Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Bertemu calon mertua dan mertua??


__ADS_3

Bram melirik jam tangannya menunjuk pukul lima lebih sepuluh menit, dia terlambat menjemput Karina untuk menemui orang tuanya. Pekerjaannya tadi berjalan sedikit alot karena kliennya datang terlambat. Bram melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia tak mau terburu-buru dan mengambil resiko terjadi sesuatu saat dirinya berkendara.


Senyum di bibirnya tak pernah luntur dari bibirnya. Dirinya sudah mewanti-wanti sang mama untuk memperlakukan baik calon istrinya nanti. Bram menginginkan, siapapun dan bagaimanapun calon istrinya nanti mamanya harus menerimanya tanpa syarat.


Mobil sudah terparkir di basemen apartemennya, Bram segera berlari ke apartemennya. Dia tak mau membuat calon istrinya menunggu lama dirinya.


Ting tong ting tong


Bram memencet bel pintu apartemennya, dia sungguh ingin tertawa saja. Padahal ini adalah apartemennya kenapa dia seperti orang asing saat datang ke apartemennya sendiri. Namun dia tak mau ceroboh akan hal itu. Bagaimana pun juga dia ingin menghargai privasi calon istrinya, meski miliknya Bram tak mau berbuat semau hatinya demi mengambil hati calon istrinya itu.


Cklek


Maya muncul di balik pintu.


"Mas Bram? Kenapa mencet bel, password-nya belum ganti kok?" canda Maya tertawa lucu.


Bram hanya tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Dia sudah siap?" jawab Bram balik bertanya mengalihkan rasa canggungnya.


"Udah mas, masih di kamar. Kirain gak jadi. Kok gak dateng-dateng." canda Maya lagi menggoda Bram, yang digoda kembali tersenyum malu sambil menggaruk lagi tengkuknya yang tidak gatal.


Bram masuk dan bersamaan dengan itu, muncul Karina dengan gamis panjang yang dikirim Bram siang tadi. Dengan hijab warna senada membuat Karina semakin menawan dan mempesona. Lagi-lagi Bram terdiam menganga menatap wajah Karina.


"Cantik ya mas, mbak Karin?" goda Maya lagi melihat Bram terdiam dengan bibir sedikit terbuka.


Lagi-lagi rona wajah merah terlihat di wajah Bram yang lagi-lagi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mungkin kebiasaannya saat salting kali.


Karina hanya terdiam, senyumnya luntur merasa bersalah telah mengkhianati ketulusan hati Bram.


"Maaf aku terlambat, pekerjaanku sedikit lebih lama." Karina hanya mengangguk, dadanya masih terasa sesak.


Dia ingin membatalkan ini semua, namun mengingat kebaikan dan ketulusan pria ini Karina menjadi tak tega. Pasti akan sangat sakit hatinya.

__ADS_1


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, jalanan ibukota yang memasuki waktu petang terlihat lebih lengang, sehingga tak butuh waktu lama mereka pun sampai di rumah Bram.


Karina menatap rumah mewah dan besar itu. Bukan rumah, mansion tepatnya untuk menyebut rumah mewah dan besar itu. Karina mengusap kedua lengannya, merasa rendah saat melihat keadaan dan latar belakang keluarga Bram yang menurutnya dari keluarga terpandang.


Seharusnya Karina sadar Bram adalah pengacara terkenal dengan nama yang sudah dikenal oleh orang-orang yang terkenal juga. Bram bukan juga orang sembarangan. Seketika Karina merasa minder berdiri di sisi Bram.


"Ayo!" Bram membuka pintu mobil untuk Karina, mengulurkan jemari tangannya untuk membantu Karina keluar dari mobil.


Seketika membuyarkan lamunannya dan menoleh menatap uluran tangan Bram ragu untuk menerimanya. Bram terus tersenyum menunggu jemarinya diraih Karina. Dengan berat hati Karina menerima uluran jemari tangan Bram.


"Mas..." bisik Karina lirih masih menatap lekat mansion milik keluarga Bram itu.


"Ya?" Bram menoleh menatap Karina yang terlihat sangat gugup itu.


"A...aku..."


"Ada aku, aku akan selalu di sampingmu." ucapan Bram membuat Karina semakin tenang namun juga cemas, bayang-bayang ketidak direstuinya hubungannya dengan Jo dulu karena status kasta mereka yang terlalu tinggi membuat Karina takut.


"Ayo!" Bram menautkan jemarinya ke jemari Karina dan menariknya masuk ke dalam rumah.


Seluruh keluarga besar Bram sudah berdiri di ruang keluarga yang sudah disulap sebagai ruang pesta untuk menyambut calon istri Bram. Semuanya berdiri menatap ke arah datangnya Bram dan calon istrinya yang berhijab yang begitu cantik dan anggun.


Karina merasa canggung dan rendah melihat tatapan mata semua orang tertuju padanya. Ada yang menatap kagum, ada juga yang menatap iri padanya. Tanpa sadar genggaman tangannya mempererat tautan jemari tangan Bram. Bram merasakan telapak tangan itu dingin dan berkeringat.


Karina kembali menunduk menghindari tatapan intimidasi semua orang yang ada di mansion itu.


Seorang wanita paruh baya yang berdiri tak jauh dari Karina dan Bram berdiri mendekati keduanya.


"Karina..." suara wanita itu membuat Karina sontak mendongak, siapa gerangan yang mengenalinya di dalam keluarga terhormat itu.


Farida menatap intens Karina yang juga menatapnya. Bram yang juga terkejut bibinya mengenali Karina menjadi sedikit heran.


"Bibi, mengenalnya?" suara Bram memecah keheningan di dalam mansion itu.

__ADS_1


Farida menoleh menatap Bram dan kembali menatap Karina. Karina mencoba mengingat sosok wanita paruh baya itu. Dia terasa familiar dengan wajah itu. Entah dimana dia pernah melihatnya. Mungkin di masa lalu. Seketika mata Karina membelalak mengingat wanita itu.


"Apa aku terlambat menghadiri acara?" suara dari pintu depan membuat tubuh Karina seketika membeku, pria yang baru datang itu mengangkat kedua tangannya seolah bertanya entah pada siapa.


Dia ingat suara itu, dia tahu suara siapa itu. Jo? batin Karina bertanya-tanya. Kenapa Jo bisa ada disini, bukankah Bram bilang ini hanya mengenalkan pada keluarga besarnya saja. Kenapa Jo juga ada disini? Tunggu! tunggu! Apa yang kulewatkan. Apa hubungan keduanya? Oh my, jangan katakan mereka adalah sepupu. batin Karina yang wajahnya kini terlihat pucat.


"No brother, kau datang tepat waktu." Bram melepas tautan jemarinya dan mendekati pria yang baru datang itu, mereka berpelukan ala lelaki menunjukkan kedekatan dan keakraban saudara sepupu itu.


Farida pun ikut gugup dan tegang melihat adegan di depan matanya. Farida tak mau melihat putranya jatuh lagi karena kekecewaan papanya dulu. Dan kini Farida seolah tahu apa yang akan terjadi pada putranya jika wanita calon istri sepupunya adalah istri Jo yang dicarinya beberapa tahun lalu.


"Dimana dia? Dimana calon istrimu?" canda Jo.


"Kemarilah! Aku akan memperkenalkan wanita cantik itu." jawab Bram bangga.


"Oh ya, apa dia secantik istriku yang hilang? Ah, tidak. Dia sudah kembali." guman Jo di akhir kalimatnya. Bram mendekati Karina yang semakin gugup.


"Oh ya, ayo kukenalkan dengan orang tua Bram." Farida malah menarik Karina menuju arah berlawanan Bram dan Jo berbincang, mendekati orang tua Bram.


Farida ingin mencegah Jo kembali kehilangan kewarasannya dan tak mau dirinya mengamuk di acara yang sudah dipersiapkan dengan sebaik mungkin ini.


"Bibi, biarkan mereka berkenalan dulu!" seru Bram protes melihat Karina ditarik mendekati orang tuanya.


Entah Karina lega atau senang, wanita paruh baya itu menyelamatkan kegugupannya. Dia belum siap bertemu di depan keluarga besar itu. Di kejauhan Jo tampak mengernyitkan keningnya melihat tubuh belakang calon istri Bram itu. Dia seperti mengenali siluet tubuh itu.


TBC


Wah... sudah 1000 kata saja..


Udah ya, udah up 3 episode Lo... besok lagi..


Dan viewer saya menurun, padahal saya up 3 episode Lo...😭😭


Mohon beri like, rate dan vote nya teman-teman...

__ADS_1


Makasih 🙏🙏


__ADS_2