
Indra terduduk di ruangan yang sudah beberapa bulan ditempatinya. Entah kenapa dirinya tak bersemangat dipindah tugaskan ke cabang perusahaan lainnya oleh Jo sepupunya. Dia mengumpat kesal saat mendengar dirinya dipindahkan ke perusahaan cabang, meski naik jabatan sebagai CEO, namun cabang ini tidak lebih besar dari perusahaan cabang lamanya.
Apalagi tak ada Karina di perusahaan itu juga. Sia-sia sudah harapannya untuk mendekati Karina. Dia sudah terlanjur jatuh cinta padanya saat hendak memutuskan balas dendam pada wanita itu. Namun melihat kondisi Karina yang tidak lebih baik darinya membuatnya membatalkan niatnya untuk balas dendam.
Bahkan dia awalnya kasihan dan mendekati Karina untuk dijadikan istrinya. Namun statusnya yang masih digantung suaminya membuat Karina tak bisa menerima perasaannya meski Indra tahu Karina tak memiliki rasa lebih padanya.
Namun Indra tak peduli. Dia yakin suatu saat bisa menaklukkan hati Karina. Namun setelah perpisahannya terakhir kalinya dengan Karina, Indra menjadi tak yakin dia bisa menaklukkan hati Karina.
"Maaf pak." panggil sekretaris Indra membuyarkan lamunannya.
"Ya?"
"Meeting lima belas menit lagi." jawab sekretarisnya.
"Okey." jawab Indra membenahi jasnya yang sempat dilepasnya.
**
Di ruang meeting, Indra memasuki ruangan itu dengan diikuti sekretarisnya dan duduk di tempat yang disediakan. Ini kali kedua dirinya duduk di meja kursi CEO di ruang meeting setelah kepindahan tugasnya disini.
Namun matanya langsung berhenti tepat pada pria yang duduk jauh di kursi depan mejanya. Indra tersenyum seringai melihat siapa pria yang menarik perhatiannya ini.
"Baiklah. Mari kita mulai meetingnya!" ucap Indra memulai keheningan.
Pria yang ditatap tajam Indra tadi mulai bicara menjelaskan hasil dari survei lapangan tempat yang menjadi tanggung jawabnya. Belum selesai Indra langsung menyela mengatakan untuk menjelaskan kembali lebih rinci tentang laporannya karena menurutnya itu belum jelas.
Dan meeting itu berkali-kali membuat Indra harus berdecak kesal karena berkali-kali mencari-cari kesalahan pria itu, dia mampu menjawabnya. Namun dengan lihai pria itu menjelaskan dengan sabar meski terlihat jemari tangannya sudah mengepal kuat menahan emosi.
__ADS_1
Keanu pria yang sejak tadi dibuat emosi oleh Indra. Ya, Ken ditempatkan di perusahaan cabang yang adalah Indra sebagai CEO nya. Ken tahu siapa Indra, mantan suami istrinya sekarang. Namun demi kariernya Ken bersabar untuk tidak emosi. Bagaimana pun juga baru beberapa bulan dia diangkat menjadi direktur cabang yang mengawasi langsung pembangunan proyek.
Terlihat senyum seringai puas di bibir Indra setelah mengerjai Ken. Bukan karena Ken merebut istrinya, namun perlakuan Ken pada Karina yang menggantung statusnya padahal dirinya sudah menikahi wanita lain.
Seharusnya Ken harus lebih gentle untuk mengakhiri terlebih dahulu dengan Karina baru menikah dengan Lena. Namun, apa sekarang. Indra lagi-lagi mengumpat kesal dan pergi meninggalkan ruang meeting diikuti sekretarisnya.
"Ada yang anda butuhkan tuan?" tanya sekretarisnya sebelum pergi meninggalkan ruangan Indra.
"Air dingin, aku butuh air dingin." jawab Indra dingin duduk di kursi kebesarannya.
**
Keanu memasuki ruangan yang baru ditempati beberapa hari karena pemindahan tugasnya beberapa waktu lalu. Setelah menyelesaikan pelatihan karyawan di luar negeri, Ken ditempatkan di perusahaan cabang tempat yang sama Indra sebagai CEO nya.
Ken mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Lagi-lagi pertemuannya dengan Indra menjadi mengingatkan padanya pada Karina. Mantan istrinya yang ditinggalkannya begitu saja karena Lena istrinya yang sekarang. Rasa bersalah itu terus saja mendesaknya.
Flashback on
"Papa..." panggilan Anin sontak membuat Ken menoleh menatap arah suara.
Disana ada Anin, Karina dan...Indra, mantan suami Lena. Ken mengepalkan tangannya erat melihat keharmonisan pasangan itu. Dirinya yang saat itu sedang menuruti nyidam istrinya Lena untuk makan malam di restoran itu bertemu dengan tak sengaja di depan restoran. Kedua pasangan itu baru bertemu sebelum memasuki restoran.
"Anin..." Ken hendak menghampiri putrinya namun tangan satunya dicegah oleh Lena.
Ken sontak menoleh menatap Lena yang sedang memberengut kesal sambil mengelus perut buncitnya yang sudah memasuki usia tujuh bulan.
"Mau kemana mas?" tanya Lena ketus.
__ADS_1
"Aku..."
"Ayo cepat masuk, dedeknya sudah lapar." sela Lena cepat menarik jemari tangan Ken memaksa masuk ke dalam restoran tanpa mempedulikan mantan suaminya juga putri Ken.
"Papa." lirih Anin menundukkan kepalanya sedih ditinggalkan sang papa begitu saja.
Karina mendekati putrinya dan menghiburnya untuk masuk segera ke dalam restoran. Dan kebetulan yang aneh pula. Ternyata reservasi restoran keduanya tepat bersebelahan, di dekat jendela yang menampakkan indahnya suasana malam di luar jendela lantai tiga.
Anin kembali menatap Ken sendu, sungguh gadis kecil itu sangat merindukan papanya. Sudah hampir delapan bulan Ken tak mengunjungi putrinya itu. Tatapan mata Ken langsung dialihkan oleh Lena untuk menatapnya. Karina pun mengajak putrinya juga duduk di kursi yang sudah disediakan.
"Anin mau makan apa?" tanya Indra agak memperbesar suaranya menyindir seseorang. Anin terlihat kebingungan melihat daftar menu.
"Anin sama mama saja ya, steik daging?" usul Karina tak mau membuat putrinya kebingungan.
Anin hanya mengangguk mengiyakan sambil mengusap rambut putrinya sayang.
"Anin mau es krim. Kita pesan yang banyak ya?" hibur Indra lagi.
"Bolehkah om?" jawab Anin antusias.
"Tentu. Berapa pun yang Anin mau."
"Makasih om." jawab Anin mulai tersenyum dan melupakan kesedihannya.
Ken tersenyum miris melihat keharmonisan pasangan tersebut yang merupakan masih istri dan juga putri kandungnya.
Flashback off
__ADS_1
TBC