
"Ya tuan." jawab Rian dalam panggilan telpon.
"Pesankan tiket pesawat tujuan pulau B. Sekarang!" titah Jo langsung menutup ponselnya tanpa menunggu jawaban dari Rian.
Rian berdecak kesal, tuannya yang sudah seperti temannya sendiri itu berbuat seenaknya dan memerintah seenaknya.
"Mentang-mentang bos ya!" caci Rian pada ponselnya.
Namun begitu Rian langsung melakukan panggilan lain untuk melakukan apa yang dititahkan bosnya itu. Setelah terkonfirmasi selama setengah jam, Rian langsung mengirimkan pesan dari pihak agen ke ponsel tuannya. Jo tersenyum bahagia melihat tiket pesawat itu.
"Akhirnya aku pulang." guman Jo. Sang sopir hanya menatap bosnya tersenyum senang setelah mendapat pesan itu ikut senang.
Pasalnya suasana mobil mencekam setelah bosnya masuk kedalam mobil setelah keluar dari restoran. Bosnya sepertinya sedang badmood sehingga tadi dia keluar dengan tatapan dingin dan tajam.
***
Jo sudah berdiri di depan pintu masuk pesawat untuk penerbangannya. Rian yang dipasrahi tugas-tugas kantor hanya berdecak kesal. Karena bosnya memberikan perintah sampai dia kembali dari pulau B bersama keluarga kecilnya.
"Akhirnya pulang. Tunggu aku istriku!" guman Jo tersenyum-senyum sendiri setelah duduk di kursi VIP nya.
Memejamkan mata mencoba untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak sebelum menyerang habis istrinya.
***
"Kalian sudah pulang?" tanya Karina lembut melihat putrinya datang dengan papanya.
"Mommy..." seru Anin menghambur memeluk tubuh Karina, yang dibalas pelukan erat juga. Ken hanya tersenyum senang melihat keakraban dan kebahagiaan putrinya dan orang yang pernah menjadi istrinya itu.
"Mom, biarkan papa masuk ya? Sebentar saja, papa pasti capek?" pinta Anin memelas dengan bergelayut di lengan Karina manja.
Karina terdiam, dia bergantian menatap keduanya. Ragu untuk mengizinkan Ken masuk karena suaminya sedang tidak di rumah.
"Gak usah Anin, papa bisa istirahat di paviliun." tolak Ken merasa tak enak karena mantan istrinya itu tak akan bisa menolak, untuk itulah dirinya berinisiatif untuk menolaknya.
"Yah, gak boleh ya ma. Sebentar saja sambil buka-buka barang-barang yang dibeli tadi mom." pinta Anin belum menyerah, dia ingin melihat sekali saja kedua orang tuanya berkumpul.
Kalau saja Daddy Jo ada, pasti beliau akan mengizinkan juga.
"Gak papa mas, masuk saja sebentar, di ruang tamu." jawab Karina akhirnya tersenyum terpaksa.
"Sudahlah Karin tak apa aku di paviliun saja!" tolak Ken halus.
"Pa, ayolah masuk sebentar!" Anin ganti bergelayut pada lengan Ken merayunya dengan jurus ampuhnya.
"Baiklah. Baiklah." Ken menyerah, sebenarnya dia merasa bersalah karena Karina menampilkan wajah terpaksanya.
__ADS_1
Namun dirinya akan mengutamakan perasaan putrinya untuk kali ini. Bagaimana pun juga mental Anin baru sembuh dari trauma pasca kejadian buruk beberapa waktu lalu. Ken tak mau membuat putrinya kecewa dan sakit hati lagi. Anin menarik lengan Ken masuk ke dalam resort dengan senyum bahagia terukir di bibir Anin.
***
Jo turun di bandara terdekat tak jauh dari resortnya. Dia memilih memanggil taksi daripada menghubungi sopir pribadinya untuk menjemputnya. Bagaimana pun juga dia ingin memberikan kejutan pada istri dan anak-anaknya yang katanya sangat merindukannya.
"Mereka pasti terkejut melihat ku pulang lebih." guman Jo tersenyum-senyum sendiri sambil menarik kopernya untuk meletakkan di bagasi taksi yang dibantu oleh sopir taksi itu.
***
"Minumnya mas!" Karina meletakkan minuman yang disajikan untuk Ken setelah melihat papa dan anak itu duduk di sofa ruang tamu.
"Ma, lihat ma... bagus kan?" seru Anin antusias menunjukkan barang yang dibelikan sang papanya tadi.
"Wah, bagus sekali!" puji Karina masih berdiri di depan Anin dan Ken duduk.
Dia berniat segera meninggalkan ruang tamu. Dia tak mau berada dalam tempat yang sama dengan pria yang sudah menjadi orang lain baginya meski dia adalah mantan suaminya, papa dari putri sulungnya.
"Ma, ma... duduk sini dong ma!" pinta Anin melambai pada Karina yang terlihat enggan untuk menuruti keinginannya.
Ken menatap Karina semakin merasa bersalah, Ken tahu maksud Karina bukan seperti itu. Namun kini mereka hanyalah orang lain, bukan muhrim lagi untuk berdua-duaan.
"Ma.. ayo cepat!" Anin berdiri menarik lengan Karina untuk duduk di sebelahnya.
"Anin... tunggu!" tolak Karina tapi tangan Anin menariknya kuat hingga Karina mau tak mau ikut duduk juga di sisi lainnya sebelah Anin.
**
Taksi yang dikemudikan sopir itu terjebak dalam kemacetan karena kecelakaan lalu lintas yang sudah mulai di evakuasi. Jo berdecak kesal, niat hati ingin lebih cepat sampai ke resort namun dia terpaksa menunggu karena jarak menuju resortnya masih lumayan jauh. Cari kendaraan lain tak mungkin, percuma.
Jalan kaki atau maximal lari itu cukup membuat Jo kesakitan dan menyerah mencari alternatif lain selain menunggu jalan melalui jalur mana.
"Pak, masuk ke dalam saja. Eh, jangan... disini saja, aku mau memberi kejutan istriku." ucap Jo tersenyum bahagia.
"Tuan!" seru satpam resort itu begitu melihat orang yang ada di taksi adalah tuan majikannya.
"Aku pulang! Bantu bawa koperku di luar sana." titah Jo sambil menunjuk dimana kopernya.
Jo melangkah sedikit ragu masuk ke dalam resortnya. Dia sungguh tak berpikir apapun yang terjadi di dalam sana. Jo mendekati pintu mendengar percakapan dua suara yang saling berbicara dan menyahut.
Tubuh Jo membeku melihat pemandangan di depannya saat pintu depan resort dibuka. Jo berdoa dalam hati semoga yang dicemaskan tidak terjadi. Karena Jo sangat percaya pada istrinya seperti dirinya yang juga sangat percaya padanya.
Niat hati ingin mengejutkan istrinya dengan kedatangannya yang tiba-tiba dan tanpa kabar membuat dada Jo berdenyut sakit. Mungkin hanya salah paham namun entah kenapa emosi mulai melingkupi di seluruh tubuhnya.
"Ada apa ini?" tanya Jo dengan suara datar tanpa senyuman seperti biasanya.
__ADS_1
Terlihat raut wajahnya yang terlihat menahan emosi dan amarahnya. Karina langsung berdiri menghampiri suaminya yang wajahnya memerah menahan amarahnya.
"Assalamualaikum.... mas sudah pulang?" tanya Karina ramah dan lemah lembut sambil mengambil tangan kanan Jo untuk disalami dan tak dikecup punggung tangannya.
Jo sebenarnya ingin langsung menghambur memeluk tubuh istrinya yang sangat dirindukannya.
"Wa'alaikum salam..." jawab Jo dengan raut wajah yang masih datar menatap Ken tajam.
Jo menarik pinggang tubuh istrinya menempel padanya karena ingin menunjukkan pada mantan suami istrinya itu. Kalau dirinya adalah pemilik dari mantan istrimu satu-satunya. Jo ganti menatap Anin yang menunduk merasa bersalah.
"Daddy akan bawa mommy masuk ke dalam. Kalian berbincang berdua saja tak apa kan?" tanya Jo dengan sarat kata-kata sindiran.
Ken hanya mengangguk sambil melirik pada Karina yang terlihat tubuhnya menegang. Jo mengecup pipi Karina di hadapan Ken, seolah ingin pamer bahwa Karina hanyalah seorang perempuan kaya. Jo masih merengkuh pinggang istrinya untuk membawanya masuk ke dalam.
Ceklek
Bruak
Blam
Ceklik
Suara pintu dibuka dan ditutup serta kunci pintu dikancing kencang. Karina terkejut mendengar kekasaran suaminya pada dirinya. Sebelumnya suaminya tak pernah seperti ini. Jo melepas jas yang melekat tubuhnya yang terasa sesak di dadanya.
Jo juga melepas kemejanya hingga dia telanjang dada. Sambil mendekati tubuh istrinya yang perlahan mundur hingga terjerembab di ranjang kamar mereka.
"Mas, maaf... bukan maksudku..." bibir Karina langsung diserang ciuman ganas oleh suaminya yang sepertinya orang kesetanan syarat akan rasa cemburu.
Karina hanya menurut mengikuti ciuman suaminya yang juga begitu dirindukannya.
"Hah...hah...hah... " nafas keduanya tersengal saat ciuman panas dan liar itu berakhir.
Jo meletakkan dahinya di bahu Karina yang masih berhijab instan.
"Kau tahu apa kesalahanmu?" bisik Jo membuat Karina merinding geli.
"Maaf mas." bisik Karina pasrah.
"Ah, kau tahu betul aku tidak suka kau dengan pria langsung meski itu adalah papa Anan sekalipun. Dan kau... kau tak bilang kalau mantan suami brengsekmu itu akan datang." ucap Jo menggemeretakkan giginya kesal dan mendengar kalimat terakhirnya penuh penekanan.
"Mas, papa Anin... di ... dia.." Jo tak menggubrisnya sama sekali.
Dia langsung membuka hijab instan istrinya dan merobek pakaiannya hingga hanya tersisa pakaian dalam istrinya. Karina tak menolak, dia menikmati dan membiarkan suaminya melakukan apapun untuk meredam kebenarannya.
"Jangan sebut namanya!" bisik Jo membuat Karina semakin merinding.
__ADS_1
TBC