Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 93


__ADS_3

"Tuan, meeting satu jam lagi. Pihak klien juga sekaligus mengajak makan siang di restoran ZZ." Ucap Raka siang itu, Guntur menghentikan gerakannya yang sedang meneliti berkas-berkas yang dibawa Raka.


"Bukannya setelah makan siang meetingnya?" Tanya Guntur berdecak kesal menatap Raka.


"Mereka ingin mengajukan meeting mereka karena jam tiga sore harus kembali ke negara mereka." Jelas Raka membuat Guntur semakin kesal.


Padahal dia sudah berencana untuk makan siang dengan calon istrinya namun apa sekarang. Mentang-mentang mereka investor besar seenaknya saja mengubah jadwal. Guntur menghela nafas panjang.


"Kau tak tahu ya aku sudah berencana untuk makan siang dengan calon istriku!" Seru Guntur kesal menatap Raka tajam.


Raka hampir saja kelepasan tawanya kalau tidak sadar dengan kekesalan Guntur.


"Semua pekerjaan terpaksa dimajukan tuan, bukankah setelah menikah anda akan bulan madu tanpa gangguan? Itulah sebabnya pekerjaan anda harus diselesaikan sebelum pernikahan." Guntur semakin berdecak saja mendengar alasan Raka yang sayangnya benar.


"Huff... aargh...sial...!" Umpat Guntur sambil mengusap rambutnya kesal.


"Tinggal setengah jam lagi tuan." Ucap Raka lagi sambil melirik jam tangannya yang semakin membuat Guntur semakin menatap kesal pada Raka.


***


"Biar saya antar nona!" Paksa Zian menatap Anin penuh harap.


"Zian." Zian menatap Anin lekat.


"Aku akan pergi sendiri. Jadi, kau tetaplah disini." Tegas Anin.


"Nona?" Pinta Zian memelas, dia tak mau sang nona kenapa-napa.


"Sungguh, aku sudah tak apa. Aku akan bertemu dengannya dan menjelaskan semuanya." Jelas Anin, yang dibalas dengan tatapan tak percaya dari Zian.


"Huff... kau tak percaya padaku lagi ya setelah pulang dari kampung?" Tanya Anin sambil menyilangkan kedua tangannya bersedekap di dada.


"Benar nona. Saya yang bertanggung jawab jika terjadi sesuatu dengan nona."


"Saya sungguh tak apa. Daddy sudah mengizinkan aku berangkat sendiri, apalagi untuk bertemu dengan calon suamiku." Jelas Anin lagi.


Zian terhenyak mendengar ucapan terakhir Anin. Dia baru sadar bahwa dirinya telah ikut campur terlalu jauh dengan urusan pribadi sang nona.


"Kalau ada apa-apa, tolong segera hubungi saya nona!" Jawab Zian akhirnya menyerah.


Dia hanyalah seorang pengawal yang juga seorang pelayan. Bukan tempatnya untuk memaksa majikannya meski niatnya baik. Zian menghela nafas berat dan panjang setelah melihat mobil sang nona meninggalkan basemen apartemennya.


Namun bukan Zian namanya kalau dia tidak cemas. Zian segera mengambil mobil pribadinya untuk membututi sang nona dan memastikan beliau baik-baik saja.


"Maafkan saya nona." Guman Zian lirih sambil menyetir mobilnya mengikuti agak jauh dari mobil nonanya yang sayangnya sangat cepat mengendarainya.


***

__ADS_1


Flashback on


Siang itu, sekretaris Guntur masuk ke ruangannya setelah mengetuk pintu dan diizinkan masuk.


"Ada yang mencari anda tuan?" Ucap sekretaris itu.


"Siapa?" Dahi Guntur berkerut, pasalnya dia tak ada janji dengan siapapun setelah makan siang.


"Nona Alea?" Dahi Guntur semakin berkerut.


"Mau apa lagi dia?" Guman Guntur membuat sekretaris itu berkerut dan hendak kembali bertanya.


"Bilang saya sibuk!" Titah Guntur tak mau dibantah.


"Maaf, sayangnya aku memaksa!" Suara mantap tunangan Guntur nyelonong masuk ke dalam ruangan Guntur yang sudah ditebaknya bakal ditolak.


Guntur menatap Alea dingin dan tajam. Sekretaris itu kebingungan merasa bersalah.


"Pergilah!" Titah Guntur menatap sekretarisnya untuk meninggalkannya dengan tamu tak diundangnya.


Alea melangkah masuk merasa telah diizinkan untuk menemui Guntur.


"Katakan apa keperluanmu!" Guntur mengacuhkannya masih terus sibuk dengan berkas-berkasnya.


"Aku ingin minta maaf." Guntur menatap Alea keheranan, dia menatap curiga pada Alea.


"Aku kemari selain minta maaf juga ingin menawarkan kerjasama dengan perusahaanmu." Dahi Guntur kembali berkerut, dia mendongak lagi menatap wajah Alea penuh kecurigaan.


"Butik. Butikku akan ikut kerja sama dengan usah berlianmu. Selain menanam modal juga aku ingin butikku semakin terkenal dengan perhiasan-perhiasan hasil dari perusahaanmu saat memamerkannya di catwalk." Jelas Alea masih berdiri karena Guntur tak memintanya berdiri.


"Sayangnya aku tetap menolak." Jawab Guntur tegas.


"Jangan jadikan alasan masalah pribadi kita dalam kerja sama ini! Bagaimana pun juga aku juga seorang pebisnis meski levelnya beda. Aku bisa menjamin kalau produk butikku juga cukup terkenal." Jelas Alea lagi tanpa menyerah.


Guntur menatap Alea lama. Dia tahu betul butik milik Alea, dia juga sudah mempunyai brand sendiri meski belum terkenal. Tapi Guntur bisa melihat peluang bisnis itu bisa membuat lebih maju lagi perusahaannya yang baru saja dirintis dalam bidang perhiasan.


Sebelumnya perusahaan ayahnya berbisnis dalam bidang properti, kini usahanya sendiri yang dilakukan mulai dari nol mulai meningkat meski belum besar. Jika apa yang ditawarkan Alea benar, maka brand perhiasannya akan semakin besar.


"Buat proposal resminya dan ajukan!" Putus Guntur akhirnya. Senyum lebar menghiasi bibir Alea.


"Kapan kita bisa membahasnya?" Tanya Alea antusias.


"Entahlah, kau hubungi Raka kapan jadwalku kosong!" Jawab Guntur acuh sambil terus melanjutkan pekerjaannya tadi.


"Terima kasih, aku akan menghubungi Raka." Alea tersenyum dan akhirnya pamit meninggalkan ruangan Guntur yang dijawab deheman.


Guntur termenung di ruangannya tak melakukan pekerjaannya memikirkan kembali ucapan Alea tentang kerja sama tadi. Guntur tahu betul watak Alea.

__ADS_1


"Kuharap kau tak macam-macam denganku Alea." Guman Guntur sambil melanjutkan pekerjaannya.


***


Seminggu kemudian, Raka mengabarinya untuk melakukan pertemuan dengan Alea tentang kerja sama yang dibahas beberapa waktu lalu. Raka menyetujui setelah mendengarnya.


Bahkan dia sangat antusias karena dia tahu betul prospek yang didapat dari kerja sama dengan butik terkenal milik Alea meski tidak nomer satu di negara ini.


"Sungguh dia menawarimu kerja sama?" Tanya Raka antusias.


"Kenapa kau senang sekali?" Jawab Guntur balik bertanya karena dia merasa Raka terlalu antusias.


"Kau ini tidak update atau benar-benar tak tahu. Butik Alea terkenal memiliki pelanggan dari para artis dan pejabat. Apalagi dia sudah punya brand sendiri. Pasti perhiasan kita akan lebih banyak dikenal oleh masyarakat kalangan artis dan pejabat." Jelas Raka antusias.


"Benarkah?" Tanya Guntur tak percaya.


"Ya, kau terlalu melihat keburukannya tanpa melihat keberhasilannya. Makanya jangan terlalu membenci orang yang dekat denganmu." Saran Raka.


"Kalau begitu kau urus saja itu!" Putus Guntur akhirnya.


Dia tetap tak peduli, dia tak mau terlibat lagi dengan mantannya itu. Di tak mau hubungannya dengan calon istrinya memburuk.


"Hei, Alea bilang tak mau jika tidak denganmu." Jawab Raka.


"Kalau begitu tidak usah." Jawab Guntur enteng.


"Jangan seperti itu, ini juga demi masa depan bisnis kita. Kau pun harus bersikap profesional. Demi bisnis kita dan para pekerja kita!" Raka menunjukkan jempolnya agar Guntur setuju dengan bujukannya.


Sungguh kerja sama dengan butik Alea akan semakin membuat bisnis perhiasan mereka terkenal.


"Huff... demi pekerjaan." Jawab Guntur menatap tajam Raka.


"Okay, demi bisnis." Jawab Raka.


***


"Kita kemana?" Tanya Guntur saat setelah mereka makan siang tak kembali ke kantor.


Dia sedang pergi mengendarai mobilnya dengan Raka saja.


"Kita ada meeting siang ini, membahas kerja sama dengan butik Alea." Jelas Raka yang membuat Guntur membulatkan matanya mendengar nama yang sangat dibencinya.


"Aku sudah bilang, kau urus saja. Aku tak mau berurusan lagi dengannya." Tolak Guntur kesal.


"Hei, ini baru tanda tangan kontrak kerja sama. Dan baru pertama kali melakukannya. Kau perlu bertemu dan bicara tentang kerja sama ini. Setelah ini aku yang akan mengurusnya." Guntur berdecak kesal mendengarnya.


Selalu memang seperti itu. Walau dengan orang lain, Guntur akan bertemu dengan calon rekan bisnisnya sebelum melepaskan Raka sendiri melakukan kerja sama berikutnya. Guntur tak mengiyakan atau menolak. Dia memilih membuang pandangannya ke luar jendela.

__ADS_1


TBC


__ADS_2