
Karina tertidur pulas dengan melewatkan makan malamnya. Saat Jo kembali ke kamarnya, jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Jo menatap istrinya yang sudah tertidur pulas dengan memunggunginya. Dia menghela nafas panjang, terlihat menyesali ucapannya tadi yang berujung bentakan.
Jo masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, namun saat selesai mandi dia tak mendapati istrinya di ranjang mereka. Jo tersentak kaget dan segera memakai pakaiannya yang terlihat sudah disiapkan istrinya di atas ranjang. Jo segera memakainya dan keluar kamar mencari istrinya.
Jo langsung menuju kamar bayi yang ada di sebelah kamarnya. Mendapati istrinya yang sedang terlelap sambil memeluk tubuh bayinya yang sudah terlelap juga. Jo menghela nafas berat, dia sungguh sangat cemas tadi. Karena istrinya yang tertidur pulas di kamar tiba-tiba tak ada di ranjang mereka. Jo tersenyum menatap dua perempuan beda usia itu terlelap.
Melihat istrinya tidur lelap di ranjang dalam kamar bayi kecilnya membuat Jo tak tega untuk membangunkan istrinya untuk kembali ke kamar mereka. Jo kembali ke kamar dan tidur di ranjang besarnya sendiri. Baru kali dia tidur sendiri di ranjang kamarnya saat di rumahnya sendiri setelah lama menjadi suami istri. Jo menghela nafas berat, dia memaksa matanya untuk terpejam.
***
Pagi pukul tujuh, Jo membuka matanya mendengar alarm jam Beker di meja nakas samping ranjangnya. Dia baru saja terlelap pukul lima pagi tadi. Tidur sendiri di ranjang tanpa mendekap tubuh istrinya membuat Jo kesulitan tidur. Ingin dia nekat menggendong istrinya ke kamar, namun terlihat bayinya sedang mengenyot ASI-nya dengan mata istrinya terpejam.
Dia lagi-lagi tak tega membangunkan istrinya itu. Dan sekarang dia baru tidur dua jam namun harus segera bangun karena pekerjaan di kantor sudah menumpuk. Biasanya istrinya dengan lembut akan membangunkannya. Namun karena hari itu istrinya tak membangunkannya terasa ada yang kurang.
Jo beranjak dari ranjangnya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Namun saat hendak masuk ke dalam kamar mandi matanya teralih dengan setelan baju kantornya yang sudah disiapkan di sofa dekat ranjang. Jo menatap nanar pakaiannya itu, menghela nafas lelah dan masuk ke dalam kamar mandi membersihkan tubuhnya.
**
Sarapan pagi, Jo keluar menuju meja makan tak mendapati istrinya ada disana. Namun melihat ketiga anaknya sudah bersiap di meja makan dengan pakaian seragam masing-masing. Jo menatap sekeliling mencari keberadaan istrinya. Namun nihil, istrinya tetap tak ada dalam jangkauan matanya.
"Dimana istriku?" Tanya Jo pada salah seorang asisten rumah tangganya yang kebetulan lewat dengan membawa nampan berisi makanan menuju ke suatu kamar.
"Nyonya ada di kamar non Joana tuan." Jawab asisten rumah tangga itu. Jo terdiam, menoleh ke arah pintu kamar putri kecilnya.
"Itu..mau dibawa kesana?" Tanya Jo sambil mengambil nampan yang dibawa asisten rumah tangganya.
__ADS_1
"I... iya...tuan..." Jawab asisten itu takut-takut karena raut wajah majikannya terlihat tidak sedang baik-baik saja.
"Anak-anak kalian sarapan dulu. Daddy akan mengantar sarapan mommy ke atas." Titah Jo menatap anak-anaknya yang menunggu sarapan di meja makan.
"Yes, Daddy." Jawab mereka serentak.
Entah kenapa anak-anak tak banyak protes pagi itu. Seolah tahu apa yang terjadi dengan kedua orang tuanya. Si kembar saling melirik yang dijawab kedikkan kedua bahu mereka tanda tak tahu. Hana si kecil yang polos hanya menikmati sarapannya dengan senyum.
Cklek
Suara pintu kamar dibuka Jo tanpa mengetuk dulu.
"Letakkan saja di meja itu bi, nanti setelah mengurus si kecil, aku akan sarapan!" Ucap Karina tanpa menoleh ke arah pintu sibuk menyiapkan perlengkapan bayi kecilnya yang sekarang dimandikan baby sister.
Jo terdiam menuruti apa yang diucapkan istrinya. Saat baby sister itu menyerahkan bayi kecil itu pada Karina. Jo langsung memberikan kode pada baby sister itu meninggalkan kamar itu. Baby sister itu langsung mengangguk mengerti dan pergi dari kamar itu meninggalkan kedua sejoli itu.
"Kau tak sarapan bersama kami?" Bisik Jo di dekat telinga istrinya yang berusaha berkelit untuk melepaskan diri dari dekapan suaminya. Namun Jo terlalu erat mendekapnya.
"Aku sedang mengurus Joana." Jawab Karina tanpa mengalihkan pandangannya tetap melanjutkan mengurus Joana.
"Sudah ada baby sister." Jawab Jo tak menyerah.
Sudah seminggu dia 'terlantar' karena istrinya dirawat di rumah sakit. Dia ingin bermanja-manja dan diperhatikan lagi seperti sebelumnya. Namun bukannya dimanja, istrinya malah sibuk mengurus bayi mereka. Padahal Jo sengaja menyewa baby sister berpengalaman untuk mengurusnya.
"Aku ingin mengurusnya sendiri." Jawab Karina masih sibuk dengan urusannya.
__ADS_1
Jo melepas dekapannya dan berdiri di sisi istrinya yang hampir menyelesaikan pekerjaannya.
"Lalu dengan menelantarkan suamimu?" Tanya Jo dingin menatap wajah istrinya.
Karina menghentikan gerakannya tanpa menatap suaminya. Dia masih merasa kecewa dengan ucapan suaminya kemarin. Namun karena dirinya tak mau durhaka pada suaminya. Dia tetap bersikap biasa mesti harus meredam kekecewaannya. Karina menghela nafas sambil menggendong putri kecilnya bersiap menyusui.
"Aku sudah menyiapkan semua kebutuhanmu. Apa kau ingin sesuatu yang kurang?" Jawab Karina memberanikan diri menatap suaminya.
Dia juga merindukan suaminya, ingin bermanja-manja dan diberi perhatian lagi. Namun karena ucapan suaminya kemarin, Karina mengurungkan niatnya untuk melakukannya.
Dia sudah memaafkan ucapan suaminya meski berat. Namun dadanya yang sakit membuatnya terus teringat. Meski yang didebatkannya adalah hal yang sepele. Entah kenapa hatinya merasa sakit dan dadanya sesak.
Jo menatap istrinya tak percaya, istrinya berubah. Entah kenapa dia merasa ditelantarkan dalam arti sesungguhnya. Istrinya yang perhatian dan menasihatinya setiap detail setiap pagi kini sudah tak ada lagi.
"Terserahlah!" Jo pergi meninggalkan kamar itu dan langsung pergi meninggalkan rumah mereka untuk langsung berangkat ke kantor tanpa sarapan terlebih dahulu.
Dia sungguh kecewa dengan istrinya. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal. Dia ingin berteriak marah melampiaskan emosinya. Namun dia masih memiliki kesadaran untuk tidak langsung berteriak di depan istrinya atau orang-orang di rumahnya.
Tanpa sadar air mata Karina menetes, entah karena apa dia tiba-tiba menangis. Ditinggal suaminya begitu saja, ditinggal pergi kerja tanpa pamit seperti biasa atau karena kekecewaannya pada suaminya.
"Biar saya yang mengurusnya nyonya, waktunya anda sarapan. Jangan sampai terlambat, nyonya kan harus menyusui nanti!" Tegur baby sister yang tiba-tiba muncul di kamar bayi mereka.
Karina sontak langsung mengusap air matanya, dia agak terkejut dengan kemunculan baby sister bayinya.
"Ah, iya. Tolong ya!" Jawab Karina lembut memaksakan senyuman.
__ADS_1
Baby sister itu menundukkan kepalanya merasa bersalah, tak tahu dengan apa yang terjadi pada kedua majikannya. Namun dia bisa menilai, kalau ada sesuatu yang telah terjadi pada kedua majikannya tadi.
TBC