
Guntur menarik pergelangan tangan Anin dengan sedikit kencang. Dia tak mau gadis itu salah paham dengan pengumuman yang didengarnya tadi.
"Lepaskan!" Seru Anin namun Guntur langsung mengurungkan di sebuah ruangan yang ada di dapur.
Melihat sekitarnya, ruangan itu adalah ruangan tempat bahan makanan disimpan. Keduanya saling menatap intens, Guntur mengukung tubuh mungil Anin dibalik pintu ruangan tersebut setelah menguncinya.
"Aku..." Belum selesai Anin bicara, Guntur sudah membungkam bibir Anin dengan bibirnya.
Dia melum*at, memghis*ap dan memagut bibir Anin intens. Anin ingin menolak dengan tetap mempertahankan diri untuk tidak membalas ciuman manis itu. Namun saat Guntur menuntun lengan Anin ke lehernya membuat pertahanan Anin runtuh dan membalas ciuman dengan tak kalah panas itu. Keduanya terhanyut dalam ciuman panas yang semakin liar itu.
Hingga nafas Anin terasa menipis dia menepuk tengkuk Guntur dan melepaskannya. Guntur menyatukan dahi mereka hingga saling menatap. Nafas keduanya memburu terengah-engah. Guntur mengusap bibir mungil Anin yang bengkak, hingga kemudian ciuman itu terjadi lagi tentu saja Guntur yang memulainya.
Sungguh bibir Anin sudah menjadi candu baginya. Perasaan buruknya yang sejak tadi menggelayutinya kini langsung hilang entah kemana. Seolah hanya Anin lah obat untuk ketenangan hati Guntur.
"Aku merindukanmu." Bisik Guntur setelah puas melum*at bibir Anin.
"Setelah mengumumkan pertunangan kau bilang merindukan gadis lain?" Jawab Anin menatap Guntur tajam dan dingin.
"Sungguh aku tak menginginkannya Anin." Jawab Guntur sendu.
"Tapi semua orang tahu."
"Aku hanya mencintaimu."
"Tapi dia tunanganmu."
"Kau mau aku memutuskan pertunangan itu? Dan memperkenalkanmu sebagai belahan jiwaku." Ucap Guntur serius.
"Lalu aku akan di cap oleh orang-orang sebagai pelakor? Itu yang kau inginkan?" Jawab Anin sarkas. Tanpa sadar air matanya menetes.
"Maaf... maafkan aku!" Bisik Guntur lirih menyandarkan kepalanya di bahu Anin dengan membisikkan ucapan maaf berulang-ulang.
"Biarkan aku pergi!" Guntur langsung mendongak menatap Anin dingin.
"Apa maksudmu?" Ucap Guntur agak mengeraskan volumenya membuat Anin sontak membungkam bibir itu dengan telapak tangannya.
"Tempatku bukan disini mas." Bisik Anin sendu.
Guntur menatap Anin sendu juga, hatinya sungguh teriris. Apa yang akan dilakukannya untuk memperjuangkan cintanya?
__ADS_1
"Tunggu sebentar lagi! Kumohon!" Pinta Guntur menatap Anin penuh harap dengan mata berkaca-kaca.
"Apa mas yakin orang tua mas merestui kita? Karena kelihatan mereka sangat menyayangi tunangan mas." Ucap Anin membuat Guntur semakin merasa bersalah.
"Aku hanya butuh kau di sisiku, mendampingiku. Aku berjanji akan segera memutuskan pertunangan kami, tinggal sedikit lagi kumohon!" Guntur menangkup kedua pipi Anin dan mengusap air matanya.
Jegrek.. jegrek...
"Hai, kenapa pintunya terkunci, siapa yang menguncinya." Suara seseorang membuat keduanya terkejut sontak menoleh ke arah pintu bersamaan.
"Aku harus pergi!" Anin mendorong dada bidang Guntur yang tak bergeming sedikitpun.
"Tunggu!" Guntur menatap sekeliling berpikir cara untuk mencari ide.
"Aku tak menguncinya." Ucap seseorang lain lagi yang ada di luar ruangan.
"Aku coba." Suara yang lain lagi.
Jegrek... jegrek..
"Kenapa terkunci? Dimana kuncinya, siapa yang membawa kuncinya?" Seru orang lain lagi.
Jas resmi Guntur dipasang di kepala yang membungkus tubuh Anin hingga dibawah pinggang. Guntur mendekap tubuh Anin di bahunya yang membuat Anin menurut tanpa banyak bicara.
Cklek..
Semua orang terkejut dan mundur ke belakang melihat siapa yang baru saja muncul dari dalam pintu yang terkunci itu. Guntur langsung menerobos beberapa pelayan yang langsung membungkukkan badannya memberi hormat saat mengetahui kalau tuan muda majikannya yang mengunci ruangan tersebut.
Semua orang saling menatap saat seorang gadis mungil ikut keluar dari ruangan itu yang diyakini bukan tunangan tuan mudanya. Mungkin kekasih yang dicintai tuan muda mereka. Karena yang mereka dengar, tuan mudanya dipaksa dijodohkan oleh rekan bisnis ayahnya.
***
"Tunggu! Kenapa semakin masuk? Aku harus pergi!" Bisik Anin lirih saat arah tujuan Guntur malah masuk ke dalam rumah dengan diam-diam tidak menuju pintu keluar.
"Ssttt.." Jawab Guntur tetap menarik pergelangan tangan Anin dan diam-diam ke lantai atas dimana kamarnya berada.
Cklek...
Guntur mendorong tubuh Anin ke dalam kamar pribadinya saat dirinya pulang ke rumah tersebut meski sekarang dia jarang pulang. Guntur menoleh ke kanan dan ke kiri melihat situasi dan menutup langsung menguncinya setelah yakin tak ada yang mengetahuinya perbuatannya.
__ADS_1
"Aku harus pergi mas." Ucap Anin menatap Guntur cemas.
Guntur malah malah membingungkan tubuh Anin di ranjang king size nya.
"Mas..." Pekik Anin mendorong tubuh kekar Guntur.
"Nanti, aku masih merindukanmu." Guntur malah mendekap erat tubuh Anin.
Anin terdiam, dia tak membalas juga tak menolak dekapan itu. Dia juga tak memberontak lagi. Tapi dia menikmatinya karena mampu membuatnya langsung luluh dan membalas dekapan itu. Guntur menyerukkan kepalanya ke dada Anin yang lembut.
"Aku lelah, hanya dirimu yang membuatku tenang." jawab Guntur dalam dekapan itu.
Anin terdiam, dia hanya mengelus punggung Guntur mencoba menghibur rasa lelahnya.
Tok tok tok
Suara pintu kamar Guntur diketuk dari luar.
"Mas... mas Guntur..." Suara seorang gadis dari luar pintu Guntur memecah lamunan Anin yang terdiam menatap langit-langit kamar itu.
Terdengar nafas teratur dari pria yang terlelap sambil menindih tubuhnya terlihat nyaman. Anin tak tega untuk membangunkannya karena pria itu terlihat lelah namun juga terlihat senang, tampak bibirnya tersenyum dalam mimpinya. Anin ikut tersenyum. Dia memilih mengabaikan ketukan pintu dan suara-suara di luar pintu hingga kembali hening tak terdengar berisik suara di luar pintu.
Anin melirik jam dinding yang ada di kamar Guntur, sudah hampir satu jam dirinya di dalam kamar tersebut. Dia menebak kalau pesta itu pasti sudah selesai dan orang-orang bubar. Ponsel Anin yang berdering sejak tadi tak dihiraukannya karena memang jauh dari jangkauannya karena tubuh kekar Guntur yang menindihnya.
"Ukh... kau berat sekali mas, lama-lama aku bisa sesak nafas karena kau menindihku." Bisik Anin lirih.
Anin mencoba melepaskan diri dari dekapan Guntur dengan menggeser tubuh kekar itu namun tenaga Anin yang kecil dan tubuhnya yang mungil tak mampu menggeser sedikitpun.
"Huff.. Aku tak tega membangunkannya. Aku juga tak mungkin menginap disini juga kan?" Bisik Anin lagi, memikirkan cara lain untuk lepas dari dekapan ini.
"Apa aku harus membangunkannya? Dia terlihat nyaman dan senang. Tapi aku... ukh..." Sesuatu mengeras di bawah sana saat dirinya mencoba menggeser tubuhnya sendiri.
Dan Anin bukan gadis polos yang tak tahu itu apa. Dia kembali terdiam.
"Aku memang harus membangunkannya." Anin menatap wajah pria itu lekat.
"Maafkan aku mas, aku harus pulang." Bisik Anin lagi menepuk-nepuk pipi Guntur lembut.
TBC
__ADS_1