya tanpa membalas sapaan Annie, dia hanya mengangguk dan mengernyit heran melihat perubahan perilaku profesional pada wanita ini. Oh, kau mencoba bersikap profesional. Aku ikuti permainanmu. batin Jo sambil mmwbuka laptop kerjanya untuk memulai pekerjaan.


"Maaf Mr. Hari ini bisakah kita berkunjung ke proyek yang sudah berjalan beberapa bulan yang lalu. Mr. Alex bos saya menghubungi saya semalam kalau disitulah kita akan berkunjung untuk pertama kali." ucap Annie yang tidak digubris oleh Jo.


"Saya sudah meminta Rian untuk menemani anda mengunjungi proyek itu. Kurasa dia yang lebih mengerti tentang proyek tersebut." jelas Jo tersenyum menyeringai menatap Annie yang menahan gemeretakkan giginya.


"Tapi Mr. Alex meminta anda untuk menemani saya berkunjung ke proyek kita. Atau kalian berdua tak apa. Hanya saja Mr. Alex tak akan puas jika bukan anda sendiri yang mengantar." ganti Annie yang menyeringai penuh kemenangan.


"Kalau anda tidak bersedia tak apa. Aku tetap tak bisa menemani anda karena ada hal penting yang harus saya lakukan. Maaf." jawab Jo lagi bersikap profesional masih berusaha menolak.


"Ah, Mr. Alex menghubungi ponsel saya." Annie mengangkat ponselnya yang memang berdering.


"Halo Mr." sapa Annie.


"Kau memintaku untuk menghubungi jam segini ada apa?" tanya Mr. Alex di seberang dengan nada ketus.


Annie ingin mengumpati orang tua itu namun dia tak mungkin mengatakannya di depan Jo dan meski dalam sambungan telpon dengan bos nya itu.


"Maaf Mr. Mr. Jo menolak untuk menemani saya mengunjungi proyek meski hanya satu hari, dan dia menempatkan asisten kepercayaannya untuk menemani saya." lapor Annie sambil menatap Jo yang menahan kekesalannya.


Kalau sudah begini Jo pasti tak akan menolaknya kan? Itulah yang dipikirkan Annie saat itu.


"Berikan ponselmu pada Mr. Jo!" titah Mr. Alex.


"Baik Mr." Annie mendekati meja kerja Jo yang menatapnya dengan tatapan tak suka.

__ADS_1


"Maaf Mr. Jo. Mr. Alex mau bicara dengan anda!" ucap Annie menyerahkan ponselnya pada Jo.


Jo menatap ponsel itu dan ragu untuk menerimanya atau tidak. Namun dia juga harus profesional dengan pekerjaannya.


"Ya Mr?" tanya Jo setelah memutuskan untuk bicara dengan Mr. Alex.


Dia meraih ponsel Annie meski mengindari sentuhan tangannya. Namun bukan Annie namanya kalau tidak mengambil kesempatan untuk menyentuh tangan Jo. Jo langsung melotot menatap Annie. Kalau saja lebih dari itu, Jo pasti akan mengusir wanita itu. Jo menatap jijik pada Annie sambil mengambil ponselnya kasar.


***


Kini keduanya menuju proyek perusahaan mereka untuk berkunjung. Setelah bicara pada Mr. Alex, Jo terpaksa menuruti keinginan untuk menemani Annie mengunjungi proyek namun Jo membuat syarat kalau mereka akan membawa dua mobil dengan naik pada mobil masing-masing sendiri.


Awalnya Annie kesal karena Jo tak mau satu mobil dengannya. Namun persyaratan itu diajukan oleh Jo mutlak, jika Annie tetap menolak. Jo terpaksa akan membatalkan kerjasama mereka. Tak peduli kerugian yang menimpanya nanti.


Annie menghentak-hentakkan kakinya kesal di dalam mobil. Kesempatan untuk melancarkan serangannya merayu Jo tidak berhasil karena Jo memilih untuk naik mobil sendiri-sendiri. Namun bukan Annie namanya kalau dia tidak punya rencana cadangan. Dia akan menjalankan rencana B untuk memuluskan rencananya kali ini.


"Tolong berhenti di restoran di depan pak!" pinta Annie yang diiyakan oleh sopir mobil itu.


Jo mengernyit heran saat melihat mobil Annie tiba-tiba berhenti di depan restoran seafood yang tak jauh dari proyek mereka berada.


Jo hanya berdua dengan sopirnya saja di mobilnya. Dia terpaksa meninggalkan Rian di perusahaan karena ada sesuatu yang penting yang harus diurus. Jo berharap mereka pergi berdua namun hal mendesak membuatnya mau tak mau merelakan Rian mengurus masalahnya di perusahaan sementara dirinya berkunjung ke proyeknya.


"Sepertinya nona Annie ingin makan karena belum sarapan tuan." jelas sopirnya setelah bertanya pada sopir mobil Annie melalui earphone yang terpasang di telinga mereka masing-masing.


"Apa-apaan wanita itu tanpa persetujuan minta berhenti." umpat Jo kesal.


"Apa kita juga akan berhenti di restoran itu tuan?" tanya sopir Jo melajukan kendaraannya perlahan menunggu jawaban tuannya.


"Ya." jawab Jo kesal.


Jo turun dari mobilnya setelah melihat Annie yang sudah duduk di kursi salah satu restoran. Jo masuk ke dalam restoran menatap ke sekeliling mencari keberadaan wanita itu. Annie dengan antusiasnya melambai pada Jo yang memang mencarinya dengan menampilkan senyum manisnya.


"Cih." umpat Jo menatap Annie yang tersenyum sumringah padanya. Jo malah jijik menatap senyum Annie.


"Kau kelaparan?" ejek Jo sambil duduk jauh di kursi depan Annie di seberang meja.

__ADS_1


"Kau yang membuatku kelaparan. Aku terpaksa menunggu di ruanganmu pagi-pagi sekali karena kau pasti akan pergi jika tak mengabari asisten pribadimu." cerita Annie antusias tersenyum manis.


"Silahkan dipesan, tuan, nona!" persilahkan seorang pelayan yang tiba-tiba muncul memecah perdebatan mereka.


"Aku pesan kepiting saus tiram. Kau mau apa Jo?" tanya Annie tidak seformal tadi.


Jo sedikit mengernyit namun tak memikirkannya lagi.


"Aku kopi saja. Aku sudah sarapan." jawab Jo ketus.


"Baik tuan." jawab pelayan itu berlalu meninggalkan keduanya.


"Kau masih suka kopi ya?" ucap Annie setelah pelayan pergi.


"Bisa selesaikan urusanmu segera. Kalau lama akan kutinggal, kau bisa kesana sendiri dengan sopirmu." jawab Jo sarkas. Malah membuat Annie semakin gencar merayu Jo.


"Kenapa kau sekejam itu Jo. Aku baru pertama kali berkunjung ke negara ini. Seharusnya kau menemaniku kemanapun aku pergi sebagai teman lama." jawab Annie tersenyum sambil meminum air putih yang memang sudah disiapkan sebelum pesanan mereka jadi.


"Jangan bermimpi untuk hal itu! Sampai kapanpun aku tak akan pernah sudi menemanimu. Dan... teman... Kurasa kita tak pernah berteman." jawab Jo sarkas.


"Buktinya sekarang kita sedang berdua saja." jawaban Annie membuatnya menyeringai lebar.


"Jangan terlalu senang, kalau bukan karena Mr. Alex, suamimu itu. Oh, istri ketiga lagi hehe... Aku tidak akan berada di sini." seringaian Jo semakin lebar melihat wajah tegang Annie yang mengetahui hubungannya dengan Mr. Alex adalah sebagai seorang istri yang berkedok sekretaris pribadi.


"Ka.. kau... bagaimana..."


"Bagaimana aku tahu? Tidak ada yang tidak aku ketahui. Aku bahkan bisa menghancurkanmu dengan mudah jika kau tidak segera menghentikan niatmu itu." ucap Jo dingin di dekat telinga Annie dengan nada yang menakutkan membuat Annie merinding.


Tubuhnya tegang dan kaku, mendengar kalimat terakhir Jo. Setelah Jo tersenyum menyeringai lebar, dia pun berdiri beranjak meninggalkan kursi tempat makan mereka tanpa menunggu kopinya.


"Oh iya... Dan minumanku itu, aku tahu kau meminta seorang pelayan untuk menambahkan sesuatu ke dalam minumanku bukan." ucap Jo berbalik lagi meninggalkan Annie yang masih menegang dan marah, sambil mengepalkan kedua tangannya di bawah meja.


Jo tersenyum seringai penuh kemenangan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2