
"Mama..." seru Anin memasuki rumahnya diikuti Jessi yang juga ikut ke rumah Anin yang diantar sopirnya.
Meski harus drama menangis kencang terlebih dulu agar diizinkan ikut ke rumah Anin, akhirnya Jessi diizinkan ke rumah Anin tapi sopirnya harus ikut dan menungguinya sampai pulang. Jessi tentu saja sangat gembira.
"Mama..." seru Anin lagi masuk ke dalam kamar adik-adiknya.
"Kakak, kok gak salam masuk ke rumah?" tegur Karina membuat Anin nyengir.
"Maaf ma. Assalamualaikum...hehehe..." Karina hanya menggelengkan kepalanya tersenyum melihat kelakuan imut putrinya.
"Wa'alaikum salam... lho... Anin dengan teman sekolahnya?" tanya Karina melihat seorang gadis kecil mengikuti Anin di belakang yang tersenyum manis.
"Assalamualaikum tante...." sapa Jessi.
"Wa'alaikum salam... siapa namanya sayang?" tanya Karina ramah.
"Jessi tante." jawab gadis kecil itu balas tersenyum.
"Jessi mau lihat adik kembar ma." sahut Anin. Karina langsung menoleh menatap Anin dan ganti menatap Jessi.
"Cuci kaki dan cuci tangan dulu ya? Anin dan Jessi?" titah Karina.
"Baik ma. Ayo Jessi!" Jessi mengangguk mengikuti langkah Anin ke kamarnya.
***
Setelah makan siang, Anin mengajak Jessi melihat adik kembarnya.
"Wah... lucunya dan mereka sangat tampan." ucap Jessi antusias mencubit kedua pipi gembul si kembar bergantian.
Pipi mereka dikecupi dengan gemas oleh Jessi, membuat kedua bayi tampan itu mendorong Jessi dengan tangan mungilnya.
"Lucu kan, mereka juga sa...ngat...tampan..." ucap Anin bangga.
Keduanya main-main dengan si kembar dengan senang dan gembira. Si kembar yang sudah bisa duduk meski harus disandarkan membuat keduanya sangat senang sekali. Mereka berempat bercanda dan kadang menggoda si kembar.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, sopir Jessi memberitahukan untuk segera pulang. Namun Jessi seperti enggan untuk pulang. Dia menolak untuk pulang, masih ingin tetap bersama si kembar yang juga ikut merengek saat Jessi melepas jemari tangannya yang ditarik si kembar.
"Biarkan dia tidur disini pak, nanti jika ingin pulang akan kuantar." ucap Karina akhirnya tak tega melihat Jessi memelas untuk tetap tinggal.
__ADS_1
"Baiklah bu, akan saya sampaikan pada nyonya sebentar." Karina mengangguk dan sopir itu menghubungi majikannya, mama Jessi namun sepertinya tak diangkat ponselnya.
"Ponsel nyonya tidak aktif bu, saya akan tinggal pulang. Jika nyonya meminta saya menjemput nona, tolong bujuk dia ya bu?" pinta sopir itu yang ragu meninggalkan rumah Karina.
"Baik pak." jawab Karina tersenyum ramah.
Sopir itu meninggalkan rumahnya. Jessi yang bersembunyi di dalam rumah keluar dari persembunyiannya, dia merasa nyaman bermain di rumah Anin bersama adik-adik kembarnya.
***
Dalam percakapan ponsel :
Karina :" Halo."
Bram :"Sayang maaf, aku tak jadi datang hari ini. Aku harus pulang ke negaraku untuk mengurus masalah penting disana." keluh Bram saat dirinya hendak menuju rumah Karina malam itu harus batal karena ada masalah tiba-tiba yang tak bisa ditinggalkan.
Bahkan dia hanya sempat berpamitan melalui ponsel tak sempat untuk pamit ke rumah Karina.
Karina :"Tak apa mas, selesaikan dulu urusanmu." jawab Karina tersenyum lembut meski Bram tak dapat melihatnya.
Bram :"Sekali lagi maaf ya, sayang. Setelah urusanku disini selesai, aku akan menjemput kalian untuk bertemu dengan orang tuaku." ucap Bram membuat Karina tersipu.
Karina :"Apa... ehm..mas..." tanyanya ragu.
Bram :"Ya sayang?"
Karina :"Apa orang tua mas akan merestui hubungan kita? Dengan status dan anak-anakku?" tanya Karina gugup.
Bram :"Orang tuaku pasti akan menerimamu dengan baik. Apalagi dengan anak-anakmu, anak-anakmu adalah anak-anakku juga. Aku sudah menganggap mereka seperti anak-anakku sendiri dan aku yakin orang tuaku bukan orang sepicik itu dalam siapapun yang aku pilih. Toh aku juga bukan bujang, aku juga seorang duda kalau kau lupa. Meski belum punya anak." jelas Bram lirih di akhir kalimatnya, hatinya getir, dadanya sesak mengingat kematian mantan istrinya yang telah meninggalkan dunia ini beserta anak mereka yang bahkan belum sempat melihat dunia.
Karina :"Syukurlah mas, semoga saja seperti itu." ucap Karina lega, namun entah kenapa masih ada yang mengganjal di hatinya.
**
Kini anak-anaknya sudah mulai bisa duduk sendiri. Sudah berusia enam bulan. Mereka sehat dan lincah. Sudah lebih dua bulan Bram pulang ke negara asalnya namun setiap hari dia menyempatkan untuk video call Karina hanya untuk menanyakan kabar, meski perbedaan waktu.
Tak menyurutkan niat Bram setiap hari memberikan perhatiannya pada Karina. Karina merasa bersalah karena masih saja belum merasakan perasaan cinta padanya. Hanya perasaan sayang dan menghormati padanya.
Hati Karina masih saja terpaut dengan ayah si kembar. Karina menghela nafas sejenak, menetralkan degup jantungnya yang entah kenapa berdetak dengan kencang.
***
__ADS_1
Karina menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya dan untuk Maya, sudah berangkat pagi-pagi karena ada pesanan buket bunga.
Ting tong ting tong
Bel pintu rumahnya berbunyi, Karina segera ke depan, dan pengasuh yang menyiapkan sarapan anak-anaknya.
Cklek..
"Assalamualaikum.." sapa seseorang saat pintu dibuka. Karina terkejut.
"Wa'alaikum salam... mas...katanya... masih di.." Bram masuk menggandeng tangan Karina untuk duduk di sofa.
"Aku merindukanmu." Bram memeluk Karina dengan erat.
"Mas...i..ini..."
"Sebentar saja seperti ini. Dua bulan rasanya mau mati hanya melihatmu melalui video call." bisik Bram di ceruk leher Karina.
Karina terdiam, tubuhnya menegang mendapat skinship dari Bram yang hampir tak pernah mereka lakukan. Paling hanya sebatas gandengan tangan saat mereka kencan. Bukan Bram tak pernah menyentuhnya, Karina yang selalu menghindarinya. Dia belum siap sungguh.
Sekarang dirinya hanya bisa pasrah menerima melihat lingkaran hitam di mata Bram, sepertinya dia jujur tentang tak bisa hidup tanpanya.
"Datang jam berapa tadi?" tanya Karina mencoba melepas pelukan Bram dengan cara halus.
"Baru saja aku dari bandara dan langsung kemari. Aku merindukanmu." bisiknya masih mempertahankan pelukannya.
"Mama...om Bram?" suara Anin yang muncul dari ruang makan yang sudah bersiap untuk berangkat sekolah membuat Karina langsung mendorong dada bidang Bram yang merasa enggan melepaskan pelukannya.
Sebelah tangannya masih memegang pinggang Karina.
"Ya sayang, kau sudah siap? Sudah sarapan?" tanya Karina yang malu interaksi Bram di depan putrinya.
"Sudah ma, Anin mau berangkat sekarang." jawab Anin menatap tangan Bram di pinggang Karina.
"Baiklah....mama yang antar..."
"Biar om yang antar. Ok?" tawar Bram tersenyum ramah. Anin pun mengangguk.
Bram terpaksa melepas rengkuhan tangannya di pinggang Karina membuat Karina bernafas lega.
TBC
__ADS_1