Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 88


__ADS_3

Seperti ucapannya, Zian mengikuti mobil Guntur kemanapun dia pergi. Bahkan Guntur meninggalkan sopirnya untuk dikendarai sendiri mobilnya. Anin melirik dari spion mobil Guntur dimana mobilnya mengikuti yang dikendarai Zian.


Guntur masa bodoh, yang penting sekarang dia akan mempertahankan Anin untuk berada di sisinya. Bahkan tautan jemari tangan mereka tak lepas dari genggaman tangan mereka.


"Kita mau kemana mas?" Tanya Anin menatap Guntur.


"Ke kantor Daddy." Jawab Guntur tenang tersenyum penuh cinta menatap Anin.


"Daddy? Daddy siapa?" Tanya Anin menatap Guntur mengernyit.


"Daddy Jo. Siapa lagi?" Jawab Guntur tersenyum menggoda sambil mengedikkan kedua bahunya.


"Untuk apa menemui Daddy?" Seru Anin cemas.


"Untuk memintamu menjadi istriku."


Blush


Wajah Anin memerah mendengar penuturan Guntur dan kata 'istri' yang diucapkan Guntur.


"Mas, ini tidak lucu." Jawab Anin tak mau besar kepala.


"Kenapa? Apa aku terlihat sedang melucu?" Jawab Guntur sambil fokus menyetir mobilnya.


Anin menutup mukanya mengalihkan pandangannya ke luar jendela karena malu.


"Kau senang?" Tanya Guntur tersenyum lembut.


"Apa mas yakin Daddy akan merestui kita? Sedangkan rencana Daddy akan menikahkan aku dengan orang lain?" Tanya Anin menatap Guntur lekat.


"Kau tak akan menikah dengan siapapun kecuali denganku, sayang. Dan tak akan kubiarkan kau menjadi milik orang lain." Jawab Guntur sambil mengusap pipi Anin penuh cinta.


"I love you mas." Guntur tersenyum bahagia.


"Love you too baby."


Mobil memasuki parkiran kantor Jonathan, Guntur membukakan pintu mobil untuk Anin. Zian ikut memarkir mobilnya tak jauh dari mobil Guntur parkir. Sepertinya Guntur sengaja mencarikan tempat parkir yang sedikit jauh. Guntur tak mau Anin dekat-dekat dengan pria lain.


***


"Non Anin." Sekretaris Jo langsung berdiri memberi hormat pada putri Presdirnya.


Dan sikap ramahnya tak lupa ditunjukkan juga pada Guntur yang dikenalnya juga sebagai relasi bisnis Presdir nya.


"Apa Daddy ada Tante?" Tanya Anin tersenyum ramah.


"Tuan Jo ada di dalam nona, sudah selesai dari meeting. Mau saya tanyakan ke dalam?" Tawar sekretaris Jo.


"Tidak terima kasih, aku akan masuk sendiri saja." Tolak Anin ramah.


Tok tok tok

__ADS_1


"Masuk!" Titah Jo. Anin masuk diikuti Guntur.


"Daddy." Seru Anin mendekati meja Daddynya.


"Princess?" Jawab Jo tersenyum senang, namun wajahnya langsung kembali datar begitu melihat orang lain yang mengikuti putrinya.


Bukan Zian, tapi pria yang katanya juga mencintai putrinya.


"Selamat siang tuan Jonathan." Sapa Guntur menunduk sopan.


"Selamat siang." Jawab Jo mempertahankan wajah datarnya.


"Boleh saya bicara sebentar tuan?" Pinta Guntur sopan.


"Princess?" Jo menatap Anin.


"Yes, Daddy?"


"Bisa tinggalkan kami berdua?" Anin terdiam, dia ganti menatap wajah Guntur yang dijawab anggukan kepala.


"Baiklah. Kuharap Daddy tidak berbuat buruk padanya." Pinta Anin meninggalkan ruang kerja Daddynya.


***


"Apa yang ingin anda bicarakan?" Tanya Jo tegas menatap Guntur sambil bersandar di sofa ruang kerjanya.


Tangannya bersedekap di dada.


"Bukankah seharusnya anda salah tempat?" Sindir Jo tertawa mengejek.


"Maaf, sebelumnya. Kalau saja saya tidak mendengar isu tersebut. Saya ingin melakukan lamaran secara resmi." Jawab Guntur masih berusaha tetap tenang.


"Isu? Isu mana maksud anda?" Tanya Jo pura-pura tak tahu walau dia tahu maksudnya.


"Isu bahwa Anin akan anda nikahkan dengan pengawalnya." Jawab Guntur menahan sesak di dadanya.


"Itu bukan isu, itu adalah fakta. Fakta tentang keputusan untuk menikahkan mereka karena pernah tidur bersama." Jawab Jo.


"Mereka hanya berada di dalam kamar bersama, bukan berarti tidur bersama. Dan saya yakin, keduanya tak melakukan apapun." Sangkal Guntur mencoba mengendalikan emosinya.


"Kau tahu apa fakta tentang mereka pernah tidur bersama atau tidak melakukan apapun. Bisa saja mereka tak sadar saat itu. Atau mereka kelepasan saat bersama berdua saja di dalam kamar." Jo masih berusaha mempertahankan pernyataannya.


"Kalau begitu, bagaimana dengan saya yang bahkan pernah tidur berdua saja di dalam kamar saya dan malah kami pernah berciuman lebih dari..."


Bagh bugh


Pukulan melayang dua kali di rahang Guntur, Jo mencengkeram erat kerah kemeja Guntur kasar. Guntur sendiri entah kurang waspada atau memang tak tahu kapan Jo sudah melayangkan pukulannya. Guntur terdiam menatap Jo dengan berani.


"Kau pria brengsek, kau tahu sudah bertunangan. Berani sekali kau memacari putriku dengan statusmu yang milik orang lain. Kau mau membuat nama baik putriku buruk di mata orang-orang, huh!" Teriak Jo masih sambil mencengkram kuat.


"Saya hanya mencintai Anin, dan saya sudah membatalkan semuanya, pertunangan dan rencana pernikahan kami." Jawab Guntur yakin.

__ADS_1


"Lalu? Apa kau pikir orang-orang akan percaya karena cinta? Yang ada pasti orang-orang akan mencemooh putriku sebagai seorang pelakor." Geram Jo menghentak tubuh Guntur kuat.


"Saya akan pastikan hal itu tidak akan terjadi." Yakin Guntur menatap Jo dengan berani.


Tak dihiraukannya di sudut bibirnya sudah menetes darah karena hantaman dari Jo tadi.


"Aku butuh bukti bukan janji." Guntur tersenyum lebar.


"Terima kasih tuan, saya akan buktikan perkataan saya." Guntur langsung berdiri sambil membungkuk memberi hormat dengan sopan.


Dan senyuman tak henti-hentinya luntur dari bibirnya.


"Dasar anak brengsek, kenapa tanganku yang sakit." Guman Jo sambil mengibas-ngibaskan jemarinya yang dipakai memukul Guntur tadi.


***


"Benarkah? Daddy merestui kita?" Tanya Anin tak percaya dengan perkataan yang diucapkan Guntur berulang kali tersebut.


Guntur hanya mengangguk mengiyakan.


"Kau senang?" Tanya Guntur tersenyum lembut. Anin menggeleng, membuat senyum Guntur luntur.


"Aku bahagia, sangat bahagia." Jawab Anin tersenyum lebar setelah sukses mengerjai Guntur.


"Kau ingin aku melamar kapan?" Tanya Guntur.


"Entahlah, aku masih harus kuliah." Guntur langsung menoleh menatap Anin meski harus tetap fokus dari setirnya.


"Apa maksudmu aku harus menunggumu wisuda?" Tanya Guntur tak percaya.


"Lalu?"


"Kita menikah secepatnya, kau bisa melanjutkan kuliahmu setelah menikah nanti." Saran Guntur.


"Apa itu tidak terlalu cepat?" Tanya Anin.


"Tidak. Aku tak akan sanggup menahan diri lebih lama lagi di sisimu sayang." Ucap Guntur memelas.


"Tapi mas?"


"Tidak ada tapi-tapian. Seminggu lagi, aku akan melamarmu. Besok aku akan mengajakmu menemui ibuku. Setelah itu sebulan lagi kita menikah." Jelas Guntur.


"Besok? Secepat itu? Ba.. bagaimana kalau ibu mas tak menyukaiku?" Tanya Anin cemas.


"Ibuku pasti akan menerimamu. Dia tak mempersoalkan siapapun calon istriku asal itu membuatku bahagia." Jawab Guntur, Ani tersenyum.


"Terima kasih mas, I love you."


"Love you too so much baby."


TBC

__ADS_1


__ADS_2