
Anin melambaikan tangannya setelah tiba di atas dengan pintu masuknya menghadap ke bawah. Kamar flat Anin memang hampir mirip dengan apartemen, hanya saja lebih mewah apartemen. Flat milik Anin tergolong murah untuk dijangkau harganya. Jo yang tak diizinkan untuk mengantar sampai depan pintu flat milik Anin hanya bisa menuruti keinginan putrinya itu.
Meski penuh dramatisasi penolakan Anin tadi. Jo ikut melambaikan tangannya yang berdiri dekat pintu mobilnya tersenyum. Anin pun masuk ke dalam flat nya dan masuk ke dalam kamarnya.
***
Ken melirik ponselnya terdapat panggilan tak terjawab dari putrinya. Dia langsung menghubungi kembali segera karena pesan dan panggilan itu saat siang tadi.
"Ya pa." Jawab Anin di seberang sesaat setelah dirinya selesai mandi.
"Sayang, kau dimana?" Tanya Ken cemas dan senang karena bisa mendengar suara putrinya.
"Aku di rumah sewaku pa." Jawab Anin malas-malasan karena tadi sebenarnya dia sudah hampir terlelap dan mendengar ponselnya berdering dia pun segera mengangkatnya karena tertera papa di layar ponselnya.
"Dimana itu?"
"Dekat tempat PKL ku pa, kota sebelah." Jawab Anin.
"Kau terdengar lemas? Kau sakit?" Cemas Ken.
"Tidak pa, aku sudah tertidur dan mendengar ponselku berdering ternyata papa." Jawab Anin.
"Dimana alamatmu?" Entah kenapa Ken terlihat kecewa saat mengetahui tinggal di rumah sewa. Seorang diri.
"Aku... besok saja ya pa, aku ngantuk." Jawab Anin tersenyum, dan terdengar dia juga menguap.
"Baiklah nak, istirahatlah! Besok pagi papa telepon lagi." Ken terpaksa menutup panggilannya.
Entah dia merasa bersalah atau lega, merasa bersalah karena selama ini tanpa sengaja telah menelantarkan putrinya itu, lega karena putrinya memilih untuk mencari tempat sewa bukan pulang ke rumah mantan istrinya. Dia pasti akan sangat kecewa dan sedih jika Anin sampai memilih pulang ke rumah mantan istrinya.
Ken menatap ponselnya dengan perasaan tak menentu. Dia merasa bersalah karena membuat Anin tidak merasa nyaman di rumahnya.
"Maafkan papa nak." Guman Ken.
***
Jo pulang lebih awal hari itu, dia biasanya tiba di mansion agak malam beberapa hari ini karena lembur pekerjaannya. Masuk ke dalam mansion hanya ada bibi asisten rumah tangganya. Setelah memberi salam pada sang bibi, tiba-tiba istrinya muncul dari dapur entah sedang apa.
"Mas sudah pulang?" Sapa Karina menghampiri suaminya tersenyum sejuta watt.
__ADS_1
Jo pun ikut tersenyum sumringah melihat senyum manis istrinya yang sudah dirindukannya itu. Keduanya pun berpelukan mesra seolah-olah sudah beberapa hari tidak bertemu. Namun hidung sensitif Karina merasa berbeda saat memeluk tubuh suaminya yang sudah melepas jas kantornya.
Bukan parfumnya? Batin Karina. Dia bergantian mencium tubuhnya sendiri. Bukan parfum atau bau tubuhku juga. Batin Karina. Jo yang hanya mengernyit bingung menatap istrinya heran.
"What's baby?" Tanya Jo merasa aneh melihat tingkah istrinya.
Karina langsung mundur dua langkah, menatap suaminya tajam dan dingin dengan kedua tangan yang berkacak pinggang seperti sedang marah.
"Siapa mas?" Tanya Karina dingin, menatap suaminya lekat seolah api terpancar dari matanya ingin membakar tubuh Jo.
"Apa maksudmu baby?" Tanya Jo masih belum mengerti apa maksud istrinya.
"Baumu?"
"Bauku?" Tanya Jo masih belum juga mengerti.
Dia membaui dirinya sendiri. Tak ada yang aneh pada bau tubuhnya.
"Mas?" Seru Karina mulai meneteskan air matanya, Karina sendiri juga bingung kenapa dia securiga itu pada suaminya saat merasakan bau lain di tubuh suaminya.
Dan Karina yakin itu bau parfum wanita. Artinya entah suaminya selingkuh atau tak sengaja berpelukan lama dengan wanita lain. Karina sudah membayangkan saja sudah merasa dadanya sesak dan sakit.
"Baby, tenanglah! Ada apa? Apa maksudmu? Kenapa kau menangis?" Tanya Jo cemas, dia awalnya masih belum paham maksud istrinya.
"Kenapa baby? Aku benar-benar tak mengerti maksudmu?" Tanya Jo memohon pada istrinya.
Dia merentangkan kedua tangannya untuk bersiap memeluk istrinya. Air mata Karina semakin terjun bebas melihat reaksi suaminya. Karina tak menemukan kebohongan di mata suaminya. Namun bayangan pernah diselingkuhi dulu membuat Karina semakin sesak di dada.
"Baby, please." Pinta Jo memelas hendak mendekat namun lagi-lagi istrinya menjauhinya. Karina memukul dadanya yang terasa sesak.
"Baby, stop please. What are you doing?" Jo memaksa untuk memeluk tubuh istrinya meski pukulan itu berpindah ke dadanya namun Jo tak peduli.
Lebih baik dia yang kesakitan dari pada melihat istrinya menyakiti dirinya sendiri. Bahkan sampai dalam pelukannya, Jo masih belum paham maksud kata-kata istrinya. Dia mencoba mencerna ucapan istrinya tadi. Namun dia benar-benar tak menemukan apa yang dimaksud istrinya.
"Kau jahat mas, walaupun hanya rekan bisnis seharusnya kau tak perlu memeluknya kan? Kenapa kau lakukan itu mas? Kau menyakitiku. Hatiku sakit mas."
"Ssstt.. baby... I am sorry, please. I am so sorry if I am wrong. Tapi jelaskan dulu apa maksudmu? Pelukan? Rekan bisnis? A.. aku benar-benar tak mengerti semuanya." Tanya Jo dalam pelukan istrinya sambil mengusap punggungnya.
Sekarang mereka sudah masuk ke dalam kamar saat Karina melepas jas kantornya tadi. Karina sontak mendongak melepas pelukannya dan mengusap air matanya kasar.
__ADS_1
"Boleh aku bertanya?" Tanya Karina masih dengan tatapan dingin menusuknya.
"Mas tadi menemui rekan bisnismu?" Jo yang bingung dengan pertanyaan istrinya mengangguk mengiyakan, ya, dia kan tadi memang bertemu dengan rekan bisnisnya. Tidak bohong juga.
"Mas berdekatan dengannya." Jo mengangguk lagi. "Mas bersalaman juga?" Jo lagi-lagi mengangguk tak ada kesempatan bicara. "Mas berpelukan juga?" Jo mengangguk lagi. "Dengan seorang wanita juga?" Tanpa sadar Jo mengangguk terus-menerus namun langsung meralat anggukan terakhirnya yang sudah membuat istrinya menjauhinya dengan tatapan kecewa dan kesedihan terpancar jelas di matanya.
"Baby, listen to me, please. Baby .."
Brak
Pintu kamar mandi sudah dibanting dari dalam oleh istrinya dan dikunci dari dalam. Istrinya benar-benar marah.
"Baby, dengarkan aku dulu. Aku bisa jelaskan! Kau salah paham sayang. Honey, baby .. my love... my wife..." Seru Jo putus asa karena tak ada jawaban dari dalam kamar mandi.
Jegrek... jegrek...
Jo memaksa membuka pintu kamar mandi namun masih dikunci. Jo mondar-mandir di depan pintu kamar mandi.
"Baby, please listen to me. Keluarlah dulu baby? Dengarkan aku sebentar, please!" Seru Jo lagi sambil menggendor-gendor pintu kamar mandi karena tak kunjung keluar istrinya dari dalam kamar mandi.
Jo terdiam, menempelkan dahinya di pintu kamar mandi. Apa yang harus dilakukannya untuk membujuk istrinya dulu.
Sementara itu Karina di dalam kamar mandi, dia duduk di closet kamar mandi sambil memeluk lututnya merasakan kekecewaannya dengan menumpahkan seluruh air matanya. Dia marah, dia takut, dia kecewa, dia sedih, dia juga merasa sakit dadanya meski kejadian itu mungkin belum benar-benar terjadi. Karina tak bisa membayangkan lagi.
Dikhianati lagi oleh suaminya. Karina takut suaminya sekarang suatu saat akan mengkhianatinya. Suara isakan terdengar dari dalam kamar mandi membuat Jo tersayat hatinya mendengar tangisan istrinya.
"Baby, please. Open the door! Ini tidak seperti yang kau pikirkan sayang. Biarkan aku menjelaskan. Aku hanya mencintaimu baby. Trust me please!" Ucap Jo dengan nada suara mulai terdengar sedih dan lemah.
Dia tak sanggup melihat istrinya bersedih. Tiba-tiba muncul di benak Jo wajah Anin. Karena seingatnya dia memang tak berpelukan dengan kliennya yang wanita. Hanya dengan rekan bisnis pria saja dia berpelukan.
"Jadi istriku cemburu dengan putrinya sendiri?" Guman Jo tersenyum, dia mengusap air mata yang keluar dari sudut matanya.
Senyum lebar terpancar di wajahnya. Kau akan mendapatkan balasanku karena rasa bersalahku ini baby. Batin Jo mulai hendak mengetuk pintu kamar mandi itu, namun gerakannya terhenti saat ucapan Anin terngiang sekali lagi di benaknya.
"Daddy, jangan bilang kalau Daddy bertemu denganku hari ini dengan mommy. Aku takut mommy sedih. Mommy bukan orang yang terima dengan satu penjelasan saja. Dia pasti akan mengungkit segalanya untuk memuaskan keingintahuannya." Pinta Anin sore itu saat berpamitan dengan Jo di flat sewanya di bawah tangga.
"Kau benar princess. Mommy memang seperti itu." Jo mengiyakan ucapan Anin hingga keduanya tertawa bersama membicarakan Karina.
"Ah, sial. Bagaimana aku menjelaskannya? Aku sudah janji pada Anin untuk tidak mengatakan pertemuan kami." Guman Jo lagi setelah flashback pertemuan dengan Anin sore tadi.
__ADS_1
Dia tadi memang memeluk agak lama Anin karena merasa tidak nyaman dan sedih. Jo menghela nafas panjang.
TBC