
Bruk...
Anin mendorong keras bahu bidang pria itu yang merasa kecewa karena ciuman panas mereka terpaksa berhenti.
"Pak Guntur apa-apaan ini?" Seru Anin saat dirinya sudah kembali 'waras'.
"Setelah ciuman panas ini baru bertanya? Sejak tadi kenapa? Menikmati?" Goda pria itu yang ternyata Guntur yang saat itu melintas melihat perdebatan Anin dengan pria yang tidak jelas.
Anin malah semakin merona wajahnya digoda Guntur seperti itu. Guntur malah semakin melebarkan senyumnya. Melihat tingkah malu-malu Anin yang tak menolak ciuman panas itu membuat Guntur yakin kalau perasaannya selama ini tidak bertepuk sebelah tangan.
Dia tersenyum bahagia. Guntur mendekati setelah didorong hingga mundur beberapa langkah ke belakang.
"Bapak juga sudah punya tunangan." Ucapan Anin mampu membuat tubuh Guntur menegang kaku dan terhenti menatap Anin sendu.
"Kau tahu?" Anin mengangguk mengiyakan, meski tampak raut wajah kecewa terlihat jelas di wajahnya.
"Saya seolah menjadi pelakor..." Ucap Anin tertawa getir.
"Bukan begitu. Kau lah gadis yang aku cintai, sungguh?" Ucap Guntur meyakinkan. Guntur mulai mendekat lagi.
"Tapi anda memang bukan siapa-siapa saya pak." Ucapan Anin membuat Guntur terdiam kehilangan kata-katanya.
"Itu hanya status karena perjodohan orang tua kami." Sangkal Guntur membuang pandangannya ke arah lain.
"Tolong antar saya pulang!" Ucap Anin memecah keheningan dengan menampilkan senyum yang terlihat terpaksa.
Guntur langsung menoleh menatap Anin yang terlihat kecewa dan sedih.
"Soal aku mencintaimu itu benar." Ucap Guntur menatap Anin lekat berharap Anin mempercayai perasaannya.
"Terima kasih." Jawab Anin tersenyum getir.
Raut wajah Guntur menunjukkan kekecewaan mendalam melihat reaksi Anin.
"Kau tak mau mengiyakan perasaanku?" Tanya Guntur penuh harap.
"Untuk apa?" Anin menghela nafas sejenak, " Kalau akhirnya percuma, lebih baik kita saling melupakan perasaan itu dan kejadian hari ini." Ucap Anin miris, masih memaksakan senyumannya.
Guntur terlihat tak suka dengan jawaban Anin dia pun memeluk tubuh Anin erat.
"Jangan paksa aku untuk melupakannya, kau tahu aku tersiksa selama ini memendam perasaanku!" Tanpa sadar air mata Guntur menetes membasahi bahu Anin saat dalam pelukan itu, Anin terdiam tak membalasnya atau menolak.
"Itu akan lebih menyiksa jika kita terus memaksakannya." Jawab Anin menahan sesak di dadanya.
"Jadi....kau juga mencintaiku kan?" Ucap Guntur melepas pelukannya masih memegang bahu Anin menatap Anin lekat penuh harap.
__ADS_1
Dia sudah mengusap air matanya yang tanpa permisi menetes tadi. Anin ikut menatap wajah tampan mantan gurunya itu. Karena dulu dia dikelilingi pria-pria tampan seperti Daddy, adik kembar juga papanya. Anin baru kali memperhatikan dengan seksama wajah tampan di depannya itu.
Sungguh-sungguh sangat tampan, Apa karena debaran di dadaku ini yang membuat melihat pak Guntur tampan? Batin Anin berseteru.
"Aku berniat melupakannya." Jawab Anin tegas, bukannya Guntur sedih, tapi dia malah tersenyum bahagia.
Perasaannya berbalas. Anin mengernyit keheranan melihat senyum di bibir Guntur.
"Terima kasih, terima kasih." Guntur kembali memeluk tubuh Anin dengan raut wajah bahagia terpancar di matanya.
"Pak..."
"Bisakah kau ubah panggilanmu itu?" Pinta Guntur kembali menatap wajah Anin setelah melepas pelukannya.
Masih terdapat senyum bahagia di bibir Guntur.
"Sekarang aku bukan gurumu lagi, aku juga bukan bapakmu, aku juga tak pernah menikah dengan ibumu. Jadi, bisa kau ubah panggilanmu itu?" Pinta Guntur berharap.
"Tapi pak..." Jawab Anin tampak keberatan.
"Ayolah sayang, jangan buat aku menjadi seorang pedofil yang mengencani anak-anak. Aku sudah bukan seorang guru lagi." Rengek Guntur membuat pipi Anin merona memerah karena panggilan 'sayang' dari bibir Guntur.
Dan dia juga geli karena tingkah kekanakan Guntur.
"Ayo katakan!" Rengek Guntur menatap Anin lekat yang mulai menghentikan tawanya.
Sungguh binar mata berharap dipanggil membuat Anin semakin malu.
"Panggil namaku, tanpa embel-embel pak!_ Pinta Guntur.
"I..itu... a...anu..." Guntur tampak menghela nafas kecewa karena Anin tak mengikuti apa maunya.
"Tak apa perlahan saja." Hibur Guntur membuat Anin bernafas lega.
"Kau kenal pria tadi?" Tanya Guntur mengalihkan topik.
"Siapa?" Anin mengernyit tak paham maksud Guntur.
"Pria di cafe tadi." Jawab Guntur kesal, tak kenapa dia tak suka pada pria tadi.
"Kak Dimas?" Jawaban Anin semakin membuat Guntur kesal.
"Bahkan kau memanggilnya kak, dan aku? Pantas saja dia besar kepala." Protes Guntur.
"Tapi bagaimana dengan tunangan mas... Guntur?" Anin menunduk malu-malu manyebut Guntur dengan panggilan 'mas'.
__ADS_1
"Kau panggil apa tadi? Ayo katakan lagi!" Desak Guntur yang hanya mendengar kata-kata 'mas' nya saja.
"Apa sih?" Anin menutup wajahnya malu-malu.
"Kenapa?" Guntur berusaha menyingkirkan kedua tangan Anin yang menutupi wajahnya. Keduanya tertawa bersama-sama saling bercanda saling menggoda sejenak melupakan kecemasan mereka.
"Menikahlah denganku!" Suara Guntur membuat Anin menghentikan tawanya ganti menatap Guntur serius.
"A... apa maksud...?" Jawab Anin gugup. Guntur memeluk tubuh Anin erat.
"Aku mencintaimu... Tunggu aku! Aku akan membatalkan pertunangan kami dan melamarmu." Bisik Guntur dalam pelukannya.
"Bapak yakin?" Anin balik bertanya.
"Asal kau mau menungguku dan percaya padaku." Bisik Guntur lagi.
Flashback on
Guntur sudah siap berangkat ke mall. Alea langsung duduk di kursi penumpang begitu mereka sampai di parkiran apartemen Guntur. Dengan malas-malasan Guntur menyetir mobilnya pergi ke mall sesuai dengan keinginan gadis yang duduk di sampingnya ini. Itupun atas perintah ayahnya.
Ayahnya mengancam akan menghentikan pengobatan ibunya jika dia membantah. Guntur pun terpaksa pergi karena ancaman itu.
Setelah sampai di mall terbesar kota itu. Guntur hanya mengikuti langkah Alea dari belakang seperti seorang pengawal saja. Namun Alea langsung menggandeng lengan Guntur dan mensejajarinya. Guntur tak bisa protes, dia hanya menurut kemanapun Alea ingin pergi. Bahkan saat Alea meminta pendapatnya, dia hanya menjawab terserah dan entahlah.
Hal itu tentu saja membuat Alea kesal dan menghentak-hentak lantai dengan kesal. Namun dia tak bisa berbuat apa-apa selain diam dengan kesal. Saat itu, saat Alea sibuk melihat-lihat pakaian di stand pakaian terkenal, Guntur pamit hendak ke toilet yang diangguki Alea.
Guntur berjalan mencari-cari letak dimana toilet mall itu berada, ternyata dia harus turun satu lagi di dekat cafe di mall. Saat melintasi cafe setelah selesai dari toilet, tanpa sengaja matanya menangkap sosok yang dikenalinya.
Tidak hanya kenal namun gadis yang dirindukannya. Namun membuat sorot mata Guntur kecewa, gadis itu sedang dengan seorang pria yang membuat Guntur kesal dan entah kenapa dia merasa jengkel seketika saat pria itu mulai berani memegang jemari Anin yang sudah menolaknya.
Dari situ dia tahu kalau pria itu mengejar-ngejar Anin namun Anin tak menyukainya. Dan pria itu ternyata adalah mantan kekasih sahabat Anin yang sedang ke toilet.
Perdebatan mereka semakin panas dan menarik perhatian orang-orang di cafe membuat orang lain menatap Anin dan pria itu berdebat. Namun sejurus kemudian Anin mengatakan kalau dia sudah punya kekasih yang sedang ada di luar negeri dengan yakin ya.
Dan entah kenapa Guntur kalau alasan Anin itu adalah bohong hanya karena ingin menghindari pria di depannya itu. Begitu situasi mendesak, Guntur pun berinisiatif untuk muncul di antara keduanya.
Awalnya dia tak berniat untuk mengecup bibir Anin di depan umum. Namun karena kesempatan tak datang lain kali. Guntur dengan lancangnya dia berani mengecup bibir Anin di depan umum. Guntur terdiam melihat reaksi Anin tidak seperti pikirannya. Guntur berpikir mungkin jika kepura-puraan nya tidak disukai Anin paling-paling dia akan mendapatkan tamparan reflek dari Anin.
Namun hal yang dikhawatirkan itu tidak terjadi. Malah Anin terlihat membeku dan tak percaya dengan kecupan sekilas. Tatapannya saat itu sungguh membuat Guntur gemas melihat Anin yang terkejut. Bahkan tautan jemarinya tak ditolak sedikitpun malah tangannya basah karena gugup dengan tautan jemarinya.
Anin, ternyata perasaan kita sama selama ini? Dapatkah aku menyimpulkan seperti itu? Batin Guntur tersenyum lebar sambil memikirkan bunga-bunga yang mengelilingi tubuhnya dalam benaknya itu.
Flashback off
TBC
__ADS_1
Beri like, rate dan vote nya makasih 🙏
Maafkan typo