
"Anin sayang, kamu kurusan? Kamu tidak apa-apa nak?" Tanya Karina memberondongi Anin dengan banyak pertanyaan.
Setelah memeluk puas tubuh Anin, Karina meneliti satu persatu tubuh Anin dari ujung kepala sampai ujung kaki memastikan bahwa putrinya baik-baik saja. Jo dan Guntur hanya menatap interaksi kedua wanita beda usia itu.
Jo tak dapat melukiskan perasaannya setelah berhari-hari melihat istrinya murung hanya memikirkan putrinya yang tidak bisa dihubungi seminggu terakhir ini dan sekarang yang dicemaskan sudah baik-baik saja tak kurang satu apapun meski tubuhnya sedikit, bukan hanya sedikit. Anin yang setiap hari terlihat langsing ideal, kini semakin tirus. Jo menghela nafas panjang dan berat.
Dia tahu apa yang terjadi pada putri sambungnya itu. Dia juga mengalami hal yang sama jika jauh dari penyemangat hidupnya. Dan sekarang, Jo bisa melihat binar kehidupan dan kebahagiaan yang menjadi penyemangat hidupnya sudah ada di depan matanya.
"Bisa aku pinjam Anin sebentar?" Pinta Karina memohon menatap Guntur sambil menggenggam erat jemari tangan putrinya.
Sesekali dia melirik suaminya memberi ruang pada mereka untuk berbincang. Karina tahu suaminya perlu menginterogasi pria yang telah menjungkirbalikkan hidup putrinya tersebut.
Beberapa menit sebelum mereka keluar dari mobil yang sudah terparkir di parkiran rumah sakit.
"Mas, kendalikan emosimu! Jangan sampai tangan ringanmu langsung memukuli Guntur. Bagaimana pun juga keadaan putri kita sedang tidak baik-baik saja. Apalagi ternyata Guntur dirawat di rumah sakit karena ulah adik tirinya yang iri karena kebahagiaan Anin dan Guntur meski rencananya sedikit berhasil." Pinta Karina memelas memohon pada suaminya untuk mengendalikan amarahnya.
Karena Karina bisa melihat raut wajah garang yang siap meledak kapanpun itu. Jo menatap istrinya lekat, dia sungguh ingin memberi pelajaran pada pria brengsek itu sekali pukulan saja agar dia sadar akan kesalahannya. Namun apa yang diucapkan istrinya benar, semua bukan salah Guntur.
Seandainya dia lebih lama memberi waktu pada orang-orangnya untuk mencari keberadaan Guntur dengan teliti. Kejadian yang menimpa putrinya pasti tidak akan terjadi. Dan keduanya pasti akan berbahagia. Seharusnya dia bersabar saat itu. Dia juga tak tahu Guntur sempat koma selama lebih dari sebulan. Jo menghembuskan nafasnya perlahan untuk mengendalikan emosinya.
Dia sebenarnya ingin melampiaskan satu saja pukulan pada siapapun untuk menumpahkan kekesalan yang sudah diubun-ubun tapi demi istrinya, dia akan mencoba untuk mengendalikannya.
__ADS_1
"Baiklah. Tapi semua tidak gratis baby." Bisik Jo membuat pipi Karina merah seperti tomat, wajah berharapnya hilang seketika berganti wajah tersipu malu.
"Mas..." Ucap Karina manja membuat Jo tergelak melihat istrinya yang masih saja menggemaskan meski usia mereka tak lagi muda.
Keduanya pun turun dari mobil dengan jemari tangan mereka saling bertautan.
***
Karina mengajak duduk Anin di bangku taman rumah sakit. Tentu saja hal itu masih dalam pengawasan Zian yang sejak tadi hanya berjaga di luar ruang perawatan kamar Guntur.
Seorang pengawal yang mengikuti Jo dan Karina sejak sampai rumah menyodorkan dua botol minuman yang diminta Karina tadi setelah keluar dari ruang perawatan Guntur. Karina menyodorkan satu botol minuman untuk putrinya dan keduanya meneguknya perlahan.
"Apa yang kau rasakan sekarang nak?" Tanya Karina memecah keheningan setelah keduanya terdiam sambil meneguk minuman itu.
"Bagaimana perasaanmu saat ini setelah bertemu dengan Guntur?" Tanya Karina menjelaskan detail pertanyaannya.
Anin tersenyum sambil menundukkan kepalanya tersipu malu. Dia bahagia, sangat bahagia. Dia tak mengelak dengan perasaan bahagianya. Awalnya dia akan marah jika suatu saat Guntur muncul di hadapannya. Namun amarahnya menguap entah kenapa saat melihat pria yang sangat dicintainya itu.
Apalagi melihat keadaan pria itu tidak baik-baik saja. Bahkan dia sempat memimpikan pria itu terbaring koma di ruang ICU yang dikenali sama dengan rumah sakit yang merawatnya. Bahkan dia juga lupa kalau baru tersadar dari komanya juga yang malah mempertemukan mereka dalam jiwa mereka yang tersesat.
Karina sepertinya tak membutuhkan jawaban dari pertanyaannya saat melihat wajah malu-malu putrinya. Seperti dirinya dulu saat suaminya memodusinya. Dan itu adalah wujud dari perasaan bahagia yang sama dirasakannya dulu. Dan sekarang yang membuat Karina cemas adalah saat Guntur mengetahui kalau gadis yang dicintainya sudah menjadi milik orang lain meski secara siri. Karina bingung mengingatkannya pada putrinya.
__ADS_1
"Entahlah mom! Apa aku berhak bahagia melihatnya ada di hadapanku. Yang kupikirkan saat ini, mumpung dia ada di hadapannya aku ingin memberikan perhatian lebih terakhir kalinya untuknya. Sebelum... sebelum..." Anin menutup mulutnya, menahan tangisannya.
Dia ingat, dia tak lupa, dia juga tak berusaha melupa. Dia tahu betul sekarang dirinya bukan gadis single lagi, dia sudah terikat pernikahan meski secara siri pada suaminya sekarang. Meski menjadi istri kedua. Namun Anin tak mau merusak semua itu sebelum Guntur sehat dan keadaannya baik-baik saja. Baik secara fisik dan psikisnya.
Setelah keluar dari rumah sakit, Anin akan mengatakan kebenarannya pada Guntur bahwa mereka sudah tidak mungkin bersatu lagi karena status Anin yang sudah menjadi milik orang lain. Meski dia menyesal, pernikahan bukanlah main-main. Apalagi setelah melihat pengorbanan suaminya yang tidak sedikit.
Bahkan terlalu banyak yang sudah dilakukan suami yang sempat tidak dianggarnya itu. Meski dia tidak peka dengan dirinya, dia tahu apa yang harus dilakukannya tanpa dirinya menjelaskan satu persatu. Dan Anin semakin benci melihat itu. Dia pasti tak akan merasa semerasa bersalah ini pada suaminya sekarang jika suaminya itu tidak memberikan perhatian yang sudah lebih dari segalanya, dia pasti akan meninggalkannya begitu saja setelah bertemu dengan pria yang dicintainya itu.
Namun dia tak bisa melakukan hal itu, Zian, suaminya terlalu banyak berkorban. Dan dia juga tahu seberapa dalam perasaan terpendam suaminya padanya. Dia bukan tidak sepeka itu terhadap perasaan pria yang hanya bisa dianggapnya sebagai seorang kakak yang selalu melindunginya bagaimana pun keadaannya.
Dia hanya bersikap cuek dan masa bodoh dengan apa yang dirasakan tentang perasaan Zian selama ini. Selain karena Zian sudah beristri juga karena sudah ada seseorang yang merajai hatinya sejak dulu. Dia acuh karena takut lebih melukainya jika menanggapinya perasaannya. Di luar alasan apa yang membuatnya menikah istrinya, Anin berusaha acuh.
Namun dia tahu, perasaan Zian padanya semakin besar padanya, apalagi saat Daddy menunjuknya untuk menggantikan posisi Guntur di hari ijab qobul itu. Dan perasaan itu terus berkembang saat perhatiannya semakin besar padanya saat dirinya terpuruk beberapa waktu lalu.
Karina langsung memeluk erat tubuh putrinya yang melihat bahunya bergetar. Karina ternyata tidak sedekat itu dengan putrinya. Ternyata Karina salah mengenai putrinya. Sungguh sangat tersiksanya putrinya diantara dua orang yang dicintainya itu.
"Menangislah, jika itu dapat melegakan hatimu!" Bisik Karina ikut menangis melihat kesedihan di wajah putrinya.
Zian menundukkan kepalanya dan memilih untuk berbalik meninggalkan dua wanita itu. Entah kenapa dadanya sesak dan sakit melihat tangisan istrinya.
Apa aku harus menyerah? Apa aku harus melepaskankan pernikahan kami yang bahkan belum seumur jagung ini? Batin Zian tersenyum getir.
__ADS_1
TBC