
"Mas, mau makan siang? Aku siapkan dulu!" Ucap Anin menuju dapur untuk menyiapkan makan siang untuk keduanya.
Zian menatap terpaku tak sengaja merasakan telapak tangan istrinya yang mulai kasar mungkin karena istrinya melakukan pekerjaan kasar seperti memasak, mencuci pakaian atau mencuci piring. Seketika Zian merasakan perasaan bersalah. Bahkan setiap malam Zian memilih untuk tidur di sofa menghindari hal-hal yang tidak diinginkannya agar berbuat lebih pada istrinya tersebut.
Bagaimana pun juga dia adalah pria normal yang mempunyai hawa ***** juga. Dia tak mengambil hal berharga milik istrinya disaat dia belum mencintainya sepenuhnya. Namun malam itu, setelah malam itu Zian semakin merasa bersalah saat istrinya menangis seorang diri di halaman belakang rumahnya.
Flashback on
Anin duduk di kursi halaman belakang rumah menatap ke langit yang terlihat cerah malam itu. Tatapannya kosong melamun menerawang nun jauh disana.
"Pasti akan bahagia jika kita bisa bebas pergi tanpa apapun yang mengikat kita." Guman Anin malam itu yang tanpa sadar air matanya menetes.
"Sampai kapan akan seperti ini ya Tuhan. Sampai kapan aku harus bersabar? Beri aku kekuatan ya Tuhan. Buat hati suamiku tergerak untuk menerimaku meski aku belum mampu mencintainya. Maafkan hati ini yang belum bisa beralih hati Tuhan. Hiks...hiks..." Anin menutup wajahnya dengan kedua tangannya menundukkan kepalanya sambil sesenggukan menutupi suara tangisnya dengan kedua tangannya.
Hari itu Zian berniat untuk menerima Anin sebagai istrinya dan bersabar untuk mengubah hatinya menjadi miliknya seutuhnya. Namun dia merasa tak akan semudah itu menggerakkan hati istrinya itu. Zian pun pergi dari halaman belakang dan memilih untuk pergi meninggalkan rumah dan akan pulang di jam yang sama. Larut malam saat semua orang sudah terlelap.
Flashback off
***
Dan malam itu saat makan malam, semua orang sudah berkumpul. Anin melayani suaminya sebagaimana mestinya. Maria menatap keduanya masih sama-sama acuh dan dingin. Sepertinya usahanya siang tadi tidak berhasil.
"Ibu.." Ucap Zian setelah makan malamnya selesai.
Semuanya menatap Zian, penasaran dengan apa yang ingin dikatakannya.
__ADS_1
"Ya?" Jawab Maria menatap putranya.
"Kami sudah sepakat untuk kembali ke kota." Ucap Zian membuat Anin sontak menoleh menatap Zian.
Maria dan Rima terkejut mendengar pernyataan Zian.
"Apa maksudmu Zian?" Tanya Maria ingin memastikan pendengarannya.
"Aku dan Anin akan kembali ke apartemenku yang ada di kota. Anin butuh untuk melanjutkan kuliahnya yang sempat terhenti karena pernikahan kami." Jelas Zian tegas.
Maria ganti menatap Anin dengan penasaran ingin melihat reaksi Anin yang ternyata sama-sama terkejut dengan ucapan Zian. Maria bisa menebaknya kalau keputusan itu diambil Zian tanpa bicara dengan Anin istrinya sekarang.
"Mas, yakin akan kembali ke kota?" Tanya Rima yang menyela pembicaraan itu.
Anin ikut menoleh menatap Rima dan beralih menatap Zian kembali dan kemudian memilih untuk fokus makan malam saja.
Hanya keterkejutan karena tak tahu menahu tentang hal ini.
"Bagaimana menurutmu Anin?" Tanya Rima menatap Anin yang diam saja sejak tadi.
Anin mendongak menatap Rima merasa namanya disebut. Anin beralih menatap Zian yang tidak sedang melihatnya. Anin kembali menatap Rima dan beralih menatap Maria yang sama-sama menatapnya.
"Anin ikut apa kata mas Zian saja mbak, Bu." Jawab Anin membuat Zian sontak menatap Anin yang terlihat pasrah.
"Kapan kau mulai pindah Ando?" Tanya Maria kembali menatap Zian.
__ADS_1
Zian menatap ibunya dengan tatapan ragu.
"Besok pagi ma." Jawab Zian singkat membuat Maria terdiam.
Tak mengira secepat itu putranya akan pindah setelah cutinya beberapa hari.
"Kok mendadak sih?" Tanya Maria lagi, Rima terdiam, dia juga ingin bertanya hal yang sama namun diurungkan karena dia bukan siapa-siapa sekarang.
"Bukan mendadak bu, tapi aku sudah memikirkan beberapa hari yang lalu." Bohong, batin Zian tersenyum getir kalau ucapannya kali ini bohong.
Saat melihat istrinya menangis yang mungkin tersiksa saat bersamanya sekarang, Zian baru saja memutuskan untuk kembali ke kota. Dengan alasan pekerjaannya dan kuliah Anin yang harus terus berlanjut. Padahal bukan itu yang membuat Zian memilih pindah. Dia terlalu menyayangi istrinya sehingga tidak tega melihatnya menderita.
Istrinya masih muda, masih panjang masa depannya. Bahkan kuliahnya belum kelar karena masalah-masalah yang terjadi akhir-akhir ini. Istrinya menahan diri untuk tidak kuliah lagi karena ingin berbakti padanya meski tak ada perasaan pada dirinya. Zian yang harus peka akan hal itu. Dia seorang suami yang bertanggung jawab meski pernah mengatakan pada istrinya tidak menganggap pernikahan mereka sebenar-benarnya.
Padahal itu semua bohong, demi agar istrinya meninggalkan rumahnya dan mencari kebahagiaannya yang tidak ada padanya. Zian tahu cinta istrinya masih pada mantan calon suaminya yang gagal datang di hari H pernikahannya yang hingga akhirnya digantikan olehnya.
***
Guntur termenung sendiri di halaman depan rumahnya. Alea datang mengantarkan berkas laporan kerja samanya meski itu hanya alasan demi mendekatkan diri pada Guntur. Hari itu weekend, jadi semua orang libur.
"Sudah sejak pagi dia hanya terdiam di tempat yang sama." Ucap Raka setelah meneliti berkas yang dibawa Alea.
Keduanya sedang duduk di teras yang menghadap pada taman depan mansion tempat Guntur melamun sendirian.
"Sampai kapan dia akan seperti itu?" Ucap Alea tersenyum miris melihat kebucinan Guntur.
__ADS_1
"Entahlah!" Keduanya terdiam pada pikiran masing-masing.
TBC