Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 42


__ADS_3

Hari pertama PKL, Anin sudah sampai pagi-pagi sekali daripada dia terlambat. Banyak yang dari sekolahnya juga namun beda kelas. Anin tampak sendiri, menatap satu persatu teman sesama PKL di ruangan itu. Dia mencari-cari mungkin ada teman sekelasnya. Namun hanya ada teman beda kelas.


Anin menghela nafas meredakan kegugupannya. Dia sudah berusaha meyakinkan dirinya untuk tidak merasa gugup dan gemetar lagi jika berada dengan pria asing.


Di sudut tak jauh dari Anin berdiri, gadis itu menatap kesal dan tak suka melihat Anin juga ada di antara teman-temannya yang lain. Tangannya terkepal menahan amarahnya.


"Sial." Guman gadis itu menatap Anin lekat.


"Hai..." Sapa seorang siswa pria yang tak asing bagi Anin.


"Kau juga disini?" Anin mengernyit tak suka melihat pria sebaya dirinya tampak akrab lagi dengannya.


"Hei Ted." Sapa gadis yang juga dari sekolah yang sama dengan mereka.


Teddy dan Anin menatap gadis yang baru datang itu langsung bergelayut mesra di lengan Teddy. Ya, pria yang menyapa Anin tadi adalah Teddy. Namun Teddy segera menepis tangan Ana. Ya, gadis yang bergelayut mesra pada Teddy dan menatap penuh kebencian pada Anin tadi adalah Ana.


Ana adalah anak pengusaha ternama juga mesti tidak sebesar perusahaan milik keluarga Teddy tapi perusahaan keluarga Teddy dan keluarga Ana adalah rekan bisnis. Jadi dengan mudah Ana juga dapat diterima PKL di perusahaan keluarga Teddy berkat koneksi papanya.


"Apaan sih Lo!" Seru Teddy tak suka dan mencoba melepas lagi gelayutan tangan Ana.


Anin merasa kesal melihat dua orang yang sok akrab dengannya itu. Dia pun memilih pindah tempat duduk bersama teman yang lain beda kelas dengannya.


"Anin tunggu!" Seru Teddy hendak mendekat pada Anin namun...


"Selamat pagi anak-anak. Saya adalah penanggungjawab kalian dalam PKL kali ini." Sapaan seorang pegawai perusahaan yang dipercaya untuk mengurus para siswa PKL membuat Teddy gagal mendekati meja Anin.


Ana tersenyum puas sudah memisahkan jauh dari Anin. Dan Teddy berdecak kesal menatap Ana jengah.


***


Setelah mendengar penjelasan pekerjaan apa yang dikerjakan. Semua siswa-siswi melakukan tugasnya masing-masing dengan didampingi para penanggung jawabnya. Begitu juga Anin, Teddy dan Ana serta satu siswa putra lain dari sekolah yang berbeda dengan Anin. Entah kebetulan apa, mereka bertiga berada di tim yang sama membantu pekerjaan tim keuangan.


Teddy yang sejak tadi berusaha mendekati Anin selalu gagal karena Ana selalu bergelayut padanya bagai lintah membuat Teddy semakin kesal dan jengah.


"Bisa gak sih lo gak nempel sama gue?" Kesal Teddy menatap Ana kesal.


Anin dan siswa lain yang bernama Putra itu menoleh pada keduanya.


"Gue kan ingin sama Lo beb?" Jawab Ana kecentilan membuat Teddy semakin kesal.

__ADS_1


"Bisa gak lo lepaskan tangan gue?" Kesal Teddy menatap tangan Ana yang tetap menempel padanya.


Penanggung jawab yang tahu siapa Teddy ikut berhenti menyimak drama dua orang itu tak berani memperingati.


"Gue kan takut kesasar?" Jawab Ana dengan tampang yang sengaja dibuat imut, membuat Teddy semakin jijik. Teddy pun terpaksa menghentak tangan Ana kasar.


"Denger ya, kalau Lo masih mau PKL disini. Jaga deh sikap Lo, gue gak segan-segan buat Lo gak bisa disini lagi." Ancam Teddy berbisik di telinga Ana, setelah semuanya melanjutkan jalannya menuju ruangan untuk tempat mereka membantu kerja.


Ana terdiam setelah mendengar ancaman Teddy yang sudah berlari menyusul rekan-rekannya.


**


"Kau sudah melakukannya?" Tanya Jo sambil meneliti berkas-berkas yang ada di meja kerjanya tanpa menatap Rian yang baru saja membawa lagi berkas-berkas di mejanya.


"Sudah tuan." Jawab Rian sambil meletakkan berkas-berkas laporan itu dengan hati-hati.


"Dia benar-benar disana?" Tanya Jo lagi. Rian mengambil ponselnya, memperlihatkan sebuah video pada Jo.


"Di bagian mana dia ditempatkan?" Tanya Jo melihat video Anin sedang mendengarkan penjelasan penanggung jawab.


"Bagian keuangan."


"Tiga orang teman lainnya. Satu kelompok 4 anak."


"Anak Wijaya juga?" Kali ini Jo melirik Rian menunggu jawaban pertanyaannya.


"Iya tuan." Jo molotot tak suka.


"Siapa yang mengaturnya?" Tanya Jo menatap tak suka pada Rian.


"Kurasa itu murni pilihan penanggung jawab." Jawab Rian tetap santai.


"Huh, murni. Akal-akalan anak itu saja." Kesal Jo.


"Bagaimana dengan sikapnya, bukannya dia kurang nyaman berdekatan dengan pria asing?" Tanya Jo lagi.


"Ah, sepertinya sedikit lebih baik. Non Anin mencoba untuk mengendalikannya dengan kemampuan sendiri." Jelas Rian berdasarkan laporan orang kepercayaannya.


"Awasi terus hal itu. Aku tak mau traumanya semakin memburuk. Dan suruh beri laporan setiap detailnya setiap sore." Jelas Jo berdiri dari duduknya untuk makan siang karena memang sudah waktunya makan siang.

__ADS_1


Hari ini dia membatalkan meetingnya karena merasa sedang tak semangat. Setelah membahas perkara Anin, Jo tiba-tiba merindukan istrinya itu.


"Tuan mau kemana?" Tanya Rian mengernyit heran.


"Makan. Apa kau tak lapar?" Jawab Jo mulai masuk ke dalam lift diikuti Rian.


"Aku mau makan siang di rumah." Ucap Jo tiba-tiba membuat Rian terdiam.


"Tapi tuan..."


"Aku memberi tahumu tidak untuk mencegahku." Jo berjalan ke parkiran mobilnya untuk pulang.


"Huff..." Rian menghela nafas berat.


Terdiam di tempat tak mengikuti lagi tuannya. Karena dia sudah mengerti arti dari ucapan tuannya.


***


Saat makan siang, Anin dan teman yang lainnya makan di kantin perusahaan. Begitu juga Teddy dan Ana yang selalu mengekornya. Selama bekerja, Teddy selalu mengganggu Anin dengan bertanya tentang hal ini dan hal itu. Anin yang tak mungkin tak menghiraukannya terpaksa menjawab semua pertanyaan Teddy.


Sebenarnya Teddy hanya modus saja, agar dirinya ada alasan untuk berbicara dengan Anin meski dalam hal pekerjaan. Tentu saja hal itu membuat Ana marah melihat interaksi keduanya.


"Kau makan apa? Biar kupesankan." Tawar Teddy menatap Anin penuh harap.


Anin yang awalnya sedang melihat ponsel mendongak menatap Teddy yang berdiri di hadapannya.


"Aku akan pesan sendiri." Anin langsung beranjak dari kursi meninggalkan meja tanpa menggubris panggilan Teddy yang nendesah kecewa.


"Dia udah nolak kamu segitunya masih gak menyerah beb?" Ucap Ana membuat Teddy berdecak kesal dan pergi meninggalkan kursi dan mengejar Anin yang sedang memesan makanan.


"Beb..." Panggil Ana ikut mengejar Teddy.


"Apaan sih lo nempel terus?" Seru Teddy menatap Ana jengah.


Semua yang ada di dekat mereka yang notabene adalah para pegawai kantor ikut menatap Ana tak tahu malu. Tapi memang dasar Ana yang tak tahu malu dia tak memperdulikan orang di sekitarnya. Dia masih terus menempel pada Teddy.


"Kamu mau pesan apa beb?" Tanya Ana centil yang tak menjawab ucapannya dan sayangnya dia juga tak digubris Teddy, dia sibuk mengikuti makanan yang dipesan Anin.


TBC

__ADS_1


__ADS_2