Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Bertemu 2


__ADS_3

Ting tong ting tong


Suara bel pintu apartemen Bram berbunyi saat Karina tengah asyik di dapur menyiapkan sarapan pagi. Dia mempercepat masaknya sebelum si kembar bangun.


"Ya?" Karina membuka pintu apartemen.


"Maaf mbak saya bi Ijah disuruh tuan Bram kemari untuk membantu nyonya Karina membantu disini." jawab seorang wanita paruh baya yang sudah terlihat kerutan di beberapa tempat di wajahnya.


"Ah, ya. Saya Karina bi. Ayo masuk!" jawab Karina membuka pintu lebar.


"Makasih nyonya." jawab bi Ijah masuk ke dalam dengan sopan sambil membawa tas besar yang mungkin berisi pakaian ganti.


"Jangan panggil nyonya bi. Panggil saja Karina, saya bukan seorang nyonya." ucap Karina merendah.


"Ah, nyonya kan calon istri tuan Bram, saya gak enak dengan tuan." jawab bi Ijah juga ikut-ikutan merendah. Karina menghela nafas.


"Panggil saya semau bi Ijah aja, tapi jangan nyonya. Saya belum jadi nyonya bi." ucap Karina lagi.


"Tapi, nyonya..."


"Kalau bi Ijah gak mau, sebaiknya bi Ijah pulang saja!" bentak Karina pura-pura marah


"Jangan nyonya, maaf nyonya. Kalau begitu saya panggil mbak Karin saja ya?" tawar bi Ijah penuh harap.


"Baiklah, itu lebih baik. Ayo bi, saya tunjukkan kamar bibi." bi Ijah mengangguk mengikuti langkah Karina.


Setelah menunjukkan kamar bi ijah Karina melanjutkan memasaknya, namun ponselnya berdering tanda pesan masuk.


'Sayang maaf, ada sedikit pekerjaan, aku harus menyelesaikannya. Nanti malam jam lima sore aku jemput ya, bye...bye...love you.


Your Love


Bram'


NB : Oh ya, bi Ijah udah datang kan?'


Karina tersenyum hanya menggelengkan kepala.


'Iya, hati-hati. Selesaikan pekerjaanmu. Aku akan siap jam lima.

__ADS_1


Bi Ijah baru saja datang.'


Balasan pesan Karina sambil tersenyum-senyum sendiri.


"Ehm.. ehm.. yang lagi seneng." sindir Maya yang baru muncul setelah membereskan cucian.


"Sudah selesai May..." Maya mengangguk, "Yuk, sarapan. Panggil Anin dan bi Ijah sekalian untuk sarapan."


"Siap mbak."


***


"Mbak mau kemana? Cantik amat." Karina menoleh menatap Maya yang sudah bersiap untuk pergi.


"Aku mau melihat rumahku dulu ya May, tolong jaga anak-anak." ucap Karina. Wajah Maya seketika berubah.


"Mbak yakin?" Maya mendekati meja rias Karina.


"Mumpung disini, aku akan minta bantuan seseorang untuk menjual rumahku." jawab Karina memoles bibirnya dengan lip tint.


"Kenapa dijual mbak?" tanya Maya heran.


"Mbak sudah ngomong ke mas Bram." Karina terdiam.


"Setelah aku melihat reaksi keluarganya malam ini, aku akan membicarakannya. Aku tak tahu apa keluarganya akan merestui hubungan kami. Apalagi aku sudah memiliki tiga anak dengan suami yang berbeda. Dan aku akan mengatakan yang sebenarnya kalau sekarang aku masih terikat pernikahan dengan ayah si kembar meski hanya secara siri." jelas Karina dengan tatapan mata sendu.


"Mbak sudah melupakannya?" tanya Maya menatap Karina intens. Karina menunduk. Kemudian menghela nafas panjang.


"Aku harus melupakannya May, dia sudah bahagia dengan pernikahannya."


"Mbak yakin dia bahagia?" Karina beralih menatap Maya.


"Menurutmu?" bukan menjawab Karina malah balik bertanya.


"Mbak ingin tahu pendapatku?" tanya Maya, Karina mengangguk.


"Kurasa dia gak bahagia mbak." Karina mengernyit bingung.


"Saat mbak pergi dia gak tahu, saat orang tuanya mengusir mbak, dia juga gak tahu. Saat pertama kali melihatnya. Dia sangat mencintai mbak tanpa ragu. Tanpa memandang status mbak dan anak mbak, dia langsung mengajak nikah mbak meski secara siri bukan dengan pacaran atau pendekatan dulu. Itu artinya dia serius mencintaimu mbak. Dia bukan menggantung status mbak, tapi saat itu keadaan mbak sendiri belum bisa diajak untuk meresmikan hubungan kalian." jelas Maya panjang lebar. Karina terdiam menatap bayangan dirinya di cermin meja rias itu.

__ADS_1


"Tapi semua tergantung mbak, apapun keputusan mbak aku mendukungmu. Menurutku, mbak pikirkan baik-baik dulu sebelum terlambat. Apalagi belum terlanjur. Akan lebih baik mbak mencari tahu kehidupannya sebelum semua terlambat." ucap Maya lagi dengan bijak.


"Udah mbak ya, hati-hati di jalan. Aku mau bantu bi Ijah mengurus si kembar." Karina masih terdiam merenungi ucapan Maya yang malah terlihat dewasa daripada dirinya.


'Kau benar May, dia juga perlu tahu tentang anak-anaknya meski nanti dia sudah beristri. Aku tinggal meminta talaknya agar pernikahanku ini lancar.' batin Karina mensugesti dirinya.


***


Karina menatap rumah lamanya yang masih terlihat sama seperti saat dirinya meninggalkannya dulu. Bahkan taman bunga mawar yang berada di halaman depan rumahnya juga terawat malah semakin indah saja. Sepertinya seseorang sengaja merawatnya dengan sangat baik.


Bahkan rumahnya masih tetap sama. Nyaman, indah dan asri. Karina sungguh betah dulu tinggal di rumah itu. Sebelum seseorang menyuruhnya untuk meninggalkan rumahnya sendiri. Karina tertawa miris mengingat kembali kejadian yang lalu saat dirinya terpaksa lari.


Karina melangkah masuk ke dalam setelah membuka gerbang. Karina memang masih menyimpan kunci cadangan rumahnya setelah salah satunya dititipkan pada bi Ani untuk mengurusnya. Namun sudah beberapa bulan ini, dia sudah tidak bisa menghubungi bi Ani lagi. Karena ponselnya hilang.


Karina melangkah lagi mendekati pintu depan rumahnya, mulai memutar kunci pintu itu. Dan masuk ke dalam, melongok ke dalam ruangan sebentar. Bersih, rapi dan wangi serta satu hal lagi terawat. Seolah-olah ada seseorang yang menempatinya selama ditinggal dirinya. Karina masuk menatap foto-foto di meja, di dinding dan foto besar yang belum pernah dilihatnya tergantung di atas tangga menuju lantai dua.


Tanpa sadar air matanya tumpah, sesak di dadanya terasa menghimpitnya. Tubuh Karina jatuh lunglai hingga berlutut di lantai, menahan sesak di dadanya. Tangisan pilu terdengar di rumahnya itu.


"Maaf... maaf... maafkan aku Jo, maaf...hiks...hikss..hiks..." tangisan dan isakan di sela-sela dadanya yang menghimpit membuatnya kembali goyah. Foto besar itu belum ada saat dirinya meninggalkan rumah ini.


"Apa artinya ini Tuhan, apakah aku boleh berharap? Bolehkah Tuhan? Bolehkah aku egois untuk saat ini? Bolehkah Tuhan?" ucap Karina berderai air mata masih setia dirinya berlutut di dekat tangga lantai dua rumahnya.


Tap tap tap


Suara langkah kaki mendekati Karina yang tanpa disadari oleh Karina yang masih menangis di dalam berlututnya.


"Kau pulang? Benarkah akhirnya kau pulang? Kaukah itu?" ucap seseorang yang berdiri di belakang Karina.


Karina yang bisa mendengar suara yang ingin didengarnya itu membuat tubuhnya menegang. Dia hapal betul suara itu. Suara yang sama, suara yang dirindukannya...


'Biarkan aku egois untuk hari ini Tuhan, maafkan aku setelah ini Tuhan...' batin Karina memohon pada Tuhan.


TBC


Gimana... gimana...


Penasaran kan....


Besok yah...😉😉

__ADS_1


__ADS_2