Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 111


__ADS_3

"Nak, ayo makan malam dulu!" Ajak ibu Kim saat melihat putranya turun dari lantai dua mansion mereka.


Guntur hanya mengangguk mengiyakan ajakan ibunya. Dia pun menuju meja makan yang ternyata semua orang sudah berkumpul termasuk Alea dan Raka. Guntur menatap semua orang satu persatu yang juga balas menatapnya.


"Duduklah nak!" Titah ibu Kim memundurkan kursi yang ada di sebelah Alea, seolah sengaja mendekatkan keduanya.


Guntur masih diam tak bergeming, beralih menatap Raka yang acuh padanya.


"Aku duduk disini saja Bu." Guntur memilih duduk bersebelahan dengan Raka dan itu artinya dia berhadapan dengan Alea duduk.


Alea hanya terdiam kecewa. Sudah beberapa kali Guntur melakukan hal itu padanya. Menyatakan penolakannya dengan terang-terangan. Padahal sudah lebih dari dua minggu dia berpisah dari Anin. Namun Alea masih tetap tak menyerah.


Toh, sekarang tak ada alasan baginya untuk mundur. Guntur sekarang single begitu juga dirinya juga tidak terikat perjodohan apapun lagi. Jadi keduanya bebas mendekati sampai sejauh mana keduanya sama-sama bertahan.


"Kau mau yang lainnya nak?" Tawar ibu Kim melihat Guntur hanya mengaduk-aduk makanannya tak ada satupun yang masuk ke dalam mulutnya.


Semua itu juga tak luput dari tatapan semua orang yang ada disitu. Selalu seperti itu. Sejak dia berpisah dari Anin, Guntur seolah tak punya semangat hidup. Tak punya hasrat melakukan apapun lagi. Semangatnya menggebu-gebu saat dulu memperjuangkan cinta gadis yang dicintainya itu sudah hilang entah kemana. Bahkan makan pun Guntur tidak ada selera.


Hanya beberapa suap dia makan makanan yang disajikan di meja makan. Apalagi jika di kantor, bahkan Guntur sering kali melewatkan makan siangnya jika Raka yang tak mengingatkannya.


Bukan karena sibuk bekerja, Guntur lebih banyak menghabiskan waktunya untuk duduk menghasilkan jendela ruangannya menatap keluar jendela entah menikmati apa. Dia bisa menghabiskan waktunya itu meski berjam-jam duduk tak bergeming dari tempatnya.


"Aku sudah selesai Bu." Pamit Guntur meninggalkan meja makan dengan makanan yang hanya diaduk-aduk tanpa memakannya.


Ibu Kim terdiam di tempat duduknya. Air matanya mengalir melihat putranya seperti itu. Dia sungguh tak tega melihat keadaan putranya yang terlihat baik-baik saja namun hatinya tidak baik-baik saja. Ibu Kim tahu bagaimana putranya, putranya dulu yang ceria dan bersemangat kini sudah hilang karena perasaan cintanya membuatnya hilang semangat.


"Kau pun harus menjaga kesehatanmu sayang." Hibur Arman mengusap bahu istrinya.


Ibu Kim menatap Arman dengan penuh rasa sedih dan semakin menangis. Arman meraihnya masuk ke dalam pelukannya. Raka dan Alea hanya terdiam di tempat duduknya.

__ADS_1


Keduanya saling menatap intens tanpa ada satupun yang mengeluarkan suara. Arman membawa istrinya yang lemah untuk menuju kamar mereka meninggalkan Raka dan Alea berdua saja di meja makan.


Raka mendesah lelah menjadi tak berselera juga makannya.


"Sepertinya dia sangat mencintainya." Ucap Alea memecah keheningan di meja makan tersebut.


Dia masih melanjutkan makannya meski sudah terasa hambar, mungkin itu adalah bentuk pelampiasan Alea menutupi rasa sakit hatinya yang berkali-kali ditolak oleh pria yang dicintainya.


Dia ingin menyerah, sungguh. Terlalu sulit menggerakkan hati seorang Guntur yang terlalu setia perasaannya. Bahkan dia sudah berjanji pada Anin untuk menjaga Guntur agar tidak terpuruk karena perpisahan mereka.


***


"Sampai kapan kau akan seperti ini?" Seru Raka kehilangan kesabarannya.


Dia sudah sangat bersabar menghadapi adik tirinya itu. Yang kerjaannya setiap hari hanya melamun, melamun dan melamun setiap hari. Jika dia mendapati Guntur bekerja pasti akan selalu membuat kesalahan. Dalam meeting, Guntur juga berkali-kali melakukan kesalahan. Dia tak fokus pada meeting, entah apa yang masuk dalam pikirannya. Seolah apapun tak mampu ditangkap oleh Guntur.


Namun yang diinginkan Guntur sudah tak bisa digapai lagi. Bagaimana pun gadis itu, Anin sudah menjadi milik orang lain yang tidak bisa saja seenaknya diambilnya dan diseret ke hadapan pria yang terlihat menyedihkan itu.


"Bisa kau tinggalkan aku sendiri? Aku lelah." Jawab Guntur tak merasa bersalah dengan tanpa menatap Raka.


Tatapan matanya terlihat kosong dan wajahnya datar tanpa ekspresi.


"Guntur, buka matamu! Kau sudah berjanji padanya akan hidup baik. Apa yang akan terjadi jika dia melihatmu seperti ini?" Seru Raka lagi tidak sabaran menatap Guntur murka.


"Maaf." Satu kata itu yang mampu terlontar dari dalam bibirnya.


Raka malah semakin frustasi melihat Guntur yang semakin hari semakin tidak baik-baik saja. Raka menjambak rambutnya emosi. Dia bingung harus melakukan apa lagi. Raka pun berlalu meninggalkan ruangan Guntur dengan frustasi.


***

__ADS_1


Anin meletakkan ciciannya di dekat mesin cuci di rumah Zian. Sudah empat kali dia menggunakan mesin cuci di rumah itu yang berbeda dengan mesin cuci di mansionnya. Dulu saat dia tinggal di rumah papanya Ken, Anin sudah terbiasa melakukan semuanya dengan tangannya sendiri meski ada bibi yang membantunya.


Tapi setelah tinggal di mansion Daddy nya, kedua orang tuanya melarangnya menggunakan alat-alat rumah tangga karena harus konsentrasi dengan belajarnya. Dan sekarang dia kembali menggunakannya di rumah suaminya. Dan mesin cuci itu berbeda dengan mesin cuci yang ada di mansion orang tuanya.


Sebelumnya dia masih dibantu oleh ibu mertuanya. Dan sekarang tak ada siapapun di rumah itu. Hanya dia sendiri di rumah. Setelah tinggal dengan Zian, Anin tidur berdua di kamar Zian dan Rima dan ibunya serta putrinya tidur di kamar ibunya.


Entah kenapa penataannya seperti itu. Seharusnya kan Rima dan putrinya yang tidur dengan Zian karena mereka adalah istri pertamanya dan dia hanya istri keduanya. Dia rela jika harus tidur di sofa ruang tamu karena kamar di rumah minimalis itu hanya ada dua.


"Sepertinya begini... dan begini.. lalu..." Anin bergumam sendiri sambil melakukan perintah yang ada di google.


Kemarin-kemarin ibunya yang memandunya dan entah kenapa semua lupa. Anin memasukkan detergen ke dalam bak mesin cuci seperti petunjuk namun dia tak tahu harus seberapa.


Hingga beberapa jam akhirnya Anin mampu menyelesaikan sendiri pekerjaannya tanpa kesalahan hanya sedikit lebih lama. Hingga tanpa sadar sudah menginjak pukul dua belas siang dia baru saja selesai mencuci pakaiannya.


"Assalamualaikum..." Seru suara seseorang dari pintu depan.


"Wa'alaikum salam..." Seru Anin dari arah belakang membuka pintu depan.


Terlihat Zian yang terlihat kepanasan karena mengernyitkan keningnya. Anin segera menyalami suaminya dan tak lupa mengecup punggung tangan suaminya. Zian tetap diam, setelah perdebatan hari pertama Anin tiba di rumahnya. Mereka hanya mengobrol seperlunya. Anin sendiri membuktikan dia menjadi istri yang seharusnya.


Dia sibuk melayani menyiapkan segala kebutuhan suaminya seperti yang pernah diajarkan mommy nya dulu. Tentu saja juga dengan arahan dan bimbingan ibu mertuanya juga apa yang harus dilakukannya. Meski Zian tak menolak semua pelayanan istrinya, Zian memilih untuk pulang larut setelah semua orang tertidur dan berangkat pagi saat semua orang belum bangun, tapi siang itu, ibunya memintanya untuk pulang ke rumah.


Karena ingin anak dan istrinya menjadi lebih dekat. Setelah melihat Anin dan Zian di rumah dengan sama-sama diam dan acuh. Maria tahu ada sesuatu yang terjadi pada keduanya.


Namun dirinya tak mau ikut campur urusan rumah tangga mereka. Cukup dirinya membantu Rima mengurus putrinya yang baru diketahuinya mereka diam-diam sudah bercerai dan itu membuat Maria tak mampu bicara apapun, toh sudah terlanjur.


Dan sekarang, setahu Maria Zian mempunyai gadis yang dicintainya dan yang diketahui gadis itu adalah Anin. Maria tak mau membuat rumah tangga putranya kembali gagal hanya karena egoisme masing-masing. Maka dari itu dia berinisiatif untuk mendekatkan keduanya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2