Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Perubahan sikap


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang menuju apartemen Bram, keduanya tak ada yang berbicara. Hening mencekam yang terjadi di dalam mobil. Karina merasa sedang terjadi sesuatu pada Bram. Terlihat dia hanya diam dengan dingin. Karina ingin bicara namun melihat sikap dinginnya Karina mengurungkan niatnya.


Entah kenapa perasaan tak enak. Dia lebih memilih untuk membuang pandangannya ke luar jendela mobil menikmati jalanan yang sudah mulai sepi.


Tanpa terasa mobil sudah masuk ke basemen parkir apartemen Bram. Bram segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Karina. Meski sebenarnya Bram kecewa pada Karina namun perhatiannya masih sama meski dengan sikap dingin.


"Terima kasih." ucap Karina setelah turun dari mobil.


"Maaf, ada sesuatu yang harus kuselesaikan. Aku tak bisa mengantarmu ke atas." Karina tertegun, baru kali ini Bram bersikap begitu dingin padanya.


Tak ada senyum seperti biasanya saat Bram bicara padanya. Karina mencoba berpikir positif. Mungkin masalahnya penting dan darurat. batin Karina.


"Aku bisa sendiri. Mas pergilah!" jawab Karina masih tersenyum tipis. Bram mengangguk.


"Mas..." suara panggilan Karina menghentikan langkah Bram yang hendak membuka pintu mobil.


Bram berbalik menatap Karina mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobil.


"Ya?" jawab Bram masih dengan sikap dingin dan datar tak menunjukkan ekspresi yang bisa ditebak Karina.


"Boleh bicara sebentar!" pinta Karina menatap memohon.


Bram menatap lama pada Karina namun saat mengingat tentang sesuatu yang dilihatnya tadi, membuatnya kembali bersikap dingin.


Kalau saja sebelumnya dia tak mengetahui hubungan Karina dan Jonathan, Bram pasti dengan senang hati akan menerima ajakan bicaranya meski dia ada keperluan darurat sekalipun, dia pasti akan sangat antusias segera menghampiri Karina.


"Kita bicara besok saja." jawab Bram langsung masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Karina yang masih mematung di tempatnya, merasa telah membuat pria itu marah. Ah, lebih terlihat kecewa daripada marah.


Cklek


Pintu apartemen terbuka setelah Karina memasukkan password apartemen itu.


"Mbak baru pulang?" tanya Maya yang saat itu sedang di dapur mengambil air minum dan melintasi ruang tamu.


"Haaah.." Karina mendesah dan melemparkan pantatnya ke sofa ruang tamu.


Dia terlihat lelah, tidak hanya lelah tubuh tapi lelah hati dan juga pikiran.


"Minum mbak!" Maya meletakkan satu botol air mineral dingin yang dibawanya tadi.


Karina menatap air botol itu dengan tatapan kosong. Laku meraihnya dan meneguk air putih dingin itu hingga tandas. Maya duduk di sofa sebelahnya menunggu reaksi selanjutnya.


"Aku bertemu dengannya May." ucap Karina setelah merasa sedikit tenang.


"Siapa yang mbak maksud?" tanya Maya yang tak mengerti siapa yang dibicarakan. Karina menoleh menatap Maya yang penasaran.


"Ayahnya si kembar." Maya terdiam begitu juga Karina. Maya mencoba mencerna ucapan Karina.

__ADS_1


"Maksud mbak tuan Jonathan?" tanya Maya terkejut dengan jemari tangan menutup mulutnya tak percaya. Karina mengangguk.


"Tuan muda Alensio?" tanya Maya lagi meyakinkan. Karina mengangguk lagi.


"Wah... terus...terus...?" tanya Maya antusias mendekati tempat duduk Karina.


"Dia sepupunya mas Bram." jawab Karina masih tenang meski tadi saat dia tahu Jo dan Bram adalah sepupu, Karina juga terkejut tak percaya.


"Wah... Daebak...terus? Dia juga mengenali mbak?" seru Maya.


"Iya, meski secara diam-diam dan tersembunyi menemuiku." jawab Karina lagi mengingat kembali pertemuan tadi.


"Wah... apa yang dikatakannya mbak?"


"Aku menolaknya meski sebenarnya aku tak bisa melakukannya." jawab Karina menerawang menatap kosong ke depan.


"Terus?"


"Entahlah May... "


"Terus apa rencana mbak?"


"Oh, aku belum bilang ya, tadi siang kami sempat bercinta." ucap Karina dengan wajah merona.


"Ya? Mbak..." seru Maya.


"Siapa yang mbak lebih cintai?" tanya Maya membuat Karina terdiam.


"A..aku.."


"Coba ikuti kata hati mbak!"


"Aku masih mencintainya May, dia hidupku. Dia ... dia segalanya dalam hidupku. Saat bersama mas Ken, aku tak pernah merasakan perasaan yang seperti ini. Dan Bram... dia terlalu baik May, aku tak mungkin menyakitinya setelah perlakuannya May..." Karina menangis, air matanya terjun bebas.


Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil menangis. Suara isak tangis terdengar di ruang tamu apartemen itu. Maya hanya mampu menepuk-nepuk punggung Karina berusaha menghiburnya.


***


Dering ponsel Karina membangunkannya. Dengan mata masih tertutup, Karina meraba-raba nakas di samping ranjangnya mencari ponselnya.


Dalam percakapan ponsel :


Karina :"Halo." jawabnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.


Jo :"Kau baru bangun?" tanya yang di seberang. Karina melirik nama yang tertera dalam layar ponselnya. Spontan Karina bangun dari tidurnya.


Karina :"Aduh..." Karina tanpa sadar mengeluh sambil memegang kepalanya yang berdenyut nyeri.

__ADS_1


Jo :"Kau dimana? Kau kenapa? Kau tak apa?" tanya Jo memberondongi Karina pertanyaan mendengar Karina mengaduh dalam ponselnya.


Karina :"Tak apa. Hanya sedikit pusing. Mungkin bangun tiba-tiba." jawabnya beralasan karena tak mau membuat Jo cemas.


Jo :"Kau yakin?" tanya Jo tak percaya.


Karina :"Sungguh?" jawab Karina meyakinkan.


Jo :"Kau selalu bilang tak apa meski kau banyak masalah." tandas Jo membuat Karina terdiam.


"Aku hanya berharap kau lebih terbuka padaku. Itu kalau kau masih menganggapku suamimu." ucapan terakhir Jo membuat Karina merasa tertohok.


Karina memang tak mengatakan apapun yang sekiranya masih mampu diatasinya sendiri. Keduanya terdiam tak ada yang bicara.


Jo :"Bisa aku ke tempatmu?"


Karina :"Jangan!" cegah Karina cepat-cepat.


Jo :"Kenapa? Kau tak berniat melarikan diri dariku lagi kan?" pertanyaan Jo kali ini sungguh menyindir telak pada Karina.


Karina :"Bukan seperti itu." jelas Karina sebelum Jo salah paham padanya.


"Aku tinggal di apartemen Bram, aku tak mungkin membawamu kemari." jelas Karina. Malah membuat Jo semakin emosi.


Jo :"Aku kesana sekarang." Jo langsung menutup ponselnya, mengambil ponsel dan kunci mobilnya menuju tempat Karina.


Karina kelabakan, dia tak mau Bram tahu secepat ini hubungannya dengan Jo. Dia ingin mengatakan secara baik-baik agar tak begitu besar melukai perasaan Bram semakin dalam. Karina menghubungi ponsel Jonathan berkali-kali, namun tak diangkat.


Karina tahu senekat apa Jonathan. Dia juga masih belum siap mempertemukan si kembar. Karina takut kedua orang tua Jo memisahkannya dengan si kembar.


"Mbak kenapa bingung begitu?" tanya Maya melihat Karina keluar dengan wajah yang masih berantakan. Meski masih terlihat cantik.


"Jo mau kesini May." jawab Karina mondar-mandir tak jelas di dapur.


"Tuan Jonathan?" tanya Maya meyakinkan pendengarannya. Karina hanya mengangguk.


"Bagaimana dia tahu mbak disini?" Maya ikut berdiri mendekati Karina yang sejak tadi dia duduk di meja bar dapur.


"Tadi dia bertanya saat menghubungiku."


"Lalu? Apa yang mbak cemaskan?" tanya Maya. Karina menatap Maya lekat.


"Mas Bram juga datang akan menjemputku jam sepuluh nanti. Entahlah, dia tak bilang mau mengajak kemana." ucap Karina.


Maya langsung melirik jam dinding, masih pukul delapan pagi. Masih dua jam lagi sampai Bram datang.


TBC

__ADS_1


Maaf agak sore...🙏


__ADS_2