
"Nona sudah bangun." Ucap Zian yang baru saja meletakkan nampan berisi sarapan yang diantar pelayanan kamar.
"Kau .. Zian... apa yang kau lakukan di dalam kamarku?" Seru Anin tersentak kaget sudah mendapati Zian berada di dalam kamar Anin.
"Maaf nona, saya terpaksa menerobos kamar untuk memastikan Anda baik-baik saja." Jawab Zian menyesal sambil menundukkan kepalanya.
"Kau, kurang ajar sekali kau menerobos masuk kamar perempuan. Dasar mes*um ya, cabul juga. Apa yang telah kau lakukan padaku. Dasar laki-laki tak berperasaan, lelaki brengsek, semua lelaki memang sama saja." Teriak Anin sambil memukuli Zian dengan bantal yang tadinya digunakan untuk menutupi pahanya yang sedikit terekspos karena bath rope kamar hotel sangat minim.
Zian tak menghindar, dia juga tak menjawab, dia mendengarkan semua umpatan kesal dari nonanya. Lebih baik diumpat kesal sekarang dari pada mendapatkan hukuman yang tidak ringan dari tuan besarnya. Meski dirinya harus menahan diri untuk tidak membuat adik kecilnya kembali bangkit hanya karena bath rope sang nona sangat minim.
Anin terduduk terengah-engah karena tenaganya untuk memukuli Zian tidak seberapa dengan kekuatan badan kekar Zian. Anin mengaku kalah perihal pertarungan fisik dengan pengawal pribadinya ini.
"Keluarlah!" Titah Anin setelah nafasnya kembali teratur. Zian tak bergeming dari tempatnya.
"Kau bisa tunggu diluar kan!" Titah Anin lagi sambil menatap Zian tajam.
Zian tampaknya kali ini enggan untuk meninggalkan dari sisinya.
"Apa kau akan terus berdiri disitu saat aku mandi?" Teriak Anin lagi membuat wajah Zian tiba-tiba memerah.
"Saya tetap akan berada di sisi nona." Jawab Zian tak tahu malu.
Anin melongo mendengar jawaban Zian.
"Okay, kalau itu maumu. Kuharap Daddy tak akan menuntutmu tanggung jawab." Anin berdiri dengan gerakan slow motion melepas bath rope nya dengan perlahan.
Zian yang dibelakangi sontak membalikkan badannya ganti membelakangi Anin.
"Sa... saya akan tunggu di luar kamar nona." Jawab Zian akhirnya dengan gugup dan segera meninggalkan kamar.
Anin hanya tersenyum mengejek, karena dia sendiri sebenarnya tak berniat untuk membukanya di hadapan Zian. Anin bernafas lega setelah melihat Zian benar-benar meninggalkan kamarnya.
***
"Saya ingin mengajukan cuti tuan." Ucap Zian setelah dia selesai melaporkan kegiatan tuan putrinya selama seminggu ini.
"Kau sudah mendapatkan penggantimu?" Bukan menjawab malah bertanya pada Zian.
"Siap, sudah tuan." Jawab Zian tegas.
"Aku sudah mentransfer gajimu bulan ini, dan sedikit bonus dari istriku untuk istrimu yang katanya melahirkan." Ucap Jo membuat Zian tersentak mendongak menatap wajah tuan besarnya.
"Terima kasih tuan." Jawab Zian menunduk penuh hormat.
"Tak apa, ayahmu dulu adalah teman mertuaku. Aku tak mungkin tidak memberikan hadiah untuk keluargamu." Jawab Jo membuat Zian lagi-lagi merasa terharu.
**
"Nyonya..." Panggil Zian sopan saat melihat Karina sedang menyiapkan sarapan di meja makan.
"Zian, ada apa?" Tanya Karina tersenyum ramah.
"Terima kasih nyonya atas hadiahnya." Ucap Zian menunduk sopan.
"Itu tidak seberapa, semoga bisa bermanfaat untuk anak dan istrimu." Jawab Karina merendah.
__ADS_1
"Itu lebih dari cukup nyonya."
"Kau jadi cuti hari ini?" Tanya Karina.
"Cuti? Siapa yang cuti?" Sela Anin yang baru saja datang ke ruang makan melihat mommy dan Zian pengawalnya juga ada disana.
"Zian, dia mau cuti pulang kampung karena istrinya melahirkan." Jawab Karina tersenyum.
"Zian cuti? Istrinya melahirkan? Jadi, Zian! Kau benar-benar sudah menikah?" Tanya Anin menatap Zian tak percaya.
"Saya sudah mengatakannya pada anda nona." Jawab Zian.
"Kukira kau bercanda. Kau seperti pria single yang masih perjaka. Bagaimana aku bisa percaya kalau kau sudah menikah?"
"Anin." Anin tersenyum saat mendengar teguran dari sang mommy.
Karena Karina melihat raut wajah Zian yang tiba-tiba berubah pias merasa tertohok dengan godaan Anin yang sebenarnya hanya bercanda. Karina sendiri sudah tahu cerita sebenarnya yang terjadi pada keluarga Zian.
"Jadi aku sekarang kemana-mana sendiri begitu mommy?" Tanya Anin tersenyum antusias.
"Teman Zian yang akan menggantikanmu."
"What? Tak bisakah aku mulai kemana-mana sendiri mommy?" Pinta Anin dengan tatapan puppy eyes nya.
"Kau bisa bicara pada Daddy." Jawab skak Karina membuat Anin cemberut.
Kalau sudah seperti itu jawaban sang mommy, pasti itu artinya tidak bisa ditawar lagi.
"Saya permisi dulu nyonya, nona." Pamit Zian karena merasa sudah tak perlu disitu lagi.
"Tunggu, Zian!" Zian terpaksa menghentikan langkahnya saat Anin menghentikannya.
Bahkan dia menempel sambil bergelayut ke lengan Zian yang sontak membuat Zian hendak menolaknya namun Anin mencengkeram erat lengannya meski tidak seberapa bagi Zian untuk menghentaknya, tapi Zian tak mungkin sekadar itu pada sang nona apalagi sekarang berada di hadapan nyonyanya. Karina menatap keduanya curiga.
"Anin."
"Mommy, aku sudah nyaman dengan Zian. Aku tak mau yang lain." Tolak Anin memelas.
Zian serba salah dan salah tingkah dengan kelakuan putri majikannya.
"Itu tak mungkin Anin, Zian mau mengunjungi anak istrinya dan juga keluarganya. Dia tak mungkin tidak pulang kan." Jelas Karina.
"Tak masalah. Aku bisa ikut dengannya. Toh, aku sedang libur awal semester. Paling berapa hari kau pulang Zian?" Anin ganti menatap Zian yang berusaha melepaskan gelayutan tangan Anin yang gagal.
"I.. itu... anu nona...itu..."
"Anin, jangan seperti itu sayang?" Hibur Karina mencegah Anin karena dia menerima tatapan permohonan dari Zian.
"No mommy, toh kami juga sudah tidur di kamar yang sama. Benar kan Zian?" Ucapan Anin membuat Karina dan Zian melongo.
"Nona... i.. itu tidak benar...i..itu..." Zian salah tingkah, dia beralih menatap sang nyonya yang juga terkejut dengan pernyataan tentang putrinya yang sudah tidur sekamar bersama.
Karina memegangi kepalanya yang tiba-tiba pening.
"Baby, are you okay?" Tanya Jo yang baru tiba langsung mendekap tubuh istrinya yang terhuyung.
__ADS_1
"Mas... mereka..." Karina beralih menatap ke arah Anin dan Zian setelah menatap suaminya.
"Tuan tidak seperti itu, itu salah paham. Nyonya sungguh..."
"Zian, kau sendiri yang mengatakan kalau kita tidur sekamar berdua saat aku meminta menginap di hotel bukan?" Sela Anin membuat Karina terduduk di kursi meja makan.
Jo sendiri juga tersentak mendengar pernyataan yang keluar dari mulut putrinya yang tidak dilaporkan Zian padanya tadi.
"Zian." Panggilan yang ringan namun sangat tajam dan menakutkan di telinga Zian.
Zian menundukkan kepalanya menyerah, dia tidak akan selamat kali ini. Padahal dia sudah berusaha menutupi hal itu. Namun dia tak mengira kalau tuan putrinya akan mengatakan pada tuan besar dan nyonyanya.
"Maafkan saya tuan."
"Kita perlu bicara bertiga." Titah Jo sambil berlalu ke ruang kerjanya lagi setelah menenangkan istrinya.
***
"Apa yang ingin kau jelaskan Zian?" Tanya Jo tajam.
"Maafkan saya tuan." Zian menundukkan kepalanya tak berani bicara.
"Daddy, bukankah Daddy memintanya untuk mengawasi lebih dekat? Dan itu artinya setiap saat disisiku bukan?" Jelas Anin yang berusaha menjelaskan kesalah pahaman keduanya.
"Apa kalian tidur bersama?" Tanya Jo menatap Anin.
"Entahlah, saat itu aku sudah tertidur dan Zian menerobos masuk ke dalam kamar hotel tempatku menginap." Jelas Anin membuat Zian semakin menundukkan kepalanya merasa bersalah.
"Brengsek, apa yang kau lakukan pada putriku. Kau... kau yang seharusnya menjaganya, apa yang telah kau lakukan!" Teriak Jo sambil meraih kerah kemeja Zian dengan kasar.
Zian hanya diam, karena kenyataannya memang benar.
"Daddy, apa yang Daddy lakukan?" Tanya Anin cemas memegangi tangan Jo untuk melepaskan cengkeramannya.
"Tinggalkan kami, princess!" Titah Jo masih menurunkan nada bicaranya agar tidak menakuti Anin.
"Tapi Daddy?"
"Princess, please!" Tatapan permohonan Jo membuat Anin mau tak mau meninggalkan keduanya di ruang kerja.
Bruak
Jo membenturkan tubuh Zian ke tembok tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Kau sudah melakukan apa pada putriku Zian?" Tanya Jo dengan wajah memerah menahan amarahnya menatap Zian penuh kekecewaan dan tatapan nyalang penuh kemurkaan.
"Saya tidak melakukan apapun pada nona tuan."
Bruk...
"Lalu, bagaimana bisa kau sekamar dengannya tidur bersama?"
"Tidak seperti itu tuan, sungguh. Kami tidak seperti yang tuan pikirkan." Bela Zian.
"Memangnya kau tahu apa yang aku pikirkan?" Pertanyaan Jo menohok Zian, dia tak bisa menjawab apapun.
__ADS_1
Karena tahu menjawab seperti apapun tetap akan salah di mata tuan besarnya.
TBC