Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 108


__ADS_3

Anin berlarian di mansion besar milik orang tuanya. Dia mencari-cari keberadaan sang mommy. Mungkin saja dia tahu sesuatu tentang yang dicemaskannya saat ini.


"Dimana mommy bi?" Tanya Anin tak sabaran saat melihat asisten rumah tangga keluarganya melintas dekat dapur.


"Nyonya di kamarnya non." Jawab asisten itu ikut cemas melihat putri majikannya bermata sembab seperti habis menangis.


"Makasih bi." Anin segera berlari menuju ke kamar mommynya.


Tok tok tok


"Masuk!"


Cklek


Anin masuk setelah sang mommy menyuruhnya masuk.


"Mommy!" Panggil Anin dengan wajah penuh kecemasan.


"Princess, ada apa?" Tanya Karina ikut cemas dan panik melihat putrinya bermata sembab.


Dari kabar yang dia tahu putrinya baru pulang mengantar Guntur dari rumah sakit. Dan Karina sudah bisa menebaknya jika putrinya menangis karena pasti perpisahannya dengan Guntur.


"Zian? Dimana dia mom? Kenapa apartemennya terkunci? Apa dia sudah mengganti password pintu apartemennya?' Tanya Anin memberondongi sang mommy dengan pertanyaan.


Karina tersenyum lembut setelah tahu apa yang menyebabkan putrinya panik.


"Zian sedang pulang kampung tiga hari lalu. Dia mendapat kabar kalau putrinya sedang sakit. Dia sudah izin Daddy mu untuk pulang sebentar sampai putrinya sembuh. Dan dia meminta maaf untuk sekalian menyampaikan padamu karena tak bisa menyampaikan sendiri." Jelas Karina membuat Anin menghela nafas lega dan langsung terduduk lemas di tepi ranjang bersisian dengan sang mommy.


"Dia... meninggalkanku?" Anin menoleh menatap sang mommy, seolah mommynya akan memberikan jawaban yang memuaskan untuknya.


"Putrinya sakit sayang, dia harus bertanggung jawab juga pada mereka." Jawab Karina sendu.


Sebenarnya dia tidak setuju saat Zian lah yang menggantikan mempelai pria pada pernikahan Anin karena ketidak datangnya Guntur. Namun suaminya bilang, dia hanya bisa mempercayakan Anin padanya. Karena Zian orang yang selalu menjaga putrinya dan tahu apa yang ingin dan tidak diinginkan putrinya tersebut.


Akhirnya Karina terpaksa setuju setelah mendengar alasan suaminya mengajukan permohonan pada Zian. Dan Zian sendiri tak pernah berkata tidak jika itu sudah perintah dari tuan besarnya yang telah menyelamatkan dirinya saat terpuruk dari ketentaraannya.


"Aku... apa yang harus aku lakukan mom?" Bisik Anin lirih yang masih dapat didengar Karina.


"Keputusan ada di tanganmu sayang, apapun yang kamu lakukan mommy akan mendukungnya selama itu untuk kebaikan." Ucap Karina bijak.


"Aku akan menyusulnya mom." Ucap Anin tegas langsung berdiri dari duduknya.


"Tapi?"


"Sekarang Zian adalah suamiku mom. Dan pernikahan bukanlah main-main meski kami menikah secara siri dan menjadi istri kedua. Anin harus menerimanya dengan lapang dada mom." Karina memaksakan senyumnya.


Dia tahu putrinya terpaksa menerimanya karena dia tahu yang dicintainya adalah Guntur bukan Zian. Zian hanyalah seseorang yang membuat Anin nyaman selama dia mengawal Anin saat kuliah.


"Biar pak sopir yang mengantarmu!" Anin menggeleng membuat Karina tak terima.


"Anin akan naik taksi mom. Anin harus terbiasa sebagai istri Zian mom. Please!" Pinta Anin memelas.


Bukan menghina Zian sebagai pria miskin. Tapi Zian memang dari keluarga yang tergolong ekonomi menengah ke bawah sejak ditinggal mati oleh ayahnya.


"Mommy percaya kamu kuat dan bisa nak. Jadilah istri yang baik dan berbakti pada suami meski sebagai istri kedua. Mommy dengar istri pertama Zian sangat baik, mommy yakin dia akan bisa menerimamu." Ucap Karina membuat Anin terdiam termenung.


Dia tak pernah memikirkan bagaimana istri pertama Zian. Dari cerita yang didengar, istri pertama Zian dulu adalah gadis liar yang tak mau mendengar nasihat orang tuanya hingga ayahnya meninggal dia langsung terpuruk jatuh dan tobat.


"Doakan Anin yang terbaik mom!" Anin memegang erat jemari tangan Karina meminta kekuatan.


"Pasti nak." Jawab Karina memeluk tubuh putrinya erat.


***

__ADS_1


"Kau tak mau diantar Daddy princess?" Tawar Jo untuk kesekian kalinya saat Anin hendak bersiap naik taksi yang sudah dipesannya.


"No Daddy, thanks." Jawab Anin tersenyum manis tak mau membuat orang tuanya cemas.


"Hati-hati nak, kabari mom saat kau sudah sampai!" Karina memeluk putrinya lagi seolah tak rela melepaskan putrinya.


Jo menepuk-nepuk bahu istrinya memberi kekuatan agar tidak lemah di hadapan putrinya. Bagaimana pun juga putrinya kini sudah menjadi tanggung jawab suaminya.


"Ya mom. Aku menyayangimu." Ucap Anin menatap Karina dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.


"Daddy tidak?" Anin tertawa bersamaan dengan Karina.


Perpisahan hari biru itu menjadi lucu dengan candaan Jo.


"Aku juga menyayangimu dad." Ucap Anin ganti memeluk tubuh Jo erat.


"Be careful princess Daddy." Bisik Jo mengelus punggung putri sambungnya.


"Bye." Pamit Anin setelah masuk ke dalam taksi.


"Kau yakin tak mau menemui nya untuk yang terakhir kalinya?" Raka yang mengantar Guntur sebelum pergi ke kantor melihat perpisahan orang tua Anin dan Anin.


"Kita ke kantor!" Titah Guntur dengan muka datar tanpa menjawab pertanyaan Raka.


'Selamat tinggal baby, i love you forever, only you.' Batin Guntur melihat keluar jendela.


***


Sudah hampir empat jam Anin melakukan perjalanan menuju kampung halaman Zian. Sopir taksi masih berputar-putar di sekitar kompleks perumahan Zian. Meski bukan perumahan elite, Anin tahu perumahan itu cukup mahal untuk dimiliki orang biasa.


"Saya mau tanya satpam dulu ya pak?" Pinta Anin pada sopir taksi itu.


"Iya neng." Jawab sopir itu, Anin keluar dari taksi dan menghampiri pos jaga perumahan itu.


"Oh iya, betul mbak. Nanti masuk aja lurus, sekitar situ lah. Mbak bisa minta sopir taksi mengantarkan." Jawab satpam tadi ramah penuh senyum.


"Makasih ya pak." Jawab Anin tersenyum balik sambil mengangguk pamit dan masuk kembali ke dalam taksi.


Taksi melaju masuk ke perumahan setelah satpam tadi membukakan pintu portal. Tak lupa Anin mengangguk ramah berterima kasih kembali pada satpam tadi.


Tak sampai sepuluh menit, taksi berhenti di tempat sesuai alamat yang tertera. Setelah menyerahkan beberapa lembar uang untuk biaya taksi, Anin segera menarik kopernya masuk ke halaman rumah minimalis yang terlihat asri dan nyaman. Karena banyak tanaman yang menyegarkan mata. Anin tiba di rumah itu sudah hampir pukul satu siang dengan cuaca panas terik matahari.


"Assalamualaikum.." Salam Anin begitu berada di depan pintu rumah tersebut.


"Wa'alaikum salam.." Salam balik yang di dalam.


Cklek


Pintu dibuka oleh seorang wanita muda yang terlihat lebih tua dari Anin. Tapi masih terlihat cantik dan anggun. Anin bisa menebak kalau wanita itu mungkin istri pertama Zian.


"Siapa ya?" Tanya Rima dengan dahi mengernyit menebak siapa gadis di hadapannya ini.


Gadis imut dengan muka baby face, dan mungil. Karena tinggi badan Anin hanya sebatas bahu Zian yang tinggi hampir mencapai seratus delapan puluh tujuh.


"Saya..."


"Siapa Rima?" Tanya seorang wanita paruh baya yang muncul dari belakang sambil menggendong bayi yang sedang menangis.


Maria menatap Anin lekat seolah pernah melihat wajah gadis kecil itu.


"Kamu?" Marina terdiam, Zian memang belum menceritakan tentang pernikahan keduanya dengan Anin sebagai bentuk pengabdiannya pada tuan besarnya.


"Saya Anindita buk, saya... putri Bu Karina." Ucap Anin memperkenalkan diri pada keduanya sambil menundukkan kepalanya memberi hormat pada orang yang lebih tua darinya.

__ADS_1


Rima dan Maria terdiam setelah tahu siapa gerangan gadis kecil itu. Dan Maria hampir saja salah sangka mengira dia adalah Karina, suami Jonathan yang telah menolong keluarganya dulu. Wajah Anin memang sangat mirip dengan Karina saat masih muda dulu. Itulah sebabnya dia hampir salah mengira kalau Anin adalah Karina.


"Masuk nak!" Ajak masuk Maria sopan setelah menyerahkan bayi kecil itu pada Rima.


Rima masih terpaku terdiam menatap Anin dengan tatapan sulit diartikan.


"Duduk nak!" Ajak Maria lagi membuat Anin tersenyum malu-malu tapi sopan.


"Makasih Bu." Jawab Anin duduk di sofa ruang tamu sambil menarik kopernya diletakkan di sebelahnya duduk.


Tatapan Maria dan Rima beralih pada koper Anin yang terlihat janggal di mata mereka.


Untuk apa dia membawa koper? Batin keduanya lewat tatapan mata saling berpandangan. Yang tentu saja tak disadari oleh Anin.


"Non Anin sama siapa kesini?" Tanya Maria basa-basi.


Dan Rima kembali ikut duduk di sofa ruang tamu juga ikut penasaran setelah mengambil susu untuk putrinya dan memangkunya sambil menyusukan pada putrinya.


"Sendiri Bu, tadi naik taksi dari rumah." Jawab Anin sopan.


Anin celingukan menatap sekeliling rumah seolah mencari seseorang yang tak berani ditanyakannya.


"Oh..." Maria dan Rima saling pandang.


"Zian eh maksud saya mas Zian ada Bu?" Tanya Anin ragu sambil menatap Rima yang mungkin saja cemburu jika dia mencari suaminya yang juga suaminya.


"Mas Ando sedang tidak di rumah. Dia tadi ada perlu katanya." Jawab Rima yang menyela sebelum Maria menjawab.


Entah kenapa hati Rima mendadak sesak melihat gadis yang dicintai suami, bukan mantan suami. Mereka sudah sah bercerai kemarin. Sekarang Zian sedang pergi ke kota untuk mengurus surat cerai.


"Oh begitu ya. Kira-kira kapan dia pulang ya?" Tanya Anin masih tetap ramah meski tatapan Rima sudah terlihat tidak ramah lagi.


Dan Anin tahu akan hal itu. Siapa yang tidak marah jika istri suaminya melihat istri kedua suaminya mendatangi rumah mereka. Meski Anin tak tahu tentang hubungan keduanya saat ini.


"Sebelum menjawab, boleh ibu bertanya nak?" Tanya Maria menatap Anin penuh tanda tanya.


"Iya Bu."


"Nak Anin, maksud kedatangan mu kemari untuk apa ya? Maaf, bukannya ibu gak suka nak Anin berkunjung. Tapi..." Ucap Maria menatap Anin sungkan merasa tak enak hati.


"Gak papa Bu, apa mas Zian belum mengatakan pada ibu dan mbak..."


"Rima, nama saya Rima. Suami mas Ando." Sela Rima cepat membuat Maria menoleh keberatan melihat Rima bersikap kurang ramah pada Anin.


Bagaimana pun juga orang tua Anin adalah orang yang berjasa menolong suami dan putranya dulu.


"Mbak Rima tentang kami?" Tanya Anin menatap keduanya bergantian.


Namun keduanya malah mengernyit heran dan saling tatap tak tahu apa maksud Anin.


"Memangnya ada apa nak?" Maria yang mengajukan pertanyaan sambil menggenggam erat jemari tangan Rima agar tidak menjawabnya dengan ketus lagi.


"Kami... sudah menikah sebulan yang lalu..."


Dhuar...


Keduanya sama-sama terkejut dan membelalakkan matanya menatap Anin. Maria memijit pelipisnya merasa berdenyut dan terhuyung ke belakang, untung saja dia masih duduk di sofa sehingga tidak jatuh.


"Kurasa nak Anin bercandanya kelewatan." Jawab Maria tersenyum menahan diri.


"Saya tidak bercanda Bu." Keduanya sama-sama diam kembali.


TBC

__ADS_1


__ADS_2