Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 74


__ADS_3

Dua hari kemudian, Jonathan sampai di rumah setelah perjalanan bisnis ke luar negeri. Entah kenapa dia bisa pulang sama-sama dengan Guntur. Ternyata bisnis itu juga diikuti dari perusahaan Guntur.


"Tuan Jonathan." Sapa Guntur saat mereka berpapasan di pertemuan kemarin.


"Anda..."


"Guntur... panggil saja Guntur..." Jawab Guntur tersenyum hangat.


"Guntur? Ah, guru SMA Anin?" Jawab Jo mengingatnya.


"Ah, anda benar..." Guntur tersenyum malu-malu di hadapan calon mertuanya, mungkin?


"Anda juga mengikuti pertemuan ini?" Tanya Jo basa-basi.


"Ayah saya mempunyai sedikit saham disini." Jawab Guntur.


Keduanya pun akhirnya duduk bersisian di kursi tempat meeting. Para tamu lain menghampiri Jonathan dan memberi salam serta jabat tangan.


***


Jonathan turun dari pesawat bersamaan juga dengan Guntur, keduanya harus berpisah di depan pintu masuk bandara karena rute mereka yang berlawanan.


Sesampainya di rumah, Zian sudah berdiri tegak di depan pintu mansion majikannya. Setiap seminggu sekali, Zian selalu memberikan laporan semua pekerjaannya perihal tentang tuan putrinya pada tuan besarnya itu. Zian terlihat lemas tak bersemangat sekaligus merasa bersalah saat melihat tuan besar turun dari mobilnya hendak masuk ke dalam mansionnya.


Jo sebagian besar sudah tahu cerita secara garis besarnya saat Rian menceritakan hal yang menimpa princess nya. Jo ingin sekali langsung memberi bogem mentah pada Zian saat melihatnya di depan pintu mansionnya dengan pandangan mata bersalah. Namun Zian mencoba mengendalikan dirinya.


"Temui aku di ruang kerja satu jam lagi!' Titah Jo menatap Zian geram.


"Baik tuan." Zian hanya menunduk hormat, tak berani menatap wajah tuan besarnya.


Karena siap tidak siap dia akan menerima perlakuan buruk dari kesalahannya.


***


Anin duduk di ruang keluarga yang dekat dengan ruang kerja daddynya. Dia pura-pura sedang nonton TV disitu. Karena kejadian kemarin membuat Anin mau tak mau izin untuk tidak ke sekolah. Orang-orang Daddynya sedang menyelidiki siapa dalang dari kejadian pembullyan kemarin. Anin melirik Zian yang melangkah menuju ke ruang kerja daddynya.


Mata Anin melihat terus ke arah Zian masuk ke dalam ruang kerja Daddy nya dengan perasaan was-was. Sedangkan Zian sendiri terlihat lesu dan terus menerus menunduk seolah siap menerima hukuman apapun itu.


"Saya datang tuan." Sapa Zian menunduk memberi hormat.


Bug...


Satu pukulan melayang di rahang Zian membuat Zian meringis langsung terhuyung ke belakang meski tak sampai jatuh. Pendidikan di sekolah militer dulu membuatnya terbiasa untuk siaga dengan pukulan-pukulan langsung tanpa persiapan itu. Zian hanya diam siapa menerima hukuman.


"Ukh .. sial, kenapa jemariku yang sakit." Keluh Jo setelah memberikan bogem mentah pada pengawal Anin yang diberi tanggung jawab mengawal putrinya agar jangan sampai terluka.


"Berapa kali kau melakukan kesalahan?" Bentak Jo membuat Zian terdiam tak berani mengusap darah yang mengalir di sudut bibirnya.


"Maafkan saya tuan." Jawab Zian tegas tanpa berani menatap ke depan.


"Kau tahu alasan aku menempatkanmu untuk mengawasi putriku?" Tanya Jo menatap Zian tajam.


"Siap saya tahu."

__ADS_1


"Lalu?"


"Maaf saya gagal." Jawab Zian lagi tegas.


Tok tok tok


Pintu ruang kerjanya diketuk dari luar, Jo yang hendak melayangkan bogeman lagi mengurungkan niatnya.


"Masuk!" Titah Jo berbalik menatap jendela keluar.


Cklek


Anin melongokkan kepalanya masuk ke dalam ruang kerja Jo.


"Daddy." Panggil Anin.


Jo langsung berbalik menatap arah pintu.


"Ada apa princess?" Tanya Jo tersenyum sumringah melihat princess nya.


"Boleh aku bicara?" Pinta Anin menatap wajah Jo penuh permohonan.


Sedang Zian masih tetap memunggunginya tak berani menoleh selain menatap Jo berdiri tegak.


"Daddy masih ada urusan princess, bagaimana kalau nanti saja?" Pinta Jo menatap Anin penuh kasih.


"Hanya sebentar Daddy, please!" Pinta Anin memelas menunjukkan wajah puppy eyes nya.


"Baiklah." Jawab Jo akhirnya mengalah.


Zian langsung menunduk memberi hormat dan berbalik meninggalkan ruangan, tentu saja hal itu tidak luput dari perhatian Anin yang merasa bersalah karena dirinya pengawalnya menerima sanksi. Anin membelalak kaget saat melihat darah kering ada si sudut bibir Zian. Anin segera mendekati Jo.


"Ada apa princess?" Tanya Jo sambil duduk di sofa di ruang kerjanya.


"Daddy, ini semua bukan salah Zian? Tolong maafkan dia!" Anin memohon dengan menangkupkan kedua tangannya di dada menatap Jo.


"Apa maksudmu princess?" Jawab Jo balik bertanya, pura-pura tak mengerti apa maksud Anin.


"Daddy, aku sudah tahu kalau Daddy meminta Zian untuk mengawasi ku selama ini. Padahal Daddy janji tidak akan menempatkan pengawasan untukku." Jelas Anin.


"Tapi apa yang terjadi? Dengan pengawasan Zian kau sampai terluka." Jawab Jo tak sabar lagi.


"Aku tidak terluka Daddy, aku tak apa. Lihatlah! Untuk kemarin di kampus itu hanya kecerobohanku. Bukan salah Zian." Anin terus memohon untuk meringankan hukuman Zian.


"Dengan satu syarat?" Ucap Jo bernegosiasi.


"Baiklah."


"Kamu harus siapa dengan beberapa pengawal lagi!" Titah Jo mutlak.


"Daddy, aku akan terima tapi aku hanya ingin satu pengawal, hanya satu. Kumohon!" Pinta Anin menatap wajah Jo lekat.


"Satu saja kau masih kecolongan, Daddy tak percaya." Tolak Jo.

__ADS_1


"Daddy, kali ini aku akan disisinya, di sampingnya jadi tak mungkin kecolongan. Yang kemarin karena dia hanya bisa mengawasi dari jauh dan dia tak bisa mendekatiku." Jelas Anin. Dia malu harus seperti dulu. Diikuti beberapa pengawal.


"Baiklah."


"Aku ingin Zian ada di sisiku."


"Setelah kegagalannya bagaimana mungkin begitu? Tidak!" Tegas Jo.


"Daddy, Zian masih terlihat muda, dia bisa pura-pura menjadi mahasiswa atau temanku. Jadi dia bisa setiap saat di sisiku. Aku tak mau seperti dulu lagi. Diikuti pengawal kemana-mana. Apalagi sekarang sudah dewasa. Aku malu Daddy, please!" Pinta Anin memelas.


Jo balik menatap Anin yang menatapnya penuh harap.


"Dia telah membuat kesalahan princess."


"Baru kali ini kan Daddy, dia pasti akan berjanji tidak akan melakukan kesalahan lagi." Pinta Anin sekali lagi meyakinkan Jo.


"Suruh dia masuk!" Titah Jo sambil berdiri dari sofa menatap keluar jendela kaca ruang kerjanya.


"Thanks Daddy." Jawab Anin tersenyum sambil mengecup pipi Jo.


Membuat Jo tersenyum senang melihat kelakuan kekanak-kanakan princess sambungnya.


Cklek


Anin keluar dari ruang kerja Jo melirik Zian yang masih berdiri tegak di luar pintu ruang kerja Jo.


"Zian."


"Ya nona." Jawab Zian sopan.


Anin berdiri di depan Zian yang berdiri menjulang tinggi di hadapannya.


"Maafkan aku." Ucap Anin menundukkan kepalanya menyesal.


"A.. apa maksud anda nona?" Zian mundur dua langkah ke belakang melihat tuan putrinya menundukkan kepalanya dan minta maaf padanya.


"Pasti sakit sekali ya?" Anin tiba-tiba berdiri di depan Zian sambil mengelus rahang Zian yang terlihat memerah karena kesakitan dipukul Jo.


Zian terpundur ke belakang otomatis saat Anin tangan Anin menggantung di depannya. Wajah Zian tiba-tiba memerah karena malu.


"Ini tidak seberapa nona." Jawab Zian menundukkan kepalanya.


"Karena aku kau dihukum."


"Itu memang kesalahan saya nona. Saya merasa gagal melindungi nona." Jawab Zian merasa bersalah.


"Tidak. Kalau saja kau berada di sisiku. Pasti hak seperti kemarin tak akan terjadi." Jawab Anin.


"Itu kesalahan saya nona, karena kecerobohan saya." Zian masih tetap menyalahkan dirinya sendiri.


Anin terdiam menatap Zian lekat, dia sungguh kasihan melihat luka di bibirnya itu.


"Daddy memanggilmu masuk."

__ADS_1


"Siap nona." Zian segera masuk ke dalam ruangan masih dengan pipi merona.


TBC


__ADS_2