Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 27


__ADS_3

"Mommy..." Teriak ketiga anak-anak Karina yang tiba-tiba muncul dari pintu ruang perawatannya.


"Anak-anak... kalian..." Belum selesai Karina bicara, Jo sudah muncul di belakang mereka segera mendekati Karina sambil mengecup bibir istrinya lembut.


"Hei baby .." Sapa Jo.


"Besok aku sudah pulang mas, kenapa ajak anak-anak kesini. Tidak baik untuk kesehatan mereka." Omel Karina menatap suaminya tajam.


Jo hanya mengedikkan kedua bahunya acuh.


"Anak-anak, cuci kaki dan tangan kalian dulu!" Titah Jo.


"Yes, Daddy." Jawab ketiganya bersamaan.


"Honey..." Jo menatap kembali istrinya yang masih menuntut jawaban dari omelannya.


Jo acuh, tak mau menanggapinya. Dia sudah terlalu lelah karena menghadapi tuntutan dari anak-anak yang mendesak dan menagih janji mereka untuk mengunjungi mommy nya dan adik bayi mereka. Jo menatap sekeliling, terlihat parcel buah yang masih baru.


"Apa ada yang berkunjung hari ini?" Tanya Jo menatap istrinya.


Karina cemberut namun menoleh ke meja nakas samping ranjangnya. Terdapat parcel buah dan beberapa bingkisan dari orang tua mantan suaminya tadi.


"Oh, dari mama Salma." Jawab Karina enteng tanpa beban.


Karina sudah tak mau menuntut jawaban dari suaminya. Dia kembali sibuk menyusui bayinya.


"Maksudmu mantan mama mertuamu?" Tanya Jo mengernyit tak suka.


"He em." Jawab Karina acuh sibuk menyusui bayinya.


"Apa dia juga ikut?" Tanya Jo dengan tatapan tak suka. Karina menoleh ke arah suaminya.


"Maksud mas siapa?" Karina malah balik bertanya karena tak tahu siapa yang dimaksud.


"Siapa lagi, pria brengsek itu." Jawab Jo kesal membuang pandangannya ke arah lain.


"Mas, bisakah lupakan rasa bencimu itu?" Jawab Karina jengah, melihat suaminya masih saja membenci Ken.


"Ah, sudahlah!" Jo menghampiri anak-anaknya yang sudah selesai mencuci tangan dan kaki mereka sendiri.


"Adik bayi..." Sapa Hana mendekati sang mommy yang terlihat tegang karena ucapan suaminya.


Si kembar mengikuti di sisi Hana sambil menatap adik bayi perempuannya yang sangat kecil. Ketiganya menatap intens dan gemas pada adik mereka.


"Ini adik aku mommy?" Tanya Hana dengan suara imutnya.


"Iyalah... Hana harus menyayanginya ya?" Ucap Karina tersenyum.


"Tentu. Hei adikku, siapa namanya mom?" Tanya Hana lagi.


"Joana... panggil dia Joana." Jawab Karina.


"Joana? Seperti Daddy Jo?" Celetuk John salah satu si kembar.

__ADS_1


Josh tersenyum-senyum menatap adik bayinya. Jo ikut tersenyum melihat tingkah anak-anaknya yang duduk di sofa dekat ranjang perawatan.


**


Jo mengangkat semua barang-barang istrinya untuk dibawa ke mobil. Setelah dokter menyatakan istrinya sembuh dan putrinya diizinkan untuk pulang. Jo mulai mengemasi barang-barang istrinya dengan dibantu Farida.


"Hati-hati baby!" Ucap Jo membantu istrinya turun dari ranjang.


"Makasih honey." Karina turun perlahan dari ranjang dengan dibantu suaminya meski sudah tak begitu sakit.


Tapi Karina perlu hati-hati karena benang jahitnya belum dilepas.


"Ayo!" Jo menggiring kursi roda ke depan istrinya yang sudah dipersiapkan sejak tadi.


"Untuk?" Tanya Karina heran.


"Tentu saja untukmu." Jawab Jo menata kursi itu agar nyaman dipakai istrinya.


"Aku sudah bisa berjalan sendiri. Jangan membuatku seperti orang pesakitan!" Tolak Karina.


"Jadi kau ingin aku gendong?" Goda Jo menatap istrinya tersenyum lucu.


"Ayolah honey! Sungguh aku baik-baik saja berjalan sampai mobil." Ujar Karina membujuk suaminya.


Jo berdecak kesal, istrinya selalu membantahnya akhir-akhir ini. Dan Jo tidak suka hal itu.


"Kau tak mau menuruti suamimu lagi?" Tanya Jo kesal menatap istrinya lekat.


"Apa maksudmu honey? Bukan seperti itu?" Elak Karina dengan nada lembut tak mau membuat suaminya emosi.


"Kalau begitu. Ayo!" Jawab Jo terlihat sedikit mereda emosinya.


Sambil menunjuk kursi roda dengan dagunya. Karina menatap suaminya lekat, menggeleng-gelengkan kepalanya mengalah. Dia sudah lelah berdebat dengan suaminya yang juga tak mau mengalah. Padahal akhir-akhir ini suaminya selalu mengalah dan menuruti apapun yang dikatakannya.


Farida tersenyum melihat pasangan sejoli itu, dia pun mengikuti keduanya dengan menggendong cucunya sambile menenteng tas bayi kecil yang langsung direbut Jo untuk dibawanya sambil mendorong kursi roda istrinya.


***


"Mommy." Teriak Hana melihat mobil Jo sudah terparkir di halaman mansion mereka.


Jo turun dan membukakan pintu mobil untuk istrinya. Dan bersiap menggendong tubuh istrinya namun langsung ditolak oleh Karina namun Jo memaksa dia langsung membopong tubuh istrinya tanpa persetujuan.


"Kyaa.." Teriak Karina terkejut sontak memukul kecil dada bidang suaminya.


Anak-anak Karina yang memang sengaja menyambutnya pun mengikuti orang tuanya dari belakang dan juga Farida yang menggendong bayi kecil mereka.


Jo membaringkan tubuh istrinya di kamarnya yang sudah ditata rapi seolah dipersiapkan untuk menyambut kedatangan Karina dan si bungsu. Ah ya, dokter menyarankan Karina untuk tidak hamil lagi. Karena masalah umur juga kelahiran terakhir bayi mereka kali ini cukup membahayakan nyawa ibunya.


Bisa saja kelahiran berikutnya akan berakibat fatal pada ibu bayi meski dilakukan secara Cesar sekalipun. Dan saat itu juga Jo memutuskan untuk istrinya agar melakukan kontrasepsi sekaligus untuk mencegah kehamilan. Cukup dengan empat anak, dua laki-laki dan dua perempuan, ah tidak tiga perempuan tepatnya.


Kalau saja bukan karena keposesifan Jo sebagai seorang suami yang sangat mudah cemburu pada istrinya. Jo sebenarnya kasihan melihat istrinya saat hamil dan melahirkan. Apalagi melihat ***** birahinya yang begitu besar saat berdekatan istrinya.


Jo pasti tak menginginkan istrinya hamil hingga empat kali. Namun saat dokter menyarankan hal itu. Jo langsung saja memutuskan untuk kontrasepsi istrinya demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

__ADS_1


"Kau mau makan sesuatu?" Tanya Jo lembut sambil menyelimuti tubuh istrinya setelah dibaringkan perlahan.


"Aku masih kenyang, aku mau menyusui Joana." Tolak Karina beralasan.


"Dia baru diberi asi tadi oleh mama. Saat kau memompanya tadi." Ucap Jo tersenyum.


"Aku mau mandi." Ucap Karina lagi. Dia sudah beberapa hari tidak mandi.


Dokter masih melarangnya, agar jahitannya agak mengering dulu.


"Kau lupa nasihat dokter?" Seru Jo menatap istrinya lekat.


"Aku gerah mas, dan.. risih. Sudah beberapa hari kau hanya membasuh tubuhnya. Ini sangat tidak nyaman." Jawab Karina menatap suaminya dengan tatapan puppy eyes nya untuk merayu suaminya.


"Tidak." Seru Jo tegas keluar dari kamar melihat putri kecilnya yang diletakkan di box bayi kamarnya yang tersambung pintu depan kamarnya.


Karina menghela nafas panjang, melihat suaminya yang overprotektif.


"Mas..." Seruan Karina tak digubris Jo.


Karina beranjak hendak bangun dari duduknya di ranjang. Dia akan membasuh tubuhnya saja kalau masih dilarang mandi.


"Apa kau tak bisa mendengarkan perkataanku sekali saja baby? Kenapa kau selalu membantahnya?" Seruan Jo mengejutkan Karina yang sudah duduk di tepi ranjang dengan kaki menggantung.


"Mas... aku..."


"Dengar kata suamimu. Tidur dan istirahat! Tidak bisakah kau sekali saja menuruti kata-kata suamimu." Ucap Jo menatap tajam istrinya.


Jo terlihat emosi dan hampir saja emosinya itu meledak melihat istrinya tak menurutinya padahal itu demi kesehatannya. Sudah lebih dari seminggu dirinya diuji dengan suasana rumah tentang mengurus dan mengatasi rengekan anak-anaknya setiap saat setiap waktu saat istrinya masih dirawat di rumah sakit.


Jo sudah hampir kehilangan batas kesabaran, dan dia tak mau melampiaskan pada istrinya karena batas kesabarannya hampir mencapai batasnya dan meledak. Karina terdiam, sungguh dia terkejut dengan seruan suaminya yang hampir saja membentaknya.


Tapi entah kenapa suasana hati Karina malah semakin memburuk mendengar seruan suaminya. Seolah-olah selama ini dia tak pernah mendengar dan menuruti ucapan suaminya.


"Apa maksudmu aku selama ini tak mendengarkan dan menuruti apa itu ucapanmu?" Jo yang tadinya sudah hampir mereda emosinya kembali emosi mendengar ucapan istrinya.


"Ya, dan akhir-akhir ini kau selalu semakin berani tak mengindahkan ucapanku. Apa kau tak menyadarinya?" Suara Jo naik dua oktaf hingga tatapan Karina terlihat kecewa padanya.


Namun entah setan apa yang merasuki Jo, dia tak mengindahkan kilatan mata kecewa pada mata istrinya.


"Jadi kau menyesal menuruti apa ucapanku?" Suara lirih Karina sarat akan kekecewaan memalingkan pandangannya.


Tanpa sadar air matanya menetes langsung segera diusapnya. Karena tak mau suaminya melihat kekecewaannya.


"Ya dan kuharap itu tak terjadi lagi." Jawab Jo tegas, dia segera meninggalkan kamar mereka dan masuk ke dalam ruang kerjanya.


Jo merasa menyesal, tapi entah kenapa dia tak mau mengalah. Dia memilih pergi sebelum semuanya fatal. Dia butuh pelampiasan kekesalannya. Kilat amarah dan emosi masih merajai dadanya yang semakin sesak.


Jo berlaih masuk ke dalam ruang olahraga untuk melampiaskan kemarahannya karena menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda di ruang kerja tak mampu meredanya.


Suara isakan kecil terdengar dari kamar itu. Entah kenapa dada Karina terasa sesak. Dia berkali-kali memukulinya untuk menghilangkan sesak itu namun rasa sesaknya semakin membuatnya kembali menangis. Kamar kedap suara itu tak membuat tangisan Karina teredam tanpa seorang pun mendengarnya termasuk tangisannya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2