Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Diterima


__ADS_3

"Maukah kau menikah denganku?" pinta Bram semalam yang membuat hari Karina pagi ini menjadi kacau.


Oh ya, untuk sementara Karina resign dari pekerjaannya sebagai resepsionis. Dia tak mau mengambil cuti karena dirinya tak tahu entah sampai kapan dia bisa kerja kembali. Untuk itulah dia mengajukan resign saja, meski rekan-rekan kerjanya menyayangkannya.


"Buk...buk..." panggil pengasuh bayi si kembar melihat Karina mengaduk-aduk susu formula bayinya.


"Eh iya bi.." pengasuh itu menepuk pundak Karina hingga lamunannya pun buyar.


"Itu... susunya mau diberikan sekarang?" tanya pengasuh itu senyum-senyum sendiri melihat majikannya melamun tanpa sadar sekitarnya.


"Eh... iya bi... tolong ya!" pinta Karina, dia ingin menyendiri sebentar memikirkan lamaran Bram, semakin lama kedua putranya pasti akan bertanya siapa ayah mereka dan Bram tidak buruk jika menjadi ayah mereka dan Anin jika dia menerima lamarannya.


Cinta bisa diurus belakangan, bukan saatnya dia memikirkan perasaannya saja. Dia juga harus mempertimbangkan anak-anaknya dan Bram bilang dia siap menjadi ayah sambung dari putra kembarnya juga ayah sambung putrinya.


Karina menghela nafas panjang memikirkan seseorang yang dirindukannya saat muncul dalam mimpi panjangnya. Seolah kejadian itu benar-benar terjadi dan peringatan untuk dirinya. Karina segera menepis perasaannya.


Flashback on


"Selamat malam." sapa Bram sambil membawa sebuket bunga mawar merah saat Karina muncul dari dalam rumah, meski sebenarnya Bram sudah pernah bebas keluar masuk rumah itu saat Karina tidur panjang. Namun dia tak seberani itu jika ada Karina di rumah itu.


"Duduklah mas!" tawar Karina dia pun duduk di sofa ruang tamunya meski sederhana.


"Ini untukmu." Bram menyerahkan bunga mawar itu dan diterima Karina dengan ragu, tangannya refleks menerima meski hatinya menolak.


"Terima kasih mas." Karina menerimanya sambil mencium wangi bunga itu. Dan lagi, Bram menyerahkan sesuatu entah apa pada Karina.


"Ini..."


"Apalagi ini mas?" tanya Karina terharu.


"Ini untuk anak-anak entah suka atau tidak. Semoga Anin menyukai hadiahnya." ucap Bram membuat Karina merasa tak enak hati selalu dibawakan sesuatu oleh Bram entah apapun itu. Karina sudah mencoba melarangnya tapi Karina bisa apa.


"Mas, gak usah repot terus. Saya gak enak mas." ucap Karina tertunduk sungkan dan meletakkan barang-barang itu di meja.


Tiba-tiba Bram berlutut di depan Karina yang hampir mendaratkan pinggulnya ke sofa tapi segera diurungkannya.


"A... apa yang mas..."


"Maukah kau menikah denganku?" Bram mengulurkan kotak beludru berwarna putih yang terbuka dengan cincin berwarna perak dengan berlian kecil yang bertahta di cincin itu.


Karina terdiam, dia tak segera menjawabnya, masih menatap cincin itu intens. Mimpi tentang ayah si kembar yang terbaring di ranjang rumah sakit seolah berputar terus-menerus di kepalanya.


Karina terduduk lemas di sofa, Bram berjengit kaget melihat Karina lemas dan spontan membuat Bram berdiri mendekati Karina.

__ADS_1


"Aku... aku ..." Karina mendadak gugup merasa bersalah pada Bram dengan tatapan penuh rasa bersalah.


"Aku selalu menunggumu sampai kau siap." jawab Bram memotong ucapan Karina, Bram menghela nafas.


"Mas... A...aku..."


"Kau tak apa? Kau ..."


"Beri waktu aku berpikir, kumohon!" Karina menggenggam erat jemari tangan Bram yang hendak meninggalkan rumahnya walau sebenarnya niat Bram ingin duduk di sofa depan Karina.


Namun hati Bram yang semula kecewa dengan respon Karina saat menggenggam erat jemari tangannya membuat senyumnya kembali terbit.


"Se... setidaknya tunggu si kembar sampai... sampai agak besar... ki...kita..."


"Jadi kau menerima lamaranku?" goda Bram tersenyum manis, membuat wajah Karina memerah malu karena digoda Bram. Dia pun menundukkan kepalanya.


"Ah, iya..." Karina menganggukkan kepalanya mengiyakan sambil menunduk malu-malu karena wajahnya yang memerah.


Senyum di bibir Bram semakin lebar saja melihat reaksi polos Karina. Ingin dia menggodanya lebih lama, namun dia mengurungkannya. Hatinya pun ikut bahagia penantiannya yang ditunggu selama ini akhirnya berbuah manis.


Bram pun akhirnya duduk di sofa sebelah Karina dengan jemarinya yang masih digenggamnya tanpa sadar semakin erat genggamannya karena dirinya yang gugup dan malu.


Bram malah menautkan jemarinya dengan jemari Karina, yang membuat Karina tersentak melihat jemarinya yang kini berada dalam tautan jemari Bram. Bram tersenyum saat mereka saling menatap.


"Terima kasih.. aku akan selalu mencintaimu dan menjagamu serta anak-anak." ucapan Bram membuat dada Karina berdenyut, entah kenapa hatinya sakit mendengar pernyataan Bram.


***


Prankk...


Saat Jo mengerjakan pekerjaannya di ruangan di kantornya, gelas yang terletak jauh di sudut tiba-tiba terjatuh. Dan dada Jo sangat sesak seperti terhimpit. Jo mengelus dadanya.


Karina...bisik Jo.


***


"Anin..."


"Jessi..." balas Anin memanggil teman sekolahnya yang menyapanya saat dirinya sudah memasuki gerbang sekolah.


"Kau sudah mengerjakan tugas sekolahmu?" tanya Jessi.


"Sudah."

__ADS_1


"Boleh aku pinjam yang nomer tiga, aku kesulitan." pinta Jessi.


"Tentu." jawab Anin tersenyum.


Keduanya memasuki kelas dan duduk di bangku yang kebetulan mereka memang sebangku.


"Kau terlihat lelah?" tanya Jessi melihat Anin terlihat menguap beberapa kali.


"Ah, aku semalam menemani adik-adikku bermain." jawab Anin menguap lagi.


"Adik-adikmu? Oh yang kau katakan waktu itu? Kalau mamamu sedang melahirkan adik-adikmu?" Anin mengangguk.


"Apa mamamu melahirkan adik kembar?" tanya Jessi penasaran.


"Ya, mereka adik-adik yang sangat tampan." jawab Anin antusias jika bicara tentang adik-adiknya.


"Ah, aku juga ingin adik." iri Jessi bercanda.


"Mintalah pada papa dan mamamu!"


"Mama bilang aku sudah tidak bisa punya adik lagi." kening Anin berkerut.


"Kenapa?"


"Entahlah, mama yang mengatakannya. Tuhan yang membuat mamaku tak bisa punya adik lagi." jawab Jessi sedih.


"Kau bisa menganggap adikku sebagai adikmu juga." ucap Anin tersenyum.


"Benarkah?" jawab Jessi berbinar-binar.


"Tentu."


"Bolehkah aku main ke rumahmu untuk melihat adik-adikmu?" pinta Jessi.


"Tentu. Datanglah!"


"Bagaimana kalau pulang sekolah nanti?" pinta Jessi menatap Anin dengan mata berbinar-binar penuh harap.


"Tentu, langsung saja pulang sekolah ke rumahku. Nanti aku minta kak Maya mengantarkanmu pulang."


"Ok." keduanya pun tersenyum senang.


TBC

__ADS_1


Beri like, rate dan vote nya


Makasih sudah membacanya 🙏🙏


__ADS_2