
"Pakailah! Satu jam lagi ada orang suruhanku untuk meriasmu!" ucap Jonathan meletakkan paperbag di atas ranjang.
Karina tak menjawab hanya menatap Jonathan melalui bayangan di cermin.
"Saya harus pulang!" tegas Karina.
"Kalau kau mengkhawatirkan putrimu aku sudah mengirim seseorang yang kupercaya untuk menjaganya." jawab Jonathan. Karina sontak menoleh menatap Jonathan.
"Siapa? Putriku tak akan mudah percaya dengan orang asing?" ucap Karina mendekati Jonathan.
Jonathan tak menjawab, dia menempelkan ponsel di telinganya, berbicara dengan seseorang.
Dalam percakapan ponsel :
Jonathan : "Kau dimana?"
Yang diseberang : "Saya di sekolah nona tuan."
Jonathan : "Bisa kau panggilkan putrinya?"
Karina hanya menyimak percakapan yang diloudspeaker.
Yang diseberang : "Sepertinya tidak bisa tuan, nona sedang melaksanakan ujian sekolah yang tidak bisa ditinggalkan, mungkin setelah selesai saya akan menghubungi anda."
Jonathan belum menjawab, menatap Karina yang ikut menyimak percakapan itu menggelengkan kepalanya, tanda dia percaya dan sudah yakin jika putrinya baik-baik saja. Karina duduk di tepi ranjang tak menguping lagi percakapan itu.
Setelah menutup ponselnya Jonathan, dia menghampiri Karina.
"Kau sudah percaya kan? Apa yang membuatmu ragu lagi? Kita sama-sama menginginkannya." ucap Jonathan menatap Karina penuh harap.
Karina menatap Jonathan lekat, mencari keseriusan di matanya. Ternyata pria itu serius dengan dirinya.
"Boleh aku tahu kenapa kau ingin menikahiku?" tanya Karina menatap Jonathan intens.
"Karena aku mencintaimu. Mungkin terlalu cepat aku mengatakan hal ini. Namun yang kurasakan sungguh sangat takut kehilanganmu. Kau selalu ada di setiap aku berada. Bayang-bayangmu menghantui setiap waktuku. Aku semakin gila saat merindukanmu. Jika itu bukan cinta katakan, perasaan apa itu. Aku ...." Karina menutup mulut Jonathan dengan jemarinya.
"Aku punya syarat?" Jonathan menatap tak suka. Hingga akhirnya dia menghela nafas panjang.
"Katakan!"
"Aku ingin merahasiakan pernikahan ini...."
"Tapi..."
__ADS_1
"Aku akan sangat buruk jika semua orang tahu hubungan kita." Jonathan mencerna ucapan Karina. Dan menghela nafas sejenak.
"Baiklah!"
"Aku akan tetap tinggal di rumahku sendiri."
"Tidak."
"Jo... kita merahasiakan pernikahan ini, bagaimana mungkin aku tinggal denganmu. Dan putriku..." Jonathan tampak menahan amarahnya.
Memejamkan mata sebentar kembali mencerna ucapan itu. Menghela nafas dan menatap Karina lekat.
"Baiklah, aku akan sering mengunjungimu.... Dan aku minta jauhi indra! Tidak ada penolakan." ucap Jonathan lagi tanpa sempat Karina untuk membantah.
"Dia atasanku di divisiku, bagaimana aku bisa setiap hari menghindarinya?" bantah Karina.
"Ah, sial... aku akan memindahkanmu sebagai sekretaris pribadiku."
"Itu malah akan membuka hubungan kita? Aku tak setuju." bantah Karina lagi.
"Sial.... aku akan memindahkan Indra." putus Jonathan final. Karina hanya menghela nafas.
**
Acara ijab qobul yang dihadiri hanya oleh asisten pribadi dan sopir pribadi Jonathan sebagai saksi bertempat di ruang tamu kamar hotel Jonathan. Pengucapan ijab qobul membuat keduanya, Jonathan dan Karina sah secara agama diucapkan oleh penghulu dan kata sah keluar dari para saksi kini keduanya sudah menjadi suami istri secara siri.
"Kau akhirnya menjadi milikku." bisik Jonathan memeluk tubuh Karina yang sudah sah menjadi istrinya beberapa waktu lalu. Karina menghentikan gerakannya.
"Aku mau pulang."
"Apa maksudmu pulang. Ini malam pertama kita." ucap Jonathan tak suka, refleks melepas pelukannya.
"Aku tak mungkin meninggalkan putriku terlalu lama meski dengan orang kepercayaanmu. Putriku sudah cukup mengerti tentang urusan orang dewasa. Meski dia... masih... kecil." ucap Karina mengecilkan volumenya di akhir kata.
"Ah... sial... bagaimana mungkin kau meninggalkanku saat malam pertama... ah... sial.." Jonathan tampak frustasi sambil meremas rambutnya.
"Ayolah, ini bukan malam pertama kita lagi!"
"Tapi ini malam pertama kita sebagai suami istri."
"Kita bisa melakukannya besok-besok, tidak harus sekarang. Jangan kekanak-kanakan." bantah Karina heran menatap Jonathan yang frustasi mondar-mandir di depannya.
"Aku ikut pulang ke rumahmu." final Jonathan mengganti pakaiannya juga.
__ADS_1
Karina tak membantah lagi, percuma. Pasti akan ada banyak alasan untuk suami keduanya ini agar tak jauh-jauh darinya. Dia hanya bingung menjelaskan pada putrinya tentangnya jika dia pulang bersamanya.
Karina memutar matanya malas, beginilah jika berhubungan dengan lelaki yang dibawah usianya, terlalu kekanak-kanakan dan memaksa. batin Karina mengganti pakaian kebayanya dengan pakaian yang ada di paper bag yang belum dibukanya.
**
Mobil melaju dengan menggunakan sopir pribadi Jonathan, tampak Jonathan sibuk mengutak-atik tabletnya mengerjakan pekerjaannya. Karina hanya menatap ke luar jendela menikmati pemandangan dan duduk di samping suami keduanya. Ingatannya kembali pada masa lalu saat dirinya baru menikah dengan suami pertamanya Keanu, dulu dia bahagia, sangat.
Meski dia tak tahu jika perasaan Keanu padanya hanya sebatas terhadap adiknya. Tapi Keanu memperlakukan dirinya bak seorang putri, apapun keinginannya selalu dituruti. Tapi setelah pernikahannya memasuki usia ke empat tahun. Dengan seorang putri yang hadir dalam keluarganya. Mendadak suaminya menjadi dingin padanya.
Karina sempat heran apa kesalahannya hingga suaminya Keanu mendadak dingin dan tak pernah menyentuhnya lagi. Mungkinkah dia melakukan kesalahan? batin Karina saat itu.
"Sudah sampai. Ayo!" ucap Jonathan memecah lamunan Karina.
"Ah...iya..." Karina menatap ke luar, dia sudah sampai di depan rumahnya sampai-sampai lamunannya buyar.
Jonathan tampak memicing melihat istrinya melamun. Ponsel Jonathan berdering, membuatnya urung mengikuti langkah Karina menuju halaman rumahnya memilih mengangkat panggilan dari sekretaris pribadinya Rian.
Dalam percakapan ponsel :
Jonathan : "Hmm.."
Rian : " Maaf tuan. Anda harus pergi ke kantor."
Jonathan : " Sudah kukatakan, aku sedang sibuk."
Rian : "Pak Presdir ada di kantor, dia mencari anda."
Jonathan : "Untuk apa dia mencariku? Bukankah aku sudah mengikuti keinginannya untuk bertunangan?"
Rian : " Entahlah tuan, anda harus segera kembali, sebelum pak Presdir murka."
Jonathan : "Ah, sial... Aku akan datang dalam lima belas menit."
Rian : "Baik tuan."
Jonathan menutup ponselnya, langsung menghampiri Karina yang sudah masuk ke dalam rumah, mendapati Karina sedang sibuk di dapur. Jonathan menghampirinya dan langsung memeluknya erat dari belakang.
"Kau mengejutkanku." Karina sontak menghentikan gerakannya.
"Aku harus ke kantor. Ada sedikit masalah. Aku akan segera kembali." bisik Jonathan meletakkan dagunya di bahu Karina, mengecupi leher jenjang itu.
"Kau membuatku geli..." Karina menggerakkan lehernya kegelian.
__ADS_1
"Sampai jumpa nanti, aku akan segera kembali." ucap Jonathan kembali mengecup istrinya sekilas dan pergi meninggalkan rumah Karina.
TBC