
Pintu rumah Zian diketuk seseorang dari luar. Zian bergegas menuju pintu untuk melihat tamunya. Hari ini Rima dan Maria sedang mengantar Abel ke puskesmas untuk melakukan imunisasi. Dan Rima menolak diantar Zian, lebih memilih diantar ibu mertuanya yang sebentar lagi mungkin akan dipanggil mantan ibu mertuanya.
"Ya?" Tanya Zian setelah menjawab salam dari tamunya tersebut.
"Permisi, apa ini Ruman tuan Ziando Gunawan?" Tanya seorang pria berstelan jas resmi kantoran.
"Ya saya sendiri?" Jawab Zian mengernyit heran melihat pria paruh baya berpenampilan formal itu.
"Perkenalkan saya, Sofyan Hadiwijaya. Saya pengacara nona Rima untuk mengurus perceraiannya dengan anda." Pria paruh baya itu mengulurkan jemari tangannya untuk berjabat tangan.
Zian terdiam, dia mencerna ucapan pria asing tersebut.
"Tuan Ziando?" Zian langsung tersentak.
"Ah, silahkan masuk! Maaf." Jawab Zian tersenyum kecut.
Istrinya benar-benar membuktikan ucapannya. Zian masuk diikuti oleh pengacara itu dan duduk di sofa ruang tamu rumah sederhana Zian.
"Ini berkas-berkas yang harus anda tanda tangani terkait keputusan perceraian yang kata nona Rima sudah disetujui oleh kedua belah pihak." Jelas Sofyan mengulurkan map merah yang diterima Zian dengan penuh rasa bersalah.
Pernikahan mereka yang hanya sebuah perjanjian karena Rima hamil anak dari kekasihnya yang tidak mau bertanggung jawab. Karena ayahnya adalah bawahan ayah Rima. Pernikahan yang belum ada setengah tahun itu harus terpaksa berakhir karena putri yang dikandung Rima sudah lahir.
__ADS_1
Rasa bersalah Rima membuat Rima harus rela melepaskan pria yang dengan lapang dada menerima dirinya yang tengah hamil anak kekasihnya yang tak mau mempertanggung jawabkan perbuatannya itu. Meski sebenarnya Rima sudah mulai bisa mencintai suaminya itu, dia harus rela ditolak sebelum dirinya sempat menyatakan perasaan sesungguhnya.
Melihat Zian yang biasanya bertampang dingin dan datar, menunjukkan senyumannya untuk pertama kalinya pada gadis yang bisa membuat hatinya luluh.
"Bisa saya memikirkan hal ini terlebih dulu?" Pinta Zian menatap pria paruh baya itu penuh harap.
Sofyan terdiam menatap Zian lekat, dia tadi ke rumah Zian karena kliennya bilang perceraian itu telah disetujui kedua belah pihak dan tinggal membubuhkan tanda tangan dan akan segera diproses nantinya.
Tapi yang dilihat Sofyan bukan seperti itu sepertinya. Meski dia tahu bagaimana pernikahan mereka dulu karena Sofyan adalah pengacara keluarga Rima sewaktu orang tuanya masih hidup.
"Baiklah. Jika anda sudah memutuskannya, anda bisa menghubungi saya." Jawab Sofyan mengulurkan selembar kartu nama pada Zian.
"Baik tuan." Jawab Zian meraih kartu nama itu dan membacanya dengan pandangan tak terbaca.
***
Karina juga meminta izin suaminya untuk mengabari mantan suaminya yang adalah papa Anin. Meski sedikit keberatan Jo terpaksa mengizinkannya tapi bagaimana pun juga Ken perlu tahu apa yang terjadi pada putri kandungnya tersebut.
Tepat pukul sepuluh pagi, rombongan keluarga Guntur datang ke mansion Jo dengan bawahan penuh untuk dipersembahkan pada calon istrinya. Hingga keluarga keduanya kini sudah berkumpul di ruang tamu mansion Jo.
Perbincangan hangat pun dimulai setelah saling sapa dan salam hangat dari kedua belah pihak keluarga. Guntur belum melihat calon istrinya muncul di ruang tamu. Matanya menatap ke segala penjuru mansion mencari sosok yang dicarinya.
__ADS_1
Hingga acara lamaran pun berakhir dan sepakat pernikahan mereka digelar sebulan lagi. Guntur tersenyum sumringah setelah keputusan kedua belah pihak disepakati.
Akhirnya sampai ke puncak acara, makan siang dengan semua keluarga besar dimulai dengan khidmat. Semua tampak bersenda gurau dan bercanda saling mengobrol satu sama lain dengan ramah.
Tak terasa sudah hampir pukul tiga siang. Keluarga besar Guntur pamit untuk pulang. Dan acara lamaran hari itu sukses berjalan lancar.
***
"Sebulan lagi, sebulan lagi kau akan menjadi milikku sayang." Bisik Guntur menatap cincin yang melekat indah di jari manisnya.
Senyumannya tak pernah luntur dari bibirnya. Hal yang paling membahagiakan saat ini adalah membayangkan kalau sebulan ke depan dia akan menikahi gadis yang dikagumi dan disukainya sejak masih menjadi guru wali kelasnya dulu. Gadis yang tidak hanya menatapnya karena harta. Gadis yang mencintai dirinya apa adanya tanpa melihat latar belakang keluarganya.
"Aku mencintaimu Anin." Bisik Guntur terus menerus tersenyum tiada henti.
"Cincin itu akan lepas jika dipelototi seperti itu." Suara seseorang yang dikenal Guntur membuatnya berdecak kesal.
"Kau selalu mengganggu kesenanganku saja." Jawab Guntur mulai melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
"Meeting satu jam lagi tuan." Ucap Raka, suara orang yang muncul begitu saja di dalam ruangannya.
"Biarkan aku istirahat sebentar!" Protes Guntur. Raka menghela nafas panjang, Bukannya kau sejak tadi juga beristirahat. Batin Raka mengumpat kesal.
__ADS_1
TBC