Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 117(Ending)


__ADS_3

Cuaca sore hari begitu menyejukkan mata. Apalagi dengan pelangi yang muncul saat hujan reda yang mengguyur sore yang kembali cerah. Begitu juga dengan hati seorang Anin. Setelah menyelesaikan kuliahnya dengan gelar doktor, dia menikmati indahnya sore hari di balkon kamarnya yang ada di lantai tiga.


"Memikirkan aku? Hmm..." Anin sudah hafal betul suara lembut yang menyesap dalam ceruk lehernya.


"Geli mas." Bisik Anin tertawa.


Guntur menghentikan aksinya dan ikut duduk di sisi istrinya. Mengecupi punggung tangan istrinya yang saling bertautan dengan jemari tangannya.


***


Hingga beberapa jam kemudian, Anin terkulai lemah di dada bidang suaminya yang sudah mengakhiri pergulatan panas mereka. Anin memejamkan matanya karena rasa lelah dan nikmat yang menderanya. Dia sungguh sangat bahagia.


"Kita masuk!" Bisik suaminya.


Anin tak menjawab hanya terdiam menuruti keinginan suaminya.


Suaminya membopongnya masuk ke dalam, membaringkan tubuh lelahnya di ranjang dengan hati-hati dan lembut.


"Aku lelah. Aku mau tidur sebentar." Bisik Anin masih memejamkan matanya.


"Tidurlah sayang!" Bisiknya membuat Anin semakin terlelap.


***


"Bagaimana hasilnya?" Tanya ibu Kim menatap Guntur yang baru muncul setelah katanya mereka pergi ke rumah sakit.


"Rion akan punya adik." Jawab Guntur tersenyum sumringah menatap ibunya.


"Ah... selamat ya nak!" Ucap ibu Kim tersenyum bahagia memeluk putranya.


"Dimana istrimu?" Tanya ibu Kim belum melihat kemunculan Anin dari belakang Guntur.


"Rion agak rewel tadi, jadi dia sedang membujuknya." Jawab Guntur sambil duduk di kursi makan yang telah disiapkan ibunya.


Tadi pagi dia hendak mengantar istrinya ke dokter karena kondisi tubuhnya yang tidak baik-baik saja. Sehingga Guntur meminta bantuan ibunya untuk menjaga Rion anak pertama mereka. Meski ada pengasuh, Guntur tak sepenuhnya percaya pada mereka. Dan dia tak mau membiarkan istrinya pergi ke dokter sendiri dengan kondisi yang tidak baik-baik saja.


"Sayang, jangan seperti itu, please!" Ucap Anin menatap putranya yang sedang merajuk.


"Aku benci mama, aku benci. Kemarin mama janji mau membelikannya. Kenapa sekarang mama bohong?" Seru Rion kesal dengan kedua tangannya bersedekap di dada mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Maafkan mama sayang, bukannya mama bohong. Tadi mama tidak sempat mampir. Kau tahu mama sedang tidak enak badan. Minta papa untuk mengantarmu!" Bujuk Anin dengan nada lembut menatap putranya yang masih enggan menatapnya.

__ADS_1


Sebenarnya dia memang lupa dengan pesanan putranya kemarin. Dia terpaksa menuruti keinginannya agar bisa ditinggal di mansion dengan neneknya. Namun sepertinya usahanya gagal. Putranya kini tengah merajuk. Rion malah melengos memalingkan wajahnya saat Anin duduk di depannya.


"Oh ya mama punya hadiah lain. Kau pasti suka." Bujuk Anin lagi mengingat satu ide.


Rion tetap mempertahankan dirinya untuk tidak terbujuk rayuan sang mama.


"Anak papa, maafkan mama ya." Bujuk Guntur ganti mendekati putranya dari belakang.


"Mama bohong pa, aku benci mama." Seru Rion menangis memeluk Guntur membuat Anin menggeleng.


Putranya itu hanya terlihat lemah di depan sang papa. Kalau di depan Anin selalu merajuk agar keinginan dituruti.


"Iya .. iya .. mama jahat ya?" Rion mengangguk-angguk mengiyakan masih menangis di pelukan Guntur.


Anin menghela nafas lega, putranya sudah bisa dibujuk.


"Tapi papa punya hadiah lain yang bisa membuat Rion senang Lo?" Ucap Guntur sambil menatap istrinya penuh cinta.


Anin hanya tersenyum melihat tatapan lembut suaminya.


"Apa itu pa?" Tanya Rion polos menghentikan tangisannya meski masih sedikit sesenggukan.


"Rion kan mau adik?" Rion mengangguk-angguk antusias mendengarnya.


"Benar ma?" Rion langsung berpaling menatap sang mama melupakan rajukannya tadi.


Anin mengangguk tersenyum lembut menatap putranya yang sangat antusias.


"Disini." Anin menunjuk perutnya. Rion takjub dan beralih menuju pangkuan Anin mengelus perut Anin yang masih rata.


"Wahh..."


***


"Sedang apa?" Tanya Guntur saat melihat istrinya lagi-lagi melamun saat sore hari di balkon kamar mereka.


"Sedang melihat langit sangat cantik." Jawab Anin menatap sendu ke depan.


"Kau yakin tak ada yang ingin kau katakan?" Tanya Guntur ikut duduk di kursi samping istrinya.


"Kau selalu tahu apa yang aku pikirkan." Anin menjatuhkan kepalanya di bahu suaminya.

__ADS_1


"Aku... masih merasa bersalah mas." Bisik Anin membuat Guntur menghela nafas berat.


Dia tahu siapa yang dimaksud istrinya.


"Bukannya dia sudah memberikan kabar pada kita setiap tahun. Dia juga sudah bahagia menemukan seseorang yang juga tulus mencintainya." Jawab Guntur membuat Anin sontak mendongak menatap wajah suaminya.


"Apa itu benar? Dia tak membuat kita hanya sekedar agar tidak merasa bersalah kan?" Tanya Anin menatap suaminya lekat.


"Aku mendapat kabar dari orang kepercayaanku disana. Dan gadis itu benar-benar mencintainya dan dia juga mencintainya. Mereka saling mencintai." Guntur menatap istrinya lembut.


"Sungguh?" Tanya Anin memastikan ucapan suaminya.


"Aku malah takut kalau kau yang beralih akan mencintainya saat kau menjadi istrinya." Ucap Guntur sendu.


Anin terdiam, namun dia ganti tersenyum senang menggoda suaminya.


"Apa... suamiku sedang cemburu?" Goda Anin tersenyum menatap wajah suaminya.


Pluk


"Tentu saja. Aku adalah suamimu. Kau adalah istriku. Selamanya aku tak akan rela melihatmu bersama orang lain. Meski dia sebaik Zian." Anin tersenyum menyerukkan kepalanya di dada bidang suaminya.


"Aku mencintaimu mas." Bisik Anin lembut.


"Aku bahkan lebih mencintaimu." Balas Guntur tersenyum bahagia.


.


.


.


End


Akhirnya tamat juga...


Bye-bye


Aku mau meneruskan ceritaku yang lain ya...


Ikuti terus

__ADS_1


"Pengacara tampan"


Terima kasih sudah mampir


__ADS_2