
Jo berdiri di bawah shower kamar mandi di dalam kamarnya. Pikirannya berkelana kembali di kejadian beberapa jam lalu. Karena cemburu dirinya hampir kehilangan kendalinya, hampir saja dia menyakiti istri dan anak dalam kandungan istrinya.
Untung saja kewarasan Jo segera kembali saat melihat perut buncit istrinya yang mungkin bulan depan anak yang katanya seorang perempuan itu akan segera melihat dunia.
Flashback on
Jo menghentak di bawah sana tanpa melakukan pemanasan. Setelah menyerang bibir istrinya dengan brutal dan liar, Jo melepas ikat pinggang, resleting celananya dan langsung menghentakkan memasuki tubuh istrinya setelah merobek ****** ***** istrinya. Karina terlihat meringis kesakitan namun ditahannya.
Dia merasa bersalah, tapi suaminya harusnya tak memperlakukannya sekasar itu. Bagaimana pun juga bukan keinginan Karina berada di antara anak dan mantan suaminya. Karina sudah mencoba berusaha untuk menghindari hal-hal yang mungkin bisa terjadi. Namun keadaan psikis putrinya baginya sekarang adalah prioritas.
Trauma karena kejadian buruk beberapa waktu lalu akan membuat putrinya menjadi trauma lagi jika dia mencoba menolak keinginan putrinya yang ingin bersama orang tua kandungnya.
"Ukh..." Karina menutup mulutnya namun rasa sakit tak dapat ditahannya.
Suaminya menghentak-hentak di bawah sana dengan sangat kasar. Namun Karina tak munafik, dia juga merasakan antara sakit juga nikmat. Dia hanya memegangi perutnya agar tak terjadi apapun pada bayi mereka. Jo terlihat tak peduli dengan kesakitan yang ditahan istrinya. Dia terus saja menghentakkan pinggulnya mencapai kepuasan.
Pikirannya berkecamuk terbayang kembali suara tawa mereka bertiga seolah keluarga kecil itu kembali bersatu. Hati Jo kembali memanas, dia mendudukkan dirinya serta membalikkan tubuh istrinya hingga istrinya duduk di pangkuan dan punggungnya bersandar di dada bidangnya.
"Kau hanya milikku Karin... you're mine.." bisik Jo posesif dari belakang telinga istrinya sambil membantu menarik tubuh istrinya ke atas dan ke bawah dengan penyatuan mereka yang masih berlanjut.
"Aahh...ah.. akhhh..." desahan Karina tak mampu ditahan lagi.
Rasa nikmat campur aduk dirasakannya di bawah tubuhnya. Tubuhnya terasa remuk karena hampir satu jam suaminya belum melepaskannya.
Sudah lebih dari tiga kali Karina mendapatkan pelepasannya namun suaminya terlihat enggan untuk mengakhirinya. Padahal suaminya pun sudah mendapat pelepasan. Namun seolah teringat sesuatu, suaminya kembali menyerangnya.
Tanpa terasa satu jam pergulatan panas itu terjadi, Jo mengerang nikmat mendapatkan kepuasannya. Namun istrinya hanya diam lemas.
Jo membaringkan tubuh istrinya di ranjang, menatap wajah terlelap istrinya merasa bersalah. Seharusnya Jo tahu istrinya tak mungkin melakukan sesuatu yang tidak disukainya. Dia pasti melakukannya karena suatu alasan.
"Maaf... maafkan aku baby... maaf..." Jo mengecup kening istrinya berkali-kali, tanpa sadar air matanya mengalir merasa bersalah karena melampiaskan kecemburuannya pada istrinya yang tidak bersalah.
Dikecupnya seluruh wajah istrinya yang sedikit terbuka menatap suaminya. Rasa lelah dan kantuknya membuat Karina melirik sebentar suaminya dan bibirnya memancarkan senyum manisnya.
"Maaf baby... maafkan aku..." bisik Jo lagi tak dijawab oleh Karina karena terlanjur tidur karena kelelahan.
Flashback off
Jo keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan berbalut handuk di pinggangnya. Menatap istrinya yang terlelap dengan tubuh polosnya diselimuti sebatas leher. Jo masuk ke dalam walk-in closet untuk mencari pakaian santai di tubuhnya.
Jo terduduk di depan wajah istrinya yang terlelap. Tampak raut wajah lelah namun bahagia terlukis di wajah cantik itu. Jo mengecup bibir istrinya lembut, membuka selimut istrinya. Tubuh polosnya sudah memakai piyama tidur yang Jo kenakan agar tak terlalu dingin.
__ADS_1
"Baby, are you okay? I am sorry. Daddy menyakitimu? I am so sorry baby." bisiknya di depan perut buncit istrinya dan mengecup perut itu beberapa kali.
Selimut dikembalikan ke semula. Tak lupa dirinya kembali mengecup kening istrinya baru kemudian dia keluar dari dalam kamar menuju ruang olahraga. Dia butuh melampiaskan dirinya agar tak terbawa emosi jika berada dekat dengan mantan suami istrinya.
Ah, Jo ingin sekali memukul wajah pria brengsek itu karena dulu pernah ada di hidup istrinya.
***
Waktu menunjukkan pukul hampir jam tiga sore, Karina terperanjak dari tidur lelapnya. Menatap ke sekeliling kamar tak dijumpai suaminya berada di sisinya.
"Mas..." bisik Karina lirih. "Apa yang dilihatnya tadi mimpi?" bisik Karina.
Dia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sebentar lagi anak-anaknya bangun, ah tidak mungkin malah sudah bangun.
Tak sampai lima belas menit, Karina mencari keberadaan suaminya yang tak dia temukan di manapun.
"Bibi lihat Daddy anak-anak?" tanya Karina melihat pengasuh Hana hendak ke dapur.
"Tadi saya lihat tuan ada di ruang olahraga nyonya." jawab bibi.
"Sejak kapan bi?" tanya Karina cemas.
"Sejak keluar dari kamar tuan dan nyonya. Tuan terus di ruang olahraga nyonya." jawab bibi gugup.
Sekedar melampiaskan kemarahannya dengan bermain samsak. Dan itu tak mau diganggu. Dia akan keluar sendiri jika merasa amarahnya sudah reda. Namun selalu tak lebih dari setengah jam suaminya mengurung diri di dalam ruangan itu. Kalau bisa lebih dari satu jam itu artinya kemarahannya bukan main-main dan hal itu sulit dikendalikan olehnya.
"Bangunkan anak-anak untuk segera mandi ya bi!" titah Karina.
"Baik nyonya." jawab bibi berlalu menuju kamar anak-anak.
**
Karina mengetuk pintu ruang olahraga. Tak ada sahutan atau jawaban dari dalam. Sudah tiga kali Karina mengetuknya dan memanggil-manggil suaminya. Dia takut terjadi sesuatu dengan suaminya karena terlalu lama di dalam.
"Mas... kau di dalam?" seru Karina yang tak disahut siapapun.
"Mas... aku masuk ya!" pinta Karina memaksa masuk ke dalam.
Karina menatap sekeliling ruangan dan menemukan suaminya sedang berlari di atas treadmill dengan telinga disumpal dengan headset.
"Pantas saja gak dengar, wong telinganya disumpal headset." guman Karina mendekati suaminya perlahan agar tak mengejutkannya.
__ADS_1
"Mas..." panggil Karina agak lantang namun suaminya tak menengok.
"Mas..." lagi-lagi Jo tak menengok. Karina berdiri di depan treadmill berharap tanpa dipanggil suaminya akan melihatnya.
"Astaghfirullah... baby.. kau mengejutkanku." teriak Jo mematikan treadmill nya dan turun dari situ.
Karina menyerahkan sebotol air mineral yang sudah disiapkan di meja olahraga oleh suaminya sendiri. Jo menerimanya setelah melepas headset nya.
Keduanya masih diam saat Jo meneguk air minumnya setelah duduk di kursi terdekat yang memang disediakan untuk istirahat. Jo menghela nafas, mengendalikan deru nafasnya yang memburu karena olahraga tadi.
"Maafkan aku mas.." bisik Karina lirih sambil menundukkan wajahnya tak berani menatap wajah suaminya yang mungkin masih marah.
Jo terdiam, sebenarnya dia sudah sedikit lupa dengan kejadian tadi. Namun permintaan maaf istrinya kembali mengingatkannya dan lagi-lagi mengingat pria mantan suami istrinya. Jo meneguk kembali air minumnya.
Karina melirik suaminya yang masih diam tak merespon dirinya. Jo menghela nafas panjang. Karina pun berdiri, lebih baik dia meninggalkan suaminya terlebih dulu. Terlihat suaminya masih belum bisa meredakan amarahnya.
Bruk..
Karina membelalak saat suaminya menarik pergelangan tangannya hingga dirinya terduduk di pangkuan suaminya. Spontan tangannya langsung melingkari leher suaminya agar dirinya tidak jatuh, apalagi membawa perut buncitnya.
"Maafkan aku juga... maaf telah menyakitimu..." bisik suaminya menyerukkan kepalanya di perpotongan leher istrinya.
"Maaf... pasti kau kesakitan tadi. Maaf..." Karina terdiam, dia memang kesakitan tadi, tapi dia bisa menerimanya dan beruntung anaknya dalam kandungan tak apa-apa.
"Bukan aku yang seharusnya menerima maafmu mas." jawab Karina membuat Jo mendongak menatap wajah istrinya lekat.
"Lalu?" Jo menunjukkan wajah kesal karena pikirannya mengarah pada mantan suami istrinya.
"Anin." Jo mengernyit.
"Anin?"
"Anin yang merasa sedih dan bersalah. Dia sejak tadi mengurung dirinya di kamar tak lagi berani keluar. Aku sudah membujuknya dan mengatakan kalau mas gak marah. Namun Anin bukanlah anak kemarin sore. Dia sudah bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah. Dia merasa bersalah karena melihat mas menarikku dengan kasar saat masuk kedalam kamar. Anin mengira mas menyakitiku dan itu semua karena dia. Bukan maksudnya untuk membuat mas marah, tapi semata-mata karena dia ingin bersama dengan orang tua kandungnya meski hanya sebentar. Anin tak sempat memikirkan perasaan mas. Aku pun terpaksa menurutinya karena tak mau Anin trauma lagi karena kejadian yang membuatnya trauma buruk baru saja sembuh." jelas Karina yang membuat air matanya menetes tanpa sadar.
Jo tersentak dan merasa bersalah. Sikap kasar yang ditunjukkan di depan putri sambungnya mempengaruhi kondisi psikis nya.
"Aku... harus menemuinya." jawab Jo.
"Makasih mas."
"No, baby. Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Sudah menyadarkan kesalahanku." Jo mengusap air mata istrinya. Mereka pun berpelukan mesra.
__ADS_1
TBC