
'Bisa kita bicara?" Pinta Anin saat mengirim pesan siang itu.
Dia hanya ada kelas di pagi hari di kampusnya. Setelah itu dia bebas dan berniat untuk bicara hal penting pada pria yang merajai hatinya itu.
'Tentu, sayang. Kau mau aku menjemputmu?' Tawar Guntur bersemangat pagi itu saat sudah duduk di kursi kerjanya.
Tak lama saat pesan Anin masuk, Guntur langsung meraih ponselnya. Karena nada dering pesan berdering berbeda dengan pesan lainnya di ponselnya. Guntur yang pagi-pagi sudah senyum-senyum sendiri membuat Raka menggeleng keheranan.
Raka bisa menebak siapa yang menghubungi tuannya pagi-pagi membuat tuannya itu tersenyum-senyum sendiri.
'Tidak. Kita langsung bertemu di cafe biasa.' Pesan Anin di akhir chat nya. Karena dosen keburu masuk ke dalam kelasnya.
"Kau janjian dengan seseorang?" Tebak Nara yang sejak tadi menatap Anin hanya fokus pada ponselnya setelah duduk di kursinya.
"Aku ingin bertemu dengannya?" Nara tampak berpikir, siapa yang dimaksud sahabatnya itu.
"Guntur?" Anin mengangguk sambil memperhatikan pelajaran dari dosen yang sedang menjelaskan.
"Kau yakin akan putus dengannya?" Ya, Nara sudah mendengar curhatan sahabatnya itu dua hari lalu.
Setelah mendapat nasehat dari sang Daddy. Anin memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka saja. Anin memang mencintai Guntur, sangat. Tapi dia bukan gadis sejahat itu ingin merebutnya dari tunangannya meski mereka bertunangan karena perjodohan yang tidak dikehendaki oleh Guntur.
Anin yakin jika mereka berjodoh, mereka pasti akan dipertemukan suatu saat nanti. Anin tampak menghela nafas berat, dia merasa berat dan tak bisa konsentrasi menerima pelajaran hari ini. Terlalu sesak dadanya saat memikirkan kalau hubungan keduanya akan berakhir. Padahal keduanya dipertemukan setelah dua tahun lamanya.
"Harus. Aku yakin jika kami berjodoh suatu saat akan bersama lagi." Jawab Anin meyakinkan.
"Mau aku temani?" Tawar Nara.
"Tidak. Terima kasih. Kami perlu waktu berdua saja untukku mengatakannya. Mungkin pembicaraan kami tidak akan sebentar." Jawab Anin tersenyum terpaksa.
"Baiklah. Hubungi aku jika kau membutuhkanku!" Nara menatap sahabatnya lekat.
"Thanks." Jawab Anin yang diangguki Nara.
***
"Bisakah kau berikan aku privasi?" Pinta Anin menatap Zian dengan tatapan memohon yang tidak dibuat-buat.
__ADS_1
Kini keduanya sudah sampai di cafe tempat mereka janjian dengan Guntur.
Zian menatap Anin lekat, mencari-cari kebohongan di manik mata tuan putrinya. Namun Zian tahu jika gadis yang dikawalnya itu memang butuh privasi. Tadi dia sedikit banyak sudah menguping dengan jelas pembicaraan tuan putrinya dengan sahabatnya tadi saat di kelas.
"Saya akan duduk di kursi tak jauh dari anda nona." Zian segera meninggalkan Anin setelah meyakinkan, posisinya bisa melihat langsung ke arah tuan putrinya.
Tak lama hingga berselang sepuluh menit kemudian. Guntur datang tampak terburu-buru karena dia sudah terlambat untuk janji bertemu dengan kekasihnya.
"Maaf sayang, meeting membuatku terlambat." Sapa Guntur sambil mengecup kening kekasihnya mesra.
Senyum di bibir Guntur terus saja mengembang saat duduk di kursi depan tempat Anin duduk. Anin hanya menampilkan senyum manisnya yang mungkin terakhir kalinya hubungan mereka.
"Aku juga baru datang." Jawab Anin santai.
"Kau sudah pesan makanan?" Tanya Guntur melihat-lihat menu cafe.
"Kita pesan makan dulu!" Saran Anin yang diangguki Guntur dengan sedikit heran melihat tingkah kekasihnya yang sedikit aneh menurutnya.
Tapi dia segera menepis perasaan tersebut dan meyakinkan kalau tidak ada terjadi hal buruk apapun.
Makanan dihidangkan setelah menunggu beberapa menit, mereka hanya memesan makanan ringan karena dirasa cukup untuk Anin mengganjal perutnya yang sebenarnya sudah tidak berselera untuk makan.
"Okay." Jawab Guntur entah kenapa dia sedikit kecewa tidak seperti biasanya.
Mereka pun makan dalam diam. Guntur mencuri-curi pandang pada kekasihnya itu. Guntur mencoba mencari-cari sesuatu yang salah dari hari itu. Tapi dia tak menemukan hal yang mengganjal itu.
"Boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Guntur memecah ketenangan makan mereka.
Guntur meletakkan alat makannya. Benar, ada yang aneh dari kekasihnya, dia tak suka menatap Anin yang sekarang, seolah akan terjadi hal buruk pada keduanya. Guntur tak sengaja memergoki tingkah Anin yang tersentak kaget dari lamunannya saat dipanggil olehnya.
Dan dia hanya memainkan makanannya seolah tak berselera untuk makan. Ganti Guntur yang juga tak berselera makan melihat kecemasan yang terpatri di manik mata kekasihnya itu.
"Ya?" Anin menjawab dengan sedikit gugup dan gelagapan.
"Apa makanannya tidak enak? Mau kupesankan dengan makanan lainnya?" Tanya Guntur basa-basi.
"Tidak. Ini sudah cukup." Jawab Anin masih mempertahankan senyum manis di bibirnya.
__ADS_1
Anin melanjutkan makannya yang terasa sangat sulit untuk ditelannya.
Klontang...
Suara sendok dibuang sedikit kasar oleh Guntur di piring makanannya. Anin yang tengah melamun lagi tersentak kaget menatap Guntur penuh tanda tanya.
"Katakan yang ingin kau katakan!" Titah Guntur menatap Anin lekat.
Matanya menunjukkan sorot mata tajam yang mengintimidasinya. Anin menatap Guntur juga, hingga keduanya saling menatap dalam waktu sedikit lama. Anin meyakinkan dirinya untuk berani mengatakan pada kekasihnya. Anin menghela nafas sejenak setelah memejamkan matanya meyakinkan hatinya akan baik-baik saja.
"Aku ingin mengakhiri hubungan kita." Ucap Anin tegas menatap Guntur lekat.
Guntur terdiam, ***** makannya benar-benar sudah hilang. Moodnya memburuk, dia tahu Anin tidak sedang bercanda dengan kata-katanya. Guntur masih diam, membuang pandangannya ke sembarang arah dan kembali menatap kekasihnya yang sangat dicintainya itu.
"Aku anggap tak mendengar ucapan apapun. Sebaiknya aku kembali ke kantor sekarang. Kurasa ..." Guntur melirik jam tangannya, "Meeting dengan klienku sebentar lagi akan dimulai." Guntur berdiri dari duduknya.
"Aku serius." Tegas Anin ikut berdiri dari kursinya.
Semua pengunjung cafe yang masih sepi hanya ada beberapa orang sontak menoleh menatap keduanya. Namun agaknya Guntur dan Anin tak menghiraukan pandangan orang-orang yang penasaran dengan keduanya.
"Aku juga serius sayang." Guntur meninggalkan cafe dengan perasaan kesal.
Namun dia tak mungkin melampiaskan kekesalannya pada kekasihnya. Dia mencintainya, sangat, dia tak akan sanggup melihat air mata kekasihnya.
"Aku harap setelah ini kita tak bertemu lagi dan kita putus." Anin masih belum menyerah untuk mengatakan meski Guntur tak menghiraukannya.
Dia menarik pergelangan tangan Guntur memaksanya untuk mendengarkannya. Guntur mendengarnya, dia tidak tuli, bahkan sangat jelas dan besar kemungkinan semua orang yang ada di cafe mendengarnya.
Guntur berhenti dan memejamkan matanya sejenak. Namun dia tetap melanjutkan langkahnya tanpa menoleh ke belakang sedikitpun. Dia langsung melajukan mobilnya menuju kantor.
Anin kembali duduk di kursinya tadi sambil menunduk dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Terdengar isakan kecil dalam dekapan tangan itu.
Zian mendekat, melepas jaketnya dan menelungkupkan jaket itu menutupi kepala tuan putrinya dan memapahnya menuju mobil mereka. Zian menutup pintu mobil dan berdiri di luar pintu membelakangi pintu.
"Hiks ... hiks ..." Suara tangisan terdengar di dalam mobil diiringi sesenggukan yang dicoba ditahannya.
Anin memukuli dadanya yang terasa sesak.
__ADS_1
Zian pura-pura tidak mendengar, namun mau tak mau dia harus melaporkan setiap apapun yang terjadi dengan tuan putrinya nanti seminggu sekali kecuali hal yang mendesak.
TBC