Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 38


__ADS_3

Anin memutuskan untuk pulang ke rumah karena tubuhnya merasa tidak baik-baik saja pasca pertemuan dengan pria yang mengaku sebagai teman sekelasnya tadi. Anin langsung masuk ke dalam kamarnya setelah melihat tidak ada siapapun di rumah itu selain bibi asisten rumah tangga.


Anin menelungkupkan wajahnya ke bantal di ranjangnya. Entah sejak kapan air matanya terus menetes dengan tubuh yang terus gemetar. Anin pun tertidur dengan tubuh melingkar dengan kedua tangan melingkar di lututnya.


Waktu memasuki pukul delapan malam, Anin membuka matanya perlahan, dia tertidur hingga malam. Dan tak ada seorang pun di rumah itu berinisiatif untuk membangunkannya untuk makan malam mungkin. Namun hal itu harus segera ditepisnya, karena saat ini istri papanya atau mama tirinya sedang berkunjung ke rumah kakek dan neneknya dengan adik bayinya.


Tok tok tok


Pintu kamar Anin diketuk dari luar tepat setelah dia baru keluar dari dalam kamar mandi sudah dengan piyamanya bergambar hello Kitty.


"Ini bibi non." Suara di luar membuat Anin menatap pintu dan segera membukanya.


Cklek


"Ada apa bi?" Tanya Anin tersenyum ramah.


"Makan malam sudah siap sejak tadi non, mau makan malam di kamar atau di meja makan? Tadi bibi sudah ketok-ketok pintu sejam yang lalu tapi non sepertinya kecapean dan pulas tidurnya." Jelas bibi.


"Maaf ya bi, mungkin Anin capek. Anin akan makan malam di meja makan saja." Jawab Anin masih dengan senyum ramahnya.


"Iya non, akan bibi siapkan sekarang."


"Di rumah ada siap saja bi?" Tanya Anin ragu.


"Ah, tuan belum pulang, katanya lembur non. Nyonya akan menginap di mansion tuan besar. Non Vanya belum pulang sejak berangkat sekolah pagi tadi. Jadi... "


"Oh ya sudah bi, gak papa bi, Anin makan sendiri saja." Jawab Anin menyela ucapan bibi sambil memaksakan senyumnya.


Lagi-lagi dia harus makan malam sendiri, papanya lembur lagi. Vanya entah kemana, padahal Anin sebagai kakak sudah menasehati untuk jangan pulang malam. Namun jawaban Vanya lagi-lagi menyakitkannya.


"Lo gak usah ikut campur urusan gue, Lo hanya orang baru yang datang di rumah gue." Hati Anin langsung sakit mendengar ucapan Vanya yang sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri, namun agaknya tidak untuk Vanya.

__ADS_1


Dia malah semakin benci karena itu artinya dia terganggu dan papanya pasti akan semakin menelantarkannya. Anin mencoba sabar dengan mengelus dadanya, meredam amarahnya merasa karena yang dikatakan oleh Vanya.


***


Jo menyandarkan tubuhnya di kursi ruang kerjanya yang terlihat nyaman. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, dia sudah pamit pada istrinya akan terlambat pulang karena ada hal yang harus dilakukan mengenai pekerjaannya. Dan sekarang dia juga baru selesai mengerjakannya, dan itupun baru hal yang mendesak saja, belum hal yang harus dilakukan besok atau lusa dan hari berikutnya lagi.


Jo menghela nafasnya panjang, mencoba bersabar dengan banyaknya pekerjaannya akhir-akhir ini. Saat mengingat Rian, dia lagi-lagi teringat cerita asistennya itu tentang pertemuannya dengan Anin.


"Ah, sudah malam, apa aku tak mengganggunya jika menghubunginya malam-malam begini?" Guman Jo menatap ponselnya. Masih ragu antara jadi tidaknya dia untuk menghubungi putrinya itu.


"Naik taksi? Anin naik taksi? Apa Ken semiskin itu hingga tidak bisa membelikan putrinya mobil. Anin kan lagi butuh-butuhnya mobil di umur segini. Apalagi kebutuhan sekolah tentang apa tadi ...uh... PKL iya, Anin kan sekarang lagi masa PKL untuk tambahan nilai mendekati ujian kelulusannya. Bagaimana dia bisa konsentrasi belajar jika, mau kemana-mana saja tak ada mobil, motor juga, dan naik taksi? Brengsek kau Ken, seharusnya jangan sok ingin merawatnya jika tak sanggup memfasilitasi mobil pada putriku." Oceh dan omelan panjang Jo entah pada siapa.


Iseng-iseng dirinya melihat room chat Anin ternyata Anin masih online malam itu. Jo segera mengetikkan apa yang ingin dikatakannya.


'Sudah tidur princess?' isi chat Jo. Jo menunggu dan yup... Anin sedang mengetik. Jo tak sabar menunggu balasan putrinya.


'Belum dad, masih mengerjakan tugas.' Jawab chat Anin.


Sedang di tempat Anin, dia sungguh bersorak gembira Daddy nya menghubunginya terlebih dulu.


Dia melihat sekilas sekitar kamarnya yang tampak rapi. Karena Anin memang tidak suka kamarnya berantakan apalagi kamar pribadinya. Anin sudah diajarkan oleh mommy Karina sejak kecil untuk rapi pada barang-barang pribadinya atau cara berpakaiannya.


'Yes, daddy.' isi jawaban chat Anin.


Tak sampai menunggu lama, Jo melakukan panggilan skipe nya melalui laptopnya.


"Daddy." Seru Anin antusias langsung menutup mulutnya karena dia setengah berteriak.


"Assalamualaikum princess..." Ucap Jo tersenyum senang melihat antusias nya putrinya hingga lupa mengucapkan salam.


"Wa'alaikum salam Daddy, maaf..." Jawab Anin menundukkan kepalanya merasa bersalah.

__ADS_1


"No problem princess. Kau pasti mengharapkan Daddy menghubungimu ya?" Ucap Jo tersenyum.


"Yes, Daddy. I miss you, juga mommy dan adik-adik." Jawab Anin membuat Jo terdiam.


Entah kenapa sorot mata Anin terlihat berbeda hari ini. Namun Jo tak mau mengambil kesimpulan gegabah. Dia akan perlahan membuat putrinya nyaman sehingga mengatakan apa yang terjadi dengannya.


Apakah terlalu capek dengan tugas sekolahnya mendekati kelulusan sekolah menengah atasnya? Jo sungguh penasaran.


"Miss you too princess. Semua yang di mansion juga merindukanmu. Seharusnya kau sesekali mengunjungi kami di mansion." Ucap Jo, Anin terdiam.


Senang sekali dirinya sebenarnya jika dia bisa mengungkapkan perasaannya jika dia ingin kembali ke mansion Daddy nya namun lagi-lagi Anin harus menjaga perasaan papanya. Bagaimana pun dia yang sudah memutuskan untuk tinggal dengan papanya dan meninggalkan mommynya yang sebenarnya sangat tidak menyetujui saat dirinya ikut papanya.


"Aku sibuk Daddy, lagi pula aku sedang mengurus tempat PKL ku, dan konsentrasi belajar untuk ujian kelulusan." Elak Anin berusaha untuk menghindar.


Jo terdiam, dia tahu Anin mencoba berbohong dengan alasan sibuk belajar.


"Baiklah. Daddy mengerti, kuharap Anin tak mencoba menghindari kami." Tohok Jo yang membuat Anin merasa bersalah.


Namun suara bentakan dan teriakan tiba-tiba terdengar di lantai bawah rumah Anin. Jo yang samar-samar juga mendengarnya mengernyit heran.


"Dari mana suara itu princess?" Tanya Jo cemas.


"Mak... maksud Daddy ... su... suara apa?"


Plak...


Suara tamparan juga terdengar dari lantai bawah rumah Anin, membuat Jo semakin cemas saja.


"Ada apa Anin? Suara gaduh apa itu?" Tanya Jo mendesak hingga wajahnya mendekat pada laptop.


"Aku tutup dulu ya daddy, nanti aku hubungi lagi. Assalamualaikum." Anin segera menutup panggilan video call nya. Dan berlalu keluar kamar.

__ADS_1


Jo yang di seberang mencak-mencak melihat Anin menutup panggilan video call nya. Apalagi terjadi suatu pertengkaran di rumah itu. Jo semakin penasaran saja apa yang terjadi disana, dia takut jika Anin mengalami hal yang sama.


TBC


__ADS_2