
"Apa-apaan ini!" Bentak Jo memenuhi ruang kerjanya.
Beberapa karyawan yang dipanggil ke ruangannya menunduk takut. Pasalnya bos besarnya itu jarang marah-marah dan membentak seperti itu.
"Berkali-kali aku memaafkan kesalahan kalian. Dan berkali-kali pula kalian mengulanginya. Kalian mau dipecat?" Teriak Jo berdiri bolak-balik di depan para karyawan yang dipanggil ke ruangannya tersebut.
Kali ini Jo tak menolerir kesalahan lagi dari para karyawannya itu. Apalagi pagi hari tadi mood nya memburuk saat pergi dari rumah. Bohong jika dirinya tidak merindukan istrinya yang selalu melayaninya setiap pagi sebelum berangkat kerja. Namun karena bayi mereka sudah lahir, istrinya sibuk mengurusnya hingga melupakan dirinya.
Dulu saat lahir Hana, Jo masih senang-senangnya ikut mengurus langsung bayi mereka setelah satu tahun pernikahan mereka. Namun setelah hampir sepuluh tahun pernikahan dan Jo dimanjakan istrinya di setiap kebutuhannya membuat Jo sulit mandiri untuk saat ini. Apalagi akibat perdebatan mereka tempo hari masih belum menemukan titik terang, siapa yang bersalah dan siapa yang tidak.
Seolah istrinya sedang sedikit menghindarinya. Itulah yang dirasakan Jo, namun Jo tak mau berpikir jauh. Mungkin sehari dua hari istrinya akan kembali seperti sedia kala. Namun hari ini sudah hari keempat istrinya memperlakukan dingin padanya meski kebutuhannya sudah disiapkan walau tanpa dipakaikan langsung pakaian kerjanya, dengan alasan mengurus putri kecilnya. Jo berusaha memakluminya.
Namun dia sudah membayar seorang babysitter agar istrinya tak terlalu sibuk dengan bayinya itu. Bagaimana pun juga Jo masih ingin selalu berduaan dengan istrinya. Namun berbagai alasan diucapkan istrinya terdengar seperti mencoba menghindarinya.
"Maafkan kami pak." Jawab mereka kompak, takut-takut sambil menundukkan kepalanya tak berani membalas tatapan tajam CEO mereka.
"Tidak ada kata maaf untuk kali ini. Pecat mereka semua!" Semuanya mendongak menatap Jo tak percaya.
Rian pun juga terkejut mendengar ucapan tuannya. Ikut menatap tuannya. Jo langsung menuju kursi kebesarannya tanpa lagi menatap mereka.
"Maafkan kami tuan.. kami mohon..
beri kesempatan sekali lagi pada kami." Jawab mereka serempak.
Jo tampak tak memperdulikan mereka, dia sibuk mengecek berkas-berkas laporan yang menumpuk.
***
"Waktunya makan siang nyonya." Ucap asisten rumah tangganya saat Karina terlihat melamun menatap putrinya yang baru saja terlelap.
Dia tersentak menatap ke arah suara asisten rumah tangganya.
"Ah iya bi." Jawab Karina tersenyum terpaksa.
Hatinya terasa hampa dan kosong. Dia masih saja teringat perdebatannya dengan suaminya tempo hari. Dia juga memikirkan kejadian pagi tadi. Suaminya tak sarapan dan juga tak pamit padanya. Meski dadanya masih sesak dan sakit karena ucapan suaminya tempo hari, dia sungguh sangat merindukan suaminya itu.
Dia hanya menyesalkan kejadian tempo hari dan tak ada kata maaf dari suaminya untuknya. Yang membuat perasaan kecewanya bertambah besar. Namun dia sungguh ingin membalas pelukannya tadi pagi, namun ego dan gengsinya tak mampu ditepis.
***
"Mama? Mama datang? Kapan datang ma?" Tanya Karina melihat Farida muncul dari pintu depan. Karina langsung mencium punggung tangan Farida setelah menyalami, tak lupa dalam diucapkan pada mama mertuanya itu.
"Mommy..." Sapa ketiganya muncul di belakang tubuh mama mertuanya.
__ADS_1
"Anak-anak! Apa yang diucapkan saat pertama masuk ke rumah?" Tegur Karina menatap ketiga anaknya dengan tatapan tegas.
"Assalamualaikum mom..." Salam ketiganya langsung mendekati Karina menyalami tangannya dan mengecup punggung tangan Karina bergantian.
"Wa'alaikum salam." Jawab Karina.
"Sekarang ganti baju kalian, kita makan siang sama-sama ya?" Titah Karina dijawab serempak oleh ketiga anaknya bersamaan.
"Mari ma!" Ajak Karina sambil menggiring Farida menuju meja makan.
"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Farida melihat wajah Karina yang biasanya cerah terlihat sedikit murung.
Karina tersentak dan langsung menoleh menatap Farida.
"Ah, tidak apa-apa ma." Elak Karina masih sibuk menyiapkan makan siang dibantu asisten rumah tangganya.
Asisten rumah tangga itu langsung pergi begitu selesai, apalagi dia juga mendapatkan kode dari nyonya besar untuk meninggalkan meja makan meninggalkan dua nyonyanya yang mungkin ingin bicara hal pribadi.
"Rumah tangga bertengkar itu hal biasa. Namun jangan berlarut-larut. Mama tahu bagaimana perasaan wanita menyusui itu. Apalagi saat mengalami baby blues. Bukan mama membela putra mama. Jonathan adalah putra satu-satunya di keluarga kami. Dia sedikit keras kepala dan gampang emosi. Tapi dia juga gampang melupakan hal yang sudah berlalu. Mama pun juga sudah banyak melihat perubahan pendewasaan padanya. Mungkin ini ujian kalian sebagai pasangan suami istri. Jadi, alangkah baiknya jika kita sebagai wanita mengalah, meski benar. Dan mama yakin, suami kita dengan sendirinya akan merasa bersalah dan menyesal sekali." Jelas Farida panjang lebar dan tanpa sadar Karina mulai sesenggukan menangis sambil menutup wajahnya.
"Astaghfirullah... astaghfirullah..." Karina berulang kali mengucapkan istighfar, dia merasa berdosa dan bersalah pada suaminya.
Tidak seharusnya dia seperti itu pada suaminya. Dia juga entah kenapa merasa seperti itu. Mungkin benar apa kata mama mertuanya. Baby blues menyerangnya saat kelahiran anak keempatnya dengan suaminya Jonathan. Sebelumnya hal ini tak pernah dialaminya, baru kelahiran saat ini dia mengalami hal ini.
"Maafkan Karin ma, maaf... Karin yang salah ma... Karin khilaf ma." Jawab Karina terbata-bata masih sesenggukan.
Farida memeluk tubuh menantunya yang masih menangis itu untuk menenangkannya.
"Bukan pada mama nak, tapi pada suamimu. Meski dia juga salah, dia pasti juga menyesal telah kau diamkan." Wejangan Farida kembali bergulir dan membuat tangis Karina sedikit tenang.
"Sekarang kita makan dulu ya, anak-anak sebentar lagi akan datang." Saemran Farida langsung menghentikan tangisannya dan dia langsung ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.
Dia tak mau anak-anaknya bertanya tentang yang terjadi padanya.
Kini mereka pun makan siang bersama. Meski Josh terus menatap wajah Karina, Josh adalah salah satu putra kembar Karina yang sangat peka terhadap sekitar. Namun dia tak berani bertanya karena selalu jawaban tak apa-apa yang diucapkan sang mommy jika dia bertanya.
***
Jo mendesah lagi, ini sudah kesekian kalinya dia mendesah kesal. Pekerjaannya hari ini tak ada yang beres maupun tuntas. Moodnya yang sudah buruk tambah memburuk. Jo berdiri dari duduknya, namun ketukan pintu ruangannya membuatnya urung untuk pergi.
"Masuk!" Titah Jo duduk kembali sambil pura-pura sibuk mengurus pekerjaannya.
"Tuan, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda." Ucap sekretaris Jo setelah diizinkan masuk.
__ADS_1
"Suruh masuk!" Entah kenapa mood buruknya membuatnya lupa prosedur untuk bertanya siapa tamunya.
"Siang Jo." Sapa seorang wanita dengan pakaian formal kerja, namun sangat minim.
Jo menatap Jo dan kesal pada wanita yang baru muncul itu.
"Ada apa lagi kau datang?" Tanya Jo sinis.
"Tentu saja untuk melanjutkan kerjasama kita yang tertunda." Jawab wanita itu santai sambil duduk di sofa dekat meja kerja Jo tanpa disuruh.
"Siapa yang menyuruhmu duduk. Temui asistenku, dia yang akan mengurus kerja sama dengan perusahaan bosmu." Titah Jo ketus, dia langsung membalikan badannya sambil meletakkan kedua tangannya di saku celananya.
Memandang ke luar jendela kaca di belakang meja kerjanya yang menampilkan pemandangan angkasa siang hari yang terik itu.
"Biar aku jelaskan sekali lagi. Kerja sama ini sepenuhnya telah diserahkan padaku oleh Mr. Alex dan aku diberi kuasa penuh untuk melakukan apapun untuk proyek ini." Jelas wanita itu.
"Jangan harap aku akan tergoda. Lakukan apapun yang kamu lakukan. Bukan aku yang akan menemanimu." Jo berbalik sambil menatap tajam dan dingin wanita itu.
Wanita itu berjalan perlahan menuju Jo yang sudah kembali membalikkan tubuhnya mengarah ke jendela membelakangi wanita itu. Dengan secepat kilat, wanita itu memeluk tubuh Jo dari belakang dengan eratnya. Jo tersentak langsung menghentaknya, namun kali ini kelihatannya wanita itu sudah mengantisipasinya hingga tak mudah dihentak kasar oleh Jo.
Jo langsung membalikkan tubuhnya menatap tajam wanita yang berusaha menggodanya itu. Sambil memegang kedua lengan wanita itu, dicengkeramnya kuat lengan itu seolah ingin mematahkannya.
Bruk...
Sebuah benda jatuh tak jauh dari mereka berdiri, menatap datar pemandangan di depannya itu. Jo dan wanita itu serentak menoleh ke arah suara, Jo membelalak melihat istrinya sudah berdiri sambil menatapnya datar tanpa ekspresi, sarat akan kekecewaan di matanya.
Jo langsung sadar dan mendorong kasar tubuh wanita yang sudah berani-beraninya menggodanya itu.
"Baby, A... aku bisa jelaskan." Pinta Jo memelas.
"Aduh..." Rintih wanita itu karena bokongnya mendarat terlebih dahulu di lantai ruangan itu. Karina refleks membantu wanita itu berdiri.
"Are you okay?" Tanya Karina ramah, karena dia tahu, wanita itu wanita itu berasal dari luar negeri karena wajahnya kebule-bulean.
Jo tercengang, melihat istrinya begitu ramah pada wanita murahan itu bahkan membantunya berdiri dari jatuhnya wanita itu. Wanita merasa heran, kenapa wanita itu sangat ramah padanya. Wanita itu belum tahu siapa wanita itu, tapi saat Jo memanggilnya 'baby' wanita itu merasa jika perempuan berhijab itu adalah orang spesial bagi Jo.
"I'm okay. Thanks." Jawab wanita itu berdiri dari jatuhnya. Karina tersenyum ramah.
"Saya Karina, siapa anda?" Tanya Karina memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Saya Annie." Jawab wanita yang ternyata adalah Annie, asisten Mr. Alex atau istri ketiga Mr. Alex.
Jo menatap bingung dua orang di depannya itu. Drama apa yang terjadi di depannya kini. Jelas-jelas istrinya melihat Annie menggodanya namun apa ini? Jo bingung tak bisa berkata-kata.
__ADS_1
TBC