
"Masuk tuan." Jo hanya mengangguk dan masuk ke dalam apartemen.
"Papi." Panggil Anin saat Jo muncul di ruang tamu.
"Hai princess.." sapa Jo tersenyum, memeluk tubuh Anin dan dibalas pelukan juga.
"Mari tuan!" Ajak Maya menuju kamar si kembar, Jo mengernyit bingung mengikuti langkah Maya. Dia masih bertanya-tanya kenapa di bawa ke sebuah kamar.
"Mbak Karin sedang pergi dengan mas Bram tuan. Jadi dia meminta saya menunjukkan pada tuan." Entah kenapa dada Jo terasa sesak mendengar istri ah tidak mantan istrinya, Jo sudah menjatuhkan talaknya.
"Menunjukkan... Apa?" Jo masih belum paham sepenuhnya.
Cklek
Pintu kamar terbuka, Jo mengintip siapa gerangan yang ingin ditunjukkan padanya.
"Setelah pernikahan, mas Bram janji akan menganggap mereka sebagai putra kandungnya dan mencatat mereka ke dalam KK keluarga sebagai anak sahnya." Jo masih belum mengerti, dia masuk ke dalam kamar melihat bi Ijah, ah Jo mengenal bi Ijah dia pelayan yang sudah sejak mereka kecil bekerja di mansion Bram.
Jo menatap dua bayi berusia sekitar enam bulanan yang sedang bermain-main dengan gembiranya langsung menoleh menatap Jo yang mendekatinya.
"Pa..."
"Pa.."
Suara cadel si kembar yang mulai berceloteh memanggil Jo tanpa sadar.
Entah kenapa perasaan Jo senang dan membuncah bahagia saat melihat kedua bayi-bayi gempil itu memanggilnya papa. Jo langsung memeluk tubuh kedua bayi itu dalam pelukannya. Air matanya mengalir terharu.
"May, apa ... Mereka..." Jo tak melanjutkan ucapannya saat melihat anggukan kepala Maya.
"Dia anak-anak anda tuan. Anak-anak kandung anda. Ini..." Maya menyodorkan sebuah surat yang sudah sangat lama, terlihat surat kelahiran dua bayi tujuh bulan lalu dengan nama ayah Jonathan Alensio.
Jo merebut surat itu, membacanya dengan teliti kapan, dimana dan tanggal lahir keduanya. Dan namanya juga menggunakan hampir sama dengan namanya John Terry Alensio dan Josh Terry Alensio. Jo merasa terharu, begitu bodoh dirinya.
Karina bukan wanita murahan yang akan dengan mudahnya menerima pria lain. Seharusnya dia tahu karena begitu mencintainya Karina tak mungkin mengkhianati apalagi mereka masih berstatus suami istri.
"Apa maksudmu? Tadi kau bilang Bram akan mengadopsinya dan menganggapnya sebagai anak-anaknya?" Tanya Jo tak sabaran. Maya mengangguk.
"Tidak, mereka anak-anakku Maya. Bagaimana mungkin Bram menjadi ayahnya?" Seru Jo sambil menggelengkan kepalanya bolak-balik.
"Bukannya tuan sudah melepas mbak Karina dan mereka?"
"Tapi... Kenapa Karin.. Tidak... Tidak... Aku tak akan melepaskannya."
"Terlambat tuan, mereka sudah mengurus pernikahan dan pernikahan mereka akan dipercepat besok."
"Tidak May, aku harus mencegah mereka. kemana mereka pergi? Kemana tujuan mereka May?" Jo mendesak Maya dengan memegang kedua bahunya.
__ADS_1
***
Jo melajukan mobilnya menuju tempat pasangan calon pengantin itu pergi. Dalam perjalanan.
Flashback on
"Mbak Karin bertemu mas Bram saat dia hamil dua bulan, mas Bram yang selalu mendampinginya di setiap saat setiap waktu. Bahkan saat mbak Karin mengalami morning sickness mas Bram terus berada di sisinya tanpa rasa jijik. Mas bram berkali-kali melamar mbak Karin namun selalu ditolaknya berkali-kali pula. Dan aku tahu cintanya masih terpaut pada anda tuan." jelas Maya.
"Maafkan aku Karin, maaf... bodohnya aku. Begitu besar dan sulitnya perjuanganmu demi buah cinta kita. Kenapa kau tak pernah memberi tahukan padaku." Jo terisak di sofa ruang tamu.
"Mbak Karin mengira tuan sudah hidup bahagia dengan wanita yang dijodohkan dengan anda."
"Tidak, itu tidak benar. Bahkan aku sudah kabur ke Rusia untuk mencari kalian. Tapi hasilnya nihil. Bahkan aku pernah bertemu Karina di bandara hingga aku kecelakaan dan koma. Tapi saat itu Karin dengan suami bulenya dan dia bilang tak mengenaliku dan dia.. Pakaiannya sangat minim." Jo berhenti terisak saat mengingat kejadian sebelum dirinya kecelakaan dan koma.
"Maksud tuan mbak Katrina?" Ucap Maya.
"Katrina siapa dia?"
"Dia saudara kembar mbak Karin. Dia dititipkan pada neneknya sejak kecil di luar kota. Dan mereka baru bertemu sebelum kembali ke tanah air. Dia tinggal di Kanada dengan suaminya dan seorang putranya." Jelas Maya.
Flashback off
"Bodohnya aku." bisik Jo di dalam mobilnya.
Setelah kurang lebih satu jam, Jo tiba di mansion milik orang tua Bram. Jo memarkir mobilnya sembarangan, dia tampak tergesa-gesa dan segera masuk ke dalam mansion mencari keberadaan mereka.
"Mereka sedang makan malam di ruang makan." belum selesai pelayan itu bicara Jo segera berlari di meja makan.
Semua orang yang ada di meja makan sontak menoleh menatap Jo yang baru datang dengan wajah kusut, sembab dan nafas ngos-ngosan seperti habis dikejar hantu. Karina membelalak melihat Jo tiba-tiba muncul di mansion orang tua Bram.
Seketika tubuh Karina menegang. Bram terlihat santai dari sorot matanya tak terganggu sama sekali. Jo masih berusaha mengatur nafasnya sebelum mulai berbicara.
"Ada apa Jo? kenapa kau berlari-lari seperti di kejar hantu seperti itu?" tegur Erika yang memang sudah akrab dengan putranya itu.
Jo tidak menjawab, setelah dirasa nafasnya sudah kembali teratur. Jo mendekati Bram yang duduk di sebelah kanan meja dengan Karina duduk di seberangnya berjajar dengan Erika.
Karina semakin menegang tak karuan, dirinya meremas kedua tangannya di bawah meja tampak gemetar dan gugup. Tampang intimidasi Jo mendekat pada Bram. Bram balik menatap tanpa takut melihat raut wajah Jo.
"Ada apa?" Jo langsung berlutut di hadapan Bram.
Membuat semua orang terkejut dengan perlakuan Jo yang tak pernah merendahkan diri di hadapan siapapun. Kini Jo sudah tak peduli, demi ibu anak-anaknya dan anak-anak, Jo rela melakukannya. Bram melengos tak peduli dengan sikap Jo. Dia melanjutkan makannya dengan tenang.
"Jo, Apa yang kau lakukan?" Erika lah yang malah bertanya hal itu pada Jo.
Karina menatap Jo cemas, dan menoleh pada Bram yang terlihat tenang tak menghiraukan Jo sama sekali.
"Kau boleh minta apapun padaku, kau boleh minta seluruh hartaku. Tapi aku tak bisa memberikan istriku untukmu." ucap Jo akhirnya, semua orang yang ada di meja makan tersentak.
__ADS_1
Bram masih tetap tenang. Karina menunduk diam tak berkomentar apapun.
"Istri? Apa maksudmu Jo? istri siapa? Apa yang sebenarnya terjadi disini?" Erika merasa bingung dan menatap semua orang yang ada disitu satu persatu.
Namun tampaknya tak ada yang akan berusaha untuk menjawabnya.
"Kumohon Bram, demi anak-anak kami. Jangan pisahkan kami lagi. Kasihan anak-anak kami." Jo semakin dalam memohon pada Bram untuk berbelas kasih padanya.
Dia rela akan melakukan apapun meski itu harus merendahkan dirinya lebih dalam lagi.
"Anak-anak? Anak-anak siapa Jo? anakmu?Kenapa semua ini membingungkan? Tak adakah yang menjelaskan pada mama?" teriak Erika pada semua orang yang ada disitu.
Papa Jo yang memang orangnya cuek hanya diam. Putranya sudah cukup umur untuk mengatasi masalahnya, dan dia tak berencana untuk ikut campur. Papa Bram hanya cukup percaya pada putranya bahwa keputusan apapun yang diambil papa Bram akan menghormatinya.
"Bolehkah kami bicara berdua ma?" ucap Bram dengan tatapan memohon pada kedua orang tuanya, dia bahkan tak menatap Karina sekalipun. Karina hanya terus menunduk merasa bersalah.
"Bram akan jelaskan nanti setelah kami bicara." Bram bicara lagi membuat Erika menghela nafas berat.
Bram mengusap mulutnya dengan serbet di meja makan dan berdiri menuju ruang kerjanya yang diikuti Jo yang sekilas menatap Karina yang hanya tertunduk tak berani menatap semua orang.
TBC
Ah, akhirnya mereka bertemu...
Gimana?
Gimana?
Sudah puas kan Jo bertemu dengan si kembar...
Ditunggu aja ya dengan sabar, semua ada prosesnya...
Bukannya bertele-tele...
Memang semuanya ada urutannya...
Biar sistematis...😁😁
Oh ya
Jangan lupa tinggalkan jejak...
Beri like, rate dan vote nya...
Biar saya lebih semangat nulisnya...😉😉
Makasih masih mengikuti karya saya dan mendukungnya 🙏🙏
__ADS_1