Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 67


__ADS_3

Alea mengumpat kesal, karena sejak tadi dia berdiri di depan pintu masuk tempat butik yang didatanginya. Pria yang menjadi tunangannya itu tadi izin ke toilet namun hingga tiga jam berlalu tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Padahal Alea sudah selesai memilih pakaian mana saja yang menariknya dan ingin segera membayarnya.


Alea memutuskan untuk membayar pakaiannya nanti setelah Guntur datang dari toilet. Namun setelah dirinya capek menunggu hampir satu jam lagi. Guntur tak muncul lagi, malah terkesan kabur atau melarikan diri dari kencannya dengan Alea.


Alea mengepalkan tangannya menahan amarahnya yang bisa saja meledak di butik itu. Namun Alea masih memiliki rasa malu untuk tidak marah-marah tidak jelas di tempat umum.


Alea berusaha menghubungi ponsel Guntur namun lagi-lagi panggilannya di riject oleh tunangannya itu. Lagi-lagi Alea mengumpat kesal. Orang yang kebetulan lewat di sekitarnya bergidik ngeri mendengar umpatan Alea.


Alea pun memutuskan untuk kembali pulang ke rumah dengan menahan amarahnya. Baru kali ini, Guntur meninggalkannya dari butik mall. Karena biasanya meski Guntur tak suka diajak jalan-jalan ke mall pasti selalu menunggunya karena ingat ancaman ayahnya. Berbeda dengan hari ini, Guntur benar-benar telah berani melawannya.


***


Setelah sore tadi mengantar Anin ke apartemen sahabatnya. Guntur pulang ke apartemennya. Namun dalam perjalanannya ayahnya menghubunginya untuk pulang ke rumah sekarang juga. Tentu saja dengan ancaman yang membuat Guntur tak memiliki pilihan lain selain menuruti perintah ayahnya.


Plak


Tamparan keras melayang ke pipi Guntur saat dia melintas di ruang keluarga. Sepertinya ayahnya sudah menunggu kedatangannya untuk dilampiasi amarahnya.


"Mas..." Bisik Sofia lirih sambil mengelus lengan suaminya meredakan amarahnya yang hendak terlihat memuncak.


"Kamu memang anak yang tidak tahu diuntung ya, kalau kau sekali lagi mengecewakan Alea. Jangan harap aku akan mengobati ibumu! Mana janjimu jika kau mau menuruti keinginan ayahmu, mana!" Teriak Wicaksana sambil menuding-nuding wajah Guntur yang hanya terdiam tanpa enggan untuk menjawab ucapan ayahnya.


Karena pikirnya dijawab apapun percuma. Jawabannya pasti salah Dimata ayahnya.


"Kakak." Bisik Lara yang saat itu muncul baru pulang dari kuliahnya.


Lara adik tiri Guntur putri ayah dan Sofia ibu tirinya, meski dia tahu kalau mereka saudara beda ibu, Lara tetap menyukai kakaknya Guntur. Meski Guntur hanya menanggapi dia biasa saja. Wicaksana yang sedang menahan amarahnya dengan wajah memerah menatap Guntur yang juga menatapnya lekat, dingin dan tajam.


Guntur langsung pergi meninggalkan rumah besar itu untuk kembali ke apartemennya, dia sudah tahu maksud ayahnya memintanya untuk berkunjung ke rumah utama ayahnya. Apalagi kalau bukan untuk diomeli karena aduan dari tunangannya Alea.


"Kak Guntur, Kak... " Panggil Lara mengikuti langkah kakaknya.


"Kakak harus pulang." Jawab Guntur tanpa menatap Lara dengan langkah menuju mobilnya.


"Kakak akan datang ke pesta ulang tahunku bukan?" Tanya Lara penuh harap saat Guntur hendak masuk ke dalam mobil, dia menatap sekilas Lara yang menatapnya dengan binar mata penuh harap.


"Maaf." Jawab Guntur lirih.


Membuat wajah Lara yang tadinya bahagia kini berubah muram. Ucapan penolakan dari sang kakak membuatnya patah semangat padahal dia ingin mengenalkan kalau dirinya mempunyai kakak juga. Namun anganan hanyalah tinggal angan saja.


Lara masuk kembali ke dalam rumah setelah mobil kakaknya meninggalkan halaman rumahnya. Dan kedua orang tuanya sudah tidak ada di ruang keluarga. Suasana tegang tadi pun kembali dingin di dalam rumah itu.

__ADS_1


***


Guntur mengendarai mobilnya menuju rumah sederhana tak jauh dari sekolah menengah atas tempatnya pernah mengajar dulu. Dia turun dari mobilnya dan mengetuk pintu rumah itu perlahan.


Rumah yang dirindukannya, rumah dengan suasana hangat penuh kasih sayang dari ibu kandungnya yang kini tinggal dengan seorang perawat yang diperkerjakan ayahnya karena janjinya akan menuruti apapun yang diminta ayahnya nanti termasuk mengikuti perjodohan dengan gadis pilihan ayahnya.


"Kau datang nak?" Ucap ibunya tersenyum bahagia melihat putra semata wayangnya mengunjunginya.


Sudah hampir satu bulan putranya itu tidak pernah mengunjungi rumah sederhananya. Paling hanya saling kabar melalui ponsel saja, setiap beberapa hari sekali.


"Ibu..." Bisik Guntur memeluk tubuh kurus ibunya. Sejak sakit, tubuh ibunya mulai berangsur kurus, membuat Guntur merasa bersalah karena tak bisa membuat ibunya bahagia.


"Masuklah nak!" Titah ibunya melepas pelukannya dan membimbing putranya masuk ke dalam rumah.


Guntur segera mengusap air mata yang jatuh ke sudut matanya. Karena tak mau melihat ibunya bersedih karena dirinya menangis. Setiap selesai bertengkar dengan ayahnya, Guntur selalu berkunjung ke rumah itu.


Itulah sebabnya dulu Guntur memilih untuk menjadi guru dan mengajar di sekolah dekat rumah ibunya. Dengan alasan agar dapat mengunjungi ibunya setiap hari.


"Kau sudah makan?" Tanya Kim ibu Guntur menatap putranya tersenyum senang.


"Sudah Bu." Jawab Guntur singkat sambil menjatuhkan kepalanya di bahu ibunya manja. Kim mengusap rambut putranya penuh kasih.


Deg


Detak jantung Guntur menderu cepat karena tebakan ibunya selalu benar.


"Bukan karena itu Guntur kemari Bu." Bantah Guntur sambil menegakkan kepalanya.


"Lalu karena apa?" Tanya ibu Kim dengan sabar. Guntur tersenyum menatap ibunya.


Dia pun meletakkan lagi kepalanya, kali ini tidak di bahu ibunya tapi di pangkuan ibunya dengan kakinya berselonjor di sofa pendek yang ada di rumah itu. Dengan kakinya yang menjuntai ke bawah sofa yang sofanya memang pendek dari panjang kakinya. Meski rumah ibunya kecil dan sederhana, tapi perabotannya lengkap dan bagus. Ibu Kim tersenyum lebar melihat putranya kali ini begitu manja padanya.


Tidak seperti biasanya dia manja seperti itu pasti ada hal yang membahagiakannya. Ibu Kim mengusap pipi putranya yang terlihat memerah yang ditebaknya karena tamparan mantan suaminya.


"Pasti sakit sekali." Guntur hanya tersenyum menanggapinya.


"Aku ingin bercerita sesuatu Bu." Elak Guntur menggenggam erat tangan ibunya yang tadi mengusap pipinya yang memerah.


"Katakan nak!" Jawab ibu Kim tersenyum.


"Aku menemukan gadis itu." Ucap Guntur tersenyum bahagia sambil membayangkan pertemuannya dengan Anin tadi.

__ADS_1


"Siapa?" ibu Kim mengernyit mengingat seseorang yang mungkin dulu pernah diceritakan putranya.


Terlihat binar bahagia di mata putranya saat bercerita membuat ibu Kim ikut bahagia melihat putranya bahagia berbeda saat ayahnya memutuskan pertunangan dengan perjodohan saat itu.


"Itu Bu, gadis murid sekolahku yang pernah kusukai?" Jelas Guntur antusias dengan binar-binar bahagia masih terlihat di matanya.


"Oh gadis yang pernah kena bully dulu?" Tanya ibu Kim mengangguk-angguk mengingatnya.


"Iya benar." Jawab Guntur bahagia.


"Memang kenapa dengannya?" Tanya ibu Kim masih tak mengerti.


"Kami sedang berpacaran." Ucap Guntur malu-malu terlihat dari rona merah di pipinya. Ibu Kim tersenyum lucu dan bahagia melihat putranya bahagia.


"Jadi kau memacari muridmu sendiri?" Goda ibu Kim tersenyum menatap putranya.


Senyum di bibir Guntur surut berganti wajah malu berlebih.


"Ya... tentu saja tidak Bu... aku sudah bukan gurunya lagi, aku juga sudah tak menjadi guru lagi. Lagian itu dulu sudah lama sekali... Yang penting perasaan kami. Kami ternyata saling mencintai." Jelas Guntur wajahnya memerah dan bahagia juga.


Guntur terduduk, bangun dari tidurnya di pangkuan ibunya. Dia menghadap ibunya karena ceritanya tak akan segera berakhir begitu saja.


"Kau bahagia?" Tanya ibu Kim juga tersenyum bahagia melihat putranya yang bercerita dengan sangat antusias, menatap wajah putranya yang dengan semangat menceritakan pertemuan mereka dan ketinggalan ciuman panas mereka.


"Kau menciumnya? Dan dia mau?" Tanya ibu Kim terkejut dengan kelakuan putranya yang vulgar.


Guntur menundukkan kepalanya malu, apalagi mengingat kembali kejadian tadi saat bersama Anin. Guntur hanya mengangguk mengiyakan.


"Kau tak melakukan hal lebih lagi kan?" Tanya ibu Kim cemas.


"Tentu saja tidak Bu, aku tak mau merusaknya. Aku mencintainya dan ingin menjaganya seumur hidupku." Jawab Guntur yakin.


Ibu Kim tersenyum lega mendengar penjelasan putranya.


"Jadi kau akan membatalkan pertunanganmu?" Pertanyaan ibunya membuat senyum lebar di wajah Guntur memudar berganti dengan wajah penuh kecemasan.


Sungguh Guntur lupa jika dia masih berstatus sebagai tunangan orang lain. Guntur tadi juga berjanji untuk segera membatalkan pertunangannya. Namun dilihat kemurkaan ayahnya saat mendengar aduan tunangannya langsung membuat ayahnya marah padanya membuat Guntur ragu untuk membatalkan pertunangannya.


Bisa-bisa ayahnya akan menghentikan pengobatan ibunya dan mungkin saja ibunya akan meninggal jika ibunya terlambat diobati. Ibu Kim ikut cemas melihat kediaman putranya. Apalagi binar bahagia di wajahnya bergantian kemuraman yang menghitam di wajah putranya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2