
"Nindi, aku ke toilet sebentar." Pamit Nara saat keduanya sedang makan di cafe lantai dua.
Setelah lebih dari tiga jam mereka mengelilingi mall membuat keduanya lelah dan memutuskan untuk makan siang sambil melepas lelah. Anin hanya mengangguk mengiyakan sambil masih sibuk dengan ponselnya karena sang mommy selalu menghubunginya untuk makan siang jangan sampai terlambat. Kadang Anin senang kadang juga kesal, mommynya masih saja memperlakukan seperti anak-anak.
Padahal dirinya sudah benar-benar sembuh dari rasa traumanya. Namun kecemasan yang berlebihan dari sang mommy membuat Anin menikmati momen perhatian dari mommynya lagi.
"Hai..." Seseorang langsung duduk di kursi kosong di depan Anin.
Anin yang masih sibuk dengan ponselnya sontak mendongak karena yang duduk bukanlah sahabatnya Nara.
"Kak Dimas..." Dimas hanya nyengir kuda.
"Kau sendiri? Dimana dia? Kau selalu bersamanya bukan?" Pertanyaan berondongan dari seniornya itu membuat Anin kesal.
"Dia sedang ke toilet, bisa tinggalkan meja ini. Kakak bisa pindah ke meja lain." Ucap Anin tak suka dengan nada naik satu oktaf.
"Kau tahu kan yang kusukai kamu. Aku belajar untuk mengejarmu." Ucap Dimas tersenyum-senyum menatap Anin yang jengah padanya.
"Sayangnya maaf.. aku sudah punya kekasih." Jawab Anin asal dengan menatap tajam pada Dimas.
"Ayolah Nindi, Jangan berusaha berbohong hanya karena kau ingin menolak ku. Aku tahu kau jomblo dari lahir." Ucap Dimas sarkas.
Dan itu sungguh menusuk tepat sasaran pada ulu hati Anin dan skak mat. Bagaimana pria brengsek ini tahu? Umpat Anin dalam hati.
"Apa maksudmu? Kau tak tahu apapun tentangku dan jangan sok tahu." Jawab Anin semakin kesal.
"Oh, ayolah... aku sudah menyelidiki kau. Kau adalah tuan putri yang tidak mungkin sembarangan pacaran dengan siapapun. Aku akan buktikan kalau aku juga pantas mendampingimu." Jawab Dimas sombong.
Anin tertegun melihat sisi lain yang tak ditunjukkan pria ini saat menjadi kekasih Nara. Pria ini cenderung sopan dan seolah menjaga hati seorang wanita. Namun sekarang, pria ini menunjukkan kulit aslinya padanya. Hanya mungkin pada Anin saja mungkin.
"Kekasihku sedang tidak disini, dia sedang ada urusan di luar negeri. Kalau dia sudah pulang aku secara pribadi akan memperkenalkannya padamu." Jawab Anin penuh percaya diri, namun dalam hatinya siapa yang dipikirkannya.
"Sudahlah Nindi, jangan berbohong lagi. Kalau kau mau menolak ku katakan saja tak usah bertele-tele!" Ucap Dimas membuat Anin menggeleng-gelengkan tak percaya melihat kepedean akut pria di hadapannya ini.
"Huh... apa maksud kakak?" Tanya Anin merasa mulai tak nyaman karena Dimas setengah memaksakan kehendaknya.
"Seperti halnya Nara tak pernah menyerah untuk menyatakan cinta padaku, aku juga tak akan pernah menyerah untuk mendekatimu." Dimas tersenyum lebar setelah mengungkapkan perasaannya.
__ADS_1
"Lagipula selama kau masih sendiri, aku pun tak akan menyerah." Sambung Dimas lagi.
"Kak... itu.."
"Apa maksudmu tak pernah menyerah dengan kekasihku?" Suara seorang pria tiba-tiba muncul di depan tubuh Anin yang hendak pergi karena merasa tak nyaman dengan Dimas, pria tampak kesal mendengar ucapan Dimas.
"Siapa kau?" Tanya Dimas tak suka melihat pria muda yang tampan mengaku sebagai kekasih Anin. Sayangnya dia sangat tampan.
"Perkenalkan, aku kekasihnya. Kurasa dia sudah tidak nyaman kau telah menganggunya." Ucap pria itu yang membuat tubuh Anin membeku.
Dia mengenali suara ini, suara pria yang lama dirindukannya. Tapi kenapa dia ada disini?
"Huh, kau kira aku percaya padamu yang mengaku-ngaku sebagai kekasihnya?" Bantah Dimas tak percaya.
Pria itu tersenyum manis dan berbalik menatap Anin yang terkejut melihatnya.
"Maaf sayang, aku baru datang. Kau pasti sangat merindukanku. Cup.." Satu kecupan di bibir manis Anin dikecup oleh pria itu membuat tubuh Anin semakin membeku tanpa mampu menolaknya.
Wajahnya memerah merona tersipu malu. Pria itu menautkan jemarinya ke jemari tangan Anin dengan mesranya dan senyum terus terpatri pada bibirnya.
"Sayang sekali kami tak ada waktu untuk meladeni anda. Terserah mau percaya atau tidak dengan hubungan kami. Kalau anda berani macam-macam pada kekasihku. Aku tak akan diam saja." Ancam pria itu menunjuk-nunjuk dada Dimas dengan kesal.
Terdengar Dimas mengumpat kesal karena dia merasa gagal.
Setelah agak jauh dari cafe itu, Anin berusaha melepaskan tautan jemari mereka. Namun tidak semudah itu dilakukan karena pria itu menariknya dan memaksanya untuk masuk ke dalam sebuah mobil saat mereka sudah sampai di parkiran mobil.
"Masuk!" Titah pria itu setelah membukakan pintu mobil untuk penumpang di samping kemudinya.
"Tapi..."
"Masuk dulu!" Titah pria itu setengah memaksa.
Anin bagai kerbau yang dicocok hidungnya hanya menuruti apa yang dikatakan pria itu tanpa bisa menolak, atau lebih tepatnya dilarang menolak.
Pria itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang entah akan kemana mobil itu pergi. Ponsel Anin berdering tanpa henti tertera nama sahabatnya yang menghubunginya. Setelah Dimas juga meninggalkan meja mereka, Nara kembali ke mejanya namun tak ada siapapun di tempat itu.
Nara mengernyit heran dimana sahabatnya itu yang dengan tega meninggalkannya di mall itu sendiri.
__ADS_1
'Bawa dulu mobilku pulang, aku sedang ada urusan penting. Maaf!' Diikuti emot memohon karena dia meninggalkan sahabatnya tanpa pamit dan tanpa penjelasan apapun.
'Kau dimana?' Jawab Nara mengirim pesan itu. Namun sahabatnya itu tak membalasnya.
Malah saat dia menghubunginya ponselnya sudah tidak aktif lagi. Nara mengedikkan kedua bahunya acuh, dia pun melenggang meninggalkan cafe itu untuk pulang. Toh, tak ada yang akan dilakukan jika sendiri.
Untung saja tagihan di cafe tadi dibayar di muka, jadi Nara tak perlu repot-repot untuk melakukan pembayaran lagi karena Anin tak ada.
***
"Aku mau pulang." Anin hendak beranjak namun lengan kekar melingkar di pinggangnya hingga tangannya ikut terkungkung juga.
Anin membeku di tempatnya tak berani melanjutkan. Dia tidak merespon juga tidak menolaknya. Hati kecilnya membisiki agar mendorong tubuh kekar yang dengan kurang ajarnya berani memeluknya, apalagi tadi juga berani mencuri first Kiss nya.
"Aku merindukanmu." Bisik pria itu lirih di antara hembusan nafasnya yang hangat hingga menyusup di sela pori-pori kulit lehernya yang jenjang.
Kuciran kuda pada rambutnya semakin membuat pria itu bebas melakukan kecupan-kecupan kecil di leher jenjang itu. Anin menggigit bibir bawahnya menahan lenguhan yang hendak keluar karena cumbuan mesra itu. Entah kenapa dia malah menikmatinya bukan menolaknya.
"Kita... bukan dalam keadaan untuk saling merindukan. Apalagi anda bukan siapa-siapa saya. Begitu juga sebaliknya." Ucapan Anin mampu menghentikan kecupan intens yang dilakukan pria itu pada leher jenjang Anin.
Pria itu langsung melepas pelukannya dan membalikkan tubuh Anin hingga mereka kini berhadapan. Keduanya saling menatap intens, seolah saling melihat apa yang dirasakan pada kedua mata mereka. Pria itu membelai pipi Anin lembut.
"Cantik." Guman pria itu membuat pipi Anin sontak memerah.
Jemari tangan pria itu mulai menyusuri sudut bibir mungil Anin yang dikecupnya tanpa permisi tadi membuatnya menginginkan lebih dari sekedar kecupan ringan. Pria itu melum*at bibir itu, mencium, menghisap dengan penuh hasrat. Anin hanya terdiam, dia tidak menolak juga tidak membalas.
Namun gigitan kecil di bibirnya mampu membuat Anin mengerang hingga lidah pria itu mulai masuk ke dalam mulut Anin, mengabsen setiap giginya, bergelut dengan lidah yang masih saja diam dan entah sejak kapan lidah Anin ikut bergerak mengikuti belitan lidah asing yang masuk ke dalam mulutnya yang terasa memabukkannya.
Entah sejak kapan lengan Anin sudah melingkar di leher pria itu dan mulai ikut membalas ciuman panas itu hingga keduanya sama-sama hampir kehabisan nafas dan pria itu melepasnya. Keduanya menghirup udara sebanyak-banyaknya karena merasa ciuman itu tidak akan hanya berakhir begitu saja.
"Aku mencintaimu Anin." Bisik pria itu kembali melum*at dan memagut bibir mungil yang segera akan menjadi candu baginya itu.
Anin yang terkejut dengan pernyataan cinta yang tak disangka-sangka itu sontak membalas ciuman itu dengan lebih liara juga.
TBC
Maafkan typo
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak
Beri like, rate dan vote nya makasih 🙏🙏