
Anin tampak malas memasuki kelas kuliah pagi itu. Dia tak bersemangat sekali. Ingin dia membolos, namun alasan apa yang akan dikatakan pada mommynya. Pasti dia akan diinterogasi secara mendetail oleh mommynya.
"Kenapa kau kelihatan tak bersemangat?" Tanya Nara yang saat itu sedang menyalin tugas Anin.
Bukan jawaban yang didapat tapi helaan nafas dihembuskan oleh Anin sambil memejamkan matanya.
"Hei, kau ini kenapa? Setelah pulang kemarin kau tak bersemangat, diajak makan juga menolak." Ucap Nara lagi.
"Nara..." Panggil Anin tiba-tiba.
"Ya?" Nara menghentikan gerakannya, menatap Anin lekat.
"Aku patah hati." Jawaban Anin membuat Nara membelalakkan matanya kaget tak percaya, sahabatnya ini tidak terlihat berpacaran atau ada orang yang disukainya.
Tapi kenapa patah hati? Atau bertepuk sebelah tangan?
"Tunggu... tunggu...! Kau bercanda kan?" Tanya Nara masih tak percaya.
"Sudahlah!" Anin kembali menelungkupkan kepalanya di meja.
"Hei, cerita lebih jelas dong!" Desak Nara penasaran.
"Selamat pagi anak-anak." Sapa dosen yang baru masuk ke kelas mereka.
Dan Nara terpaksa menjeda rasa penasarannya karena dosen keburu masuk kelas.
***
Guntur memasang dasinya dengan tatapan mata kosong ke arah cermin di dalam kamarnya. Sudah tak terdengar berisik di luar kamar yang diyakini Alea sudah meninggalkan apartemennya. Dia bukannya menyukainya gadis itu.
Tapi Guntur hanya menganggapnya seperti kepada adiknya sendiri. Padahal dia sudah memohon pada Alea untuk menolak perjodohan itu namun jawabannya membuat Guntur tak bisa berkutik.
"Bisakah kau menolak perjodohan itu? Aku... ada gadis lain yang kusukai." Pinta Guntur saat itu.
"Aku mencintaimu mas... jauh sebelum perjodohan itu terjadi. Aku pun juga sudah berusaha menolak, tapi papa mengancam ku tidak akan membantu perusahaan mas. Apa mas setuju?" Jawaban Alea membuat Guntur terdiam.
Tak ada cara lain selain melaluinya. Toh dia juga belum tahu apa gadis yang disukainya itu juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Bagaimana kalau dia menolak karena aku orang tua baginya. Bagaimana kalau dia sudah punya kekasih? Bagaimana kalau....?
Guntur tak berani melanjutkan angan-angannya. Dia sudah buntu untuk berusaha membatalkan perjodohan ini.
Hingga akhirnya sebulan setelah orang tua mereka memberi tahunya tentang perjodohan itu. Mereka pun bertunangan. Guntur menolak acara pertunangannya di besar-besarkan, toh saat pernikahan pasti juga akan ada pesta. Dan itu harus terpaksa disanggupi oleh Alea.
Suara dering ponsel Guntur membuyarkan lamunannya yang belum selesai juga memasangkan dasinya. Guntur tersentak dan langsung menghampiri ponselnya yang terletak di meja nakas.
"Ya?"
"Meeting akan dimulai satu jam lagi pak." Beritahu asisten Guntur yang bernama Raka, dia sudah menunggu bosnya itu di kantor sejak satu jam yang lalu.
Dia sudah bisa menebak tentang bosnya itu akan lupa atau terlambat mengingat semalam bosnya pamit untuk pergi ke klub. Dan Raka yakin, bosnya itu pasti akan mabuk lagi.
Tapi sungguh beruntung Raka semalam karena tidak diminta untuk menjemput bosnya itu. Karena tunangan bosnya itu sudah bertanya kemana Guntur sesore itu tak langsung pulang ke apartemen. Padahal di kantor sudah sepi.
__ADS_1
"Aku tiba setengah jam lagi." Jawab Guntur langsung menutup ponselnya tanpa menunggu jawaban Raka.
***
Guntur mengendarai mobilnya menuju perusahaannya dengan kecepatan sedang. Dia akan bertemu dengan investor baru yang akan menanam saham di perusahaan. Dia sungguh senang, perusahaannya hampir pulih kembali. Apalagi kata asistennya investor ini adalah dari perusahaan terkenal di kotanya.
"Kita bertemu dimana?" Tanya Guntur begitu tiba di kantor sudah ditunggu oleh Raka.
"Di restoran XXX, beliau akan datang setengah jam lagi. Kita setidaknya harus datang sebelum beliau datang. Atau kita akan gagal dengan kerjasama ini." Jelas Raka bernada sindiran. Guntur melirik sebal pada asistennya itu, karena dia tahu apa maksudnya.
**
Tak sampai setengah jam, mobil Guntur sudah terparkir sempurna di parkiran restoran XXX. Guntur keluar dari dalam mobil diikuti Raka. Dia masuk ke ruang VIP yang sudah direservasinya. Kliennya sepakat untuk bertemu di restoran sambil sarapan pagi.
Cklek
Seorang pria masuk diikuti pria juga yang mungkin adalah asistennya juga.
"Selamat pagi tuan." Sapa Guntur ramah sambil menundukkan kepalanya sopan setelah diberitahu asistennya.
"Selamat pagi." Sapa balik klien itu yang membuat Guntur mendongak merasa mengenali kliennya itu.
"Tuan Jonathan?" Ucap Guntur yang membuat Jo sontak menatap Guntur yang mengenalinya.
"Kamu...???"
"Saya Guntur tuan, saya dulu pernah menjadi guru sekolah Anin, putri tuan." Jelas Guntur, menyebut nama itu membuatnya seketika menjadi ingat kejadian semalam yang seperti mimpi itu. Dia sungguh sangat merindukan gadis itu setiap hari.
"Pak Guntur?" Jawab Jo mengernyit.
"Saya sekarang meneruskan perusahaan ayah saya, jadi sekarang saya sudah berganti profesi." Jawab Guntur ramah sambil tersenyum.
"Hahahaha.... kau sungguh tak bisa ditebak ya pak guru." Jawab Jo tertawa sopan.
"Anda bisa panggil saya Guntur, bagaimana pun juga saya sudah bukan lagi pak guru." Ucap Guntur membuat Jo semakin tertawa saja.
"Kau pantas menjadi apapun. Sayang sekali, kau lebih pantas menjadi seorang guru daripada seorang pebisnis, anda terlihat dingin. Tapi masih tetap tampan kok, hahaha...." Tawa Jo kembali memenuhi ruang VIP itu dan Guntur pun ikut tersenyum.
'Niat hati ingin bertekad melupakan putrinya, sekarang perusahaan kami harus saling bekerjasama, apa ini takdir? Batin Guntur bertanya-tanya sementara pelayan meletakkan sarapan mereka.
***
Anin berjalan mengelilingi rak buku toko buku di pusat kota. Karena ada buku yang dibutuhkannya untuk mengerjakan tugasnya. Satu persatu rak buku dilewati untuk mencari-cari apa yang dibutuhkannya.
"Nindi..." Panggil seseorang saat dia sibuk meneliti satu persatu buku. Anin menoleh menatap ke arah suara.
"Kak..." Guman Anin namun dia beralih pada wanita yang bergelayut mesra di lengan Dimas yang Anin yakini bukanlah kekasih pria itu, karena bukan sahabatnya yang digandeng.
"Siapa kak?" Tanya wanita yang menggandengnya itu.
"Sebentar." Dimas melepaskan gelayutan tangan wanita itu.
__ADS_1
Namun Anin segera berbalik dan meninggalkan Dimas.
"Nindi, tunggu! Boleh aku bicara sebentar?" Pinta Dimas membuat Anin mau tak mau berbalik lagi.
"Kurasa kita bukan dalam situasi seperti teman yang berbincang?" Jawab Anin menatap Dimas tajam dan datar.
"Please." Pinta Dimas memelas.
***
Kini keduanya sudah duduk di cafe lantai bawah. Mereka memesan minuman yang sudah dibawakan ke meja mereka.
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan?" Ucap Dimas ragu setelah lama terdiam.
"Memang apa yang aku pikirkan?" Jawab Anin balik bertanya.
"Dia bukan pacarku. Pacarku hanya Nara." Jelas Dimas ragu.
"Lalu?" Dimas mengernyit tak suka melihat reaksi Anin yang biasa-biasa saja.
Padahal dia sudah cemas Anin akan membocorkan rahasianya pada sahabatnya Nara yang juga kekasih Dimas.
"Aku tahu kau tak mengatakan apapun pada Nara. Dan aku juga merasa bersalah padanya." Ucap Dimas.
"Lalu, kenapa kakak mengulanginya jika merasa bersalah?" Tanya Anin kepo. Dia selalu kepo kalau itu menyangkut orang terdekatnya.
"Aku tidak menyukainya." Jawaban Dimas mampu membuat Anin kesal, bagaimana bisa seniornya itu bisa begitu mudah mengatakan kalau dia tak menyukainya.
"Kalau tak menyukainya, kenapa kakak masih menjadikannya kekasih?" Tanya Anin kesal.
"Dia yang selalu mengejar-ngejarku, aku merasa kasihan dan akhirnya menerima pernyataan cintanya. Dia pun sudah berkali-kali kutolak, tetapi tetap tak menyerah." Jelas Dimas membela dirinya.
Anin menghembuskan nafasnya lelah, yang dikatakan dimas memang benar. Sahabatnya itu begitu tergila-gila pada seniornya ini. Bahkan dia sudah seperti tak mempunyai harga diri saat mengejar mati-matian seniornya ini.
"Harusnya kakak bisa tegas menolaknya saat itu. Atau paling tidak mengatakan kakak punya kekasih." Marah Anin semakin kesal.
"Aku sudah mengatakannya, dan dia akan menungguku, hingga aku sudah putus dengan kekasihku, dia langsung menyatakan cintanya lagi dan mengajakku pacaran. Padahal ada seseorang yang benar-benar kusukai." Jelas Dimas yang entah kenapa saat mengucapkan kata-kata terakhirnya, wajahnya memerah.
Anin dibuat heran dengan pergantian rona wajah seniornya itu, namun dia mencoba acuh.
"Kalau memang kakak tak menyukainya, kakak seharusnya memutuskannya. Jangan memberikan harapan palsu padanya. Kakak boleh bergonta-ganti pasangan, tapi kalau sampai kakak menyakitinya, aku tak akan diam." Anin sudah berdiri dari kursinya namun Dimas segera menarik pergelangan tangan Anin. Anin tersentak langsung menghentaknya.
"Aku menyukaimu Nindi...." Anin tersentak dan menatap wajah Dimas lekat.
"Aku mendekati kalian, karena kaulah gadis yang kusukai, bukan Nara..." Jawaban Dimas membuat Anin mundur beberapa langkah menghindari seniornya.
"Tapi maaf kak, aku tak menyukai kakak. Bahkan aku sekarang jadi infil melihat kakak bergonta-ganti pasangan." Anin langsung pergi meninggalkan Dimas yang terlihat terkejut melihat penolakan Anin padanya. Dia pun terduduk lemas di kursi itu.
TBC
Beri like, rate dan vote nya
__ADS_1
Makasih 🙏🙏
Maafkan typo