
Anin termenung sendiri di dalam kamarnya. Dia masih memikirkan tentang pertemuannya dengan Alea di ruang kerja Guntur tadi. Namun yang menjadi pertanyaannya. Apa mereka masih memiliki hubungan? Batin Anin bertanya-tanya.
Tadi dia tak mengatakan apapun pada Guntur tentang pertemuannya dengan Alea tadi. Dia tak mau mendengar hal yang mungkin menyakiti hatinya. Cemburu? Iya, Anin pun merasakan cemburu juga. Siapa yang tak cemburu jika calon suaminya masih berhubungan dengan mantan tunangannya yang hampir saja menjadi istrinya.
Meski semua itu hanya di masa lalu. Dan walaupun hubungan mereka hanya sebatas rekan bisnis dalam pekerjaan mereka. Anin mengusap wajahnya kasar, dia masuk ke dalam kamar mandi memilih untuk membersihkan tubuhnya karena hari sudah mulai petang. Dan besok, Guntur bilang tadi akan ke luar kota selama kurang lebih tiga hari. Itu artinya mereka tak akan bertemu dalam kurun waktu selama itu.
Apa bisnisnya besok ada hubungannya dengan Alea? Batin Anin menatap bayangannya di cermin kamar mandi. Dia menghela nafas panjang. Di saat galau seperti ini, dia ingin curhat pada seseorang. Dan munculah wajah Zian yang selalu menjadi tempat curhatnya selama ini. Namun itu tak mungkin dilakukannya karena sekarang Zian sedang cuti pulang kampung untuk menemui keluarganya, anak dan istrinya juga.
Sekali lagi Anin menghela nafas berat dan panjang. Anin memilih untuk masuk ke dalam bathtub kamar mandi yang sudah siap. Dia merendam tubuhnya mencari ketenangan sambil menyalakan lilin aromaterapi.
"Anin...Anin...Anin sayang..." Seru seseorang dari luar kamar Anin.
Namun tak ada jawaban dari dalam kamar.
"Pasti dia ketiduran." Gumannya membuka pintu kamar putrinya.
"Anin... Anin..." Seru Karina lagi mencari-cari keberadaan putrinya di setiap sudut kamarnya namun Anin tak ada di situ. Karina mengetuk pintu kamar mandi.
"Sayang, Anin..." Seru Karina lagi sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"Iya mom, sebentar!" Anin tersentak dari tidurnya dan langsung berdiri setelah membilas tubuhnya di bawah guyuran shower.
"Iya mom." Anin membuka pintu kamar mandi mendapati sang mommy duduk di tepi ranjangnya.
"Besok bagaimana? Kata Daddy mu Guntur harus mengurus bisnisnya di luar kota?" Tanya Karina menatap putrinya yang sedang menggunakan hair dryer untuk mengeringkan rambutnya.
Karina meraih hair dryer itu dan membantu putrinya untuk mengeringkannya.
"Ya ditunda dulu mom." Jawab Anin masa acuh.
"Mau bagaimana lagi, namanya juga kerja." Jawab Karina, Anin malah memejamkan matanya merasakan usapan lembut di rambutnya.
"Ayo makan malam, jangan ketiduran lagi!" Ajak Karina meletakkan hair dryer karena sudah selesai mengeringkan rambut putrinya.
"Iya mom." Jawab Anin tersenyum. Karina meninggalkan kamar putrinya.
__ADS_1
***
"Selamat pagi sayang." Sapa Guntur di seberang ponselnya.
Dia sudah bersiap untuk meeting dengan kliennya pagi itu. Mengingat mereka tak akan bertemu tiga hari ke depan membuat Guntur menghubungi calon istrinya pagi-pagi sekali sebelum pekerjaan dimulai.
"Selamat pagi." Jawab Anin malas masih muka bantal di kamarnya.
Bahkan matanya belum sepenuhnya terbuka saat mendapat panggilan video dari tunangannya.
"Kau masih tidur?" Anin tersentak saat sadar siapa yang menghubunginya.
Anin menelungkupkan ponselnya di ranjang hingga tidak terlihat lagi dirinya dalam ponsel meski belum mematikan ponselnya.
"Sayang, tak terlihat apapun." Seru Guntur melihat gambar kegelapan di ponsel Anin.
"Sebentar!" Seru Anin berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Mencuci muka dan gosok gigi dengan kilat sebelum panggilannya dimatikan.
Anin hanya cengengesan dengan wajah memerah karena malu.
"Apa yang akan kau lakukan hari ini?" Tanya Guntur setelah melihat kekasihnya duduk dengan tenang.
"Entahlah, harusnya hari ini kita feeting gaun pengantin. Tapi karena mas tak ada terpaksa ditunda." Jawab Anin tersenyum lembut.
"Maaf. Perjalanan bisnis ini mendadak. Aku ingin menyelesaikan lebih cepat karena aku tak mau diganggu saat bulan madu kita." Wajah Anin malah memerah mendengar kata bulan madu dari Guntur.
"Mas..."
"Kenapa malu, bukannya hal itu wajar untuk pasangan pengantin baru nanti?" Jawab Guntur tertawa tergelak melihat Anin yang malu-malu.
"A.. aku kan masih kuliah." Jawab Anin dengan wajah memerah.
"Bukan berarti aku menyuruhmu hamil kan?" Tawa Guntur semakin menggelegar di seberang membuat Anin semakin memerah karena malu digoda Guntur.
__ADS_1
"Tuan, meeting satu jam lagi!" Suara Raka membuat Guntur menoleh dan terpaksa mengakhiri panggilan videonya.
"Hmm..." Jawab Guntur kini beralih menatap ponselnya lagi.
"Aku harus pergi sayang." Pamit Guntur menatap Anin menyesal merasa bersalah.
"Gak papa mas, lanjutkan pekerjaanmu. Hati-hati disana! Jangan tergoda dengan wanita!" Peringat Anin membuat Guntur tergelak lagi-lagi.
"Aku hanya mencintaimu sayang, aku tak mungkin tergoda dengan wanita lain. Trust me, okay?" Anin mengangguk sebelum menutup panggilannya.
Anin menatap lama ponselnya setelah menerima panggilan itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Melihat kondisi kekasihnya, sepertinya rekan bisnisnya bukanlah Alea sang mantan tunangannya. Tapi tetap saja dia cemas, Guntur pria yang sempurna, mapan dan tampan. Siapa yang tidak terpesona dengan pria tersebut yang dulu hanya menjadi angan Anin saja.
***
"Kita jalan-jalan!" Ucap Nara saat keduanya sudah di dalam mobil Anin.
Pagi itu setelah menerima panggilan dari Guntur. Anin memutuskan untuk menghabiskan waktunya bersama sahabatnya satu-satunya. Karena setelah sekian lama keduanya sibuk dengan kuliah masing-masing.
Mungkin setelah dirinya menikah, tak ada waktu lagi bagi Anin berkumpul dengan sahabatnya itu meski Guntur tak akan melarangnya. Namun pesan sang mommy selalu terngiang di telinganya untuk mengutamakan suaminya dari pada orang lain.
"Tentu. Setelah menikah, mungkin kita jarang punya waktu berdua. Jadi, mati kita have fun!" Seru Anin disambut teriakan antusias dari Nara.
Mereka pun menuju mall terbesar di kota itu.
Setelah hampir dua jam berkeliling di dalam mall dengan kedua tangan masing-masing yang tidak sedikit membuat keduanya lelah dan memutuskan untuk mampir di salah satu cafe di dalam mall di lantai satu.
"Capek, haus juga." Keluh Nara meletakkan semua bawaannya di kursi kosong sebelahnya begitu juga Anin hanya tersenyum kecil mendengar keluhan sahabatnya.
Ting
Nada dering pesan masuk di ponsel Anin yang langsung dilihatnya. Tadi dia memang sengaja men silent nada dering pesan.
Tangan Anin gemetar melihat kiriman foto tersebut. Namun langsung dikendalikannya karena tak mau membuat sahabatnya cemas. Anin pura-pura meminum jus jeruknya yang sudah diantar pelayan cafe.
Anin melirik jam tangannya menunjukkan pukul dua siang dan beralih melirik Nara yang sibuk dengan makanannya yang terlihat lahap, mungkin karena dia lapar.
__ADS_1
TBC